
Dengan ragu, Gea menuruni tangga bersama Vincent dan Mona. Hari ini semua anggota keluarga berada di rumah untuk makan malam, meninggalkan kesibukan mereka sejenak.
Hanya Agra, yang dikenalnya selebihnya tiga orang lainnya, tidak. Leon menikmati makanan pembuka dengan tenang. Sedangkan dua orang muda-mudi terlihat duduk berhadapan dengannya.
"Paman Leon, Gilang, perkenalkan ini Vincent dan putrinya Gea..." ucap Mona, menarikan kursi untuk calon putri kecilnya.
"Emm..." hanya itu yang keluar dari mulut Leon, tidak begitu menanggapi. Sedang, Gilang yang hendak mengulurkan tangan tidak jadi, mengikuti tingkah dingin ayahnya. Mungkin bagaikan seekor kucing, meniru perilaku ayahnya yang seekor singa.
Rumah ini benar-benar pemandangan menyegarkan... gumam Keyla dalam hatinya, mulai bangkit mengulurkan tangannya, hendak berkenalan dengan Vincent.
"Keyla..." ucapnya pada Vincent, merapikan rambutnya bertingkah bagaikan gadis polos.
Plak...
Jemari tangan Keyla yang terulur dipukul Mona, "Jangan mencoba berkenalan dengannya,"
"I...iya..." Keyla mulai duduk dengan sungkan.
Cemburu? Tidak, namun Mona cukup mengetahui tingkah genit kekasih sepupunya. Entah kenapa cukup menyebalkan baginya menatap kehadiran makhluk tidak tau malu itu. Makhluk yang tercantik, bahkan mengalahkan kecantikannya dan Frea.
"Dimana Tomy?" tanya Mona menghela napas kasar.
"Sebentar lagi akan turun, istrinya sedang menyusui," jawab Gilang, memakan makanan di hadapannya.
"Sayang, makan yang banyak ya?" Mona tersenyum, meletakkan beberapa sayuran dan daging di piring Gea.
Hingga Vincent menatap ke arah tangga tidak berkedip sama sekali. "Benar-benar Tomy, si bocah br*ngsek..." gumamnya tertegun, menatap dua makhluk hidup yang turun.
Setidaknya, Frea dulu sudah pernah menceritakan tentang anak yang menggigit tangannya. Anak yang dengan ajaibnya, kini menjadi suami Frea.
Anak gagap yang kini sudah tumbuh dewasa tersenyum, membimbing istrinya tidak menyadari siapa saja yang berada di meja makan saat ini. Gea mengenyitkan keningnya seketika bangkit.
"Bunda!!" panggilannya berlari memeluk Frea.
Seketika suasana hening, wajah Tomy nampak suram. Pria yang akan menjadi suami sepupunya adalah Vincent? Ingin rasanya dirinya mengumpat. 'Author br*ngsek!'
"Bunda!?" Gilang terbatuk-batuk usai menyemburkan air dari mulutnya.
"Ini tidak seperti yang ada di fikiran kalian," ucap Frea gelagapan. Mungkin yang ada di fikiran mereka adalah Vincent merupakan mantan suami Frea. Berpisah untuk menikah dengan Tomy.
Merelakan Frea? Vincent memang sudah merelakannya. Namun dendam pada anak busuk yang memiliki fikiran merebut kekasihnya selama 17 tahun masih ada.
"Anak tidak tau terimakasih..." cibir Vincent pada Tomy.
Tomy mulai duduk,"Pria yang kasar pada kekasihnya..." mencibir balik, mengingat kejadian 17 tahun yang lalu.
Gilang menahan tawanya, melihat raut wajah Mona, Vincent, dan Tomy yang suram. Namun, Frea terlihat biasa saja, memangku Gea, yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.
"Sebenarnya bagaimana hubungan kalian?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Benar, kenapa kalian bisa saling kenal?" tanya Mona berusaha tersenyum.
"Aku merebut pacarnya..." Tomy mulai memakan, makanan pembuka dengan tenang.
