Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Ibu


__ADS_3

Seorang supir menjemputnya, setelah sebelumnya dirinya dihubungi sang ayah. Dengan ragu gadis kecil itu menaiki mobil yang terlihat berharga lebih mahal dibandingkan mobil ayahnya.


Beberapa kali sang anak menghela napas memilin jemarinya. Satu kalimat yang diingatnya, saat sang supir menjemputnya dari rumah yang dimiliki ayahnya.


'Akan mengenalkan ibumu,' kata-kata yang keluar dari ayahnya, via telepon.


Banyak pertanyaan yang berkutat dalam diri Gea. Apakah ibunya cantik? Bukan itu yang utama, apa ibu akan menerima dan menyayanginya seperti Frea? Jemari tangannya menggenggam erat sepasang cincin yang menjadi bandul kalungnya. Sepasang cincin yang diberikan ibu kandungnya.


"Ibu akan menyayangiku akan menerimaku," gumamnya, dengan jemari tangan gemetar. Air matanya mengalir, mencengkram rok biru muda yang digunakannya, ketakutan.


Sedikit tidaknya dia sadar diri, Vincent bukan ayah biologisnya. Mengetahui? Dari mana anak itu mengetahui.


Tepatnya saat dirinya jatuh sakit hampir satu tahun yang lalu. Ketika dirinya membutuhkan donor darah. Mungkin dalam pengaruh obat yang telah menghilang, saat itu samar-samar dokter menanyakan tentang anggota keluarga yang memiliki golongan darah cocok.


Namun, Vincent yang menyangka putrinya masih tertidur, menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Ibunya? Mungkin memiliki golongan sama, karena stok darah kami terbatas untuk O negatif...'


'Ibunya sudah meninggal, jika masih hidup pun golongan darahnya B. Sedangkan saya, AB...' Vincent saat itu tertunduk dalam keadaan kacau, tidak tega menatap keadaan putri tunggalnya.


'Kenapa bisa, putri anda...' kata-kata sang dokter disela.


'Kami tidak memiliki hubungan darah, tapi dia tetap putri saya. Apa tidak ada jalan lain?' tanya Vincent.


'Kami akan berusaha meminta bantuan rumah sakit lainnya,'


Tidak memiliki hubungan darah? Lalu ibu? Apa aku bukan anak ayah... Gea menggenggam erat kalung peninggalan almarhum ibu kandungnya.


Air mata Gea mengalir kala itu, kembali menutup matanya berpura-pura tertidur, merasakan sentuhan tangan sang ayah pada dahinya. Ayah yang merawat dan membesarkannya, ayah yang memberinya kasih sayang.


Ayah, aku putrimu bukan? Jika bukan, kenapa ayah sangat menyayangiku... kata-kata yang tidak dapat keluar dari mulutnya kala itu.


***


Mobil masih melaju, hingga gerbang besar terlihat, dua orang penjaga membukakan pintu. Mata Gea menelisik, benar-benar bagaikan bagaikan bangunan ala Eropa. Air mancur besar, menghiasi sebuah kolam dengan patung dewi Yunani menghiasi bagian tengahnya. Sedang beberapa patung malaikat kecil, menghiasi area tepi kolam.


Mobil berhenti di depan kediaman, Gea mulai turun, kagum sekaligus ketakutan. Seorang pria berpakaian resmi mungkin selaku kepala pelayan berdiri di hadapannya. Sedangkan, seorang wanita berpakaian resmi dengan nametag di sakunya, membuka bagasi mobil. Mengambil koper yang sebelumnya memang dikemas pengasuh Gea di rumah Vincent.


"Nona, ayah anda menunggu di kamar nona muda (Mona)," ucap sang kepala pelayan menunduk memberi hormat, berbicara pada anak kecil dengan bahasa resmi.


"Emmm, apa ini istana negara? Apa aku salah masuk?" tanyanya mengira dirinya salah alamat. Mungkin sekali atau dua kali dirinya pernah mengikuti kegiatan sekolah berkunjung ke istana negara.


Namun, ini lebih tepatnya seperti bangunan bersejarah yang dibangun di masa kolonial. Tapi terlihat benar-benar terawat.


"Tidak, silahkan ikuti saya..." jawab sang pria paruh baya. Dengan ragu, Gea mulai melangkah, mengira-ngira di dalam sana adalah tempat kosong luas bagaikan museum, menyerupai bangunan bersejarah, masa penjajahan.


