Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Salah Paham


__ADS_3

Salah paham? Mungkin itulah yang terjadi, seorang pemuda tertunduk terikat pada sebuah kursi. Wajahnya memar di beberapa sudut, seember air garam disiram pada tubuhnya, menambah lukanya yang terasa perih.


Sudah seharian dirinya disiksa, diikat tanpa sedikitpun penjelasan. Wajahnya tertunduk, "Bunuh aku..." ucapnya lirih sudah tidak tahan lagi dengan satu persatu, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Darah mengalir dari sayatan pada kulit lengannya. Rasa sakit dan perih benar-benar tidak tertahankan lagi.


Seorang pria paruh baya menggunakan jasnya tiba-tiba datang. Berjalan di ikuti beberapa pengawal.


Bug...


Satu tinju mendarat di pipinya, membuat keseimbangannya menghilang. Terjatuh bersama dengan kursi yang terikat pada tubuhnya.


"Berani-beraninya kamu menghancurkan masa depan putriku!!" bentaknya, menendang tubuh tidak berdaya itu.


Vincent menatap pria paruh baya yang berdiri di hadapannya, masih terbaring di lantai dalam posisi terikat,"Anda siapa?" tanyanya dengan napas tidak teratur.


"Tidak penting aku siapa, kamu sudah memaksa putriku untuk berhubungan denganmu..." Agra menghela napas kasar, "Singkirkan dia, terserah bunuh atau buang saja ke laut,"


Orang-orang Leon yang dipinjam Agra mulai bergerak melepaskan ikatan Vincent pada kursi, menarik tubuh lemasnya secara paksa ke dalam mobil yang terparkir di depan area gudang terbengkalai, tempat yang cukup terpencil.


Mobil mulai melaju meninggalkan tempat tersebut. Agra masih duduk didalam gudang sejenak menghela napas kasar, tidak menyadari kesalahan besar yang akan membuat putri kesayangannya murka...


***


Hair style list, menata rambut indah tertawat seorang wanita. Gaun terbaik digunakannya, tidak terbuka namun terkesan klasik. Wajahnya dirias hingga terlihat menawan.


Kunci diraihnya, menyalakan mobil penuh senyuman. Hari ini dirinya akan bertemu dengan Vincent, yang sudah ditemukan Agra.


Pedal gas diinjaknya, meninggalkan parkiran kediaman utama keluarganya. Area pinggir kota menjadi tujuannya, hingga dengan tidak sabaran gudang itu terlihat juga. Mona menatap ke arah spion merapikan penampilannya. Mencoba mengenakan kacamata hitam, namun sejenak kembali melepaskannya. Mungkin tidak sesuai rasanya setelah lama tidak bertemu Vincent mengenakan benda tersebut.


Penampilan klasik seorang wanita berkelas, berjalan cepat memasuki area gudang. Matanya menelisik, hanya terdapat Agra dan beberapa pengawal di sana.


"Ayah, dimana Vincent?" tanyanya, tidak menemukan keberadaan pemuda tersebut.


"Kenapa kemari? Kamu pasti masih trauma kan? Tenang saja, anak ayah, tidak akan melihat wajahnya lagi. Ayah akan membantumu menghilangkan rasa trauma..." ucap Agra memeluk Mona, seolah-olah menenangkan putrinya.


"Tidak akan melihat wajahnya lagi!? Apa yang ayah lakukan padanya...!!" teriak Mona dengan kemarahan yang benar-benar berada di ubun-ubun.


***

__ADS_1


Dalam mobil yang melaju, waktu terasa lambat bagi seorang pemuda. Pemuda itu berusaha mengingat, Memaksa seorang wanita untuk berhubungan?


Mencoba mengingat berapa kalipun, dirinya tidak pernah memaksa seseorang wanitapun berhubungan dengannya. Bahkan ketika masa mudanya yang benar-benar kelam. Satu persatu ingatan itu kembali, wanita-wanita yang dijadikannya kekasih rahasia, saat masih bersetatus kekasih Frea.


Namun semua di lakukan atas dasar saling menginginkan. Setelah kepergian Frea. Merupakan sebuah tamparan telak baginya, menikahi Dona sesuai permintaan Frea, tidak pernah menyentuh wanita yang pada akhirnya meninggal saat melahirkan itu.


Mengingat kembali pun hanya sama, setelah kematian Dona dirinya tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita lagi. Tidak pernah tidur dengan satu wanita pun, kecuali...


Tapi tidak mungkin, jika Mona, wanita itu sudah kembali pada mantan kekasihnya. Mungkin begitulah yang ada di fikirannya.


"Sudahlah, mungkin ini akhirnya..." gumamnya, dengan bibir memutih, mengalami dehidrasi karena di kurung beberapa jam di ruangan panas yang pengap tanpa minuman.


Matanya berkunang, perlahan dunia terasa gelap.


Tidak lama terdengar suara panggilan, sang pengawal mulai mengangkatnya.


