Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Tuan (Rahasia Pemilik W&G Company)


__ADS_3

Anak itu terpaku diam, matanya terasa pedih terkena aliran darah yang mengalir dari keningnya.


Perlahan dirinya tertunduk, memandang wajah pria paruh baya yang 8 tahun ini berusaha diraih kasih sayangnya dengan ekspresi yang berbeda,"Permisi tuan..." ucapnya, menutup sebelah matanya yang terasa pedih akibat aliran darah. Meninggalkan area depan kamar itu tanpa mengatakan apapun lagi.


Apa itu? 'Tuan'? Untuk pertama kalinya, anak yang memanggilnya 'Kakek' merubah kata-katanya.


Suki hanya terpaku dalam kebisuan, raut wajah yang mirip ketika Arman meminta belas kasihnya 8 tahun yang lalu. Ingin rasanya, menyusul langkah Kenzo, namun apa yang harus dikatakannya setelahnya.


Ayahnya meninggal karena kesalahan Suki. Merawat Kenzo dengan baik? Selama 8 tahun ini Suki tidak memperhatikan, hanya menghindari wajah yang mirip dengan almarhum Arman. Setiap menatap mata Kenzo bayangan 8 tahun yang lalu itu berkutat. Membuat dirinya bagaikan dihujam pisau belati.


***


Wajahnya terdiam tanpa ekspresi, berjalan menuju kamar mandi tamu di lantai satu. Tempat yang memiliki cermin luas di depan wastafel.


Lukanya dicuci seorang diri, membasuhnya, memberi alkohol, serta obat luka. Hingga terakhir membalut dengan perban seorang diri.


Wajah Kenzo terpaku menatap cermin, mencoba tersenyum, namun tidak bisa. Hingga akhirnya kembali berjalan menuju kamarnya, duduk meringkuk di tempat tidur dalam ruangan yang gelap.


Perlahan matanya menatap ke arah bulan yang bersinar dengan terang...


"Sudah meninggal," gumamnya mulai menangis sesenggukan seorang diri."Beraninya kalian meninggal..."


"Ayah, ibu, kalian sudah tidak ada," hanya beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya kala itu.


Menangisi kesendiriannya, tinggal di rumah orang yang menyebabkan kematian orang tuanya. Namun, Suki tidak membuangnya, tepatnya belum membuangnya, mungkin hanya itu satu-satunya kebaikan sang kakek tua.


***


"Mona bangun..." Nila mengguncang pelan tubuh putrinya.


Gadis kecil itu menggeliat membuka matanya, "Ibu?" ucapnya.


"Kamu mengambil kotak perhiasan ibu?" tanya Nila dengan nada lembut, mendapati tubuh Mona dipenuhi perhiasan berharga fantastis. Kata-kata yang berbeda, raut wajah yang berbeda dengan beberapa jam yang lalu saat melukai Kenzo.


Mona mengangguk,"Aku cantik kan? Seperti pengantin India yang ada TV," ucapnya tanpa dosa, tersenyum pada ibunya.


Nila membalas senyumannya, kemudian mengangguk,"Anak ibu yang tercantik. Semua orang harus mencintaimu, tidak ada yang boleh tidak mencintaimu," ajaran yang salah, kata-kata yang membekas dalam diri Mona hingga dewasa, ikut andil membentuk karakter anak itu.


Sang ibu memeluk putrinya erat, mengelus pucuk kepalanya,"Kenapa cincin ibu ada di kamar Kenzo?"

__ADS_1


"Apa aku meninggalkannya? Mungkin jatuh, karena cincinnya kebesaran, saat aku mencari kain untuk selendang..." jawab Mona tidak menyadari hal yang terjadi, ketika dirinya tertidur.


Nila melonggarkan pelukannya, menatap putrinya. "Mona mau membantu ibu?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh putrinya.


"Jika ada yang membahas tentang kotak perhiasan ibu, kamu diam saja. Seolah-olah tidak pernah bermain atau melihat kotak perhiasan ibu..."


Mona mengenyitkan keningnya,"Kenapa harus berbohong?"


"Ada beberapa hal di dunia ini yang jika diungkapkan akan menurunkan martabat seseorang. Putri kecil ibu tidak akan paham, ingat saja pesan ibu. Berpura-puralah tidak tau..." Nila tersenyum, mengecup kening putri tunggalnya.


Mempertahankan harga diri untuk tidak meminta maaf pada anak berusia 8 tahun yang telah dipukulinya dengan membabi buta? Sungguh perbuatan keji bukan? Menyakiti, tapi tidak bersedia mengobati luka hati sang anak angkat.


Menyembunyikan segalanya dengan menutup rapat mulut putrinya. Pencuri asli yang mendapatkan pelukan walaupun kejahatannya diketahui. Sedang, anak tidak bersalah harus mendapatkan luka yang bekasnya tidak akan menghilang seumur hidupnya.


Namun, menurut pandangan Nila itu setimpal, Kenzo makan dan bersekolah dari uang keluarga mereka. Hanya dilukai sekali, hanya luka kecil saja, tidak akan masalah.


***


Seperti biasa, Kenzo membantu pelayan sebisanya. Walau hanya mencuci beras atau sayuran sekalipun, tidak ingin mendengar mulut pedas Nila yang berkicau tentang hutang budi.


