Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Kapal Kulit Jeruk


__ADS_3

Ketiga mobil berhenti hampir bersamaan di depan kantor pusat Bold Company. Tomy berjalan cepat hendak menyusul Agra, hingga akhirnya langkahnya terhenti, seorang pemuda menariknya. Di tempat parkir, pemuda yang menatapnya penuh harap.


"Apa yang akan kamu lakukan!? Informasi apa saja yang kamu dapatkan!?" tanyanya menatap tajam.


"Rangga, apa maksudnya? Maaf, aku harus buru-buru ke lantai atas..." Tomy mencoba melepaskan diri.


"Kamu tau aku Kenzo bukan? Kita berhenti saling berpura-pura..." ucapannya, mulai menyadari saat Tomy bagaikan mengatur pertemuannya dengan Suki.


Tomy menghela napas kasar,"Seseorang sedang mengincar Agra dan Gilang. Pelakunya Simon mantan karyawan Bold Company, mungkin sebelum siang ini dia akan berusaha membunuh..." kata-katanya terhenti, menatap perubahan ekspresi Kenzo.


Wajah Kenzo pucat pasi, mengetahui keberangkatan Gilang yang lebih awal dari pada Tomy, mengingat dirinya yang berada di lantai satu sepanjang pagi.


Kenzo segera berlari meninggalkan Tomy tanpa memberi penjelasan apapun. Sedangkan Tomy kembali fokus mengikuti Agra, menyangka Gilang belum berangkat, tepatnya sampai di kantor pusat Bold Company.


***


Gilang akan mati? Satu-satunya orang yang menganggapnya keluarga akan mati? Matanya memerah, berlari menuju lift. Menekan-nekan tombol dalam kepanikan. Tomy hanya mengikuti Agra, sedangkan adik yang dikasihinya tidak memiliki penjagaan sama sekali.


Lift yang tidak kunjung terbuka, membuat Kenzo berlari melalui tangga darurat.


Jangan mati, aku mohon...aku tidak bermaksud membunuhmu. Gilang, bertahanlah aku mohon...


Napas Kenzo terengah-engah, masih berusaha menaiki anak tangga yang tidak ada habisnya. "Gilang maaf..." gumamnya, terengah-engah akibat berlari menahan rasa sesak di dadanya.


Hingga akhirnya, pintu lantai tempat ruangan Gilang terlihat. Seorang kakak yang mengasihi adiknya mungkin begitulah dirinya. Pintu bertuliskan lantai 5 itu segera dibukanya.


Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya di lorong tidak sengaja ditabrak olehnya. Gilang tidak boleh mati karena kecerobohan ku... Gilang tidak boleh mati... Adikku masih hidup...


***


Berkas-berkas yang menumpuk dikerjakannya satu persatu. Pemuda itu berusaha tetap fokus dalam rasa kesendiriannya. Meminum sekaleng soda. Soda? Entah kenapa sosok Rangga yang terfikirkan olehnya. Hingga titik merah itu terlihat tanpa disadarinya.


Tepat membidik di daerah kepala Gilang, bidikan dari gedung atap apartemen yang lebih tinggi. Simon sudah membulatkan tekadnya, mengakhiri semua ini.


Prang...


Jendela ruangan Gilang berlubang, lubang yang tiba-tiba timbul seukuran peluru. Menyisakan beberapa serpihan, darah mengotori wajah putih rupawannya.


Gilang menonggakkan kepalanya wajahnya lah yang berlumuran darah segar. Seorang pemuda tersenyum padanya dengan bagian dada yang mengeluarkan banyak darah.


Peluru menembus dari punggung hingga bagian dadanya.


"Ka...kamu..." Gilang terbata-bata dengan wajah terkena cipratan darah Kenzo. Pemuda yang berdiri di hadapannya, yang tengah duduk di kursi putarnya.


