
Tomy menghela napas kasar, "Memecatnya?" tanyanya, seakan meyakinkan pendengarannya.
Jemari tangan Suki gemetaran, pria tua itu mengangguk, "Tolong pecat dia, keluarga kita, keluarga kita akan..."
"Akan apa?" tanya Tomy dengan tenang, meminum secangkir teh hangat di hadapannya.
"Kakek hanya memiliki firasat buruk tentangnya. Bisa kamu memecatnya?" tanyanya, tidak ingin membongkar kesalahan-kesalahan yang dilakukannya di masa lalu.
"Tidak, aku tidak ingin memecatnya, dia akan tetap disampingku. Kecuali, dia melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaannya..." Tomy masih bersikap tenang, berusaha untuk tersenyum, menatap pantulan bayangan Suki dari meja dengan kaca transparan di hadapan mereka.
Kakek yang dicintainya kini gemetaran dengan raut wajah pucat. "Dia ..." kata-kata Suki terhenti.
"Dia apa?" Tomy menghela napas kasar meletakkan cangkir tehnya.
"Dia sudah membunuh Leon!! Dia pelakunya!! Kakek tau..." kata-kata Suki terhenti, raut wajah cucunya berubah. Bukan wajah biasa yang terlihat antusias lagi. Namun, sesuatu yang menyiratkan kekecewaan.
"Kenapa dia ingin membunuh paman Leon? Motif apa yang dimilikinya? Apa dia ingin merampok paman?" pertanyaan tidak masuk akal keluar dari mulut Tomy. Bagaikan sebuah tamparan tidak kasat mata darinya pada pria tua dihadapannya.
"Dia..." kata-kata Suki terhenti, berucap dengan ragu. Membulatkan matanya, jemari tangannya bertambah gemetar, menatap mata cucunya yang seakan menghakiminya.
"Jika aku menjadi dia. Aku akan masuk kedalam rumah dengan membawa senjata. Menunggu malam tiba membunuh semua anggota keluarga di rumah ini satu-persatu ketika tertidur..." ucapnya, menatap pantulan wajahnya pada teh di hadapannya. Senyuman menyungging di wajahnya.
"Apa maksudmu?" Suki berusaha bersabar, menyelami kata-kata yang keluar dari mulut cucunya.
"Kakek ingat ketika aku kehilangan Frea. Aku hampir gila, berusaha membalas dendam dengan membabi buta. Karena aku hanya memiliki empat orang dalam hidupku, kakek, ibu, Farel dan Frea,"
"Tapi Rangga tidak memiliki siapa-siapa, atau aku harus memanggilnya Kenzo?" lanjut Tomy, terdiam sesaat, menunggu kata-kata pembelaan yang akan keluar dari mulut Suki.
"Kamu mengetahuinya? Kakek tidak sengaja, saat itu orang tuanya..." kata-kata Suki disela.
"Karena itu kakek berperan menjadi malaikat, mengadopsi anak yatim-piatu kedalam rumah besar? Jika sudah mengadopsi, perlakuan dia seperti keluarga!!" untuk pertama kalinya Tomy membentak Suki, menatapnya tajam.
Pemuda itu memejamkan matanya sejenak, menghela napas berkali-kali, berusaha meredam emosinya.
Sedang Suki terdiam, menatap ke arah cucunya. Mengetahui segalanya? Bagaimana Tomy dapat mengetahuinya?
__ADS_1
"Kakek menyewakan baby sitter untuknya, hingga berusia lima tahun. Kakek mengembalikannya ke panti asuhan saat berusia 8 tahun, dengan memberinya bekal beberapa toko untuk kehidupannya kelak,"
"Kemudian... kemudian, kakek tidak tau dia hidup di jalanan, tidak pernah diantarkan ke panti asuhan, tidak menerima toko yang kakek berikan," Suki berusaha menceritakan sebagian, berharap Tomy tidak kecewa padanya.
"Bagaimana pun tindakannya, membunuh Leon..." kata-kata Suki disela.
"Kakek pernah meminta maaf padanya? Ayah (Adrian), menelantarkan ku dari kecil, mendorongku keluar rumah mewahnya berkali-kali. Tapi dia bersedia menurunkan harga dirinya untuk sekedar meminta maaf, walaupun tidak dapat menebus, masa kecil suram yang aku lalui..."
Kata-kata yang membuat Suki tertegun, meminta maaf? Kematian Arman, tuduhan Nila, hingga anak itu terlantar di jalanan. Mungkin meminta maaf memang sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
Namun, apa pantas Kenzo menagih permintaan maaf dengan membalas dendam, mengambil nyawa Leon?
