
Wajah dingin rupawan tersenyum padanya,"Mau aku bantu?" tanyanya perlahan membantu Keyla berdiri. Memapahnya, hingga area depan villa, tepatnya kursi taman yang berada di sana.
Keyla tertegun sejenak, kala jemari tangan itu, memegang pergelangan kakinya yang memar.
Krak...
"Awww..." pekiknya, dengan satu tarikan, sang pemuda berusaha mengobatinya.
"Sudah, berusahalah berjalan tapi perlahan," ucap Tomy mulai bangkit tersenyum padanya.
Keyla bangkit, mencoba berjalan perlahan,"Benar-benar bisa..."
"Perkenalkan, namaku Keyla," lanjut sang wanita tersenyum ramah, mengulurkan tangannya.
"Ini..." namun bukan menyambut uluran tangannya, Tomy mengambil tali yang terkait dengan leher *njing Chihuahua yang dibawa Keyla."Anjing yang lucu, bawa pulang, sudah terlalu siang untuk berolahraga..."
Keyla memegangnya, namun entah kenapa *njing yang dipinjamnya itu menariknya dengan kuat. Hingga tercebur ke area kolam renang yang berada disana.
"Hup...hup..." bahkan untuk berkata tolong saja cukup sulit untuknya. Hanya tetap berusaha kepermukaan mengambil napas. Tidak bisa berenang? Keyla dapat berenang, namun kakinya terasa kram.
Gelembung-gelembung udara terlihat disekitar pemuda yang melompat ke dalam air menyelamatkannya. Wajah seseorang yang menolongnya, wajah rupawan yang seharusnya menjadi target untuk diperah, menghamburkan harta sang pemuda.
Jemari tangan itu menariknya dari dasar kolam renang yang cukup dalam membawanya ke permukaan. Dada Keyla ditekan beberapa kali, mengeluarkan air dalam paru-parunya.
Hup ...
Air keluar dari mulutnya...
Tomy mengambilkan handuk yang diberikan pelayan, menutupi tubuh Keyla, tubuh dengan resleting pakaian olahraganya yang terbuka. Memperlihatkan belahan dadanya basah akibat air kolam. Rok pendek ala Caddy golf, nampak tidak rapi. Memperlihatkan paha putih mulusnya.
Tomy mulai bangkit, bagai tidak memandang sedikitpun. Perlahan pemuda itu merenggangkan otot-ototnya, berjalan beberapa langkah menuju kembali ke dalam villa. Wajah putih pucatnya kontras dengan warna rambutnya yang hitam, rambut yang sedikit basah terkena air. Otot-ototnya sedikit terlihat dari kaos katun putih yang dikenakannya. Sinar matahari menerpa kulitnya menambah pesonanya.
"Kamu tidak ingin memperkenalkan namamu?" tanya, Keyla tertegun, entah kenapa tubuhnya kelu. Untuk sekedar merayu pemuda di hadapannya.
"Namaku Tomy, profesiku gigolo pribadi seseorang. Orang yang menyewaku sudah membayar untuk jangka waktu yang panjang, berjanji untuk membiayai seluruh hidupku. Tidak ada alasan untukmu terlalu mengenalku..." jawabnya tersenyum, sedikit berbalik sejenak. Melangkah cepat ke dalam bangunan villa. Meninggalkan Keyla yang masih tertegun kagum.
"Tunggu? Namanya Tomy? Apa aku salah orang? Tapi fotonya sama..." gumamnya, sejenak terdiam. Seorang wanita nakal jatuh cinta pada gigolo. Mungkin itulah perasaannya, seorang pemuda yang dengan terang-terangan menyatakan dirinya pria bayaran.
Tomy sang komisaris atau Tomy pria bayaran? Tidak lagi penting baginya. Pria yang benar-benar menarik perhatiannya. Pria tampan? Keyla sudah meniduri dan merayu berbagai pria. Namun, pemuda ini terasa benar-benar berbeda.
__ADS_1
Perasaan hangat dari wajah yang dingin. Sesuatu yang sulit dielaknya. Hari ini tanpa disadarinya bukan dia yang menaklukkan, dirinya yang ditaklukkan, memegang handuk yang menutupi tubuhnya erat.
***
Tomy tersenyum, melangkah ke lantai dua, menggati pakaiannya. Hal yang dilakukannya? Tentu saja melihat putranya.
Pemuda itu hendak melangkah masuk, seorang pelayan menunduk,"Tuan?" ucapnya menatap aneh.
"Ini untukmu...tutup mulutmu!" Tomy memberikan beberapa lembar uang pada pelayan yang memergokinya hendak memasuki kamar Frea.
Sang pelayan melangkah pergi, memasukkan uang dengan cepat ke sakunya.
Kriet...
Pintu dibukanya, kemudian dikunci dari dalam. Pemuda itu tersenyum, menatap istrinya yang tertidur saat tengah menyusui. Bibir mungil itu masih tengah menyesap bagaikan kelaparan.
"Nakal," gumamnya, mengecup pipi mungil putranya.
Frea terlihat tidur dengan nyenyak, hingga Tomy memberanikan diri, berbuat usil, melepaskan dada ibunya yang dipegang tangan mungil serta mulut kecil putranya.
