
Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, untuk pertama kalinya Keyla menatap sendiri kemarahan kekasihnya. Kemarahan? Gilang biasanya hanya tersenyum, menuruti apapun keinginannya, mudah untuk dibujuk, bahkan cenderung lugu walau dalam pekerjaannya dia selalu serius bagaikan Leon sang ayah.
"Memukul Amel? A...aku tidak pernah, kamu tau sendiri kan, aku selalu mencemaskannya, memperlakukannya seperti saudariku sendiri..."ucapnya gelagapan, berusaha membela diri.
Gilang masih tersenyum dingin, melepaskan cengkraman tangannya dari pipi Keyla.
"Gi... Gilang kamu percaya padaku kan? Tentang aku bertemu dengan Farel, aku hanya ingin memuluskan jalanmu menjadi CEO Bold Company dengan memiliki teman sepertinya, kakekmu mungkin akan..." Keyla terdiam, pemuda itu masih membisu tanpa ekspresi menatap tajam padanya.
Tomy bertepuk tangan,"Wah, wah, wah... benar-benar Chihuahua tidak tau diri. Kamu berhasil memecahkan rekor sebagai j*lang paling pintar. Aku pernah bertemu beberapa wanita sepertimu, tapi mereka tau diri, jika sudah ketahuan, menunduk memohon minta maaf. Otak mereka tidak secerdas otakmu dalam membuat rangkaian cerita..." ucap Tomy menuang sisa wine dalam botol ke salah satu gelas, kemudian meminumnya.
"A...aku tidak berbohong, aku mendekati Farel untuk..." kata-kata Keyla terpotong.
Brug...
Tubuhnya ditendang oleh Gilang hingga tersungkur di lantai.
"Gilang, sayang ini hanya salah paham... sakit..." ucapnya meringis, mengharapkan belas kasih.
Namun, pemuda itu seakan benar-benar jijik padanya. Jemari tangan diinjak, hingga Keyla menjerit.
"Bagaimana teman-temanmu memukulinya? Lebih dari ini bukan? Jumlah mereka 8 orang, empat orang pria dan empat orang wanita. Serta satu lagi teman kencanmu, yang mengerang kembali bersamamu mengunci diri dalam kamar..." ucapnya tertawa kecil, tempatnya menertawakan dirinya sendiri, yang tidak mempercayai kata-kata Amel.
Membuat gadis gemuk itu lebih tertunduk lagi, untuk menyerah meninggalkannya.
"A... Amel menyukaimu!! Itu terlihat jelas!! Dia berbohong untuk merusak hubungan kita. Lagipula aku memang sering ke club'malam, tapi tidak pernah membuat pesta di rumah," dustanya kembali.
Gilang mundur sekitar tiga langkah, menatap Keyla penuh hina, "Aku bahkan jijik untuk menghirup udara yang sama denganmu..."
"Amel dia..." kata-kata Keyla terhenti.
Gilang membalikkan tubuhnya, "Rumah, mobil, semuanya masih atas namaku, bahkan sertifikat berlian masih ada di tanganku. Emas, tas bermerek, dan pakaianmu, bawalah!! Itu sedekah dariku. Di saat seperti ini aku bersyukur menuruti perintah ayah untuk tidak memasukkan namamu dalam aset bernilai tinggi..." pemuda itu berjalan beberapa langkah.
Sedangkan Keyla masih tertunduk membulatkan matanya dalam tangisan, tidak dapat menerima penghinaan yang diterimanya. Andai saja Leon menyetujui hubungan mereka, pastilah dirinya sudah menikah.
Jemari tangannya mengepal, ini adalah kesalahan Leon dan Amel. Gilang juga harus mengetahui kenyataan tentang betapa busuknya mereka berdua.
"Tunggu..." ucapnya mulai bangkit.
Gilang terdiam menghentikan langkahnya, memegang hendel pintu, tanpa menoleh.