"Dia mengigit tanganku," hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Vincent, mulai ikut makan.
"Merebut pacar? Menggigit?" Gilang mulai tertawa tidak mengetahui situasi sebenarnya yang terjadi.
"Ka... kalian mantan pacar?" tanya Mona pada Vincent, dijawab dengan anggukan oleh pemuda itu.
"Aku menghabiskan waktu 16 tahun, menyusun strategi merebut pacarnya. Dan sekarang Frea hanya milikku..." Tomy tersenyum, merangkul bahu Frea.
"Bocah, sialan..." Vincent memaksakan dirinya tersenyum. Tidak dipungkiri dirinya memang telah dikalahkan oleh bocah gagap yang dahulu menggigit tangannya.
Mata Gea yang baru pertama kali bertemu Tomy berkaca-kaca. "Kakak tampan, menikah dengan bunda Frea? Jadi boleh aku panggil ayah?" tanyanya.
Vincent segera bangkit menarik putri tunggalnya, dari pangkuan Frea. "Sayang, jangan memanggil orang lain ayah..."
Gea mengangguk, kembali duduk diantara Vincent dan Mona.
Mona menghela napas kasar, mencoba untuk berfikir dingin,"Bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanyanya.
"Vincent dan aku sempat menjalin hubungan ketika SMU hingga kuliah. Tapi karena suatu alasan kami berpisah..." Frea tersenyum, enggan menjelaskan lebih banyak.
"Dan dia?" tanyanya menunjuk menggunakan garpu ke arah Tomy.
"Aku? 17 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Frea. Lalu bertekad mengejarnya, sebelum akhirnya memutuskan pergi ke Singapura..." jawab Tomy memindahkan daging di piringnya ke atas piring Frea.
"Makanlah yang banyak..." Tomy tersenyum menatap istrinya.
"Jadi begitu, lalu Gea?" Mona kembali bertanya.
"Aku mengenal almarhum ibunya, selain itu aku juga berteman dengan Vincent, jadi kami cukup dekat. Sebelum akhirnya Tomy kabur dari rumah karena cemburu..." Frea tertawa kecil, dengan mulut penuh.
"Aku tidak cemburu!!" Tomy menatap tajam.
"Tunggu sebentar," otak Gilang mulai bekerja menyadari ada hal yang janggal."Sekitar 17 tahun yang lalu, berarti usiamu antara 11 atau 12 tahun. Kamu bertekad, mengejar wanita di usia sekecil itu..." pemuda itu tertawa kencang.
Tomy menghela napas kasar, "Rasa kasih dapat berakhir menjadi cinta. Rupa, kekayaan, usia, bukan batasan. Tapi jika hanya dengan rupa fisik menyatakan itu cinta sejati. Lebih baik, pertimbangkan dan uji," ucapnya ambigu menatap jenuh ke arah Keyla, wanita tercantik di meja itu.
Gilang hanya tersenyum, tidak mengerti dan tidak menanggapi, mungkin kepercayaan buta pada kekasihnya. Jemari tangannya, menggenggam erat tangan Keyla, kemudian tersenyum. "Selera kalian buruk, pacarku lah yang tercantik disini,"
Leon menghela napas kasar, mengenyitkan keningnya,"Gilang, fokus pada pekerjaanmu! Mona hamil di luar nikah, jadi kakekmu tidak akan setuju jika dia yang pada akhirnya menempati posisi tertinggi. Bersiaplah untuk belajar lebih banyak lagi," ucapnya meninggalkan meja makan lebih awal.
Enggan menyakiti perasaan anaknya dengan mengatakan hal yang sebenarnya. Memisahkan juga sulit, anaknya terlanjur menautkan hati pada Keyla. Tidak ingin kristal kecil yang dijaga dan dirawatnya dengan baik, rusak sedikitpun, itulah yang ditakutkan Leon.
Keyla memaksakan dirinya tersenyum, menatap kekasihnya. Merutuki nasibnya sebagai wanita dengan nasib yang terburuk di meja ini. Memiliki kekasih rupawan, tapi tidak dapat menyentuh dan memanjakannya di tempat tidur.
