Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Keputusan


__ADS_3


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€Just info, "My Kenzo" sudah rilis.πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Terus awasi..." Leon menghela napas kasar mematikan panggilannya. Setelah mendapatkan informasi tentang segala hal yang terjadi dari pengawal kepercayaannya.


Pria paruh baya itu berkemas, merasa putranya telah cukup mendapatkan sedikit pengalaman hidup. Simon? Mungkin pemuda yang hampir membunuhnya lah, orang paling berpengaruh dalam perubahan sifat Gilang.


Leon tidak dapat membiarkan Gilang terus menerus bergantung padanya, ada saat-saat tertentu dirinya tidak akan ada.


Hingga taksi pesanannya tiba, mobil melaju meninggalkan tempat yang sekitar dua minggu ini dihuninya. Pria paruh baya itu menghela napas berkali-kali, cukup cemas sebenarnya meninggalkan putra tunggalnya seorang diri. Ancaman pembunuhan serta Keyla yang selalu memanfaatkan situasi.


Namun, dirinya dapat bernapas lega, putranya dapat melewati segalanya.


Hingga, gerbang besar rumah terlihat, taksi melaju ke dalam, seusai melakukan pemeriksaan oleh security, siapa saja yang ada di dalam taksi.


Segera setelah pintu mobil terbuka, pelayan menyambutnya. Mengambil kopernya yang berada di bagasi.


"Tuan..." pelayan menunduk memberi hormat berjalan mengikutinya, tanpa banyak bertanya. Mungkin memang seperti itulah pelayan profesional. Bergerak hati-hati, bahkan akan menjaga privasi keluarga majikannya, hanya bertanya seperlunya.


"Dimana Gilang?" Leon berjalan dengan cepat, melewati area ruang tamu.


"Tuan muda mengurung dirinya di kamar, sepulang dari kantor..." jawab sang pelayan.


"Taruh koperku di kamar," perintahnya hendak berjalan menuju kamar Gilang.


"Baik tuan..." pelayan kemudian pergi, guna membawa koper ke dalam kamar Leon.


Hingga menaiki tangga menuju lantai dua, langkahnya terhenti menatap Tomy tersenyum padanya, tanpa terkejut sedikitpun. Aneh memang, seharusnya pemuda ini cemas, setidaknya terkejut bukan?


"Hai, paman..." ucapnya tersenyum tanpa dosa.


"Kamu tau aku selamat?" tanyanya mendekati Tomy yang berdiri meminum sedikit wine mahal. Wine yang beberapa hari ini belum habis juga.


"Em, pria pintar dan tangguh yang berhasil membakar kediamanku, tidak mungkin mati dengan mudah..." jawabnya, menuangkan sedikit wine ke dalam gelas lainnya, disodorkan pada Leon.


Leon menghela napas kasar, meraihnya menatap curiga.


"Tenang saja, aku bukan ahli racun seperti Mona..." ucap Tomy tersenyum.


"Aku membakar kediamanmu, hampir membunuh istrimu. Apa kamu tidak menyimpan dendam?" tanya Leon memutar-mutar gelas wine yang hanya berisikan kurang dari seperempat gelas.


"Aku ingin membunuh Gilang saat itu, agar paman merasakan rasa sakit yang aku rasakan. Tapi siapa sangka orang yang sok-sokan menjadi antagonis sepertinya, malah menyelamatkan Frea. Itulah yang membuatnya tetap hidup dengan banyak keberuntungan, kebaikan hatinya..." Tomy menghela napas kasar meminum seteguk.

__ADS_1


"Membunuh putraku? Kamu berfikir terlalu banyak..." Leon tertawa kecil ikut meminum wine di gelasnya.


"Aku serius, kita akan menumpahkan darah seandainya Frea benar-benar mati..." Tomy mengenyitkan keningnya menatap ke arah Leon.


"Anakku memang benar-benar terlalu baik," cibirnya menatap gelas wine-nya.


Tomy menghela napas kasar,"Kakek ingin aku tetap menjadi komisaris, untuk menjaga keseimbangan kekuasaan antara paman Leon dan paman Agra. Untuk CEO, menggantikan Frans aku percayakan pada Gilang. Rapat pemegang saham akan segera aku adakan..."


Leon menoleh pada Tomy, membulatkan matanya,"Frans!? Bagaimana caramu mengusirnya dari perusahaan!?" tanyanya.


"Paman memiliki mata-mata di perusahaan dan rumah bukan? Pasti sudah mengetahui, orang yang menyelamatkan nyawa Gilang adalah Rangga..." ucap Tomy.


"Iya, aku berniat berterima kasih padanya..." Leon masih mencerna kata-kata pemuda yang berdiri di sampingnya, pemuda yang tengah menatap ke arah piano lantai satu.


"Tidak perlu, identitas aslinya adalah pemilik W&G Company, sekaligus Kenzo, kakak angkat yang disayangi Gilang..."


"Frans adalah pionnya. Ketika raja menyerah, tentunya itulah kenakalan prajuritnya. Kenzo ingin membalas dendam menggunakan tangan Simon, tanpa mengetahui korban terakhir adalah Gilang,"


"Pada akhirnya dia menyerah dengan dendamnya, demi Gilang..." ucapnya menghela napas, mengalihkan pandangannya ke jendela lantai dua yang terbuka.


Leon meletakkan gelas wine-nya, kemudian tersenyum. Menunduk berterimakasih di hadapan Tomy. Menunduk berterimakasih? Sesuatu yang aneh memang, untuk pertama kalinya Leon berterimakasih dan menundukkan kepalanya di hadapan seseorang.


