Ex-Husband After Divorce

Ex-Husband After Divorce
Ulang Tahun


__ADS_3

“Oh, my God. Emang nyaman banget holiday dibayarin,” teriak Vanessa sangat kencang.


“Woi, ini di tempat umum kali. Pelankan suaramu,” hardik Lydia sedikit malu dengan suara cempreng sahabatnya itu.


“Ck. Makanya kasih tahu pacarmu itu, lain kali tolong sewakan vila saja. Biar kita bisa teriak-teriak sampai puas pas sarapan,” sergah Vanessa kesal.


“Ya kali. Udah syukur juga kita semua dibayarin. Mana fasilitasnya yang the best lagi,” timpal Cinta dengan mata berputar.


“Dan lagian ya. Kalau kita diambilkan vila yang dekatan atau satu vila buat rame-rame, adanya telinga kita yang tuli dengar suara ******* tiap malam,” tambah Erika tanpa filter.


“Ih, apaan sih Ka.” Cinta langsung menoyor bahu sahabatnya itu dengan keras, membuat semua orang tertawa.


Mereka berempat (berlima ditambah suami Cinta), akhirnya benar-benar terbang ke Yogyakarta dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh Reino. Bahkan Polar Bear itu memberikan kartu hitam pribadinya pada Lydia, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk perjalanan ini.


Reino juga menyediakan fasilitas mewah. Mulai dari private jet, hotel bintang lima, mobil Vellfire, sampai jasa pengawal dan asisten yang akan membantu mereka melakukan apa pun untuk mereka. Mulai dari mengambilkan sarapan, sampai mengangkat barang belanjaan.


Cinta dan suaminya—Ezra, memanfaatkan momen ini untuk babymoon. Sebenarnya Ezra sudah merencanakan babymoon dilain waktu, tapi karena ada yang gratis dan berkualitas, Cinta memaksa Ezra untuk ikut. Kalau menurut Cinta, biar sekalian Ezra kenalan lebih dekat dengan para sahabatnya.


"Tapi serius deh, Lyd. Kamu pakai pelet apa sih sampai Reino Andersen yang viral itu mau-mau saja memberikan fasilitas mewah ini untuk kita,” cerca si cerewet Vanessa.


“Aku juga serius waktu kasih tahu kalau aku dapat reward. Aku menyelamatkan perusahaan dari berbagai hal yang mungkin bikin rugi,” jawab Lydia jemawa.


“Tapi menurutku ini berlebihan. Masa sampai kita-kita juga ikut?” kali ini Ezra si suami bucin yang berbicara.


“Kalian pacaran kan? Ngaku saja,” sambung Erika dengan tatapan tajamnya.


“Aku rasa mereka bahkan sudah bertunangan,” Cinta juga ikut-ikutan.


“Astaga serius deh. Emang cuma bantuin di kantor saja kok,” jelas Lydia entah untuk yang ke berapa kali.


Memang agak tidak masuk akal sih, tapi kan memang itu yang terjadi. Tapi karena tidak ada yang mempercayainya, Lydia membiarkan saja semua orang berasumsi sendiri. Dia tidak lagi peduli.

__ADS_1


Dan seperti itulah hari pertama liburan mereka dimulai. Sebenarnya ini sudah hari kedua sih, tapi pada hari kamis kemarin, mereka yang tiba agak malam memutuskan untuk langsung istirahat saja.


Secara garis besar, mereka berangkat hari kamis malam. Dan nanti akan pulang pada hari minggu siang. Rencananya juga mereka hanya akan berkeliling kota Yogyakarta saja karena ibu hamil tidak boleh terlalu lelah.


Tapi sesungguhnya, Lydia punya agenda tersembunyi. Dia ingin menghabiskan hari ulang tahunnya pada hari minggu nanti dengan bermain bersama orang yang disayangi. Pagi sampai siang bersama para sahabat dan sore sampai malam dengan keluarga.


Dan karena Lydia tahu para sahabatnya ini selalu memberi kejutan ulang tahun, maka kali ini dia cukup menantikannya. Secara tahun ini mereka akan merayakannya dengan cara yang sedikit berbeda karena sedang berada di luar kota.


Karenanya selama dua hari, Lydia terus-terusan memperhatikan para sahabatnya itu. Bahkan Ezra pun tidak luput dari pengawasannya, tapi hasilnya nihil. Lydia tidak bisa menebak.


Okay. Katakanlah Lydia terlalu ke ge-eran. Tapi kan biasanya tiap tahun seperti itu. Masa iya kali ini dia tidak boleh mengharap.


