Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Saran


__ADS_3

Tak ...tak...


Suara kompor dimatikan terdengar, dua cangkir minuman hangat mulai dibuatkannya. "Kamu lapar?" tanyanya, menghidangkan secangkir teh hangat di hadapan Keysha.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, masih sulit mencerna situasi di hadapannya. Tomy berprilaku layaknya penghuni apartemen. Hafal dengan letak benda-benda.


Pemuda di hadapannya mulai duduk, berhadapan dengan Keysha,"Perkenalkan, namaku Tomy, apa kamu saudaranya Frea?" tanyanya.


Keysha terdiam sejenak, mengenyitkan keningnya."Aku Keysha, teman Frea..." jawabnya terdengar kebingungan.


"Kamu kelihatannya orang baik, Frea mungkin ketakutan karena aku sering masuk diam-diam. Dia bahkan beberapa kali menggati kode akses apartemen..." Tomy menghela napas kasar, kemudian tersenyum, meminum secangkir kopi yang dibuatnya.


Pak Tomy penguntit? Dia masuk menyelinap. Dia mengakuinya dengan mudah... gumamnya dalam hati tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya.


"Pak Tomy sering menguntit pegawai lain?" tanyanya penuh rasa penasaran, tentang keabnormalan atasannya.


Tomy menyemburkan sedikit kopinya terbatuk-batuk,"Menguntit pegawai? Kamu bekerja di JH Corporation!?" ucapnya.


Keysha mengangguk membenarkan,"Devisi marketing, sama seperti Frea,"


"Frea bekerja di JH Corporation?" tanyanya memastikan kata-kata Keysha.


"Iya, pak Tomy kenapa..." kata-kata Keysha terhenti terlihat ragu-ragu, seolah memandang aneh pada atasannya, yang memasuki apartemen seseorang diam-diam.


"Aku bukan orang jahat, Frea adalah istriku. Kami menikah sekitar satu bulan yang lalu..." ucapnya menghela napas kasar.


"Kalian pasangan?" tanyanya dengan wajah pucat mengingat komentarnya di group Facebook, yang menyumpahi istri Tomy agar segera mati.


Pemuda di hadapannya mengangguk membenarkan, sedikit tertunduk, menghela napas kasar."Kami memang suami istri, tapi akan segera berpisah..." ucapnya tersenyum pahit.


"Kenapa berpisah!?" Keysha menggebrak meja.


Tomy meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, seolah meminta Keysha agar tidak berisik.


"Maaf..." Keysha memelankan suaranya.


Pemuda di hadapannya kembali menghela napas kasar. "Kamu tau rasanya menyukai hanya satu orang sepanjang hidupmu?"


"Aku yakin tidak, ini sebuah kegilaan yang aku rasakan ketika berusia 11 tahun. Aku menyukainya dari usia semuda itu. Pada akhirnya aku berhasil menikahinya. Sebenarnya aku tau dia tidak mencintaiku. Aku ingin melepaskannya bahagia, tapi sampai sekarang tidak bisa, sejauh apapun aku pergi, aku akan merindukan Frea..."


Semangat mak comblang Keysha tiba-tiba bangkit,"Pak Tomy suami sahnya!! Aku akan membantumu, agar Frea bertekuk lutut hanya menyukaimu!!" ucapnya penuh semangat.


***


Udara masih terlalu dingin. Frea menghela napas berkali-kali, setelah Keysha mengirimkan pesan, tidak ada penyusup yang ditemukannya. Gadis itu pulang sebelum Frea bangun.


"Apa hanya perasaanku saja...?" gumamannya. Mulai memasuki kamar mandi, menyalakan shower, memulai aktivitas paginya.


Menaiki bis seperti biasanya, masih dengan harapannya dapat menemui Tomy. Berjalan beberapa belas menit dari halte, gedung pencakar langit itu mulai terlihat berdiri kokoh.


***


Jemari tangannya menari di atas keyboard, sembari membaca beberapa berkas. Tidak dapat menatap wajah Tomy sama sekali hari ini, hingga sore menjelang. Berkali-kali menghela napas kasar, hendak berjalan meninggalkan gedung perkantoran.


Hingga Keysha menghentikan langkah kakinya,"Frea tolong bantu aku..." ucapnya memohon.


"Ada apa?" Frea mengenyitkan keningnya, mengingat dirinya juga harus ke toko setelah ini.


