
“Loh, kok masih ke sini dek? Bukannya ruangan Mama kamu sudah dipindah?”
“Hah?” seru Lydia sedikit kaget mendengar keterangan itu.
Dia baru saja pulang dari kantor dan langsung ke rumah sakit. Tapi begitu membuka pintu ruangan, pasien kepo yang sekamar dengan Liani malah memberitahunya kabar mencengangkan.
“Loh? Masa kamu gak diberitahu sih?” tanya orang tadi terlihat bingung.
“Kalau gitu saya coba tanya dulu, Bu. Makasih infonya.” Lydia menunduk sopan sebagai ucapan terima kasih.
Dengan perasaan yang tak menentu, Lydia pergi ke meja informasi di lantai itu. Dan betapa terkejutnnya dia ketika menemukan ibunya memang dipindahkan ke kamar untuk satu orang.
“Tapi saya kan gak memberi perintah untuk memindahkan Mama saya ke amar itu,” sergah Lydia makin pusing memikirkan biaya yang pasti akan makin melonjak.
“Oh, katanya lagi ada program dari atas, Mbak. Pasien yang terpilih bisa upgrade kamar secara gratis.”
Lydia langsung mengernyit mendengar penjelasan itu. Sangat tidak masuk akal, tapi Lydia tidak punya bantahan. Dan dari pada pusing memikirkan hal tidak masuk akal, mending Lydia pergi menjenguk ibunya itu.
“Mama pindah kamar kok gak bilang-bilang? Bikin khawatir aja tau.”
Lydia langsung mengomel begitu masuk kamar rawat inap ibunya. Dia juga tidak lupa mengomeli sang adik yang sibuk main game online.
“Lah, aku kan udah chat tadi,” protes Kenzo kesal.
Ah, Lydia memang lupa kalau dia belum sempat melihat aplikasi chat hari ini. Dan tadi setelah pesan taksi online, ponselnya juga mati karena kehabisan daya. Untung dia sudah menemukan mobilnya, sebelum benda pipih itu mati.
“Tapi waktu diajak pindah kamar ada yang aneh gak?” tanya Lydia penasaran. Dia punya dugaan siapa pelaku pemindahan kamar ini, tapi tidak punya bukti.
“Gak ada sih, Kak. Cuma petugas rumah sakit saja yang datang dan kasih tahu kalau kita bisa naik kelas gratis,” jawab Kenzo dengan polosnya.
Entahlah Lydia merasa sangat aneh dengan semua ini. Ini jelas ulah Reino agar bisa mengawasi ibunya, hanya saja ada hal yang membuatnya khawatir. Sedari tadi, Lydia merasa ada yang mengawasi.
Kalau yang mengawasi anak buah Reino sih tidak masalah. Tapi entah kenapa rasanya ada yang aneh. Perasaan Lydia tiba-tiba tidak enak.
“Oh, iya. Tadi rasanya ada berita soal atasanmu deh,” tiba-tiba saja Liani berseru.
__ADS_1
“Oh, ya. Berita soal apa?” tahya Lydia pura-pura ingin tahu. Padahal sejatinya dia sama sekali tidak ingin tahu.
“Nama bosmu Reino Andersen kan?” tanya Liani sebelum melanjutkan dan Lydia segera mengangguk sebagai jawaban.
“Katanya dia membela pegawainya yang dilecehkan di depan publik. Ada yang mengunggah videonya ke media sosial dan jadi viral. Katanya dia sampai membanting meja demi membela karyawan perempuan yang sedang bersamanya.”
“Ah, itu.” Lydia meringis mendengar berita itu sudah tersebar luas.
“Kamu mengetahuinya?” tanya Liani dengan keddua alis menuki naik.
“Tentu saja aku tahu, Ma. Aku sedang bersama dengan bosku saat itu.”
“Jangan bilang perempuan yang dilecehkan pria tua dan kemudian diselamatkan itu kamu, Kak,” Kenzo segera menyambar.
Dan ketika Lydia mengangguk, Kenzo langsung mengumpat keras. Liani sampai-sampai melotot pada anak bungsunya itu. Walau Liani tidak suka anak gadisnya dilecehkan, dia juga tidak suka mendengar Kenzo mengumpat. Sayangnya, Liani tak tahu kalau Lydia sudah tidak perawan.
Lalu karena didesak oleh Liani dan Kenzo, Lydia pun bercerita soal kejadian yang menghebohkan itu. Dia mengatakan semua yang dikatakan pria tua yang melecehkannya itu dan membuat Liani nyaris mengumpat.