__ADS_1
"Ayahmu tidak menyetujui hubungan kita dari pertama kali bertemu. Kamu tau kenapa!?" ucapnya namun Gilang hanya terdiam mendengarkan.
"Ayah yang kamu banggakan, dia adalah Sugar Daddy-ku. Setiap libur dia memakai jasaku untuk memuaskan kebutuhan ranjangnya..." Keyla tersenyum, jika harus hancur setidaknya dirinya tidak hancur seorang diri.
"Amel? Dia hanya si buluk gendut yang menyukaimu diam-diam. Aku dan teman-temanku memang memukulinya!! Memangnya kenapa!? Dia hanya pelakor berkedok sahabat!! Aku pacarmu yang cantik!! Dia si buruk rupa yang berani-beraninya mendekatimu, menempel bagaikan benalu. Benar-benar j*lang yang sok suci..." lanjutnya, masih setia tersenyum.
"Mereka bukan orang baik. Aku tau aku juga bukan orang baik. Tapi aku akan berubah untukmu..." Keyla mulai melangkah mendekat.
Gilang masih di depan pintu menghela napas kasar,"Aku rasa kamu salah paham. Aku sendiri yang meminta ayahku mencari wanita lain, karena tidak tega melihatnya terus menerus terpuruk. Memiliki ibu tiri juga tidak apa-apa, tapi ayah lebih memilih memiliki wanita simpanan yang bisa dibayarnya, ditemui jika kesepian saja,"
"Cuma kamu? Tidak, sebelum kamu juga ada yang lain. Tapi tentang kehadiranmu, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Pada umumnya wanita yang menjadi gundik ayahku akan diusir jika berani melayani tamu lain. Tentunya untuk alasan, ayahku tidak ingin terkena penyakit menular. Berharap, menggantikan ibuku yang sudah meninggal? Tidak akan ada yang bisa, karena hanya ibuku yang tulus padanya..." lanjutnya.
"Gi... Gilang?" Keyla berusaha melangkah lebih mendekat.
"Seorang gundik yang dibuang ayahku, berharap menjadi istriku?" Gilang tertawa dengan kencang.
"Tapi kamu bilang kamu mencintaiku..." ucap Keyla, tidak menerima calon suami sesempurna Gilang lepas begitu saja.
"Seperti kata-kata Farel, maaf sudah menyusahkan hidupmu. Aku mencintai pelakor berkedok sahabat..." ucapnya tersenyum, jemari tangannya mulai mendorong hendel pintu.
Keyla tidak tinggal diam, belum mengakui kekalahannya, memegangi kaki Gilang,"Gilang, hanya aku yang mencintaimu dengan tulus. Mahasiswi gemuk miskin itu, hanya pintar mengadu domba kita..."
Wajah Keyla pucat pasi, apa yang akan terjadi jika Gilang mengetahui semuanya. Hanya tamparan? Tidak, teman-temannya yang saat itu dalam kondisi setengah sadar akibat pengaruh alkohol bahkan menendang tubuh Amel dengan keras. Menginjak-injak tubuhnya atas perintah Keyla. Dengan instruksi agar hanya memukul bagian yang berbalut pakaian. Agar tidak diketahui Gilang.
Amel yang berpura-pura tidak sadarkan diri, sempat akan dibuang ke sungai. Namun, wanita gemuk itu melarikan diri ketika teman-teman Keyla lengah.
Puluhan kali lipat? Mungkin Gilang akan membunuh dirinya jika mengetahui semuanya...
Tomy, membawa botol wine-nya, melewati Keyla sembari tersenyum,"Farel memesan yang mahal, dari pada terbuang, sebaiknya aku bawa pulang..."