"Begini, aku meninggalkan flashdisk yang diminta si botak (manager marketing). Kalau hilang dia bisa menyalahkanku lagi karena membuatnya stres sehingga kepalanya makin mengkilap. Tolong ambilkan flashdisknya ya? Pacarku sudah jemput..." ucapnya menunjuk mobil yang terparkir di depan kantor. "Dia sedang ada janji untuk bertemu dengan pasien, jadi terburu-buru,"


"Dimana flashdisknya?" tanyanya, dengan langkah lemas.


"Lantai 8, flashdisk berwarna kuning, ruangan dengan meja sekretaris di depannya. Pintu coklat yang lumayan besar..." jawab Keysha berlari, menuju arah mobil.


Semangat pak Tomy!! Buat dia tidak dapat melarikan diri lagi, bahkan tidak dapat berjalan... ucapnya dalam hati, memang sengaja meminta di jemput lebih awal pada pacarnya.

__ADS_1


***


Kantor terlihat kosong, hanya ada beberapa pegawai yang lembur di lantai lain.


Ting...


Pintu lift terbuka, tidak satu orangpun disana, suasana horor terasa. Lantai 8 memang jarang dijumpai karyawan, kantor devisi apapun tidak berada disana. Hanya ruang rapat khusus manager dan direktur anak cabang. Ruangan lainnya? Mungkin hanya cleaning service, atasan setingkat manager, serta beberapa staf khusus yang tahu.


Udara semakin terasa dingin saja, seiring tenggelamnya sinar matahari. Berjalan menelusuri lorong, hingga ruangan yang dimaksud Keysha ditemukannya. Ruangan besar dengan pintu coklat, dengan meja sekertaris di depannya.


Pintu dibukanya, terlihat ruangan besar bernuansa minimalis. Beberapa pajangan, serta laptop yang masih menyala, Frea melangkah ragu berjalan perlahan mendekatinya. Tidak menyadari bahaya yang mengintai.


Brak...


Suara pintu tertutup terdengar, Frea melihat ke belakang, namun tidak seorangpun disana.


Hingga seseorang yang bersembunyi sedari tadi memeluk Frea, mengungkung dalam dekapannya, mencium bibirnya tanpa aba-aba. Dasi yang dikenakannya dilepaskannya, dilemparnya asal.


Kancing tangan kemeja, tidak luput dilepaskannya juga dengan cepat, tanpa melepaskan tautan bibirnya. Seakan terburu napsu, mengikuti saran Keysha? Saran yang benar-benar gila. Memaksa Frea, bagaikan Casanova, pemain cinta profesional. Setelah sekali melakukannya, Frea akan melekat, begitulah saran gila yang tidak masuk akal.


Jemarinya menjalar membelai pelan benda yang masih berbalut kemeja Frea. Tidak mendapatkan balasan atau respon? Tomy menghela napas kasar, setelah mempelajari beberapa video dewasa yang lumayan ekstrim.


Ternyata tidak mendapatkan respon sedikitpun, berbeda dengan materi proses pembuatan anak yang sempat ditontonnya untuk memuaskan Frea. Agar hanya mencintainya seperti saran Keysha. Pasangan yang saling menikmati? Itulah yang ada dalam video dewasa.


Tautan bibir dilepaskannya,"Maaf..." ucapnya berusaha tersenyum.


Frea masih terdiam mencerna segalanya, mengira-ngira ini ilusi atau bukan. Mencurigai akan kewarasan dirinya sendiri.


"Kamu Tomy?" Frea mengenyitkan keningnya.


"Iya, aku ingin melepaskanmu tapi..." kata-katanya terhenti, Frea mengalungkan tangannya pada leher suaminya, sedikit berjinjit, mulai menelusuri bibir Tomy seolah menumpahkan kerinduannya.


Manis, sesuatu yang terasa manis, mata Tomy perlahan terpejam, menikmati segalanya.


Hal gila yang dilakukannya untuk pertama kali, meletakkan tangan suaminya kembali untuk menyentuh dadanya yang masih berbalut kemeja.


Tautan bibir itu semakin panas, tubuh mereka seakan menghangat, seiring dengan detak jantung yang berpacu cepat.


***


Di tempat lain, seorang pemuda tengah menatap pemandangan perkantoran, meminum segelas wine ditangannya.


"Mike," Lia (mantan istri Adrian) tersenyum berjalan mendekati putranya.