"Kalian dimana!?" suara seorang wanita membentak.


"Dalam perjalanan menuju dermaga, di jalan..." kata-katanya terpotong.


"Hentikan mobilnya!!" teriak wanita itu dari seberang sana. Tidak menyadari Mona yang mengendarai mobil sport sudah hampir berhasil menyusul kendaraan mereka.


Brak...


Entah dari mana, mobil Mona melakukan manuver, menyalip mobil mereka, menabrak sudutnya. Hingga pada akhirnya kedua mobil itu terhenti sempurna.


Mona keluar dari mobil sportnya yang sedikit penyok, membuka pintu penumpang bagian belakang.


"Nona..." pengawal menunduk memberi hormat.


"Bawa dia ke mobilku..." ucapnya, dengan wajah kesal. Tubuh Vincent benar-benar dibuat remuk oleh Agra.


***


Matanya terasa silau perlahan mulai terbuka. Kamar besar terlihat, dengan ruangan bernuansa klasik, bagaikan ruangan ala Eropa. Meja rias besar berada di sudut ruangan. Vincent mengangkat jemari tangannya, kepalanya masih sedikit terasa sakit.


Selang infus diperhatikannya, terhubung dengan pergelangan tangan. "Ini dimana?" gumamnya.


Tidak ada satu orangpun disana, bahkan untuk berdiripun terasa sulit bagi Vincent. Bagian dadanya terasa sakit karena pukulan bertubi-tubi yang diterimanya.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?" wanita itu masuk, dengan pakaian klasiknya, diikuti pelayan yang membawa berbagai macam makanan.


"Kamu!?" teriak Vincent lagi, membenarkan prasangkanya sebelumnya.


"Namaku Mona, kamu mengatakan jika aku hamil harus memberi tahumu, tapi kamu malah menghilang..." wanita itu mulai duduk di tepi tempat tidur menyodorkan minuman dingin menyegarkan pada Vincent.


Sang pemuda menelan ludahnya berkali-kali, namun terlalu gengsi menerima."Aku harus pulang..." ucapnya, berusaha bangkit.


Tangan Mona menahannya, membimbing jemari tangan itu mengelus perut ratanya,"Kamu tidak menginginkannya? Anak kita,"


Vincent menghela napasnya, benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Sekali berbuat kesalahan tanpa pengaman langsung jadi. Namun itu, tetaplah anaknya, anak pertamanya, pemuda itu tidak berdaya sama sekali.


"Bagaimana dengan pacarmu, jika dia tau kamu mengandung, pernikahan kalian... acara lamaran, bukannya kalian saling mencintai?" tanyanya tertunduk.


Tidak dipungkiri setelah 11 tahun dirinya dapat kembali merindukan dan mencintai seorang wanita yang hanya ditemuinya dua kali, perlahan menghilangkan keberadaan Frea di hatinya. Namun keberadaan Lian? Mungkin Mona lebih mencintai pemuda itu, dan akan bahagia bersamanya. Setidaknya itulah yang ada dalam fikiran Vincent.


Mona mengecup singkat bibir dengan sedikit luka di bagian sudut. Kemudian menggeleng,"Aku tidak pernah akan kembali padanya. Karena aku juga berhak bahagia tanpanya,"


Jawaban yang tidak diinginkannya, namun entah kenapa Vincent tersenyum. Hatinya perlahan sudah mulai merelakan segalanya, hingga dirinya mungkin mulai serakah, merasa senang saat Mona mengatakan tidak akan kembali pada Lian. Menginginkan wanita yang tengah mengandung benih darinya.


"Omong-omong bagaimana kamu bisa tau aku dilamar?" tanya Mona menyelidik.


"Tidak tau..." Vincent mengalihkan pandangannya, tertunduk, kemudian tersenyum,"Anak ayah, nanti akan ayah kenalkan dengan kakakmu Gea..." ucapnya mengusap pelan, perut Mona.


"Jadi kita akan menikah?" Mona mengenyitkan keningnya.


Ragu? Begitulah rasanya ketika akan memulai cinta yang baru, namun perut rata itu masih dilihatnya. Perlahan jemari tangannya bergerak, menggenggam tangan Mona. "Kita akan belajar, saling menyukai..." ucapnya berusaha tersenyum.


Janin itu adalah anaknya, darah dagingnya sendiri, sesuatu yang harus dilindunginya. Mungkin sama seperti Gea, putri yang dicintainya, walaupun Gea tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya.


Brak...


Pintu kembali terbuka, wajah menakutkan itu terlihat lagi.


"Mona!?" Agra bertanya pada putrinya seakan menunggu penjelasan dari kebohongannya selama ini, yang berpura-pura menjadi pihak yang paling terluka.


Mona, tersenyum tanpa dosa pada ayahnya,"Aku akan menikah..." hanya itu kata-kata yang terucap, bagaikan tidak mempedulikannya kemarahan Agra.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2