Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Bermain Game


__ADS_3

Pemuda itu tersenyum, menampik tangan pria yang mencengkram kerah kemejanya."Aku bahkan bisa memecatmu, karena aku lebih kaya darimu..."


"Rey (sekretaris Frans) hentikan," perintah Frans memasuki ruangan, pria yang menatap Tomy dengan tenang.


"Baik tuan," Rey menunduk memberi hormat, berjalan menuju tepat di belakang Frans.


"Viola, Jefri, dipecat secara tidak hormat. Dua orang lagi Mirna, Aska, bawa mereka ke kantor polisi. Bekerja sama mencuri dana perusahaan? Memalukan!!" Tomy menggebrak meja, melempar data-data yang didapatkannya.


Sedang, security segera membawa keempat orang tersebut, keluar dari kantor. Tepatnya membawa ke area depan kantor Bold Company, dimana dua unit mobil polisi telah menunggu disana. Mengusir dua orang yang dipecat pergi, sedang dua orang lainnya diserahkan pada pihak kepolisian.


Mungkin karena kewalahan membawa satu-persatu, sehingga mereka lebih memilih menghubungi pihak kepolisian secara langsung setelah membawa bukti-bukti lengkap.


***


"Ini hanya peringatan!! Seperempat dari kalian memiliki kemungkinan untuk dipecat!! Sedangkan yang lainnya, jika tidak ada peningkatan kinerja, tidak akan ada perpanjangan kontrak!!"


"Nama, tidak akan saya sebutkan!! Untuk itu berhati-hatilah walau hanya melangkah sekalipun!!" ucapnya menatap tajam hendak meninggalkan ruangan, tidak ingin membuang-buang waktu. Langkahnya kembali diikuti dua orang pegawai HRD yang menarik dua troli berisikan tumpukan kertas yang telah habis setengahnya.


"Komisaris..." Frans tersenyum, menunduk memberi hormat padanya.


Tidak menganggap Frans ada, pemuda itu, berlalu meninggalkannya berjalan menuju departemen lain.


"Tuan? Kita tidak bisa membiarkannya..." kata-kata Rey, pada Frans disela.


"Pemain game? Pemalas? Sungguh suatu lelucon..." kesalnya tertawa kecil, dengan senyuman yang menghilang.


***


Entah berapa orang staf yang dipecat secara tidak hormat, atau berakhir di jebloskan ke penjara. Wajah semua orang pucat, bahkan untuk berbicara selain pada waktu makan siang tidak ada yang berani melakukannya.


Ketakutan akan sosok komisaris yang duduk di cafetaria makan siang dengan tenang. Semua orang menjauhi meja sang penjagal itu, tidak ingin jika bersinggungan sedikit saja, berkemungkinan akan dipecat.


"Kenapa kamu tidak ikut makan?" tanya Tomy dengan mulut penuh, pada sekertaris kakeknya.


"Sa...saya," pria paruh baya itu ketakutan. Tidak ingin dipecat, jika salah sedikit saja.

__ADS_1


Suki? Kakek itu memang bermulut pedas, tapi untuk memecat karyawan tanpa fikir panjang, atau memasukkannya ke penjara tidak akan dilakukannya. Mungkin Suki adalah seorang pemegang saham, rangkap komisaris yang terlalu berwelas asih.


"Makan saja, tidak usah takut," Tomy tersenyum padanya. Senyuman yang nampak cerah.


Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, dirinya mulai mengambil makanan, duduk berhadapan dengan Tomy. Pria paruh baya itu menghela napas kasar, makan dengan lahap.


Tomy mengenyitkan keningnya, "Omong-ngomong siapa namamu?" tanyanya.


"Salman, tuan muda..." jawabnya berusaha menelan makanannya dengan cepat.


"Aku akan menghubungi bagian HRD dan keuangan, agar mengatur kenaikan gajimu. Karena mulai sekarang, tenagamu akan terkuras..." ucap sang pemuda, menyeringai penuh senyuman.


Salman tidak mengerti sama sekali, namun kenaikan gaji? Tentu saja "Terimakasih..." hal yang diucapkannya, tidak mengetahui konsekuensi yang akan dihadapinya. Harus bekerja lembur bersama Tomy yang perfeksionis.


"Untuk merayakan kenaikan gajimu, tolong traktir makan siangku..." Tomy tersenyum tanpa dosa, berbisik padanya.


Traktir? Apa dia benar-benar orang kaya yang seperti dikatakannya? Bos ingin ditraktir pegawainya... Salman tertegun menjatuhkan alat makannya.


***


Wajah Frans nampak gusar, sesuatu yang jarang dilihat oleh Leon. Pria paruh baya itu tersenyum, mengetahui perasaan Frans yang kurang baik, tanpa tahu alasannya.


Seorang pegawai dari divisi marketing mempresentasikan rencana mereka untuk kedepannya, meningkatkan promosi produk, dengan menyewa aktor ternama.


