
šššš Sekedar info, lanjutan apa yang terjadi pada Kenzo tidak akan ditulis di novel ini. Tapi di novel lain, "My Kenzo" akan rilis tanggal 15 Januari šššš
šššš Happy reading šššš
Jemari tangan Simon gemetaran menatap dari lensa tempat membidik sasaran, serta teropong miliknya, Gilang berhasil lolos. Atas perlindungan pemuda yang tidak dikenalnya,"Sial!!" umpatnya, menyadari beberapa orang mulai mengintip keadaan dari pintu ruangan Gilang yang setengah terbuka.
Teropong disimpannya, berkemas dengan cepat, memasukkan senjata laras panjangnya ke dalam tas. "Tinggal dua orang lagi ... tinggal dua orang lagi..." gumamannya.
Pintu atap yang berkarat dibukanya, menampakkan tangga besi dengan lapisan cat yang mengelupas. Melangkah turun dengan cepat, tangannya gemetaran, masih ketakutan akan tertangkap, sebelum berhasil membalas semua rasa sakit hatinya.
Hingga, beberapa orang bersenjata terlihat di salah satu lantai, tangga, lift, tidak ada akses untuk melarikan diri. Orang-orang profesional itu bergerak dengan cepat. Bahkan terdapat tiga orang anggota kepolisian yang berkeliaran.
Pintu salah satu apartemen didobrak nya secara paksa. Terlihat apartemen kosong tanpa satu orangpun penghuninya disana. Hanya sebuah meja dan kursi kayu yang tertinggal.
Dengan panik, Simon menggunakan meja dan kursi itu untuk mengganjal pintu. Air matanya mengalir, ketakutan? Kesedihan? Semua bercampur aduk menjadi satu.
Hanya dapat menunggu keadaan aman dengan bersembunyi, mengingat dirinya berada di lantai sepuluh gedung apartemen tersebut.
Semua bayangan kesalahan bagaikan menghantuinya. Bayangan darah di tangannya, darah wanita yang dicintainya, tubuh salah satu petinggi Bold Company terbakar dalam mobil miliknya, wanita cantik dengan mulut berbusa setelah menyantap makanan bercampur racun mematikan, mobil Leon yang teronggok di jurang dalam, dan mungkin masih ada beberapa lagi.
Benar, ini semua adalah perbuatannya. Nyawa-nyawa orang tidak tau diri telah dicabutnya. Takut, dan gemetaran, pemuda itu mulai tertawa. Suara tawa yang terdengar tidak wajar.
Begitu sakit rasanya, air matanya menetes tidak terkendali. Menyesal? Tidak, karena semua sudah terjadi, orang-orang itu sudah seharusnya mati.
***
Napas seorang pemuda terengah-engah, telah mencapai puncaknya. Jangan berfikiran negatif, maksudnya pucak adalah atap gedung apartemen. Tidak seorang pun disana, hanya dirinya, beberapa orang pengawal, seorang polisi dan seekor kucing.
"Dia lolos? Apa dia bisa terbang dari langit?" gumamnya, menatap betapa tingginya atap apartemen berlantai 12 itu.
"Apa kita dapat memeriksa setiap apartemen? Pembunuh berbahaya berkeliaran disini..." tanya Tomy pada petugas kepolisian.
"Kami akan membuat surat penggeledahan. Mungkin menelan waktu satu jam, tim bantuan juga akan datang," ucap salah seorang petugas.
"Kalian!! Jaga di semua akses keluar masuk apartemen. Lihat wajah mereka baik-baik, laki-laki, perempuan, bahkan kakek tua, bandingkan dengan foto Simon!!" perintahnya pada pengawal miliknya.
"Baik tuan..." beberapa pengawal mulai sibuk memberikan instruksi melalui walky talky, pada para pengawal yang telah siaga di seputaran gedung.
"Hanya segini saja ingin melawanku!? Aku bahkan pernah dipaksa masuk dalam sarang penyamun oleh Firaun!!" gumamnya, kesal.
***
Wajahnya masih berlumuran darah, Gilang perlahan membasuhnya, menatap pantulan dirinya dari cermin depan wastafel. Hanya pakaiannya saja yang masih berlumuran darah sang kakak.
