
Apakah jatuh cinta hal menyenangkan? Tidak, ini menyakitkan. Jemari tangannya terus mengiris bahan makanan, memasak dengan teliti, tidak membiarkan makanan merembes sedikitpun. Tissue menyapu bibir piring perlahan, menampakkan makanan ala hotel berbintang.
Tidak dapat tidur sama sekali, Tomy mempersiapkan semuanya tanpa ekspresi. Hanya tersenyum dan tertawa di hadapan istrinya. Tidak ingin wanita itu merasa bersalah padanya.
Jika kebahagiaanmu sungkan kamu raih karena kehadiranku. Aku tidak akan menghalangimu, jadi biarkan aku bahagia sebentar saja...
"Frea bangun..." dahi itu dikecupnya lagi, membangunkan wanita yang tengah tertidur. Wanita yang mulai duduk dengan wajah cantiknya, tersenyum menatapnya.
Risih, mungkin itulah perasaan yang kamu sembunyikan saat aku mencium bibirmu dulu. Berusaha mencintaiku, hanya karena sebuah pernikahan yang menyiksamu? Anggaplah aku seorang kakak, walaupun usiaku lebih muda darimu. Tolong jangan merasa risih, jika aku mencium keningmu...
Wajah Tomy nampak tersenyum, berhati-hati dalam setiap tindakannya. Tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk pada kehangatan pertama yang ditemuinya di dunia ini. Tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk pada jemari tangan yang mengisi perut laparnya 17 tahun yang lalu.
Wajah wanita itu tersenyum lagi, menikmati makanan buatannya. Tomy kembali tertegun, memasukkan makanan ke dalam mulutnya, setidaknya untuk hari ini dirinya tidak makan seorang diri.
Aku bahagia, setidaknya hari ini aku tidak sediri...
"Kenapa kamu membeli begitu banyak? Kamu dapat uang dari mana?" tanya Frea menyadari barang yang menumpuk di apartemennya. Keperluan dapur, berbagai barang di kamar mandi, detergen, pasta dan sikat gigi, semua bagaikan di stok olehnya.
Lubang kecil di dinding, bahkan ditambalnya, hampir seluruh tempat diperbaiki dan dirapikan suaminya.
"Untuk stok, kita harus menyetok barang seperti semut, bersiap untuk musim kemarau..." hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Tomy, sembari tertawa kecil.
Aku menyimpan untukmu, hiduplah bahagia dengannya. Maaf, sudah menjadi beban dan penghalang bagimu...
Frea mengunyah makanannya, menghela napas kasar, mengingat kondisi Gea yang sudah kunjung membaik, namun masih dirawat di rumah sakit. Wanita itu melirik ke arah suaminya yang makan dengan tenang.
"Tomy, nanti malam aku harus mengajar lagi. Maaf, belum bisa keluar makan malam denganmu..." ucapnya tersenyum, kembali berbohong.
Jika aku tidak ada, tidak perlu takut untuk melukaiku. Tidak perlu berbohong lagi, bukankah hanya tubuhmu yang disini? Hanya prinsip pernikahan yang mengekangmu untuk tetap tinggal. Maaf, aku yang menyakitimu...
Tomy meletakkan sendok yang berada ditangannya, berusaha tersenyum ke arah Frea,"Tidak apa-apa, jaga kesehatanmu, tidurlah yang cukup, jangan lupa makan," ucapnya, menyembunyikan semuanya, mengacak-acak rambut Frea.
Frea tersenyum kearahnya, ingin rasanya mencium bibir suaminya yang tertunduk diam sembari menikmati makanannya. Ciuman yang bagaikan candu untuknya. Namun, memulainya? Terlalu memalukan untuk Frea.
Tomy hanya tersenyum padanya, bercanda seolah tidak terjadi apapun, kontak fisik dirinya bagai dihindari. Berubah? Dari luar memang sama, tapi seperti ada yang berbeda dan mengganjal dalam senyuman suaminya.
***
Hari ini adalah hari ke tujuh Gea menginap di rumah sakit. Tepat ketiga kalinya juga kebohongannya pada Tomy.
Pakaian kantor masih dikenakan seorang pemuda, terdiam di dalam mobil perusahaan. Menunggu Frea pulang dari tempatnya bekerja, masih berharap dirinya akan dihubungi untuk menjemput istrinya.
