
Gelas kecil Vodka ditenggaknya, hanya sedikit tapi cukup membuatnya limbung. Tomy mengenyitkan keningnya menatapnya.
"Kamu mau? Dasar gagap..." racaunya setidaknya pernah sedikit mendengar tentang masa kecil sepupunya.
"Kamu tidak bisa minum?" tanya Tomy, menghela napas kasar.
"Bisa, pacarku mengatakan pria keren itu adalah pria yang bisa sedikit minum, Kamu mau?," racaunya, duduk di sofa menyenderkan tubuhnya.
"Tidak, aku tadi minum obat..." Tomy mulai bangkit dari sofa, mengambil segelas air putih hangat, kemudian kembali duduk ditempatnya.
"Tomy, kamu masih mencintai istrimu?" tanyanya penasaran.
Tomy tersenyum, terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Dia orang yang baik, aku mencintai hatinya, mungkin terobsesi..."
"Aku pernah melihat fotonya di kamarmu, wajahnya biasa-biasa saja. Pacarku jauh lebih cantik darinya..." ucap Gilang meracau.
"Kamu tau? Yang paling menyakitkan adalah berada di roda kehidupan paling bawah?" tanya Tomy memandang gelas air putih di hadapannya.
Gilang terdiam tidak mengerti dengan kata-kata yang diucapkan Tomy.
"Aku adalah seorang anak haram gagap yang diabaikan semua orang. Bahkan Ibuku sendiri dulu menyimpan kebenciannya padaku dalam hatinya,"
"Ada satu hari dimana aku terlalu lelah hanya untuk hidup. Saat itulah aku bertemu dengannya, kebaikan pertama yang aku temukan..." lanjutnya.
"Bravo... terdengar romantis, jika aku istrimu hatiku akan lumer seperti karamel," ucap Gilang bertepuk tangan.
"Pacarmu orang seperti apa?" tanya Tomy, sepengetahuannya Gilang tidak memiliki kekasih. Mungkin karena kondisinya yang tengah dalam pengaruh alkohol pemuda itu menceritakan hal yang disembunyikannya dari keluarga besarnya.
"Dia wanita yang baik, satu-satunya orang yang mengatakan aku tampan. Membantuku agar tidak dihina, aku mencintainya..." racaunya tertawa, dengan wajah polosnya, kemudian tertidur.
"Aku fikir dia akan sulit dihadapi seperti ayahnya..." Tomy menghela napas kasar, mengambil sebilah pisau bedah dari kopernya, menancapkan tepat pada jantung Gilang.
Gilang membuka matanya,"To...Tomy..." suaranya terdengar terbata-bata. Tubuhnya mendingin dengan mata yang terbuka menatap kearah sepupunya.
Wajah dingin Tomy terlihat, pakaian dan tangannya berlumuran darah, berjalan beberapa langkah hingga area balkon.
"Semuanya sudah impas, bukankah begitu Frea?" tanyanya, menatap ke arah langit.
Entah apa yang difikirkannya, pemuda yang takut akan ketinggian itu, mulai menaiki tralis balkon lantai empat, kamar yang ditempati Gilang. Menjaga keseimbangan, berdiri diatasnya, seolah hidup dan matinya tidak berharga, hanya sebuah permainan.
Pemuda itu menutup matanya sejenak merasakan angin dingin menerpa kulitnya. Kedua tangannya direntangkan, air matanya mengalir tidak terkendali."Aku merindukanmu..." ucapnya, menjatuhkan dirinya...
Aku terlalu lelah menempuh perjalanan panjang ini. Darah ini menjadi bukti, aku sudah membalas rasa sakitmu padanya (Leon). Membiarkannya hidup seorang diri tanpa putra tunggalnya...
__ADS_1
Aku akan menemuimu...
Tubuh yang masih lemah akibat demamnya itu, terpelanting jatuh dari lantai empat, membentur tanah, dilengkapi bebatuan kerikil diatasnya. Darah mengalir dicelah bebatuan kecil, wajahnya terkena cipratan darah kali ini. Bukan darah dari sepupu yang ditikamnya. Namun darahnya sendiri yang mengalir akibat benturan di bagian kepalanya.
"Kita akan bersama..." kata-kata terakhirnya lirih, sebelum mata itu tertutup sempurna dengan air mata yang mengalir.
***
"Tomy!!" napas Frea terengah-engah bangkit dari tempat tidurnya, dengan cepat berjalan menuju lantai dua. Berharap pemuda itu masih tertidur disana.
Brak...
Pintu dibukanya dengan cepat, Gilang bangkit dari tempat tidur menguap beberapa kali. "Ada apa? Setelah meminum obat dia sudah tidur. Jika tidak ingin keberadaanmu diketahui, kembali ke kamar sana!!" ucapnya mendorong tubuh Frea.
Mata Frea menelisik, tidak ada luka tikaman di dada kiri Gilang. Suaminya juga terlihat tertidur dengan nyenyak. Mereka tidur di lantai dua, kamar yang ditempati Tomy, bukan di lantai empat, kamar yang ditempati Gilang.
Frea menghela napas kasar, menyadari semua hanya mimpi buruknya saja.
