Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Penculikan


__ADS_3

“SIALAN.”


“Woi, jangan banting ponselku.”


Kaisar segera mengambil ponselnya dari tangan Reino. Itu adalah satu dari sedikit barang berharga yang dia punya, jadi tidak boleh rusak sama sekali.


“Sialan. Coba telepon lagi pacarmu itu,” hardik Reino tidak terima teleponnya diputus sepihak.


“Dari pada urus perempuan, mending kau urus dulu investasimu ke perusahaanku,” jawab Kaisar menjauhkan ponselnya dari jangkauan Reino.


“Dasar teman tidak berguna. Tidak hal lain apa di otakmu selain uang?” tanya Reino terlihat sangat kesal.


“Tentu saja ada Erika di otakku selain uang. Masalahnya kenapa tidak pakai ponselmu sendiri?”


Reino menggeram marah. Andai Lydia mau menerima teleponnya, dia tidak akan meminjam ponsel orang lain. Dan kalau bukan karena si brengsek Viktor itu, dia tidak akan sepanik ini.


Ya. Pengakuan Viktor yang menyatakan ingin memiliki Lydia, membuat Reino meradang. Reino bahkan memukul sahabatnya itu sampai berdarah, sebelum mengusir sahabatnya itu.


Andai tadi Kaisar tidak datang tepat waktu, Viktor pasti sudah setengah mampus. Dan sedikit banyak, Kaisar tahu apa masalahnya karena Viktor sudah mengirimkan chat.


“Apa sih yang membuatmu semarah ini?” tanya Kaisar pura-pura tidak tahu.


“Viktor sialan itu bilang kalau dia menginginkan Lydiaku.”


“Lydiaku?” ulang Kaisar dengan raut wajah mengejek.


“Memangnya dia siapamu sih? Pacar juga bukan kan?” tanya Kaisar masih mempertahankan senyum mengejeknya.


Reino terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menyangka akan diberikan pertanyaan seperti itu dan tidak tahu bagaimana menjawabnya.


Tentu saja Reino bisa dengan mudah menjawab kalau Lydia adalah istri pura-puranya. Tapi memangnya ada hubungan pura-pura yang bisa membuatnya mengklaim Lydia seperti itu?


“Di mana pacarmu berada?” tanya Reino tiba-tiba.


“Untuk apa kau bertanya?” tanya Kaisar dengan kerutan di dahinya.


“Dia sedang bersama Lydia kan?” tanya Reino sekali lagi.


“Ya.”


“Aku perlu bertemu dengan Lydia untuk memastikan sesuatu. Jadi katakan saja alamatnya di mana?”


“Aku tidak mau. Nanti Erika marah padaku.”


“Beritahu aku dan kau akan langsung dapat uang tunainya. Dua kali lipat,” gumam Reino penuh penekanan.


***


Lydia makin cemberut saja karena kelakuan Reino. Sudah dihindari dan dilempar map, sekarang dia dimarahi dan disuruh menghindari Viktor.

__ADS_1


Memangnya kenapa dengan Viktor? Apa pria itu juga kena masalah karena tadi hendak ikut campur atau bagaimana?


“Nyebelin banget kan?” seru Lydia dengan bibir mencebik.


“Coba lihat dia. Tiba-tiba saja marah dan berteriak seperti orang gila dan menyuruhku menjauhi Viktor,” seru Lydia setengah berteriak.


“Boleh aku berpendapat?” tanya Cinta hati-hati.


“Apa?” hardik Lydia masih kesal saja.


“Entah kenapa aku merasa kau menyukai Reino.”


“Kau gila ya, Ta?”


“Aku setuju dengan Cinta. Cara kalian bertengkar tadi benar-benar seperti pasangan pada umumnya,” sambung Vanessa cepat.


“Dan waktu tadi Reino meneleponmu, kau terlihat senang, Lyd,” lanjut Erika tidak membiarkan Lydia menginterupsi.


“Dasar kalian gila,” seru Lydia bangkit berdiri.


Lydia yang merasa menjadi bulan-bulanan para sahabatnya, mulai memunguti barangnya satu per satu. Dia sudah malas diceramahi setelah dimarahi oleh Reino.


“Eh, mau ke mana?” tanya Cinta ketika Lydia beranjak ke arah pintu.


“Mau pulang. Soalnya kalian itu nyebelin banget.”


“Aku gak perlu disadarkan tuh,” jawab Lydia. “Karena aku gak mungkin suka sama Reino.”


