
Rapat pemegang saham diadakan, hanya 60% saham Bold Company yang merupakan milik Suki. Rencana Frans? Tentu saja mengganti komisaris, mengingat pemegang tampu kekuasaan tidak pernah hadir, nilai saham yang turun. Pemegang saham tertinggi kedua kini memiliki 17% saham, seseorang bernama Roberto.
Saling melirik bekerja sama untuk menguasai Bold Company, pemegang saham lainnya? Tentu saja juga berpihak pada mereka. Untuk menjatuhkan keluarga Suki, yang notabene adalah pendiri perusahaan tersebut. Menguasai perusahaan dengan membeli saham mereka sedikit demi sedikit, jika tampu kekuasaan sepenuhnya telah dikendalikan Frans.
Ruangan rapat yang besar, tiga orang pengawai membagikan lembaran dokumen, mengenai anjloknya saham perusahaan.
Leon mengenyitkan keningnya, menggenggam erat dokumen di hadapannya,"Tidak tau diri..." ucapnya mengingat semua masalah perusahaan berasal dari satu sumber, Frans, orang yang dulu dipercayai Suki.
Frans, seorang pria berusia 36 tahun. Dibiayai kuliahnya oleh Suki. Bahkan hingga menempuh pendidikan ke Australia. Namun, bagaikan lupa diri, prilakunya mulai berubah setelah menjabat sebagai CEO.
"Karena pemimpin rapat (komisaris) tidak hadir, selaku CEO aku akan bersifat netral untuk mewakilinya, memimpin rapat kali ini..." ucapnya, tersenyum.
Leon mengepalkan tangannya, dapat dipastikan, jika posisi komisaris digeser, dalam beberapa bulan mereka akan berkualisi untuk menjatuhkan semua anggota keluarganya. Mendepak satu-persatu anggota keluarga Suki dari perusahaan.
***
Memakai sweater lengkap dengan headphone menggantung di lehernya. Pemuda remeh pecinta game yang terlihat santai, telah mengakhiri masa liburannya.
"Kenapa aku ikut?" Frea mengenyitkan keningnya.
"Mewakiliku bicara, tolong aku ya..." ucapnya mengacak-acak rambut istrinya yang dipaksa memakai pakaian resmi.
Gilang dan Mona telah menunggu disana, mengenyitkan keningnya. Menatap pemuda yang terlalu santai datang dalam keterlambatannya.
"Kenapa tidak memakai jas?" Mona menghela napas kasar.
"Dia yang bicara, aku akan menonton dari pojok ruangan..." senyuman menungging di wajahnya. Merangkul bahu istrinya menaiki lift.
"Tapi dia itu terlalu mengerikan, berteman baik dengan pemegang saham. Bersahabat dengan beberapa menteri dalam negeri, bahkan mengenal beberapa orang dari kedutaan. Bisnis di luar negeri, semua di hendel olehnya..." Mona menasehati, sebelum lift tertutup.
"Malaikat kematian adalah sahabat baikku, jika tidak ingin nyawanya di cabut. Dia harus menurut..." ucapnya tersenyum, hingga akhirnya pintu lift tertutup sempurna.
"Dia sudah gila..." Gilang mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar. Mengingat jabatannya dan Mona tidak memungkinkan untuk memasuki rapat pemegang saham.
***
Sudah terbiasa menghadapi semua situasi? Itulah Tomy. Tidak memberikan persiapan apapun pada istrinya. Pucat? Begitulah raut wajah Frea yang hanya lulusan S1.
__ADS_1
Brak...
Pintu ruang rapat dibukanya tanpa permisi. Semua mata beralih padanya. Pemuda itu berjalan duduk di kursi paling pojok, menyenderkan tubuhnya memejamkan matanya.
Sedang, Frea memilin jemarinya, penuh rasa tegang. Menatap makhluk kalangan atas yang lebih dari 30 orang. Bahkan, diantaranya warga negara asing.
Wanita tanpa persiapan itu melirik ke arah suaminya.
Leon mengusap wajah kasar, istri Tomy masih hidup...
Tapi bukan itu poin terpenting saat ini, pecandu game itu, masuk hanya untuk tidur. Sedangkan istrinya berdiri terlihat canggung.
Tamat, aku harus menyembunyikan wajahku, dimana sekarang... gumam Leon dalam hati.
Frans menahan tawanya, menghela napas kasar, "Maaf anda siapa? Apa kepentingan anda datang pada rapat penggantian komisaris?" tanyanya pada Frea.
"Aku istri dari komisaris yang baru menjabat. Aku akan mewakilinya bicara..." ucapnya memberanikan diri.