“Kamu kenapa sih cemberut banget?” tanya Erika iseng saja saat di dalam mobil.


“Paling juga kangen pacarnya. Habisnya si Cinta dan Ezra bikin kita-kita pada kangen pacar sih,” celoteh Vanessa tak terbendung.


“Eh, kok aku lagi sih?” protes Cinta yang selalu dibully. “Ini aku duduk di depan dan Ezra di belakang loh. Jauh juga.”


Cinta memang memilih duduk di depan, di samping pak sopir. Dia mengaku lebih mudah mual jika duduk di belakang. Tentu saja itu karena bawaan hamil. Dan karena tiga yang lain ingin duduk di tengah, Ezra yang harus mengalah untuk duduk di belakang.


“Kami tidak bermesraan. Aku hanya membantu Cinta berjalan. Dia kan sedang hamil, wajar dong kalau aku khawatir.”


“Alasan,” serbu Lydia, Vanessa dan Erika bersamaan. Dan itu membuat Ezra mengangkat tangan.


Pada akhirnya di hari sabtu yang cerah itu, Lydia tidak lagi terlalu memikirkan ulang tahunnya besok. Kata orang jangan terlalu memikirkan hari ulang tahunmu kalau tidak mau celaka. Mitos yang tidak diketahui kebenarannya, tapi kadang masih dipercaya. Hanya saja kali ini, Lydia memang melupakan hal itu karena sibuk dengan para sahabatnya sampai malam.


***


“Woi, Lyd.” Erika memukul wajah Lydia menggunakan bantal dengan keras.


“Ponselmu bunyi tuh,” Erika langsung menggerutu begitu Lydia terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Ini sudah jam sebelas malam dan tidur Erika terganggu dengan dering ponsel Lydia. Untung saja Vanessa di kamar yang lain, kalau tidak dia bisa mengamuk karena tidurnya terganggu.


“Halo,” gumam Lydia dengan suara seraknya.


“Sialan. Baru di telepon saja kau sudah membuatkku bangun.”


Kening Lydia berkerut bingung. Dia kemudian menjauhkan ponselnya untuk melihat dengan jelas siapa yang menelepon. Dan Lydia langsung memutar matanya begitu melihat nama Reino tertera di sana.


“Pak Reino. Ini hari sabtu dan sudah waktunya tidur.”


“Justru karena itu. Aku membutuhkanmu agar bisa ‘tidur.’”


“Saya sedang di Jogja, Pak,” geram Lydia kesal sekali tidurnya terganggu. Dan karena Erika menggerutu, dia terpaksa beranjak ke ruang tamu kamar suitenya.


“Aku juga baru tiba di Jogja. Jadi mending kamu siap-siap. Nanti akan ada orang yang menjemputmu dari kamar. Aku ingin kau memakai baju seksi untuk menemaniku berfantasi malam ini.”


“Tapi, Pak ... Halo ... Pak Reino? Ugh, yang benar saja.”


Lydia menggeram kesal sekali dengan kelakuan Reino yang memutus sambungan secara sepihak. Demi apa pun juga, masa dia yang sedang pergi liburan saja masih harus melayani bosnya itu, padahal sudah minta cuti. Bisa-bisa besok dia dia tidak sanggup lagi untuk berwisata.


Baru juga beranjak mau mencuci muka, terdengar ketukan di pintu kamar Lydia. Sekali lagi perempuan itu menggeram marah. Pastilah itu orang suruhan Reino dan mau tidak mau, Lydia harus pergi membuka pintu terlebih dulu. Kalau tidak Erika nanti mengamuk karena pintunya terus diketuk.


“Maaf, bisa tunggu sebentar? Saya perlu cuci muka dulu,” pinta Lydia begitu melihat pengawal dan asisten yang mengikuti rombongannya dua hari terakhir.


“Maaf, Bu. Pak Reino meminta sesegera mungkin. Jadi anda harus segera ikut kami,” jawab asisten yang perempuan.


“Tapi ... hei. Jangan tarik-tarik,” protes Lydia ketika si asisten menarik lengannya.


“Maaf, Bu. Tapi ini perintah Pak Reino,” jawabnya pelan.


“Maaf, Bu,” si pengawal bertubuh besar ikut meminta maaf, sebelum mengangkat Lydia seperti karung beras.

__ADS_1


“Hei, apa-apaan ini. Turunkan aku, Sialan. Dasar Polar Bear Mesum sialan,” teriak Lydia menyalahkan Reino dan libidonya.


***To Be Continued***


__ADS_2