
Seorang pemuda terdiam, menatap ke arah laut. Angin dingin malam menerpa kulitnya. Rambut hitamnya bagaikan disisir hembusan angin.
"Tuan muda..." seorang pria yang sedikit lebih tua darinya menunduk memberi hormat.
Pemuda itu tersenyum, meminum minuman bersoda dalam genggamannya."Bagaimana?" tanyanya.
"Maaf, posisi komisaris masih dipegang salah satu cucu Suki, saya ..." kata-kata Frans terpotong.
Plang...
Kaleng soda yang masih berisi setengah dilemparkan sang pemuda tepat mengenai kepalanya. Darah mulai mengalir di pelipis Frans, "Maafkan, saya tuan..." ucapnya menunduk. Melirik kaleng soda yang menumpahkan minuman berwarna merah, itu ketakutan.
Sang pemuda tersenyum, senyuman yang terlihat tulus,"Siapa pemegang jabatan komisaris saat ini? Mona? Gilang? Mike? Atau Irgi?" tanyanya membuka kaleng soda yang baru.
"Tomy, putra ketiga Adrian. Informasi terbaru yang saya dapatkan, dia pernah bekerja sebagai asisten pemilik JH Corporation. Lulusan National University Of Singapore. Tapi..." kata-kata Frans terhenti, pria itu bagaikan ragu untuk mengucapkannya.
"Tapi?" sang pemuda meminum sekitar dua teguk sodanya mengenyitkan keningnya.
"Tapi dia terlihat tidak memiliki kemampuan, hanya reputasinya yang baik. Selama beberapa bulan menduduki jabatan komisaris, dia hanya pernah ke kantor sekali, itupun saat rapat pemegang saham..." jawab Frans, menatap ke arah sang majikan aslinya.
"Orang yang paling terlihat bodoh, terkadang orang itu yang paling harus diwaspadai," ucap sang pemuda tersenyum. Senyuman yang menawan dengan poni menutupi keningnya.
"Omong-ngomong, dia dulu tidak pernah terlihat di rumah utama. Setidaknya ketika kecil Irgi dan Mike pernah datang," lanjutnya seakan bertanya.
"Dia anak diluar nikah Adrian, hidup bersama ibunya yang dulu berprofesi sebagai wanita penghibur. Selain itu memiliki kelemahan, ketika kecil dia tidak dapat berbicara dengan lancar (gagap)," Frans membuka tas kantor yang dibawanya, memberikan sebuah map tentang data lengkap dari Tomy. Tentunya Frans mengerahkan banyak usaha untuk mendapatkannya.
"Mungkin karena keadaannya yang kurang sempurna, dan dianggap aib, Tomy ketika muda disisihkan dari keluarganya..." lanjut Frans.
Pemuda itu tersenyum, bahkan tertawa kecil, setetes air matanya mengalir,"Keluarga konglomerat k*parat!!" bentaknya.
"Tuan muda..." Frans tertunduk.
"Berasal dari lubang yang dalam sama sepertiku. Diinjak, menjadi tumbal pondasi mempertahankan martabat Bold Company. Tapi dia memilih jalan yang berbeda dariku," ucapnya membuka map berisikan data lengkap tentang Tomy.
"Kamu tau? Darah ayahku yang dipergunakan untuk menjaga kehormatan keluarga besar mereka. Setelah itu putra kecilnya dijanjikan pendidikan, namun pada akhirnya diusir saat tidak diperlukan. Kakek tua k*parat!!" bentaknya penuh dendam.
__ADS_1
Air mata pemilik W&G Company itu tidak tertahankan lagi. Berusaha tersenyum mengingat luka terdalam yang ditorehkan keluarga yang tinggal di rumah besar. Rumah yang bagaikan kastil bangsawan Eropa itu.
"Tuan, ada satu kabar lagi, Dean (petinggi Bold Company) sudah mati. Simon (orang suruhan pemilik W&G Company) menjalankan tugasnya, mobilnya terbakar..." Frans menghela napas kasar.
Sang pemuda seperti enggan menanggapi,"Aku ingin bertemu dengan Tomy..." ucapnya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Anggota keluarga rumah besar itu yang belum pernah ditemuinya di masa kecilnya yang kelam.
Orang yang mungkin memiliki rasa benci terpendam sama sepertinya...
Angin dingin kembali menerpa rambutnya, menyingkap sedikit poni yang menutupi bagian dahinya. Bekas luka melintang terdapat disana...
***
Tomy mengenyitkan keningnya, menatap serius ke arah Farel. Firaun itu masih tetap sama, berkicau memberi perintah tanpa henti.