Prang...


Suara gelas pecah dilemparkannya terdengar."Seharusnya aku menjadi pewaris Pratama Group!! Bukan perusahaan bobrok seperti ini!!" bentaknya dengan nada tinggi.


"Ini hanya sementara, ayahmu Jimy sedang berusaha mengatasi krisis. Lagipula jika terjadi sesuatu, kamu dapat meminta bantuan Adrian" Lia menghela napas kasar menatap putranya.


Tawa Mike yang setengah sadar akibat pengaruh alkohol terdengar,"Aku menghancurkan perusahaan ayah (Adrian). Kemudian dengan bodohnya membeberkan hasil tes DNA, bahwa aku bukan putra kandungnya!! Ibu fikir orang itu akan tetap menjadikanku ahli waris!?" bentaknya kesal.


"Adrian tidak memiliki pilihan lain, membantumu atau suatu saat nanti perusahaan yang dibangun dari generasi ke generasi akan hancur di tangan kakakmu, Irgi," Lia kembali menghela napasnya, menatap putranya yang mungkin dapat diandalkannya.


"Masih ada si gagap!! Ibu jangan melupakannya!!" Mike meraih botol wine-nya meminumnya langsung, berusaha menghilangkan kepenatannya.


"Adu domba, jangan pernah lupa, perlakuan ayahmu pada si gagap. Kamu tau si gagap dimana sekarang?" tanyanya penuh senyuman. Mike menggelengkan kepalanya, pertanda tidak mengetahui.


"JH Corporation, bukan hanya nama yang sama. Tapi juga orang yang sama," Lia merogoh tasnya, melempar foto Merlin yang tengah berbicara dengan Tomy."Ibu dari dulu menyewa orang untuk mengikuti Merlin, anak haramnya yang gagap. Sekarang menjadi lebih pintar. Selama Merlin membenci Adrian. Anaknya juga akan sama..."


"Manfaatkan tangan si gagap untuk melawan Adrian. Saat Adrian hanya memilikimu, sebagai satu-satunya pilihan, yang dibesarkan dengan tangannya sendiri. Ambil alih Pratama Group!! Singkirkan Adrian, Merlin dan si gagap..." lanjutnya.


18 tahun yang lalu...


Anak kesayangan? Itulah sosok Mike yang dulu. Dielu-elukan, dipuji oleh Adrian, anak yang paling banyak diberikan cinta olehnya.

__ADS_1


Ketika kecil Mike memiliki fisik yang lemah berbanding terbalik dengan Irgi. Membuatnya menjadi yang paling diperhatikan, bahkan tidak peduli seberapapun lelahnya Adrian akan menemani dan menjaga Mike.


Namun, apakah fisik yang lemah melambangkan kepribadian yang lembut?


Anak itu datang lagi, dengan bau yang tidak enak tercium. Mungkin akibat keringatnya, yang harus berjalan jauh untuk mencapai sekolah.


Sepatunya hampir jebol, duduk di bangku paling belakang.


"Tomy..." Mike yang satu tahun lebih tua darinya mendatangi kelasnya. "Bantu aku, pekerjaan rumahku belum selesai. Aku janji jika kamu mau mengerjakannya, aku akan meminta ayah mengambil rapormu semester ini,"


"Te...te...terima... terimakasih," ucapnya dengan cara bicara yang gagap, meraih buku yang disodorkan Mike.


Berterimakasih? Hal yang konyol bukan? Hanya untuk mengambil rapor. Tomy melakukannya, mengerjakan pekerjaan rumah yang sulit, selisih satu tingkat dengan kelasnya.


Mengambil rapor? Apakah itu hal yang penting? Bagi semua orang mungkin merupakan hal biasa. Namun tidak dengan anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang. Menunggu orang tuanya datang penuh harap. Selalu menatap gerbang sekolah, melihat satu-persatu temannya dijemput.


Orang tua mereka akan tersenyum senang, melihat nilai rapor anak mereka. Bahkan anak dengan peringkat paling akhirpun. Seusai liburan mereka akan bercerita, bagaimana nilai rapor dapat membuat kedua orang tua mereka membawanya ke kebun binatang, taman ria atau tempat lainnya. Menghabiskan waktu bersama.