Namun, istrinya berjalan menuju toko mainan, membeli boneka beruang yang cukup besar. Berdiri di depan toko, hingga orang itu datang lagi.
__ADS_1
Benar, Vincent menjemputnya, membukakan pintu mobil untuk Frea. Air matanya menetes lagi, menahan rasa sesak, apa gunanya memiliki tubuh tapi tidak memiliki hati? Hanya akan saling melukai, berbohong menyembunyikan segalanya.
Jemari tangan Tomy memegang stirnya erat, tanpa ekspresi, bagaikan boneka yang terdiam meneteskan air mata. Marah pun tidak ada gunanya. Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh cahaya matahari yang mulai tenggelam menampakkan cahaya kejinggaan, diantara gedung perkantoran yang tinggi menjulang.
Sehari lagi, tolong buat aku bahagia... Tersenyum padamu untuk yang terakhir kalinya...
***
Frea masih bermain dengan Gea yang keadaannya kini sudah jauh lebih baik. Sesekali, menunggu pesan dari suaminya, namun suara handphonenya terlalu hening. Tidak ada satu pesanpun yang masuk.
Hingga Frea menyerah mencoba terlebih dahulu mengirim pesan pada suaminya.
'Tomy, apa kamu sudah makan?' itulah isi pesan basa-basi yang dikirimkannya. Berharap Tomy akan membalas antusias seperti biasanya.
Tidak lama, sebuah pesan masuk,'Sudah, makanlah yang banyak. Bisakah kamu pulang malam ini? Kita makan bersama,'
Frea mengenyitkan keningnya, melirik ke arah Gea yang tengah konsentrasi bermain, 'Akan aku usahakan, pulang lebih awal,' balasan yang dikirimkannya.
***
"Aku mencintaimu..." senyuman menyungging di wajah Tomy, terdiam di dalam mobil tempat parkir rumah sakit.
Sudah mengetahui segalanya, tentang Gea dan Vincent. Tapi berbohong? Untuk apa menutupi segalanya. Mungkin Frea sungkan untuk menyakiti dirinya. Tomy hanya dapat berusaha tersenyum, menatap lampu-lampu menyala dalam setiap ruangan rumah sakit dari jauh.
Apakah begitu sulit untuk mencintaiku? Aku fikir hatimu telah luluh. Tapi aku salah, bukan luluh untuk mencintaiku, tapi luluh untuk mengasihani ku...
***
Lampu kamar tidak dinyalakannya, duduk di lantai tepi tempat tidur. Perlahan berjalan ke arah balkon. Berdiri di sana lebih dari satu jam, berharap istrinya akan pulang cepat, dan mengatakan sudah mencintainya.
Hanya harapan semu bukan? Balkon yang berhadapan langsung dengan jalan masuk parkir apartemen. Mobil itu terlihat lagi, Tomy terdiam, menyender di gorden apartemen.
Tidak ada yang menyadari keberadaannya. Frea tersenyum, namun bukan senyuman untuknya, melambaikan tangan pada Vincent yang mengantarnya pulang.
Tomy masih terdiam tidak beranjak dari balkon. Frea menonggakkan kepalanya, terlihat wajah suaminya yang terdiam tanpa ekspresi dari bawah sana.
Entah bagaimana anggapan suaminya nanti, Frea segera berjalan cepat menekan tombol lift, menuju apartemennya. Membuka kode akses, masuk ke dalam kamarnya.
Pemuda itu masih terlihat terdiam, tidak menghadap dirinya. Menatap dengan pandangan kosong ke arah balkon.
"Tomy, aku tidak sengaja bertemu dengan Vincent saat menunggu taksi di area tempat pelatihan judo. Jadi, jangan..." kata-kata kebohongan Frea terhenti.
"Bisakah jangan menemuinya lagi?" pintanya, masih memandang ke arah balkon, tidak langsung menatap mata istrinya.
__ADS_1
"Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya. Kami hanya teman..." ucap Frea meyakinkan suaminya.
"Bisa jangan menemuinya lagi?," Tomy mengulang kata-katanya.
"Kami hanya teman, tidak pernah ada perasaan apa-apa. Kamu mempercayaiku kan?" tanya Frea kembali, berjalan mendekati suaminya.