Darah sedikit mengalir dari mulutnya. "Aku kakakmu, kamu melupakanku?" tanyanya tersenyum hangat. Senyuman sehangat dahulu sebelum Kenzo dituduh mencuri perhiasan milik Nila. Seorang kakak yang menyayanginya, mengajarinya menaiki sepeda. Bahkan membuatkan layang-layang untuknya, walaupun layangan buruk yang gagal terbang.


"Kenzo...!?" air mata Gilang mengalir. Air mata yang mulai bercampur cipratan darah Kenzo di pipi putih pucat Gilang.


Kenzo mengangguk, sejenak tubuhnya roboh di lantai. Gilang segera memangkunya,"Kakak!! Kakak!! Kakak!!" tidak memikirkan setelah jasnya yang berlumuran darah.


"Kakak jangan mati!! Aku mohon!! Kakak!!" pemuda itu menjerit memeluk tubuh lemah yang bahkan untuk bicara pun tidak memiliki tenaga.

__ADS_1


Kenzo kembali menatap ke arah jendela, titik merah itu kembali terlihat, pertanda Simon kembali membidik. Tembakan kedua akan dilayangkan pada adiknya. Pemuda itu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Mendorong tubuh Gilang yang mendekapnya.


Jendela kembali berlubang, senjata api jarak jauh dengan peredam suara itu kembali mengarahkan sasaran tidak menyerah. Terlihat meja kayu telah berlubang olehnya.


Tangan Gilang gemetar ketakutan, menatap dirinya yang dua kali hampir terbunuh.


"Keluar!! Cepat!! Minta seseorang melindungimu!! Jangan pedulikan aku!!" Kenzo berteriak, membuat darah semakin banyak mengalir dari tubuhnya. Bahkan terbatuk-batuk, memuntahkan darah segar.


Gilang mengepalkan tangannya, merangkak keluar, menjadikan tas kerjanya sebagai pelindung kepalanya. Air matanya tidak berhenti mengalir, meninggalkan Kenzo tergeletak bersimbah darah di ruangannya.


"Kakak, aku akan menolongmu..." gumamnya, hingga sampai pintu ruangannya. Tomy yang mengikuti Agra, masih berada di lorong dekat ruangan Gilang. Menunggu pria paruh baya itu berbicara dengan salah satu karyawan.


"Tolong!! Tolong kakakku..." Gilang menangis, dengan keadaan kacau, keluar dari ruangannya. Darah mengotori wajah dan pakaiannya.


***


Sinar matahari menghangatkan tubuhnya, sinar yang hangat. Kenzo menatap ke arah langit, tersenyum dengan bibir pucatnya, bibir yang bagian bawahnya memerah, menampakan noda darah dari muntahannya.


Ibu... Ayah... Aku lelah... Jika bisa bolehkah aku menutup mata mengikuti kalian. Tidak ada sesuatu berharga di dunia ini lagi...


Ada yang mengatakan ibu adalah bumi, ayah adalah langit. Aku ingin mati dengan melihat langit, kemudian dikuburkan di bumi...


Agar dapat merasakan pelukan kalian...


Wajah itu tersenyum, meneteskan air mata hingga akhirnya tertutup sempurna. Terpaku dengan hidupnya yang melelahkan, tidak memiliki sahabat, ataupun kekasih, hanya mungkin satu hal yang dimilikinya. Gilang sebagai adik kecil yang dikasihinya, anak polos yang selalu menganggapnya seorang kakak


Kata-kata dari ingatan masa kecil samar-samar terdengar...


'Membuat kapal laut dari kulit jeruk...' Kenzo tersenyum, menatap hujan deras di hadapan dua orang anak yang tengah menunggu jemputan di area sekolah.


'Mainan? Itu kulit jeruk!!' Gilang menghela napas kasar.


Namun seperti sihir, kulit itu perlahan menjadi kapal, dihanyutkan Kenzo di tengah derasnya air hujan.


'Kakak buatkan aku satu...' Gilang mengeluarkan jeruk yang memang dijadikan bekal makanan penutup mereka oleh pelayan.


Hingga akhirnya, dua buah kapal kulit jeruk itu terlihat lagi. Sepasang kapal yang berlayar di tengah derasnya air hujan.