"Kamu mau kembali padanya?" tanya Gilang ingin menghilangkan beban hidupnya.
Frea menggeleng, "Tolong jaga dia..." ucapnya tertunduk, lebih memilih menyembunyikan dirinya.
"Aku tidak akan menjaganya, sudah aku bilang ayahku akan mengendalikannya. Aku akan menjadi CEO, sedangkan ayahku menjadi komisaris yang baru..."
Frea menghela napas lega, berjalan kembali ke kamarnya. Mimpi yang benar-benar buruk baginya, hingga langkahnya masih gemetaran ketika menuruni tangga hendak kembali menuju kamarnya.
***
Gilang masuk ke dalam selimut, tertidur memunggungi Tomy. Tidak menyadari mata pemuda yang terpejam itu tiba-tiba terbuka.
Menunggu dengkuran halus dari mulut Gilang, sang pemuda mulai duduk di tepi tempat tidur. Berjalan perlahan menelusuri setiap ruangan dalam villa mencari sumber suara yang tadi didengarnya.
Hari hampir pagi, sang pemuda berdiri di hadapan ruangan kecil lantai satu. Pintu dibukanya perlahan. Langkahnya terhenti sejenak, kemudian kembali melangkah perlahan.
Wajah wanita yang tengah tertidur disentuhnya, mengecup keningnya. Bulir air mata menetes membasahi pipi sang pemuda. Pandangannya sedikit beralih, pada baby box yang berada di ruangan tersebut.
Kulit yang nampak putih, hidung kecil yang mancung. Mata bayi mungil itu terbuka namun tidak menangis, seolah tersenyum, tangan kecilnya terangkat, menyentuh jemari tangan sang pemuda. "Anak pintar..." ucapnya tersenyum, menyadari kesamaan mereka. Sifat yang hati-hati, anak pintar yang ingin menemui ayahnya tanpa membangunkan ibunya.
***
Pagi mulai menjelang, seorang pemuda menyiapkan pakaian terbaiknya. Menggunakan parfum di sekujur tubuhnya, kemudian merapikan rambutnya.
Gilang yang baru terbangun menguap beberapa kali, melihat penampilan sempurna pemuda yang baru sembuh dari demamnya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanyanya, menatap Tomy tengah memilih jam tangan mana yang sesuai dengan sweater nya.
"Sarapan," jawabnya datar.
"Setelah sarapan?" Gilang mengenyitkan keningnya heran. Sepupunya yang tengah berduka bagaikan akan berangkat berkencan.
"Aku akan mengadakan inspeksi mendadak. Aku ingin mengenal semua pelayan yang tinggal di villa ini," ucapnya tersenyum tanpa dosa.
Gilang mengenyitkan keningnya, "Inspeksi?" tanyanya meyakinkan pendengarannya.
Pemuda yang terkenal kecanduan game itu mengangguk. Dalam wajah lugu itu tersirat senyuman pria br*ngsek yang menyebalkan.
"Ini villaku, aku..." kata-katanya terhenti.
"Kakek sudah menyiapkan villa pengganti yang lebih luas untukmu. Villa ini diberikan padaku, aku adalah cucu kesayangannya..." senyuman memuakan seorang anak manja terlihat. Anak yang selalu berlindung di ketiak kakeknya.
"Aku pergi sebentar..." sang pemuda plin-plan turun ke lantai satu, terlihat panik. Membuka kamar Frea dengan cepat.
"Ada apa?" Frea yang tengah menggendong putranya mengenyitkan keningnya.
"Suami gilamu ingin mengadakan inspeksi pelayan villa. Kamu harus pergi..." Gilang mengeluarkan pakaian Frea yang tidak banyak dari lemari, memasukannya ke dalam koper. Hingga kegiatannya terhenti, mobil hitam terhenti di depan villa. Empat orang pengawal keluar dari dalamnya.
Salah satunya adalah Gretel, mantan pengawal pribadi Frea.
"Kita tidak bisa pergi. Pengawal di depan mengenalku," ucapnya juga bingung harus bagaimana, setelah mengintip dari jendela.
Gilang mengenyitkan keningnya."Kita potong rambutmu!!" usaha terakhir yang terfikirkan olehnya.
***
Para pelayan dan tukang kebun berjejer, di hadapan Tomy yang duduk mengenyitkan keningnya.
Belum mengaku juga... mungkin itulah kata-kata murka dalam hatinya.
Pelayan muda dan cantik sampai tukang masak, villa yang memiliki sekitar 12 pengurus termasuk seorang supir. Satu lagi pengurus gadungan tentunya.
Topi jerami, memakai sepatu boat, wajah berminyak yang dekil dengan tahi lalat bagian bawah matanya, rambut sebahu diikat kebelakang. Memakai seragam hijau tukang kebun.
Tubuh yang setiap malam aku peluk dan aku jamah. Wajah yang terus terbayang dari usiaku 11 tahun, dimana otak kalian jika kalian fikir aku tidak akan mengenalinya...
Pemuda itu mengenyitkan keningnya, menatap Gilang yang tersenyum, masih memakai piyama mengagumi hasil karyanya. Berhasil merubah penampilan orang hanya menggunakan tutorial di YouTube.
Bersambung
__ADS_1