Bertemu dengan ayah, sekali saja. Memintanya untuk memangku dan bermain denganku. Menunjukkan nilai raporku yang bagus padanya... Agar dia menyayangiku... gumamnya dalam hati, membuka tasnya yang penuh dengan sobekan. Mengambil pensil pendek miliknya.


Apa benar kata-kata Mike akan terwujud? Tentunya tidak, anak itu tidak akan rela berbagi kasih sayang dengan anak lainnya.


"Ayah..." ucapnya memeluk Adrian, menangis terisak.


"Anak ayah kenapa?" tanyanya tersenyum lembut, membelai rambut Mike.


"Anak harammu, membuat masalah lagi!! Dia meminta Mike mengerjakan pekerjaan rumahnya. Jika tidak, anak sialan itu akan mengadu padamu!!" cibir Lia, menatap suaminya yang baru pulang dari bekerja.


Adrian mengepalkan tangannya jengkel, selalu seperti ini. Masalah Merlin dan putranya yang akan dibahas. Pada akhirnya Lia akan menangis mengadu pada keluarga besar Adrian.


Berselingkuh? Siapa yang terlebih dahulu berselingkuh? Lia yang melakukannya terlebih dahulu dengan mantan kekasihnya yang baru datang kuliah dari luar negeri. Jimy, itulah namanya. Bahkan hingga kini hubungan mereka masih berjalan. Adrian membalasnya dengan mendatangi club'malam, meniduri gadis di bawah umur.


Gadis yang perlahan membuatnya tertarik, namun tidak bisa didapatkannya. Menatapnya menjual diri pada pria lain, hanya untuk uang. Apa uang lebih berarti dari cinta? Dalam anggapan Merlin cinta hanya akan membuatmu kelaparan. Lebih baik menjajakan cinta, daripada merasakan betapa sakit perutnya ketika kelaparan dalam keadaan hamil. Ditinggalkan oleh cinta yang terlalu terhormat untuk makhluk rendah sepertinya.


"Mike, maafkan Tomy ya? Dia menjadi liar karena hidup di luar. Lain kali jangan mau diperlakukan begitu olehnya..." ucap Adrian tersenyum tulus pada Mike.


Namun, apakah ini cukup? Tidak, Lia sudah meracuni fikiran putranya dengan melakukan lebih. Menginginkan anak hasil hubungan terlarang dengan kekasih tercintanya lah yang akan memiliki segalanya. Anak yang disangka Adrian sebagai salah satu putra kandungnya.


Mike mulai melemaskan tubuhnya, seolah tidak sadarkan diri.


"Mike..." Adrian memanggil nama putranya yang terbaring lemas.


***


Ini hal yang biasa terjadi, Mike berpura-pura terbangun dengan lemas. Mulutnya yang berpura-pura lemah tidak hentinya berkicau, menyulut ayahnya untuk lebih membenci anaknya yang gagap lagi.


Irgi mengetahui segalanya, tulisan tangan Mike dalam buku tugas dan buku perkejaan rumah selalu berbeda. Merasa bersalah pada anak yang dipanggilnya 'si gagap'. Saudara yang memiliki darah yang sama dengannya.


***


Janji Mike? Apa Mike akan menepati janjinya? Tomy menunggu tersenyum-senyum sendiri menatap gerbang sekolah. Berandai akan menghabiskan waktu bersama ayahnya.


Nilai tertinggi di kelas selalu menjadi miliknya, mendapatkan beasiswa? Apa hanya itu tujuannya? Tidak sepenuhnya, dalam hatinya ingin ayahnya, sekali saja memujinya seperti anak lain. Membelai rambutnya, mengatakan 'anak pintar' itu sudah cukup untuknya.


Namun, bukan hal itu yang terjadi, Adrian memang datang. Mengambil rapor Mike, sekaligus mengurus pemindahan sekolah putra kesayangannya yang polos.


Agar tidak mendapatkan ancaman dari Tomy anak dari wanita yang sebenarnya masih dicintainya. Anak yang tumbuh liar, anak dari wanita kotor.


"A...a...aya...ayah to...to... tolong a...am... ambil ra...ra... rapor...raporku," ucapnya tergagap penuh harap Mike akan menepati janjinya, setelah hampir setiap hari dimanfaatkan oleh kakak beda ibunya.


Adrian menatap dingin pada wajah putranya yang berkulit kotor.


Namun anak bertumbuh kurus itu, tersenyum pada sang ayah penuh harap akan mendapatkan pujian, ketika rapornya diambil Adrian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2