Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Kesalahan Bagian 3


__ADS_3

Tidak dapat menahan kegilaannya lagi, Adrian menghela napas kasar kembali mendatangi club'malam, menemui sang mucikari. Menyewa anak remaja itu kembali, hal yang dilakukannya?


Kali ini membawa kartu,"Kita bermain remi..." ucapnya pada Merlin yang telah dirias.


Merlin mengenyitkan keningnya, terlalu nyaman? Mungkin itulah perasaan Adrian saat bersamanya, melepaskan segala beban hidupnya. Membiarkan Lia membawa Jimy ke rumah mereka setiap hari. Sedang dirinya sendiri sibuk bermain kartu dengan Merlin, dapat tertawa dan mengumpat saling menghina dengan remaja di hadapannya.


Berhubungan badan? Sesekali akan mereka lakukan. Bukan atas nama cinta seperti ucapan omong kosong orang-orang yang berselingkuh, menyakiti hati pasangannya. Adrian mengatasnamakan rasa sakit hatinya, namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa cinta telah mengakar di hatinya, perasaan yang dielaknya.


Sedangkan Merlin, wanita itu mengatasnamakan uang, dan janji pada almarhum ayahnya. Akan memberikan malam pertamanya pada suaminya. Hal yang membuatnya tidak meminum obat kontrasepsi sama sekali, menyimpannya. Menginginkan hanya untuk menikah dengan Adrian, walaupun kenyataan pahit yang baru diketahuinya beberapa hari ini, pemuda itu telah memiliki istri dan dua orang anak.


"Aku menang!!" Merlin melempar kartu remi-nya, tertawa penuh kemenangan. Menjepit wajah Adrian dengan jemuran pakaian.


Hanya melayani Adrian, tidak satupun pelanggan lain dilayaninya kala itu. Usia yang terlalu muda, selain itu tidak seperti wanita lainnya yang bersedia menjual dirinya kesembarang orang, atau wanita dari desa yang dibeli sang mucikari dengan harga tinggi. Merlin diperlakukan berbeda oleh sang mucikari, melayani jika dirinya bersedia.


"Kamu curang!! Tadi kamu mengintip kartuku kan!?" ucap Adrian kesal, menarik hidung Merlin.


"Aku tidak curang!! Dasar kakak kejam!!" umpatnya, mengusap-usap hidungnya.


Hingga pada akhirnya, Merlin tertunduk,"Kakak, bagaimana jika aku hamil?" tanyanya dengan jemari tangan gemetar. Sudah tiga bulan terakhir, mereka menjalani hubungan, testpack dengan dua garis sudah berada di kantongnya.


Harapannya? Tentu saja berharap Adrian akan tersenyum, mengatakan akan menikahinya.


Namun, bukan jawaban yang diharapkannya, Adrian nampak ragu, menghela napas kasar,"Tidak akan terjadi, kamu selalu meminum obat kontrasepsi bukan..." ucapnya.


"Ini jika... hanya jika... kalau aku tiba-tiba hamil bagaimana...?" tanyanya, penuh harap.


Namun senyuman di wajahnya menghilang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Adrian."Mudah, tinggal gugurkan saja," ucapnya menganggap enteng segala sesuatu.


Hal yang benar-benar bodoh, bertanggung jawab untuk Lia. Namun, tidak berniat bertanggungjawab sama sekali pada wanita yang dicintainya.


"Gugurkan ya...?" tanya Merlin kembali, memaksakan dirinya tersenyum.


"Iya," Adrian masih konsentrasi membagikan kartunya."Ayo kamu yang mulai duluan..." ucapnya tersenyum tanpa beban.


"Baik..." Merlin memaksakan dirinya tersenyum, kembali menyembunyikan testpack yang dibawanya. Tidak mengatakan dirinya tengah mengandung.


***


Siapa yang sangka hal yang ada di dunia ini, tidak sesuai harapannya. Hari ini dirinya kembali dirias.


"Kamu yakin akan melayani pelanggan lain?" tanya sang mucikari pada Merlin.


Jemari tangan anak di bawah umur yang bertindak gegabah itu gemetaran,"Iya..." ucapnya berusaha menguatkan dirinya. Menangis? Semenjak pagi tadi, meninggalkan kamar Adrian dirinya menangis.