“Untung kamu punya atasan yang baik, Lyd. Mama jadi sedikit tenang kamu kerja di sana,” seru Liani terllihat benar-benar bersyukur.
“Ya gitu deh, Ma. Tapi orangnya emosian dan banyak maunya,” balas Lydia berusaha terlihat santai saja.
“Yah, mungkin karena banyak kerjaan kali.”
“Lydia turun ke bawah dulu ya, Ma. Mau ambil pesanan makanan.”
Lydia segera pamit begitu melihat notifikasi dari aplikasi makanannya. Sekaligus dia juga ingin mengakhiri obrolan mengenai Reino. Lydia malas mendengar ibunya terus memuji Polar Bear itu.
Untung saja Kenzo sudah pulang dan tidak ikut-ikutan memuji. Kalau tidak telinga Lydia bisa terbakar.
“Oh, sorry,” Lydia refleks meminta maaf ketika dia tidak sengaja menabrak seseorang.
Bukannya menyahut, perempuan yang ditabraknya malah segera berlari pergi. Seolah-olah sedang dikejar sesuatu, membuat kening Lydia berkerut.
“Aneh,” gumam Lydia pelan. Dia tidak sedang mengatakan penampilan serba tertutup perempuan tadi, tapi reaksinya setelah ditabrak.
__ADS_1
Orang menggunakan masker dan jaket hoodie berlengan panjang sudah biasa di rumah sakit. Itu bukan pemandangan aneh karena memang ada beberapa pasien yang perlu berpenampilan seperti itu ketika keluar kamar. Entah kedinginan atau agar tidak menyebar virus. Tapi kelakuan perempuan tadi aneh.
Lydia berbalik untuk kembali melihat perempuan tadi, tapi dia sudah tidak ada lagi. Entah mengapa Lydia merasa sedikit familiar dengan perempuan tadi dan perasaannya tidak enak. Sekali lagi bukan karena penampilan orang itu, tapi tingkah lakunya.
Tapi sudahlah. Itu mungkin hanya perasaan Lydia saja. Dia tidak lagi peduli pada perempuan berkelakuan aneh tadi dan fokus mencari pengantar makanannya. Dia sudah kelaparan dan ingin segera memakan nasi goreng porsi jumbo pesanannya.
Dan ketika Lydia kembali dari mengambil makanan, dia mendapat lantai tempat ibunya dirawat tiba-tiba saja menjadi ramai. Lydia makin panik ketika mendapati orang-orang berkerumun di depan kamar ibunya.
“Ada apa ini?” seru Lydia panik bukan main.
“Gak tahu, Mbak. Tadi ada yang berteriak dari dalam. Sudah ditengok, tapi belum jelas ada apa,” salah seorang yang sepertinya penjaga pasien kamar sebelah memberitahu.
“Mama?” Lydia yang panik segera menghambur masuk dan dia dikejutkan dengan pemandangan yang ada di dalam.
Seorang pria tinggi besar dengan pakaian serba hitam, tengah memiting tangan seorang perempuan berpakaian perawat. Lalu ada juga beberapa perawat yang menatap mereka dengan ekspresi ketakutan.
“Lepaskan aku brengsek. Aku cuma mau memeriksa keadaan pasien,” terik perempuan itu terlihat meringis kesakitan.
“Maaf, tapi tidak mungkin. Kamu tadi seperti sedang ingin menarik selang yang terhubung di kepala pasien,” jawab pria itu dengan tegas, membuat semua orang terkesiap
.
“Tidak masuk akal. Kau gila,” teriak perempuan bermasker itu.
“Maaf sebentar.”
Salah seorang perawat mendekat dan mencoba melepas masker yang digunakan perempuan tadi. Perempuan bermasker itu melawan, tapi pada akhirnya maskernya berhasil dilepas.
“Dia bukan perawat di sini,” sergah perawat yang membuka masker itu.
“Sialan,” teriak perempuan bermasker itu dengan keras.
Perempuan itu kemudian menginjak kaki pria besar di belakangnya menggunakan heels dengan sekuat tenaga. Dan walau bertubuh besar, diinjak tepat di kaki dengan ujung runcing sepatu tentunya sangat menyakitkan. Itu membuat cekalannya terlepas dan perempuan itu melarikan diri, tanpa ada satu pun orang yang mengejar. Lalu, dari pada mengejar orang itu, Lydia lebih ingin tahu kondisi ibunya.
“Lydia,” panggil Liani yang terlihat sedikit pucat.
__ADS_1
***To Be Continued***