Tomy tersenyum, masih duduk tertidur di kursi. Mendengar semua kata-kata istrinya, menguji mental? Mungkin itulah yang dilakukannya, bagaimanapun cepat atau lambat Frea tidak boleh tertunduk. Harus mengangkat kepalanya di depan kalangan atas sekalipun.
"Aku..." Frea nampak ragu berkata-kata, ucapannya disela kembali.
"Suki tengah sakit keras. Orang yang menggantikannya berusia terlalu muda, tidak memiliki pengalaman," kata-kata yang keluar dari mulut Frans.
Muda? Tomy memang masih muda, tapi di JH Corporation dia bekerja lebih profesional dari pada pria berpakaian rapi yang hanya bisa bicara omong kosong, tanpa tindakan... Frea memendam kekesalannya, masih berusaha tersenyum.
"Baru memasuki keluarganya selama beberapa bulan. Kesetiaannya pada Bold Company juga masih diragukan..."
"Harga saham anjlok belakangan ini juga karenanya yang tidak kompeten. Jadi..." kata-kata Frans disela.
Kemarahan Frea tidak tertahankan lagi, rasa ragu-ragu untuk bicara menghilang. "Teori dari mana, harga saham anjlok karena komisarisnya tidak kompeten. Pemimpin perusahaan adalah CEO, yang bertugas mengendalikan karyawan. Aku yang lulusan S1 saja tahu,"
"Apa anda ikut program paket C atau hanya lulusan SMU?" tanyanya, berusaha tersenyum, ingin rasanya membanting Sengkuni (Mahabarata) , maaf salah Frans yang ada di hadapannya.
Pintar bicara... Frans mengigit bagian bawah bibirnya tersenyum.
"Aku diangkat oleh komisaris, aku memang yang mengendalikan perusahaan. Tapi jika harga saham anjlok, semua merupakan tanggung jawab komisaris pada pemegang saham," pemuda itu tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Apa tujuanmu? Ingin memecat suamiku? Kita lakukan voting saja kalau begitu..." ucap sang pelatih bela diri yang tersasar ke perusahaan. Mengambil langkah, tanpa fikir panjang.
Sedang Leon tertunduk mengeluarkan aura suram. Kenapa voting... gumamnya dalam hati memendam kekesalan, melirik ke arah Tomy yang tertidur di kursi dengan wajah damainya.
Dia terlalu sibuk bermain game, hingga dapat tidur di situasi genting... kesalnya, ingin menginjak wajah keponakannya itu.
"Bagus...kita akan voting, tapi bukan berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Satu orang di ruangan ini, akan memiliki satu suara. Setuju?" tanyanya pada pemegang saham, tentu saja mayoritas diantara mereka setuju.
Leon seperti dipaksa masuk kedalam perangkap, wajah menyebalkan itu masih saja tertidur. Membiarkan istrinya yang emosional menghadapi Frans.
Mayoritas pemegang saham telah dipengaruhi pemuda yang menjabat sebagai CEO itu.
Roberto, pemegang saham kedua terbesar, hanya tersenyum, merasa kerjasamanya dengan Frans akan berhasil. Pilihan untuk memecat Tomy tentu itu yang akan dipilihnya, menginginkan dirinya yang akan menjadi komisaris berikutnya.
Satu persatu kertas pilihan, anonim (tanpa nama) terkumpul. Frea mulai duduk di samping Leon yang terlihat pasrah dengan wajah pucatnya.
"Kamu istri Tomy?" tanya Leon menghela napas kasar.
Frea tersenyum sembari mengangguk.
"Kenapa kamu masih hidup?" tanyanya kembali.
"Saudara sepupu Tomy yang menyelamatkanku," jawabnya.
"Gilang..." Leon kembali menghela napasnya,"Kita sudah habis..." gumamnya.
"Habis? Maksudnya?" Frea mengenyitkan keningnya.
"Aku hanya memiliki dua pendukung di ruangan ini. Disini ada 30 orang, jadi kita hanya memiliki 4 suara. 26 melawan 4... kita kalah..." ucapnya menghela napas berkali-kali.
Wajah Frea pucat pasi, menyangka suaminya yang memasuki Bold Company sudah menguasai situasi, ternyata tidak.
Bocah tengik, tidak bertanggung jawab itu masih tertidur di kursi pojok belakang dengan damai. Bagaikan tidak memiliki beban.
"Baik, kita akan mulai menghitung hasil voting," Frans tersenyum, menatap ke arah Frea, mengedipkan sebelah matanya, menggoda sekaligus mengejek, wanita yang hanya berselisih usia satu tahun dengannya itu.
Bersambung
__ADS_1