Lydia langsung berlalu pergi begitu saja. Dia benar-benar sedang kesal seharian ini, tapi dia malah mendengar kalimat paling tidak masuk akal dalam hidupnya.


“Yang benar saja. Siapa sih yang suka dengan Polar Bear Mesum itu,” gumam Lydia seorang diri.


“Siapa yang kamu sebut Polar Bear?”


“Astaganaga,” teriak Lydia cukup keras.


“Pak Viktor?” seru Lydia begitu melihat pria yang menyapanya dengan pertanyaan.


Mereka berdua saat ini sedang berdiri di lobi. Viktor sepertinya baru akan menuju ke arah lift, ketika Lydia melintasi lobi. Viktor berhasil mengejutkan Lydia karena perempuan itu terlalu fokus menggerutu.


“Apa kamu tinggal di sini juga?” tanya Viktor dengan senyum tipis.


“Oh, Pak Viktor tinggal di sini toh. Kalau saya sih sedang mengunjungi teman,” jawab Lydia disertai ringisan.


Viktor mengangguk mengerti. Dia baru saja ingin menawarkan tumpangan pada Lydia, ketika wanita itu bertanya tentang luka di sudut bibirnya.


“Oh, ini. Tadi dihajar sama pacarmu,” jawab Viktor meringis.


“Pacar? Saya gak punya pacar, Pak.”

__ADS_1


“Maksudku Reino. Dia sepertinya sedang cemburu.” Viktor terkekeh, menyebabkan luka di sudut bibirnya terasa perih.


“Cemburu apa sih? Saya gak ngerti dengan pemikiran kalian berdua. Tadi juga Pak Reino nelepon buat memberitahu saya untuk menjauhi Pak Viktor.”


“Lupakan saja itu. Sekarang bagaimana kalau aku antar kamu balik ke kantor saja?” tanya Viktor terlihat serius.


“Gak perlu, Pak. Saya akan memesan taksi online saja.”


“Kalau begitu biar kutemani menunggu taksinya datang.”


Lydia menatap Viktor dengan tatapan bingung. Kenapa juga lelaki ini tiba-tiba baik padanya?


Tapi karena taksi yang dipesan Lydia terjebak macet, dia menerima tawaran Viktor. Lebih baik menunggu berdua dari pada sendiri.


Dan setelah sepuluh menit menunggu, sopirnya memberitahu kalau dia sedang antri untuk masuk ke lokasi drop off.


Awalnya Lydia sudah pamit pada Viktor, tapi pria itu memaksa untuk mengantarnya sampai ke luar. Bahkan dia menemani Lydia menunggu.


Tidak ada masalah yang terjadi, sampai ada sebuah van putih mendekat ke arah Lydia. Tepat sebelum taksi online Lydia disusul dengan mobil mewah yang sepertinya dia kenali.


“VIKTOR AKAN KUBUNUH KAU.”


Teriakan itu terdengar sangat jelas, membuat Lydia dan empunya nama berbalik untuk mendapati Reino menjulurkan kepala dari jendela mobil. Mobil mewah di belakang taksi online Lydia adalah milik Reino.


“Oh, ****. Sepertinya aku harus pergi,” seru Viktor sudah berbalik.


“Okay. Tidak masa.... Hmph...”


“LYDIA.”


Teriakan Reino membuat Viktor berbalik dan melihat kejadian yang membuatnya terkejut. Saking terkejutnya Viktor jadi membeku di tempat.


Dua orang dari van putih tadi turun dan membekap mulut Lydia. Menyeret wanita kurus itu masuk ke dalam mobil mereka.


Kejadian itu berlangsung cukup cepat, membuat beberapa orang yang melihat terkejut dan tidak bisa melakukan apa-apa. Viktor yang seharusnya punya refleks bagus saja baru tersadar ketika Reino berteriak lagi.


“Jangan diam saja brengsek.”


Reino sudah keluar dari mobilnya didahului oleh Hadi, tapi sudah terlambat. Mobil van itu sudah bergerak pergi, bahkan sebelum pintunya tertutup rapat.


“REI to... Hmmph...”


Telinga Reino sempat menangkap suara teriakn Lydia, tapi kemudian menghilang lagi. Tangan Reino sempat menyentuh bagian belakang mobil itu, sudah itu saja.


Walau Reino mencoba mengejar mobil itu, tapi tenaga manusia jelas tidak sama dengan mesin. Dia tertinggal.


“Sialan.”


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2