Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Kartu As Atau Bukan


__ADS_3

Sebelum kebakaran terjadi...


Satu-satunya orang yang mengetahui rencana Leon, itulah sosok Gilang. Pemuda yang mewarisi mulut pedas milik kakeknya.


Mencari keberadaan sang kakek, hal yang dilakukannya saat ini. Sebagai permintaan sang ayah, agar mengawasi kegiatan Suki.


Musik rock yang lumayan keras dinyalakannya, mengikuti mobil milik Miko, bawahan sang kakek. Tersenyum penuh ketenangan, hingga mobil tersebut berhenti di area sebuah rumah sakit.


Bagaikan seorang mata-mata profesional, Gilang menyusup masuk. Mengikuti langkah sang pria paruh baya.


Langkahnya perlahan terhenti kala, menatap sang kakek yang didorong keluar oleh perawat menggunakan baju pasien lengkap dengan alat bantu pernapasan. Diikuti tempat tidur pasien lainnya, dengan seorang pemuda tertidur di atasnya.


"Kakek!?" Gilang mengenyitkan keningnya, keluar dari tempat persembunyiannya.


"Tuan muda," Miko tertunduk memberi hormat.


"Apa yang terjadi pada kakek!?" tanyanya tidak mengerti, menatap dua tempat tidur pasien yang keluar dari ruang operasi.


"Tuan besar mengalami kerusakan pada hatinya. Baru saja keluar mengikuti operasi transplantasi hati. Syukurlah, hati tuan muda Tomy cocok sebagai pendonor, jadi tuan besar dapat diselamatkan..." jawabnya tersenyum penuh kelegaan, mengingat operasi yang berjalan lancar.


"Tomy? Dia di sini? Sepupuku dari paman Adrian?" tanyanya kembali dengan wajah pucat, merasa rencana ayahnya untuk membunuh Tomy dalam kebakaran kacau.


Miko mengangguk,"Tuan muda sampai harus meninggalkan istrinya yang tengah hamil seorang diri di rumah, untuk menyelamatkan nyawa tuan besar. Saya mohon, tolong rahasiakan hal ini..."


Wajah Gilang bertambah pucat saja mengingat reputasi asisten JH Corporation. Seorang pemuda yang tidak pernah ditemuinya. Namun memiliki reputasi ditakuti beberapa pengusaha yang pernah bertemu dengannya. Bahkan dirumorkan memiliki kepribadian mengetikan, seperti gangster gila.


Membunuh Tomy tanpa rencana dalam keadaan seperti ini, bahkan di rumah sakit? Artinya mencari mati, mengingat beberapa pengawal Suki yang berada di sana.


Gilang mundur dua langkah, memiliki pemikiran berbeda. Sang kakek akan memberikan jabatan komisaris pada Tomy, pemuda yang memiliki reputasi mengerikan. Sedangkan, Leon tengah berencana membunuhnya dengan membakar rumahnya.


Tomy tidak ada di rumahnya, tapi istrinya berada di rumah. Seorang Tomy yang memiliki reputasi bagaikan monster akan menjadi komisaris, sama dengan kesatria yang diberikan pedang.


Dan istrinya terbunuh, berarti kesatria berpedang yang akan memenggal kepalanya dan Leon.

__ADS_1


"Mampus..." ucapnya berlari dalam keadaan panik, tidak ingin menyinggung orang yang gagal dibunuh ayahnya.


Miko mengenyitkan keningnya tidak mengerti, hanya terdiam menatap Gilang yang lari dalam keadaan panik.


***


Mobil dilajukannya dengan kecepatan tinggi, menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Berharap memiliki pintu Doraemon agar dapat langsung sampai, sebelum istri pemuda yang memiliki reputasi monster mati.


"Aku akan penggal monster, karena membunuh istrinya...Aku akan dipenggal monster, karena membunuh istrinya..." logikanya yang berjalan, mengingat keadaan Tomy yang baik-baik saja.


Kriet...


Mobilnya berhenti, tepat di tembok samping, kediaman Tomy. Memanjat menjadi pilihannya, mengingat, pintu gerbang depan terdapat penjaga yang tengah berdebat dengan beberapa pemuda, sewaan ayahnya sebagai pengalih perhatian, saat pembunuh masuk.


Dan disinilah Gilang berada menghela napas kasar, mencari keberadaan sang pembunuh untuk menghentikan tindakan sia-sia mereka. Namun terlambat, pelaku pembakaran telah pergi, ledakan pertama terdengar.


"Sial!! Sial!! Sial!! Bertahanlah hidup, aku mohon..." ucapnya berkeliling halaman rumah, mencari celah pintu atau jendela yang terbuka.


Hingga beberapa suara ledakan kecil terdengar, pemuda itu hampir menyerah, melewati pintu samping.


Wanita hamil itu akhirnya terlihat juga, wajah putihnya nampak pucat. Memegang senter dan handphone gemetaran.


Bagaimana ini jika aku hubungi suaminya, maka aku akan dicurigai, karena tiba-tiba muncul secara ajaib...