__ADS_1
"Kenzo..." ucapnya dengan raut wajah tanpa ekspresi. Tidak ada yang dapat dilakukannya, hanya tertunduk.
Langkah demi langkah, Gilang hanya termenung, air matanya telah mengering. Kakak yang melindunginya entah dimana, masih hidup atau sudah mati, dirinya pun tidak mengetahui.
Hingga langkahnya terhenti di depan gedung Bold Company, keributan terdengar di gedung apartemen dekatnya. Beberapa mobil kepolisian baru saja sampai.
Disanalah orang yang telah menembak kakaknya bersembunyi. Gilang mengepalkan tangannya, entah kenapa air matanya kembali mengalir.
Benar, dendam memunculkan dendam lainnya. Hal yang menggelapkan hati malaikat, menjadi keji.
Gilang melangkah dengan cepat, memasuki area apartemen. Bertanya pelan-pelan pada salah satu pengawal Tomy tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Simon berhasil melarikan diri, namun masih terperangkap di gedung apartemen, entah dimana..." ucapnya. Gilang mengepalkan tangannya, orang itu masih belum tertangkap? Orang yang berniat membunuh ayahnya? Orang yang melukai kakak laki-lakinya?
Jemari tangannya mengepal, mengikuti petugas kepolisian yang masih menggeledah satu-persatu unit apartemen. Namun rombongan yang terpisah dengan Tomy, sepupunya. Mengingat banyaknya unit apartemen yang harus digeledah.
Satu persatu pintu kamar diketuk, menunjukkan surat penggeledahan. Itulah yang dilakukan petugas kepolisian.
Mengikuti? Mungkin hanya itulah yang dapat dilakukannya. Hingga sampai di lantai 10, salah satu unit tanpa penghuni kuncinya rusak. Kesulitan di buka, bagaikan diganjal.
Petugas kepolisian berusaha mendobrak, sementara Simon menggenggam senjata laras panjangnya, berdiri dari lantai dengan tangan gemetar.
Bug...bug...bug...
Tiga kali dobrakan, pintu itu terbuka pada akhirnya. Pemuda yang nampak kacau, rambutnya acak-acakan, membawa senjata yang diperuntukkan untuk menembak dari jarak yang jauh.
Simon benar-benar ketakutan saat ini, "A...aku tidak mempercayai kalian, aku tidak mempercayai hukum. Kalian semua hanya manusia biadab!!" pria itu menangis sesenggukan, menitikan air matanya. Air mata yang mengaliri pipinya.
"Kamu yang biadab!! Ayah, kakakku, bahkan nasib mereka aku tidak ketahui saat ini!! Kalian tunggu apa!? Bunuh dia!! Biarkan mayatnya membusuk!!" teriak Gilang menyaksikan semuanya dari ambang pintu, berdiri di belakang petugas kepolisian yang mengepung Simon.
"Kamu hanya tuan muda yang bergelimang harta, semua wanita menempel padamu. Bahkan mereka akan bersyukur jika bisa memanaskan ranjangmu, mengandung benih darimu..." Simon menatap putus asa, air matanya mengalir tiada henti.
"Kamu melukai kakakku!! Dia..." kata-kata Gilang terhenti.
"Membunuh? Membiarkan mayatku membusuk? Kita berdua sama saja. Sekarang kamu ingin menghakimiku?" ucapnya.
Dor...
Satu tembakan dilayangkan petugas kepolisian, tepat mengenai tangan kanannya, hingga senjatanya sempat terjatuh. Namun, entah apa yang difikirkannya, Simon kembali meraihnya dengan tangan kiri.
"Tuan muda yang berlindung di bawah ketiak ayahnya sepertimu harus tau betapa kejamnya dunia ini sebenarnya," gumamnya, mundur selangkah.
"Apa maksudnya!? Manusia berhati iblis sepertimu harus mati!! Bunuh dia!! Jangan biarkan dia hidup!!" Gilang berteriak, putus asa penuh rasa dendam.