Namun tidak, ruangan luas yang tertata rapi, berbagai macam barang-barang yang terlihat mahal berada disana. Mata anak itu menelisik mengamati lampu kristal berukuran besar. Sesuatu yang hanya dilihatnya di ballroom hotel, saat mengikuti ayahnya ke acara pernikahan sahabatnya. Beberapa pelayan berpakaian rapi lalu lalang, membersihkan rumah.


"Apa pacar ayahku tinggal disini?" tanyanya dengan ragu, dirinya masih ketakutan, dan kikuk hingga sekarang.

__ADS_1


Sang kepala pelayan tidak menjawab, hanya berjalan menaiki tangga diikuti Gea. Satu-persatu lorong ditelusurinya, hingga sang pria paruh baya berhenti di sebuah pintu.


Tok ... tok...tok..


Pintu diketuknya, suara seorang wanita terdengar dari dalam,"Masuk..." ucapnya.


Sang kepala pelayan membuka pintu, tangan Gea semakin gemetaran. Apa itu suara dari wanita yang akan menjadi ibunya? Apa wanita itu akan menerimanya? Apa setelah memiliki keluarga baru Vincent akan membuangnya? Apa akan menitipkannya ke panti, mengingat dirinya yang tidak memiliki hubungan darah dengan sang ayah?


Gea benar-benar ketakutan, hingga pintu besar itu dibuka. Kamar megah terlihat, wajah sang ayah terluka, dengan seorang wanita yang duduk disampingnya, menggati perban Vincent. Bagaikan tidak memperhatikan kedatangan Gea.


"Ayah..." ucapnya berjalan mendekat.


"Maaf, ayah tidak pulang tadi malam. Apa Gea tidur nyenyak dengan nenek?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh putrinya.


Jemari tangan kecil itu bergerak ragu, menggenggam jemari tangan ayahnya. Gea tertunduk tidak tau harus bagaimana berhadapan dengan wanita cantik yang menatap ke arahnya.


Vincent bukanlah ayahnya, wanita itu juga bukanlah ibunya. Mungkin jika wanita itu adalah Frea akan lebih mudah.


Orang yang bersedia dipanggilnya bunda, orang yang lebih mencintainya dibandingkan mencintai ayahnya. Tapi wanita ini, apa dapat mencintainya?


"Gea, perkenalkan dia akan menjadi ibumu, namanya Mona..." kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya, sudah diketahui olehnya. Namun, tetap saja bagaikan sambaran petir yang menghujam anak berusia 12 tahun.


Mungkin bagaikan sebuah perceraian, Frea yang dianggapnya bagaikan ibu, tiba-tiba menghilang, bagaikan menghindari ayahnya. Sedang, Vincent ayah yang merawatnya, kini memperkenalkan seorang wanita tidak dikenal, yang tiba-tiba harus dipanggilnya ibu.


"Anak manis, namamu Gea bukan?" tanya Mona, membelai rambutnya.


"Iya..." jawabnya ragu, berusaha menerima wanita maupun yang dicintainya ayahnya. Harapannya, hanya agar dirinya tidak ditinggalkan, hanya itu. Terjerat, tertunduk dalam rasa putus asanya.


"Gea, sayang sebentar lagi ibu dan ayah akan menikah. Satu hadiah lagi untukmu, kamu akan memiliki adik," Mona tersenyum, mengelus perutnya yang rata.


Adik? Seorang kakak seharusnya bahagia akan memiliki seorang adik. Tapi Gea ketakutan dengan satu kata itu. Menggenggam erat jemari tangan Vincent, berusaha terlihat baik-baik saja.


Vincent mengangguk, "Mona, ceritakan pelan-pelan padanya, jangan terburu-buru..."


"Maaf, tapi anak ini akan segera hadir juga kan?" Mona masih setia tersenyum. Senyuman yang menakutkan bagi Gea.


Wanita yang mungkin dapat membuangnya kapanpun saat anak itu lahir. Ayahnya tersenyum, menatap Mona, bagaikan keluarga bahagia tanpa kehadirannya.


Aku adalah anak baik yang mandiri... Ayah tidak akan membuangku... gumamannya dalam hati, berpura-pura tersenyum, menahan ketakutan dan luka hatinya.


Menatap kebahagiaan sang ayah dan keluarga yang baru dibangunnya.