Bingung harus melakukan apa, anak ini darah dagingnya juga bukan? Satu-satunya anggota keluarga yang tersisa selain Adi. Namun, satu-satunya orang yang menjadi harapan akan menikahinya, menolak keberadaan sang anak.


Hanya satu harapannya, di fikirannya yang kacau. Menemukan pria lain.


Malam itu Adrian datang, menanyakan keberadaan Merlin, hendak menyewanya. Sang mucikari mengenyitkan keningnya,"Merlin sedang ada tamu. Lebih baik, sewa wanita lain saja, disini ada yang lebih cantik..." ucapnya.


"Ada tamu?" Adrian mengepalkan jemari tangannya kesal. Cemburu? Mungkin itulah yang dirasakannya saat ini.


Hingga pemuda itu berjalan penuh amarah, membuka satu persatu ruangan VVIP club'malam.


Dan benar saja, dalam salah satu ruangan, wanita dibawah umur itu tersenyum, tepatnya berpura-pura tersenyum, mengenakan pakaian minim. Menuangkan minuman untuk seorang pria hidung belang.


"Merlin!!" ucap Adrian membentak, menarik tangannya kasar. Hingga sampai di lorong, beberapa pelayan dan orang yang kebetulan lewat, memperhatikan, menyadari adanya keributan.


Merlin melepaskan pergelangan tangannya yang terasa sakit,"Kenapa!?" bentaknya.


"Kenapa kamu melayani orang lain!?" Adrian membalas bentakannya tidak kalah sengit.


Merlin menghela napas kasar, mengenyitkan keningnya,"Kakak siapa? Apa keluarga? Suami? Bukan kan? Memang kakak mau menikahiku...?"


Pertanyaan mematikan yang tidak dapat dijawab Adrian. Pemuda itu hanya dapat terdiam, menikahi Merlin kemudian menceraikan Lia? Hal yang ingin, namun tidak dapat dilakukannya. Saham perusahaan yang dirintisnya dari awal, akan ditarik oleh keluarganya. Perusahaannya yang mulai berkembang, dipastikan akan mengalami pailit.


Adrian masih terlalu muda, meragukan kemampuannya sendiri. Lebih memilih menjadi pengecut yang mengikuti takdir. Dari pada berusaha bangkit kembali dari nol.


Wanita itu kali ini tersenyum, menitikkan air matanya,"Aku hamil, kakak mau bertanggung jawab? Jika tidak, aku akan mencari pria lain untuk bertanggung jawab..." ucapnya, memberi kesempatan terakhir.

__ADS_1


Hamil? Tidak tahu dirinya harus bahagia atau cemas. Namun pandangannya beralih menatap tempatnya berada saat ini. Merlin mungkin ingin menjadikannya kambing hitam? Itu mungkin bukan anaknya bukan?


"Apa buktinya jika itu anakku?" tanyanya mengingat tidak setiap hari dirinya datang.


Sang mucikari ingin bicara, menjelaskan tentang satu-satunya tamu yang diterima Merlin selama ini. Namun Merlin mencegahnya, "Intinya, dia tidak ingin bertanggung jawab. Biarkan saja, hari ini aku akan pulang. Besok carikan aku tamu lagi..." pintanya tersenyum pada sang mucikari.


"Merlin!!" bentak Adrian.


"Apa!? Dasar pria hidung belang!! Orang tidak waras!!" umpatnya.


Adrian tertawa kecil, mengepalkan tangannya. Rasanya benar-benar menyakitkan membayangkan jika tubuh wanita itu dijamah pria lain. Hingga kata-kata egois keluar dari mulutnya,"Pecat dia!! Atau aku akan melaporkan pada kepolisian, kalian menjual wanita dibawah umur. Lagipula, siapa pria yang mau menyewa wanita hamil yang akan menjeratnya untuk menikah!?"


Menangis? Tidak, rasa cinta dan benci hanya berbeda tipis bukan? Merlin melepas sepatu hak tingginya, melempar tepat mengenai kepala Adrian.


"PE-DO-FIL!!" akhirnya kata-kata penuh penekanan itu keluar juga, mengingatkan Adrian jika dirinya yang menikmati tubuh wanita dibawah umur.