"Tujuanku mengejar jabatan sebagai komisaris, ingin mengangkat putraku untuk mendapatkan posisi CEO, karena aku tau dia sebenarnya mampu, namun hatinya terlalu baik,"


"Satu lagi, terimakasih sudah menyadarkannya untuk menjadi lebih dewasa. Memandang dunia dengan cara yang berbeda..." ucapnya kembali mengangkat kepalanya, tersenyum menatap Tomy.


Pria paruh baya itu, berjalan beberapa langkah, hingga satu kalimat lagi terucap dari bibir Tomy,"Gilang masih awal untuk berkembang, walaupun karakternya sudah sedikit berubah. Awasi dan tetap bimbing dia..." sarannya.


"Bilang saja agar tugasmu menjadi komisaris sedikit lebih mudah," cibir Leon.


Tomy mengenyitkan keningnya,"Terlihat jelas ya?" senyuman menyungging di wajahnya, menatap kepergian Leon, menuju kamar Gilang.


***


Kriet...


Pintu yang hanya tertutup setengahnya perlahan terbuka. Wajah putranya nampak serius, mengerjakan sesuatu di laptopnya. Sesekali menatap layar phonecellnya.


Hal yang dilakukannya beberapa hari ini? Mencari keberadaan kakak, sahabat dan ayahnya. Serta lebih banyak mengambil proyek, menghilangkan rasa kesepiannya.


Leon tersenyum, menghela napas kasar kembali turun ke lantai satu. Lalu kembali dengan membawa segelas susu, meletakkannya di samping putranya.


"Aku tidak meminta su..." kata-katanya terhenti menonggakkan kepalanya, menatap wajah ayahnya.

__ADS_1


"Sudah hampir waktunya tidur," ucap Leon mengelus kepala putranya.


"Ayah..." Gilang segera bangkit, memeluk tubuh Leon. Air matanya mengalir, entah kenapa, tempatnya berlindung kini telah kembali.


Jemari tangan sang ayah terangkat menepuk pelan punggung putranya."Tidak apa-apa..." kata-kata yang terdengar hangat keluar dari mulutnya.


"Aku mengambil proyek besar, ayah akan bangga kan? Jangan pergi lagi..." ucapnya tersenyum, dengan air mata penuh haru.


"Proyek apa? Bisa ayah membantumu?" tanya Leon melepaskan pelukan putranya, mulai duduk di sofa panjang diikuti Gilang.


"Ini, rencananya kita akan membuat pabrik baru. Beberapa perusahaan di industri fashion sudah ingin bekerja sama. Aku sudah membentuk beberapa tim, untuk setiap divisi mengenai proyek dan anak cabang baru..." jelasnya terdengar antusias,"Masalah terbesarnya adalah ijin dan peraturan daerah lokasi pabrik baru,"


"Ayah akan membantumu..." hanya itu jawaban dari Leon. Sejenak kemudian tersenyum,"Apa patah hati menyakitkan?" tanyanya.


Gilang mengalihkan perhatiannya,"Tidak, tidak begitu buruk,"


"Lalu, kenapa dulu bisa sakit saat ayah melarangmu bertemu dengan Keyla..." Leon tersenyum, menahan emosinya.


"Aku pura-pura sakit..." Gilang ikut-ikutan tersenyum, menampakan gigi putihnya, penuh rasa bersalah.


"Dasar..." Leon menghela napas kasar, sejenak perhatiannya teralih. Entah kenapa putranya tiba-tiba menunduk dengan wajah murung.


"Kenapa diam? Kamu ingin meminta bantuan ayah?" tanyanya.


Gilang mengangguk,"Aku tidak bisa menemukan alamat Amel yang baru. Selain itu aku juga ingin menemukan keberadaan Kenzo saat ini..." pintanya.


"Kenzo mungkin sudah kembali ke luar negeri, jika dia memang benar pemilik W&G Company. Dia Imposter terburuk dalam dunia bisnis. Mengendalikan orang bagaikan boneka, mungkin karena itulah W&G Company berkembang dengan cepat bagaikan rumput liar. Dia tidak mungkin meninggalkan perusahaannya terlalu lama..."


"Untuk menemui Kenzo cukup sulit, dia tidak tinggal di satu negara dalam jangka waktu yang lama," ucap Leon menghela napas kasar.


"Bagaimana dengan Amel? Ayah bisa membantuku?" tanyanya antusias.


"Amel kenapa harus mencarinya?" Leon mengenyitkan keningnya, menahan senyumnya.


"Karena... karena...dia temanku..." ucap Gilang gelagapan.


"Teman? Kamu bisa cari teman baru..." pria paruh baya itu menatap lebih lekat wajah putranya.


"Dia lebih dari teman..." Gilang belum mau mengakui kesalahannya juga.


"Hanya lebih dari teman? Wajar saja, dia gemuk, jelek, dari kalangan menengah ke bawah. Siapa yang akan menyukai wanita sepertinya..." cibir Leon dengan sengaja, sedikit melirik ke arah putranya.


Gilang mengepalkan tangannya, membulatkan matanya,"Aku menyukainya..." teriaknya, sejenak kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Merasa salah bicara.

__ADS_1


Leon mulai tertawa lepas, menatap wajah putranya yang tertunduk, menyembunyikan perasaan malunya. Telah melanggar kata-katanya sendiri yang dahulu selalu memamerkan status teman...


Bersambung


__ADS_2