Gilang bangkit mengejarnya, tidak terima kapal milik Kenzo mendahuluinya. Membiarkan seragam miliknya dibasahi air hujan.


'Aku harus menang!!' Gilang hendak menghentikan kapal Kenzo.


Namun sang kakak menariknya dari belakang, 'Kamu curang!!' ucapnya mencegah Gilang.


'Kakak yang curang!!' Gilang melempar Kenzo dengan lupur.


Sang kakak tertawa kemudian membalasnya, bermain air hujan bersama, dengan tubuh yang kotor. Tertawa dalam kebahagiaan...


Kapal kulit jeruk? Milik Kenzo telah karam, bagaikan melindungi kapal milik sang adik. Kapal yang hampir terjatuh ke selokan.


Mungkin sama seperti seorang kakak yang kini telah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Terdiam dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


Kita tidak memiliki hubungan darah, tapi aku tetap menyayangimu...


***


Tomy segera berlari mendekati Gilang, diikuti sekitar dua orang pegawai lainnya yang kebetulan melintas.


"Tolong kakakku!!" tangisan Gilang terdengar lirih, dengan jemari tangan gemetar berlumuran darah.


Dua orang karyawan hendak masuk, namun Tomy menghalangi.


"Tunggu!!" ucapnya, mengintip dari balik pintu, arah datangnya peluru, sinar bagaikan lensa teropong terlihat dari atap salah satu apartemen.


Bersamaan dengan pergerakan sinar menjauh, pertanda Simon mengetahui lokasinya telah ketahuan. Tengah berusaha melarikan diri keluar dari gedung apartemen.


Tomy menghubungi seseorang melalui earphone yang selalu terpasang di telinganya.


"Apartemen Flower, atap bangunan!! Ringkus dia!! Blokir lokasi!!" perintahnya pada orang suruhannya.


Tomy mengamati dengan seksama, pantulan lensa senjata tidak terlihat lagi. Pertanda sudah cukup aman memasuki ruangan Gilang.


Benar saja, tubuh Kenzo lah yang tergeletak.


Ambulance segera dihubungi salah satu karyawan. Tomy menatap Gilang, pemuda kembali memeluk tubuh lemah Kenzo, menitikan air matanya tiada henti.


Hingga akhirnya Tomy, memutuskan untuk mengikuti pengawalnya dan pihak kepolisian, menangkap Simon. Mengingat tidak ada yang dapat dilakukannya dengan berdiam diri terlalu lama disana.


***


Sepuluh menit berlalu, ambulance akhirnya sampai. Tangan Gilang masih gemetar, handak menaiki ambulance. Mengikuti Kenzo yang telah dipasang alat pernapasan.


Namun, jemari tangan Frans tiba-tiba menariknya, "Keluar!! Aku yang akan membawanya ke rumah sakit!!" ucapnya tersulut emosi, menatap keadaan majikannya.


Gilang hanya terdiam...


"Dengar!! Kalian hanya dapat melukainya saja!! Mulai saat ini, Kenzo tidak akan menginjakkan kakinya ke dalam kediaman kalian lagi!! Bahkan ke kota ini lagi!!" Frans menatap tajam, sebelum akhirnya mobil ambulance benar-benar tertutup.


Wajah sang kakak yang telah tumbuh dewasa kembali sedikit terlihat. Wajah yang terlihat tenang, dengan alat bantu pernapasan menutupi mulut dan hidungnya.


Bug...


Mobil ambulance tertutup sempurna, meninggalkan Gilang yang berdiri tertegun, menitikkan air matanya tiada henti.


Bersambung


Bukan saudara sedarah? Aku tau, tapi bagiku kamu lebih daripada itu...


Satu-satunya adik yang dapat aku banggakan, kaki kecil yang perlahan aku ajari menaiki sepeda...


Tersenyum penuh kebanggaan dengan kebaikan hatinya...


Aku akan memberikan apapun padamu, satu-satunya wajah yang tersenyum tulus untukku...

__ADS_1


Kenzo...


__ADS_2