Melangkah dengan pasti, mengetahui dirinya akan dipecat. Namun, tabungan hasil uang yang didapatkannya saat menjual diri pada Adrian mungkin cukup untuk bertahan hidup.


Saat itu Merlin belum memiliki niatan untuk menggugurkan anak dalam kandungannya. Alasan? tentu saja karena belum mengetahui betapa tipisnya persepsi masyarakat tentang mantan wanita penghibur.


***


Tinggal di pemukiman kumuh? Belum, wanita itu pada awalnya tinggal di rumah petak kecil dengan satu kamar tanpa ruang tamu. Rumah dengan harga sewa yang dibayarnya tahunan. Sudah membayar untuk dua tahun penuh, kini sisa uangnya tidak seberapa.


Hidup seadanya menjadi buruh cuci, dengan kehamilan yang sedikit-demi sedikit terlihat, membesarkan tuan muda kecil yang mulai berkembang di perutnya.


Hingga, sang pemilik kontrakan meninggal, anaknya yang katanya memiliki ilmu agama tinggi, disanjung masyarakat datang menemuinya, membawa beberapa warga.


"Maaf, dimana suamimu!? Kami tidak menerima wanita tidak jelas yang membawa pengaruh buruk di lingkungan kami," kata-kata sopan dengan mulut alim yang diucapkannya. Namun, apakah orang itu peduli bagaimana kehidupan Merlin yang tengah hamil? Jika harus tiba-tiba pergi dari rumah yang disewanya untuk dua tahun.


Tidak bukan? Hanya kata-kata alim yang semu. Menghilangkan kesempatan seorang wanita murahan untuk hidup tanpa menjual dirinya lagi.


"Maaf, saya sudah membayar penuh untuk dua tahun pada almarhum ibu anda. Lagi pula saya sedang hamil, saya..." kata-katanya sopan dari mulut remaja berusia 16 tahun disela.


"Maaf, aku tidak dapat mengembalikan uang dari hasil menjual dirimu yang almarhum ibuku sudah pakai. Walaupun itu uang panas hasil berbuat dosa. tapi saya berbaik hati memberikanmu uang dari dompet pribadi saya sendiri..." ucapnya dengan tutur kata halus.


Namun, almarhum ibunya membuatkannya makanan, membelikan beras, bahkan membelikan setelan pakaiannya dari uang yang Merlin berikan bukan? Betapa munafiknya, mungkin itulah yang difikirkan Merlin.


"Wanita kotor ini akan pergi, tapi ingat ini!! Hutangmu masih 1.900.000 dari 1.920.000 yang aku keluarkan untuk sewa dua tahun. Aku akan menagihnya ketika kita tinggal bersama-sama di neraka..." ucapnya tersenyum, mengelus perutnya.


(Catatan: nilai mata uang saat itu, berbeda dengan saat ini, sekitar 10 kali lipat dari saat itu. Contoh, saat ini dengan 11.000 rupiah dapat membeli 1 kg beras. Saat itu dengan sekitar 1.100 rupiah dapat membeli 1kg beras. Begitu pula dengan nilai uang yang diberikan Merlin 1.900.000 serta dengan 19 juta masa sekarang)


Warga yang dibawa sang pemuda, meneriaki, memaki kata-kata kasar Merlin. Namun, menyanjung tinggi sang pemuda yang hanya memberinya uang 20.000. Pemuda yang mengusir mantan wanita bayaran dari rumah petak miliknya secara tidak adil. Wanita hamil yang membawa janin di perutnya.


Malaikat tidak bersayap? Apakah sosok itu yang diagungkan warga? Benar-benar konyol, malaikat tidak bersayap yang ikut memakan uang almarhum ibunya, uang hasil menjual diri dari wanita kotor. Kemudian memberikan uang suci bernilai kecil dari dompetnya, hingga kembali mendapatkan sanjungan bagaikan malaikat yang dikirimkan tangan Tuhan. Betapa hebatnya dunia ini, dimata Merlin...


***


Merlin membawa barang-barangnya, berjalan menembus kerumunan warga. Tidak memiliki tempat tinggal, dengan uang yang hanya sedikit.