Seseorang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Duduk di salah satu kursi kosong dalam ruang rapat yang bahkan dapat menampung lebih dari seratus orang tersebut.


Bukan di kursi terdepan yang ditempati sang CEO, atau kursi yang ditempati Leon, dengan para direktur dan manager. Hanya kursi belakang, yang memang didesain ditempatkan lebih tinggi. Menatap tajam, bagaikan burung elang yang bertengger di pohon tinggi mengintai mangsanya.


"Bocah pemalas itu hadir juga..." Leon menghela napas kasar, tidak mengetahui hal yang terjadi seharian ini. Mungkin terasa janggal juga baginya, beberapa manager yang biasanya hanya setia pada CEO (Frans) tidak hadir dalam rapat.


Tepatnya, beberapa manager itu telah disingkirkan pemuda yang masih menatap Frans dari atas sana.


Orang dari divisi marketing telah usai mempresentasikan rencananya hendak turun dari podium, mendapatkan tepuk tangan dari semua orang. Terkecuali Tomy yang turun dari tempat duduknya, menuju podium.


"Tunggu..." ucapnya, berjalan menuju seseorang yang memegang kendali untuk proyektor serta perangkat persentasi. Menyerahkan sebuah flashdisk untuknya.

__ADS_1


"Sebagai komisaris yang tidak bertanggung jawab. Aku ingin berubah, dengan menyumbang ide yang aku beli kepada kalian (rencana pengembangan produk baru yang dijual Jimy, ayah Mike)," Tomy tersenyum, produk baru serta rencana pengembangannya terlihat di layar proyektor.


Ide brilian yang benar-benar disusun dengan sempurna. Sengaja? Tidak, Tomy hanya iseng membeli dari Jimy untuk membalas hinaan Mike dahulu.


Tanpa dirinya yang memberi penawaran tertinggi pun, Jimy akan tetap menjual ide yang disusun susah payah oleh putranya.


"Tenang, aku membeli ide ini secara resmi, telah dipatenkan hak ciptanya. Uang yang bicara, karena aku orang kaya..." ucapnya tersenyum, mulai menerangkan produk baru yang akan dikembangkan. Termasuk rencana pemasarannya.


Frans mengepalkan tangannya, menatap pemuda yang disangkanya hanya benalu tidak berguna. Seakan semua rencana yang tersusun akan mengalami hambatan.


Persentasi yang sempurna, dari seorang profesional. Leon menghela napas kasar,"Inikah rencana ayah (Suki) untuk menghadapi masa krisis..." gumamnya. Baru mengetahui sebagian kecil kemampuan pemuda licik yang berdiri di podium.


Menguasai segalanya bersama Gilang? Itu memang tujuan dulu saat mati-matian bersaing dengan Agra. Namun, kehadiran Frans membawa kehancuran dalam Bold Company. Hal yang membuatnya, lebih mementingkan menyingkirkan Frans dari pada mengejar kekuasaan.


Hampir membunuh Tomy karena menginginkan jabatan komisaris? Kekuasaan tertinggi yang ingin direbutnya untuk menggulingkan Frans. Namun, memiliki keponakan pintar, tidak buruk juga.


Lebih dari 40 menit berlalu, Tomy menutup persentasinya dengan beberapa kalimat,"Uang bukanlah masalah bagi perusahaan besar. Jadi gunakan uang perusahaan dengan cara yang benar, hasilkan uang sebanyak-banyaknya. Maka penghasilan yang diberikan perusahaan pada kalian akan meningkat,"


"Namun, bagi direksi yang berani merugikan perusahaan. Aku selaku orang terkaya di ruangan ini, akan menghancurkan kariernya (black list)..." lanjutnya tersenyum, dengan kata-kata keji, penuh arogansi yang diucapkannya.


Sejenak Tomy kembali menampakan senyuman ramahnya,"Mohon kerjasamanya..." ucapnya menunduk.


Leon tertegun, isu tentang asisten pemilik JH Corporation ternyata benar? Pria keji, licik, yang menghancurkan perusahaan besar bersama majikannya?


Tapi orang tidak berguna pecandu game? Kenapa tidak bertindak dari awal? Banyak pertanyaan dalam benaknya. Menatap Frans menggebrak meja, pergi meninggalkan ruangan dengan emosi yang tinggi.


Leon melirik seorang manajer yang duduk disampingnya,"Apa yang terjadi hari ini?" tanyanya menatap curiga.


"Puluhan orang staf terancam dipecat, beberapa orang yang berpihak pada CEO dibawa ke kantor polisi, atas berbagai tuduhan. Komisaris yang baru seperti dewa kematian, menangkap satu-persatu orang menggunakan tombak panjang dengan ujung cerurit besar, menjerat mereka menggunakan rantai. Melemparnya ke neraka..."sang manager menghela napas kasar.


"Pak Leon dia keponakanmu kan? Apa saja yang dikerjakan orang gila itu di rumah?" tanyanya.


"Bermain game online..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2