Meja makan ini dipenuhi pria tampan yang dimiliki oleh wanita berwajah, tidak lebih cantik darinya. Bahkan nyonya utama rumah ini hanya seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Wanita yang bahkan tubuhnya tidak menggoda sama sekali.
__ADS_1
Namun Frea memiliki suami yang benar-benar sempurna.
Ingin dicintai, dipuja, dan didamba setiap pria, merupakan sifat dasar yang tidak dapat dielakkan. Namun rasa cinta dan setia pada pasanganlah yang membuat semua indah, mengalahkan keinginan tamak itu.
Tapi mungkin Keyla yang merasa paling sempurna, menginginkan semua pria rupawan hanya melirik padanya. Hanya melihat rupanya yang sempurna, tidak benar-benar mencintai kekasihnya. Hanya mengejar materi semata, menganggapnya sebagai batu pijakan.
Rasa serakah yang mungkin akan menghancurkannya suatu saat nanti...
***
Hari mulai malam, Gilang mengenyitkan keningnya, menerima selembar surat dari sahabatnya.
"Ini, surat pengunduran diriku," wanita gemuk itu tersenyum.
"Ndut (gendut), kenapa kamu mengundurkan diri? Apa karena gaji atau pekerjaan? Jika tidak suka akan aku carikan pekerjaan baru di perusahaan keluargaku..." ucapnya memegang jemari tangan sahabat, yang belakangan ini jarang bicara padanya.
Wanita bertubuh gempal itu masih setia tersenyum,"Tidak, adikku ingin kuliah di luar kota. Aku tidak bisa membiarkannya tinggal sendiri, jadi aku mencari pekerjaan disana," jawabnya.
"Tapi..." Gilang mengenyitkan keningnya.
"Kapan-kapan kamu bisa menghubungiku," hanya itu kata-kata terakhir yang diucapkan sahabatnya.
Sahabat? Tanpa disadari dua tahun terakhir hanya wanita gemuk itu yang menjadi teman bicaranya. Orang yang hanya mengangguk dengan semua kata-katanya, tersenyum, mendengarkan semua celotehannya.
Namun gajah gemuk itu telah pergi, memalingkan wajah darinya.
"Ndut," panggilan ejekannya, berusaha menghentikan langkah sahabatnya.
"Apa?" tanya wanita itu dengan langkah yang terhenti, tanpa menoleh sedikitpun.
"Ganti wajahmu, agar mendapatkan pacar, kamu terlalu jelek..." entah kenapa malah kata-kata menusuk yang keluar dari mulutnya. Mata Gilang memerah, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar dalam hatinya.
"Emm..." hanya itu jawaban yang terdengar dari mulut sang wanita, tidak melihat ke belakang sama sekali. Enggan menatap wajah Gilang untuk yang terakhir kalinya, berjalan hingga depan gerbang rumah besar. Menaiki taksi online yang dipesannya.
Gilang mulai menitikkan air matanya, perpisahan yang menyakitkan dengan sahabatnya. Tapi apa benar hanya sahabat?
Leon menghela napas kasar, menatap dari balkon kamar yang ditempati Gilang. Sebuah paperbag terakhir yang dititipkan masih di genggaman tangannya.
"Dia melewatkannya..." gumamnya, menatap putranya tanpa ekspresi.
Bersambung
...Andai rupaku dapat diganti? Andai bisa, aku akan menggantinya, agar kamu dapat mencintaiku....
...Namun, apakah kamu tau, pungguk ini memang terlahir buruk rupa? Karena dirinya lebih memilih hidup di bawah sinar sang rembulan....
...Rembulan yang tidak pernah memandang dirinya......
__ADS_1
...Hingga tiba saatnya pungguk ini, harus pergi mengepakkan sayapnya. Untuk melupakan rembulan, bulu-bulu putih akan beterbangan, saat meninggalkannya terdiam dalam kerinduan....
...Meninggalkanmu untuk dapat tetap hidup, walau sulit......