Hutang budi? Bukankah mereka yang berhutang atas kematian ayahnya.


Tangannya yang hendak mengambil sepotong roti terhenti, kala kakek itu kembali bicara,"Kenzo, kotak perhiasan sudah kamu kembalikan?" tanyanya.


Anak itu menoleh, "Belum, menjelaskan juga percuma," kata-kata telak, diucapkannya, mengurungkan niatnya mengambil selembar roti. Kenzo memilih berjalan ke sekolah yang lokasinya memang dekat dengan rumah Suki.


Suki mengepalkan tangannya, apa dirinya salah dalam mendidik Kenzo sehingga anak itu menjadi seorang pencuri?


"Ayah, tidak apa-apa, perhiasan bisa dibeli lagi. Kenzo masih terlalu kecil, jangan terlalu keras padanya," Nila tersenyum, memegang jemari tangan Suki. Menutup rapat kesalahannya, bagaikan malaikat baik hati yang telah menghajar seorang anak kecil.


Kotak perhiasan? Semua tersimpan di bagian bawah lemarinya. Menunggu semua masalah dilupakan, agar tidak perlu merendahkan harga dirinya untuk meminta maaf mengakui kesalahan.


***


Beberapa hari ini, anak itu lebih pendiam, terkesan menjauh dari Suki. Tuan, itulah panggilan sang anak pada Suki.


Hingga, tiba saatnya hari dimana luka terbesar tertoreh di hatinya. Ketika Mona tengah bermain dengannya dan Gilang. Dengan lancar, anak itu bercerita betapa cantik dirinya memakai perhiasan ibunya.


Kalung emas berukuran besar, hiasan rambut, bahkan cincin bentuk hati yang berkilau.

__ADS_1


"Kapan kamu memakainya?" bibir Kenzo bergetar kala menanyakannya, air mata tertahan di pelupuk matanya.


"Ini rahasia, ibu bilang tidak boleh menceritakan pada siapapun," jawabnya berbisik di hadapan Gilang dan Kenzo."Aku memakainya satu minggu yang lalu. Ingat!! Jika ada yang menanyakannya jangan mengatakan apapun, ibu nanti akan marah..."


Kenzo mengepalkan tangannya, meraba bagian dahinya, bekas luka itu masih berada di sana, belum sembuh benar. Bekas luka yang ditorehkan karena kesalahpahaman. Namun, dengan tega ibu dan anak itu menyembunyikan segalanya hanya demi sesuatu yang disebut harga diri.


"Kak Kenzo..." Gilang yang melihat semua kejadiannya, meraih jemari tangan Kenzo.


Kenzo tersenyum dingin, menarik tangannya,"Aku hanya seorang pelayan, jangan panggil aku kakak lagi. Karena seorang adik tidak akan membiarkan kakaknya dipukuli..."


Dirinya mulai berjalan, berhenti bermain lagi, mengambil alat pel. Membantu pelayan membersihkan rumah.


Orang tuanya mati karena pemilik rumah ini. Keluarga? Sesuatu yang tidak pernah didapatkannya. Tertunduk diam memendam segalanya.


Hingga tiba hari itu, hari dimana dirinya benar-benar dibuang...


Nila menghela napas kasar, menatap sertifikat toko yang diberikan Suki atas nama Kenzo. Sebelum akhirnya akan dititipkan di panti asuhan. Sebagai bekal anak itu setelah dewasa nanti. Tugas yang diberikan Suki untuk esok harinya, mengantar sang anak angkat.


Malam itu, Agra berada di luar kota. Sedang Suki masih di kantor mengurus beberapa proyek. Leon, yang usai menemani putranya bermain, menggendong Gilang yang telah tertidur.


Membawanya menuju kamar, tampan? Tentu saja, sosok Leon memang terlihat jauh lebih rupawan, bertubuh atletis, tinggi, berbadan tegap. Pria cerdas, berkharisma, harus ditinggalkan meninggal oleh istrinya di usia muda.


Memiliki wanita simpanan setelah kepergian istrinya? Tentu saja, Nila mengetahuinya, mungkin Leon sekedar bermain-main melampiaskan kebutuhan psikologisnya, di tengah hidupnya yang hanya ditemani putranya.


Namun, tetap saja,"Kenapa tidak mencoba denganku..." gumamnya tersenyum, menyukai sosok iparnya sendiri.


***


Beberapa butir obat dimasukkannya ke dalam minuman vitamin C. Memakai pakaian tidur menggoda, ingin dimanjakan di tempat tidur oleh iparnya? Mungkin itulah tujuannya.


Tidak menyadari, Kenzo melihat semuanya. Hanya terdiam, berjalan berlalu.


Hingga wanita itu meletakkan minuman di samping meja tempat Leon membaca beberapa dokumen,"Kenapa kamu yang mengantar?" tanyanya, melepaskan kacamata bacanya, menatap tidak suka.


"Aku kebetulan melintas jadi..." kata-kata Nila disela.


"Pergi! Lebih baik urus keperluan Agra atau Mona. Masih ada pelayan yang dapat mengurusku," ucap Leon menatap tajam.


Nila menghela napas kasar tersenyum, berjalan pergi beberapa langkah, sesekali menengok, Leon yang hendak meminum-minuman buatannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2