"Terimakasih..." Frea menangis terisak, memeluk kaki Gilang.


"Lepas..." ucapnya kesal, berusaha melepaskan tangan Frea yang memeluk kakinya erat. Bagaikan seekor kucing yang hendak diceburkan dalam air.


Sudahlah, yang terpenting bawa pergi saja dulu, agar tidak mengadu aneh-aneh tentang kedatanganku pada suaminya. Masalah lainnya difikirkan nanti saja... gumamnya, dalam hati.


"Ayo pergi dari sini!! Jangan takut aku adalah sepupu Tomy..." ucap Gilang tersenyum, membimbing Frea menembus area perkebunan buah. Melewati gerbang mansion tempat tinggal pelayan. Hingga akhirnya berhasil menembus jalur belakang tanpa diketahui siapa pun. Mengingat pengawal yang berpatroli telah dilumpuhkan sang pembunuh yang disewa Leon.


Hingga sampai di mobilnya, fikiran Gilang benar-benar buntu, menatap wanita yang gemetar ketakutan dengan hal yang baru saja dialaminya.

__ADS_1


Manfaatkan untuk mengancam monster bernama Tomy, jika dia ingin memenggalku... fikirnya, masih terngiang reputasi yang diceritakan salah seorang sahabatnya yang pernah berhadapan langsung dengan Tomy di dunia bisnis.


Tidak melaporkan pada Leon? Alasannya, tidak ingin sang ayah marah dengan tindakan gegabahnya yang mengambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi. Menyembunyikan Frea sebagai kartu As-nya jika yang dikabarkan tentang reputasi Tomy itu benar.


***


Hingga akhirnya dirinya terperangkap dalam keputusan anehnya sendiri. Saat melihat wanita hamil itu berteriak semalaman ketakutan dalam salah satu villa miliknya, jika lampu dimatikan.


"Aku tidak bisa terus bergadang menjagamu. Lebih baik, aku jujur saja dan menghubungi suamimu, Tomy..." ucapnya kembali berubah fikiran, dengan mata menghitam bagaikan panda, setelah berjaga semalaman menjaga seorang wanita hamil.


"Tidak, aku berjanji akan berprilaku baik. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama, apalagi aku sedang hamil. Aku mohon tolong aku..." Frea memelas, kembali memeluk kaki Gilang.


"Lingkungan yang baik akan mempercepat pemulihan rasa traumanya. Apalagi dia sedang mengandung, jika tertekan tidak baik untuk janinnya..." ucap sang dokter, yang dipanggil Gilang untuk memeriksa keadaan Frea.


"Kembali pulang ya? Jangan merepotkan kehidupanku..." Gilang memelas, menatap Frea.


Wanita hamil itu tetap menggeleng, menangis terisak, memeluk kaki Gilang yang berdiri di hadapannya semakin erat.


Kenapa nasibku sesial ini... seharusnya aku membiarkannya mati dalam kebakaran. Maka hidupku akan tenang, tidak bingung bagaimana menjelaskan pada Tomy tentang keberadaanku yang tiba-tiba dirumahnya. Atau mengurus wanita hamil yang mengalami trauma...


***


Gilang menghela napas kasar, akhirnya keputusan itu diambilnya juga. Mengingat Tomy yang tengah dalam kondisi tidak sehat, tidak mungkin dapat memeriksa jasad istrinya. Hal yang dilakukannya? Tentu saja memalsukan hasil tes DNA salah satu pelayan yang meninggal dalam kebakaran. Memalsukan hasilnya sebagai mayat Frea.


Alasannya, tidak ingin disalahkan atau menerima omelan sang ayah. Tidak ingin dicurigai Tomy sebagai pelaku pembakaran, jika mengaku, tiba-tiba muncul menyelamatkan Frea. Alasan terakhir, berjaga-jaga jika dirinya akan dipenggal seorang Tomy.


***


Namun, menatap sosok Tomy yang keluar dari mobil depan rumah mereka bagaikan pemuda sungkan, polos, yang kampungan. Pemuda yang tidak memiliki kharisma, pemuda yang bagaikan anak SMU kecanduan game online, mengurung diri di kamar seharian.


Benar-benar berbeda dengan sosok bos mafia atau CEO sombong sewenang-wenang dalam fikirannya, seperti yang dirumorkan sahabatnya. Hanya pria tidak berguna, rasanya percuma, menyimpan Frea sebagai kartu As.


Mungkin karena takut akan diceramahi oleh Leon lah yang membuat Gilang enggan bercerita. Menyimpan rahasia prilaku plin-plannya seorang diri. Merawat seorang wanita hamil, namun mencibirnya dengan kata-kata pedas.

__ADS_1


Seharusnya aku tetap diam, duduk manis mengawasi kakek membiarkan wanita rakus ini mati... gumamnya dalam hati, menatap jenuh menyesal menyelamatkan Frea, mengingat sosok Tomy yang tidak pantas disebut monster. Lebih mirip pria pemalas yang lugu.


Bersambung


__ADS_2