"Jika aku yang mengerjakan semuanya, apa yang tuan kerjakan?" tanyanya memendam rasa kesal. Menjadi asisten atau tidak, ternyata sama saja.
"Menggunakan nama JH Corporation, menyerang terang-terangan. Karena itu kamu memerlukan bantuanku kan?" jawab Farel tersenyum tanpa dosa.
Tomy menghela napas kasar, meminum segelas minuman di hadapannya hingga tandas.
"Supaya kamu tidak minta..." jawab Tomy dengan kemarahan di ubun-ubun.
Namun, meminum-minuman sisa, orang-orang yang dekat dengannya tetap menjadi kebiasaan Farel. Pemuda itu, mengambil es batu dalam gelas, mengunyahnya sembari membaca dokumen.
"Benar-benar Firaun pelit..." cibir Tomy dengan suara kecil, tertegun menggelengkan kepalanya heran.
Tangan Farel meraih laptop, sambil sesekali, memasukan sisa es batu dalam mulutnya. Mengunyahnya, dengan jemari tangan mengetikan sesuatu.
Hingga gerakan tangannya terhenti, profesional heaker? Itulah kelebihan lainnya. Memberikan sebuah flashdisk pada Tomy.
"Biasanya, komputer kantor menggunakan jenis jaringan star. Cari komputer induknya, seperti biasa, kita menggunakan virus untuk mendapatkan data-data agar mata-mata yang kamu kirim ke perusahaan mereka tidak dicurigai..." ucap Farel tersenyum.
"Akan aku kirim, pada mata-mataku di W&G Company..." Tomy ikut tersenyum, segera memasukkan dalam sakunya.
"Tuan..." kata-kata Tomy disela.
__ADS_1
"Jangan Tuan, jika sudah kembali menjadi asistenku, kamu boleh memanggil tuan lagi. Sekarang, panggil Farel..." Farel masih mengunyah es batu menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Farel, terimakasih..." ucapnya tersenyum.
Tidak dipungkiri, jika bukan karena Firaun yang memerintahnya, dirinya tidak akan berkembang. Jika bukan tangan itu yang berbelas kasih, menyokong biaya kuliahnya, dirinya mungkin hanya akan bekerja dengan penghasilan tidak seberapa di Singapura.
Tidak memiliki keberanian menemui Frea, masih tertunduk tinggal sebagai orang biasa di negara asing. Matanya berkaca-kaca memendam rasa haru.
"Sebagai rasa terimakasih, buatkan dua coffee latte, rendah kalori. Satu lagi, es lilin rasa rujak buatanmu, besok bawakan 5 buah..." ucap Farel tersenyum tanpa dosa, membuyarkan semua rasa haru Tomy.
Firaun tetap saja Firaun, memerintah budaknya untuk mendirikan Piramida saja bisa... cibirnya dalam hati berusaha tersenyum.
"Aku ke pantry dulu..." Tomy mulai bangkit berjalan hendak membuatkan coffee latte.
"Tunggu, sudah berdiri dari sofa, sekalian belikan bakso di depan kantor," Farel mengenyitkan keningnya sempat melirik dari jendela lantai 8.
"Ini uangnya, aku mentraktirmu, satu porsi untukmu dan satu porsi untukku. Seharusnya kamu berterimakasih..." lanjutnya menyodorkan uang sebesar 30.000 rupiah.
"Farel, aku ingin bertanya serius padamu, tidak bisakah kamu bertingkah seperti pemilik perusahaan besar yang makan malam di restauran menghabiskan uang puluhan juta?" tanya Tomy penasaran.
"Kamu rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk sekali makan?" Farel bertanya balik.
Tomy yang memang sama pelitnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jika begitu, bakso pinggir jalan memang lebih enak!! Tidak perlu reservasi tempat, tidak perlu menunggu 15 sampai 30 menit sebelum makanan dihidangkan. Sebagai komisaris kamu seharusnya tau!!" ucapnya panjang lebar.
Tomy tersenyum, "Sebagai ulat pekerja, kita hanya memang bekerja dan mengumpulkan uang untuk dapat hidup tenang dengan anak dan istri di rumah..."
Farel mengangguk, "Cepat!! Aku sudah lapar lebih dari 15 menit, kamu bayar porsimu sendiri..."
"Kikir...!!" Tomy segera keluar dari ruangan berlari dengan cepat.
"Tidak sadar diri, kamu juga lari cepat demi traktiran 15.000," Farel tersenyum, menghela napas kasar, mendapati sahabat yang jarang ditemuinya beberapa bulan ini telah kembali.
Bersambung
__ADS_1