Anak itu tidak menangis, menatap wajah Tomy. Malaikat kecil yang akhirnya dimiliki sang ayah. Menjadi seorang ayah mungkin merupakan anugerah terindah untuknya.
Anak itu menggeliat, mencari posisi nyaman, kemudian tertidur dalam gendongan ayahnya.
Tubuh mungil itu diletakkan di dalam baby box. Mengusap rambutnya pelan. Sejenak melangkah mendekati Frea. Merapikan pakaiannya yang berantakan akibat menyusui Kira.
Namun sejenak gerakannya terhenti. Naluri lelaki? Itulah yang terasa, menyentuh benda yang sudah lebih dari tiga bulan tidak disentuhnya.
"Apa dia akan bangun?" gumamnya, sembari menggigit bagian bawah bibirnya.
Hingga akhirnya menghela napas, nekat memberanikan diri. Bibir Frea dicicipinya tanpa mendapatkan balasan, tangannya bermain di area tempat putranya menyusu.
Hingga, istrinya menggeliat, dengan panik Tomy bersembunyi di bawah tempat tidur.
Frea mulai membuka matanya dalam kepanikan,"Kira!!" matanya menelisik ke area lantai, menyangka putranya terjauh dari tempat tidur.
Matanya beralih, wanita itu merasa lega. Putranya tertidur dalam baby box. "Mungkin Mariah (tukang masak) yang pindahin..." ucapnya menguap, sembari menggaruk-garuk pantatnya.
Pemandangan indah yang dinantikan terlihat. Satu persatu pakaian Frea ditanggalkan. Bahkan pakaian dalam, tidak menyadari seorang pemuda yang menderita menelan ludahnya berkali-kali. Masih menyembunyikan diri di bawah tempat tidur.
__ADS_1
Hanya sehelai handuk putih yang menutupi tubuh putih mulus itu kini, berjalan perlahan menuju area kamar mandi. Beberapa saat kemudian, suara air terdengar, pertanda Frea tengah membersihkan dirinya.
Tomy mulai keluar dari bawah tempat tidur, jemari tangannya gemetaran, menyentuh hendel pintu kamar mandi.
"Frea tidakkah kamu kasihan pada nasibku. Ini tidak baik untuk kesehatan, jika tidak dituntaskan..." ucapnya, tertunduk menahan keinginannya. Lebih memilih menunggu istrinya kembali dengan pilihannya sendiri.
***
Lebih cantik dari Frea? Tentu saja, semua informasi tentang Tomy telah dikantonginya. Wanita itu kini tengah terdiam di atas tempat tidur. Mengenakan dress setipis kain tissue, tanpa dalaman sama sekali.
Wajah rupawan Tomy yang hanya berada di foto ditatapnya lekat,"Duda muda, kaya, kesepian tanpa istri, akan lebih menginginkan kehangatan..." gumamnya tersenyum.
"Keyla," seorang wanita gemuk berjalan mendekatinya. Membawakannya segelas minuman segar.
"Emm, taruh saja..." ucapnya.
"Itu foto siapa?" tanya sang wanita gemuk mengenyitkan keningnya.
Wanita itu dijambaknya, pipinya dicengkeram kuku-kuku Keyla yang tajam. "Dugong, jika bukan Gilang berbaik hati memperkerjakan mu sebagai asistenku, dimana kamu mencari uang, modal tampang busuk sepertimu. Cuma akan menjadi gelandangan," ucapnya mendorong sang wanita bertubuh gempal.
"Jangan berani banyak bertanya!!" lanjutnya.
Lulusan S1, seharusnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik bukan? Dari pada asisten seorang pengangguran. Namun dirinya masih ingin melihat wajah Gilang. Bukan karena rupa pemuda itu saat ini, hanya ingin melihat wajah pria yang disukainya, tidak peduli penampilan luarnya.
Menyerah? Benar dirinya sudah menyerah bagaikan pungguk merindukan bulan. Namun pungguk masih ingin menatap rembulan, merasakan sinar dari sesuatu yang tidak mungkin diraihnya.
Menunggu hati menyerah meyakinkan dirinya sendiri jika sinar rembulan bukan hanya tertuju padanya.
Bersambung
...Sinar tipis rembulan aku ingin selalu melihatnya, hingga dengan setia terbangun saat malam....
...Semua makhluk lebih menyukai sinar mentari yang cerah bukan? Namun aku tidak, sinar rembulan lebih indah....
...Sesuatu yang aku ingini untuk hanya bersinar padaku. Hanya dapat menatapnya bersinar dari jauh. Walau aku harus menolak sinar matahari yang hangat, aku hanya ingin menatapnya walaupun terasa menyakitkan....
...Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, bersabar menunggu harapan yang aku ketahui tidak mungkin terjadi. Harapan kosong yang aku tunggu, hingga bulu-bulu ini melayang satu-persatu. Seiring dengan tubuhku yang terhempas diatas tanah. Menyerah dalam hidup singkat ini, hanya dapat menatap rembulan dari jauh hingga mataku tertutup sempurna. Di tengah kerinduanku padanya......
__ADS_1
Author...