"Aku mempercayaimu," Tomy kembali tersenyum terlihat seperti biasanya, menatap ke arah istrinya.
Perlahan berjalan mendekati Frea, mencium keningnya,"Mandilah, kemudian istirahat, jaga kesehatanmu..." ucapnya berjalan menuju tempat tidur, merebahkan dirinya.
"Hari ini melelahkan sekali!! Ada orang botak yang mengomel di jalanan. Saat seorang ibu-ibu raja jalanan, memasang lampu sein ke kanan, tapi malah belok ke kiri. Mereka bertengkar. Ibu-ibu yang salah, marah-marah lebih galak, ingin menjambak dan mencakar orang botak. Tapi karena kepalanya botak, sang raja jalanan cuma bisa cakar,"
"Tapi bukan itu bagian menariknya. Aku hampir menabrak trotoar karena silau akibat pantulan cahaya matahari dari kepala mengkilap si orang botak. Benar-benar terang seperti lampu jalanan..." ucap Tomy tertawa, bagaikan hendak mencairkan suasana.
Frea mulai tersenyum, duduk di tepi tempat tidur, kembali tertawa mendengarkan celotehan cerita suaminya.
Tawa indah yang akan dikenang sang pemuda yang tidak henti-hentinya membuat lelucon. Berharap hari terakhirnya di apartemen, akan terasa indah, berharap akan menjadi kebahagiaan yang dikenang nya.
***
Beberapa jam berlalu, Frea telah tertidur. Tomy mulai bangkit, membuat sarapan. Meletakkan catatan di atas meja.
Matahari masih belum terbit, pemuda itu mengemudikan mobilnya menuju pantai. Duduk di atas karang, angin dingin menerpa kulitnya. Jemari tangannya kembali terulur kala matahari terbit perlahan,"Aku merindukanmu..." ucapnya pada matahari yang mulai menampakkan sinar tipis.
Entah kenapa, ini kesempatan terakhirku dapat makan semeja denganmu. Tapi aku ingin melewatkannya, mungkin karena aku tidak ingin menangis di hadapanmu. Memintamu untuk mencintaiku, kembali hanya mendapatkan rasa iba dari hatimu. Apa begitu sulit belajar mencintaiku...
Setelah beberapa jam mobil miliknya kembali melaju, menuju area apartemen. Berjalan dengan cepat penuh harap. Penuh harap? Ini mungkin harapan terakhirnya, Frea akan menunggunya di rumah, mengatakan sudah mencintainya.
Namun, tidak ada siapapun, sebuah pesan masuk ke phonecellnya dengan nama pengirim 'Istriku'.
'Tomy maaf, aku harus buru-buru ke toko. Jadi tidak sempat sarapan, nanti aku berjanji akan pulang lebih awal,'
Phonecell dinonaktifkan olehnya, Frea akan berbohong lagi. Semua sudah diduga olehnya, Tomy merapikan semua sisa makanan, meletakkannya dalam lemari es.
Ransel besar miliknya yang belum dibongkar sempurna, diraihnya. Melipat sebuah kertas dari buku tulis yang dirobeknya, setelah sebelumnya dituliskan sesuatu. Melipatnya berbentuk bangau, meletakkannya di atas meja makan.
Menyerah? Dalam satu bulan dirinya sudah menyerah. Bukan karena rasa kasih yang memudar, atau luka di hatinya yang terasa sakit. Namun, jika terus bertahan, Frea tidak akan bahagia. Hidup dalam kebohongan karena iba padanya.
Ransel yang dipenuhi pakaian, dalam jumlah yang tidak banyak, telah berada di punggungnya.
"Kakak, aku melepaskanmu..." gumamnya, menutup pintu apartemen, berusaha untuk tersenyum. Sinar matahari yang menembus pintu apartemen mulai memudar, seiring tertutupnya pintu.
Ruangan kembali gelap, dan sepi. Apartemen yang penuh tawa dan canda dari pasangan suami istri tersebut kemudian kembali terasa suram. Hanya deru mesin AC dan lemari pendingin yang terdengar. Sama seperti sebelumnya, saat Tomy belum hadir mengganggu kehidupan Frea.
__ADS_1
Pemuda berisik yang terus menggodanya, menghilang tanpa disadarinya..
Bersambung