Hingga beberapa langkah, pemuda itu menghentikan langkahnya, sedikit berbalik,"Ini nasehat dariku, aku juga anak kandung dari seorang gundik. Ibuku hidup dengan menjual tubuhnya, tapi dia sadar diri. Mana yang tidak boleh dan mana yang boleh dilakukan seorang wanita rendahan. Dia juga berusaha untuk berhenti, membenci pekerjaan yang dulu terpaksa dilakukannya, demi mendapatkan sesuap nasi,"
"Chihuahua, aku dapat mengatakan, kamu gundik yang br*ngsek..." cibirnya, berjalan pergi.
Keyla tertunduk, nasehat? Tidak, semua tidak didengarkan olehnya. Jemari tangannya mengepal, orang ketiga dalam hubungannya dan Gilang adalah Amel.
Wanita yang paling dibencinya, wanita keji perusak hidupnya. Pelakor berkedok teman? Rasa iri dan dengki menyelimuti hatinya.
Amel, nama yang akan selalu diingatnya, orang yang akan paling dibencinya.
__ADS_1
***
Bersedia menemuinya? Tidak lagi, barang-barang Keyla diletakkan di depan gerbang rumah pribadi yang dibelikan Gilang. Perhiasan berupa emas, handphone, tas-tas mahal. Gilang menepati janjinya, membiarkan benda-benda tersebut menjadi milik Keyla.
Wanita itu tertunduk, berusaha menghubungi layanan jasa pengangkut barang, sebelum dirinya mendapatkan Sugar Daddy yang baru.
Memang perbedaan mendasar dengan Merlin, Merlin menjual tubuhnya untuk bertahan hidup. Sedangkan, Keyla menjual tubuhnya untuk mempertahankan hidup bagaikan sosialita.
Menempuh jalan yang berbeda, memiliki tujuan dan kepuasan yang berbeda. Hingga, mendapatkan hal yang berbeda pula pada akhirnya...
***
Bunga Lily putih diletakkan seorang wanita paruh baya pada makam suaminya. Menangis? Tidak, wanita itu tersenyum, wajah pucatnya tertutup riasan.
Mulai duduk diatas tanah, samping makam Damar,"Aku bahagia, dengan apa yang aku miliki..."
"Aku sudah melihat wajah cucu-cucu kita..." wajahnya menonggak menatap cahaya tipis matahari pagi,"Damar, kamu akan menjemputku kan? Aku takut bukan kamu yang akan menjemputku, dosaku terlalu banyak..." ucapnya.
"Apa mati menyakitkan?" tanyanya se-datang dari rumah sakit, memeriksakan tubuhnya. Jantung koroner? Penyakit itulah yang tiba-tiba dideritanya. Mungkin karena Tuhan merasa keinginannya sudah usai, tugasnya akan telah berakhir.
Melihat cucunya, meminta maaf pada putranya, bahkan sudah hampir memiliki cicit dari anak tirinya yang tinggal di Jerman. Hidup seorang diri ditemani manager dan pelayan, sungguh melelahkan baginya.
Uang, sebagian besar telah didonasikannya, berharap dosa-dosanya dapat dimaklumi oleh Tuhan. Mendapatkan surga? Bukan itu harapannya, ingin bertemu dan menggenggam jemari tangan suaminya lagi....
Keriput? Tidak apa, hanya satu-satunya pria yang tulus mencintainya. Jika Tuhan mengijinkan, di kehidupan yang akan datang Merlin ingin hidup di masa yang sama dengan Damar.
Melindunginya, sebagaimana Damar melindungi dirinya di kehidupan ini...
"Aku mencintaimu, tuan suami..." gumamnya, penuh senyuman, seakan berbicara pada almarhum suaminya yang berada disisi-Nya.
Bersambung
...Banyak kesalahan yang istri kecilku toreh. Aku mungkin dapat tetap melihatmu dari sisi-Nya....
...Menunggu hingga bertemu, suatu saat nanti. Penyesalan? Tidak ada, karena aku masih berharap kita akan bersama disisi-Nya atau di kehidupan yang akan datang nantinya......
...Aku mencintaimu... istriku......
Damar...
__ADS_1