"Tapi Leon, pamanmu... Kenzo hanya seorang pembunuh!! Kenapa kamu membela seorang pembunuh!!" ucap Suki menatap tajam.
"Kenapa aku kembali ke rumah seorang pembunuh? Kakek membunuh ayahnya bukan? Kenapa aku menyelamatkan perusahaan milik orang yang menelantarkan anak yatim-piatu?" semua kata-kata Suki dibalik oleh Tomy.
"Aku tidak tau dengan pasti, bagaimana masa suram yang dilalui Kenzo di rumah ini atau jalanan. Tapi, satu hal yang pasti, penderitaan yang kakek berikan membuatnya mengalami gangguan kepribadian,"
"Kenzo mengidap bipolar karena kalian. Jangan berpikir ini bohong, aku menyuap beberapa orang yang dekat dengannya untuk mendapatkan informasi..." lanjutnya.
"Minta maaf padanya, atau setelah aku menyelesaikan masalah perusahaan, aku akan meninggalkan rumah. Mengundurkan diri sebagai komisaris..." Tomy mulai bangkit dengan raut wajahnya yang terlihat masih tenang.
"Kenapa? Dia hanya orang luar!! Kamu tidak memiliki hubungan darah dengannya!" bentak Suki.
"Dia menyelamatkan nyawaku, saat akan ditikam karyawan Bold Company yang baru aku pecat. Memegang pisau dengan berani. Dia musuh bagi kakek. Tapi super hero bagiku, mungkin seperti power rangers..." candaan dari mulut Tomy, bangkit dari tempat duduknya.
"Aku tidak dapat menerima, Leon sudah..." kalimat Suki terhenti.
"Paman belum meninggal, dia pria tangguh bagaikan Rambo, bahkan dulu hampir membunuh istriku. Dia hanya bersembunyi di suatu tempat," Tomy meraih kursi roda Suki, kemudian mendorongnya, hendak mengantar kembali ke kamar sang kakek.
"Sebaiknya, jangan fikir panjang lagi, sekarang gosok gigi, minum susu hangat, lalu tidur. Besok minta maaf padanya. Jadilah anak yang baik seperti Gilang..." lanjutnya, penuh senyuman.
"Anak baik!?" Suki mengenyitkan keningnya.
"Maaf... kakek gaul yang baik..." tawanya terdengar, mendorong kursi roda sang kakek.
__ADS_1
Entah kenapa beban hatinya bagaikan berkurang, hanya dengan tekad meminta maaf dapat seperti ini!? Tapi ini memang kesalahannya, dirinyalah yang pantas menunduk. Mungkin jika dulu ego di hatinya menghilang, kesalahan demi menutup kesalahan lainnya tidak akan dilakukannya.
***
Kenzo menjambak rambutnya frustasi. Handphone Simon tidak diangkat sama sekali, setelah diberikan intrupsi olehnya guna menghentikan tindakan balas dendamnya.
Namun, pemuda itu mengatakan tidak akan berhenti sebelum Agra dan Gilang mati. Kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Tuan..." Frans menghela napas kasar.
"Kerahkan orang sewaan, untuk menangkap Simon..." ucapnya, dalam kepanikan.
"Orang-orang kita di negara ini tidak banyak, Simon bergerak cepat. Bagaimana jika anda terus berada di dekat Gilang dan Agra. Mungkin dia akan muncul..." usulnya.
Kenzo mengangguk, hanya ini jalan yang ditemuinya untuk memperbaiki semuanya...
"Tuan, apa rencana anda setelah ini berakhir?" Frans menghela napas kasar.
"Hidup tenang, tinggal disini beberapa bulan. Kemudian kembali mengurus bisnisku di negara lain..." jawabnya, meminum sekaleng soda di tangannya.
"Kamu mau?" Kenzo memberikan sekaleng soda lainnya pada Frans. Emosi yang berubah-ubah, namun hati pemuda itu tidak sekeji yang terlihat, begitulah sosok Kenzo.
Frans menerimanya, membuka kemudian meminumnya,"Boleh aku tetap mengikuti anda?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.
"Tuan, diumur anda ini, apa anda tidak tertarik dengan wanita?" Frans kembali bertanya penuh rasa penasaran.
Kenzo tidak menjawab, pemuda itu hanya terdiam, menatap ke arah bintang...
Bersambung
Iri? Mungkin itulah perasaanku ketika melihat orang lain dicintai. Aku menginginkannya, menginginkan untuk dicintai juga...
Adakah rasa suka seseorang untuk pria tidak berguna sepertiku...
Aku menginginkan hati yang terluka, untuk saling menyembuhkan. Agar tidak perlu tertunduk di hadapannya...
__ADS_1
Kenzo...