__ADS_1
"Iblis? Aku tau ini kesalahanku karena menambatkan hati di tempat yang salah. Wanita yang aku nikahi menginginkan hidup bergelimang harta. Aku mencintainya, karena itu aku berusaha sebisaku membahagiakannya,"
"Menjadi tangan kanan para atasan yang melakukan tindakan korupsi. Mendapatkan komisi terkecil tapi dengan resiko tertinggi. Uang? Semuanya aku gunakan untuk membahagiakan istriku yang cantik,"
"Namun, si br*ngsek tukang mengadu sepertimu, membuat ini terjadi. Orang-orang yang mengambil uang dalam jumlah besar memalingkan wajahnya dariku, bahkan mengancam membunuh wanita yang aku cintai..." mata Simon menyiratkan keputusasaannya. Kembali mundur selangkah.
"Wanita perawatan mahal, k*parat itu menceraikanku, menikahi pria lain yang lebih kaya. Pintar? Dia memang pintar, sehingga membuat tuduhan palsu merebut setengah aset pribadiku menjadi miliknya. Kamu tau? Dia bahkan tidak sudi mengandung benih dariku, meminum obat kontrasepsi. Kemudian menuduhku mandul..." senyuman nampak di wajah Simon, kembali mundur satu langkah lagi, menembus tirai tipis yang menutupi bagian balkon apartemen.
Angin mulai menerpa rambutnya. melepaskan sedikit rasa sakitnya.
"Kamu yang bodoh!! Seharusnya mencari wanita yang tulus padamu!! Kenapa malah membunuh orang satu-persatu!?" ucap Gilang dibelakang barisan polisi yang bersiap menembak Simon.
Simon mengangguk dan tersenyum, wajahnya terlihat lebih damai,"Memang kesalahanku hanya memandang wajah, tidak hati yang berada di dalamnya. Tapi satu pertanyaan untukmu, kamu juga sama bukan?"
"Memilih kecantikan dari pada hati yang tulus. Tuan muda sepertimu yang bergelimang kekayaan akan menjadi sasaran pujaan dari wanita yang sejenis dengan Istriku..."
Gilang tertegun diam teringat semua kata-kata ayahnya tentang sosok Keyla. Apa itu alasan Leon menyembunyikan dirinya? Tidak ingin, Gilang mengalami nasib serupa dengan Simon. Namun, Keyla sosok yang berbeda, setidaknya itulah keyakinannya yang mulai goyah.
"Aku...aku..." Gilang terbata-bata.
Simon tersenyum, "Setidaknya aku sudah membunuhnya, akan kembali bersamanya di neraka..." pemuda itu kembali mundur, masih memegang senjata api laras panjangnya, hingga menyentuh tralis balkon.
"Tuan muda, jangan mencontoh hidupku..."
Simon tersenyum, hidup yang sudah hancur akan lebih hancur lagi. Tubuhnya merasakan terpaan angin, menikmati sensasi kala gravitasi bumi menariknya.
Menjatuhkan tubuhnya dari balkon apartemen, petugas kepolisian dan Gilang bergerak cepat berusaha menghentikannya.
Namun, terlambat raga itu telah membiarkan dirinya terjatuh merasakan kerasnya hukuman dari bumi.
Beton membentur kepalanya, sekujur tubuhnya terasa remuk. Darah membasahi area sekitarnya.
Ini kesalahanku? Benar, ini kesalahanku dari awal karena mencintaimu... Andai waktu dapat diulangi, aku tidak ingin kita bertemu... Jika hanya akan berakhir saling menyakiti...
Matanya masih terbuka dengan detak jantung yang tidak lagi terdengar, hidung, telinga, mulut, hampir semua mengeluarkan darah. Di dekat tubuhnya masih tergeletak senjata api laras panjang, pertanda sebuah hati yang penuh dendam penyebab segalanya.
Bersambung
...Memaafkan merupakan hal yang mudah diucapkan. Namun, sulit dilakukan......
...Taukah kalian, dendam perlahan akan menimbulkan dendam lainnya, bagaikan rantai berduri yang kuat......
...Menyakiti, mengikis hati dan kulit perlahan......
__ADS_1
...Biarkan dendam menghilang, hapus dan lupakan rasa sakit seiring waktu, walau sulit. Maka hidup tanpa beban lah yang akan didapatkan......
Author...