Tangan Gea lemas, merasa keberadaannya sudah tidak berarti lagi. Sudah tidak diperlukan lagi.


"Ayah, aku ingin istirahat..." ucapnya melepaskan jemari tangan Vincent.


"Pelayan akan mengantarmu," Mona tersenyum padanya, entah itu palsu hanya untuk mendekatinya saja atau tidak.


Gadis kecil itu mengangguk, kembali menyeret kopernya, mengikuti langkah kaki pelayan.

__ADS_1


***


Malam semakin larut, Mona menghela napas kasar, bagaimanapun dirinya akan menjadi seorang ibu dari Gea, anak berusia 12 tahun.


Anak itu, ketakutan tidur seorang diri, hingga harus ditemani pengasuh atau Lidia saat ayahnya tidak ada di rumah. Itulah mungkin yang dikatakan Vincent, memberi Mona kesempatan mendekatinya.


Perlahan Mona menelusuri lorong, dalam tempat berpenerangan minim. Hanya puluhan lampu tidur yang menyinari lorong melewati pukul 10 malam.


Kamar Gea dibukanya, hendak menemani anak itu tidur. Setidaknya, Mona ingin berusaha mendekatkan diri pada anak dari suaminya.


Namun, tempat tidur itu kosong, mencari ke kamar mandipun tidak ada orang sama sekali disana.


Wanita itu mulai panik, memanggil beberapa pelayan untuk membantu mencari. Hingga, mendekati gazebo kebun belakang. Seorang pelayan, berbisik padanya, mendengar suara tangisan seorang anak namun tidak terlihat rupanya.


Dengan ragu, Mona mendekati area gazebo, dan benar saja seorang anak meringkuk menangis membelakanginya, duduk di lantai yang dingin, isakan nya terdengar lirih.


Mona tertegun, teringat dengan dirinya yang berpura-pura tegar ketika SMU. Saat perpisahan kedua orang tuanya, meminum-minuman keras hingga mabuk, hampir menabrak seseorang.


Rasa sakit yang dirasakannya, ketakutan, akan perpisahan keluarganya, saat itu dirinya hanya dapat pura-pura tersenyum di depan Agra. Hal yang hampir serupa ditatapnya pada diri Gea, berpura-pura tersenyum di hadapan Vincent.


Mungkin gerakan refleks, anak itu didekapnya erat.


"Jangan menangis..." ucap Mona menitikkan air matanya.


Tangisan Gea semakin kencang, tidak membalas pelukan Mona sama sekali.


"Vincent dan aku menyayangimu..." Mona menepuk punggungnya berusaha menenangkan.


"Aku bukan anak kandung ayah..." tangisan Gea semakin lirih, berusaha mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.


Mona membulatkan matanya, mempererat pelukannya.


"Aku tau, setelah anak kandung ayah lahir maka..." kata-kata Gea terhenti, Mona melonggarkan pelukannya, menatap mata gadis kecil itu, kemudian mengecup keningnya.


Gea tertegun, melihat bulir air mata yang keluar dari mata Mona. Wanita ini menangis untuknya? Mengapa? Dirinya bukan anak kandung Vincent, seharusnya langsung diusir pergi bukan....


"Ayahmu, gelisah semalaman karena tidak bisa pulang. Dia mencemaskanmu. Dan aku tidak bisa menjanjikan apa-apa terlalu sulit menjadi ibu yang baik. Apa kamu bisa mempercayaiku untuk belajar menjadi ibu yang baik?" tanyanya.


Gea terdiam, air matanya mengalir lebih banyak lagi,"Ibu..." ucapnya lirih, memeluk tubuh di hadapannya. Satu-satunya harapannya mendapatkan keluarga seutuhnya.


***


Beberapa puluh menit berlalu, Gea tidak terlalu sulit didekatinya. Anak itu kini berada di pangkuan Mona, menonton video lucu bersama. Hingga jemari tangan sang anak bergerak, melepaskan kalung yang dipakainya.


"Ini hadiah untukmu, tolong jangan buang aku..." Gea tersenyum padanya penuh harap, memakaikan cincin di jari manis Mona.


Cincin yang tinggalkan Frea pada Vincent untuk menikahi Dona, ibu kandung Gea. Cincin yang kini ditinggalkan pada sang anak untuk memilih ibu. Ibu yang mungkin akan menjaganya.


"Terimakasih..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2