Hingga akhirnya dirinya tinggal di pemukiman kumuh. Berusaha membantu tetangga menjual tas KW berharga murah. Namun itu juga tidak lama, karena kehadiran Lia.


Apa kesalahannya? Dirinya tidak pernah bertemu dengan Adrian lagi bukan? Namun dibentak di hadapan umum. Meneriaki dirinya sebagai pelakor, hal yang membuat Lia puas.


Apa benar-benar puas? Merlin saat ini tengah mengandung. Anak yang mungkin dapat menyaingi Irgi atau Mike. Dengan sengaja Lia mendorongnya hingga tersungkur.


Cibiran masyarakat, pekerjaan yang tidak dimilikinya setelah dipermalukan Lia, pria yang bahkan memalingkan wajah tidak pernah ingin mengetahui keadaannya. Bukankah lebih nyaman jika bekerja pada mami? Namun, Adrian sudah membuat dirinya dipecat, menghilangkan kesempatannya untuk mencari makanan.


Perutnya terasa lapar, dirinya masih terlalu labil saat itu. Memutuskan jalan terburuk, menambah dosanya, menginginkan kematian putra dalam kandungannya. Apa ini salahnya? Kenapa tidak salahkan masyarakat yang tidak menerima perubahannya? Orang lainlah yang membuat dirinya menjadi manusia terburuk.


Berkonsultasi pada dokter, namun tidak ada yang bersedia, mengingat usiannya yang masih terlalu muda. Serta kandungannya yang telah menginjak bulan ke tujuh, anak yang terasa bergerak aktif di tengah sulitnya kehidupan sang ibu.


Tindakan yang benar-benar gegabah, remaja itu tidak memikirkan apapun kecuali kematian bayi dalam kandungannya. Kemudian berharap dapat kembali ke pada sang mucikari. Meminum jamu menjadi pilihannya.


Sakit? Tentu saja, Merlin berteriak menjerit dalam rumah yang terbuat dari triplek beratapkan seng. Rumah yang disewanya dengan sisa uangnya yang tidak seberapa.


Darah mengalir, kemana-mana, anak laki-laki yang masih berlumuran darah itu menangis kencang. Entah kenapa anak yang seharusnya mati itu masih hidup, bayi prematur dengan berat badan di bawah normal.


Tidak membunuhnya, Merlin malah tersenyum dengan tubuh lemas. Menangis menatap putranya. Hingga akhirnya berteriak meminta pertolongan, pada tetangganya.

__ADS_1


***


Hamil di usia muda? Resiko besar pula yang didapatkannya, beberapa komplikasi membuatnya harus menerima kenyataan. Melakukan sterilisasi, satu-satunya jalan menyelamatkan nyawanya.


Merlin hanya tersenyum, dengan tangisan tertahan menatap putranya dalam inkubator. Anak yang membuatnya tidak dapat memiliki keturunan lagi, selain dirinya.


Namun, bukankah Tomy tumbuh melewati masa kanak-kanaknya dengan sang ibu? Jika Merlin benar-benar membencinya, seharusnya bayi mungil itu sudah mati, dibiarkan kelaparan dengan perawatan yang buruk bukan?


Tidak, Merlin memang membencinya, namun rasa kasihnya sebagai seorang ibu lebih besar.


Tidak ada yang bersedia memberikan pekerjaan pada seorang pelakor yang dulu menjual diri di club'malam. Semua orang yang tinggal di lingkungan itu terpengaruh kata-kata sang istri sah yang terhormat (Lia).


Hingga akhir Merlin kembali menjual tubuhnya, tidak membiarkan dirinya dan putranya kelaparan. Uang dari yayasan? Hanya cukup untuk membeli keperluan Tomy, serta sewa rumah mereka yang bagaikan gubuk.


Mempertemukan Adrian dengan Tomy? Sudah pernah dilakukannya. Pria itu terlalu takut perusahaannya mengalami pailit, sehingga menolak permintaan Merlin untuk menjadikannya istri kedua. Hanya istri kedua? Tinggal terpisah juga tidak apa, anaknya butuh makanan dan pakaian. Hanya itu keinginan Merlin, namun Adrian memalingkan wajahnya.


***


Tomy dibesarkannya dengan baik, diajarkan untuk menjadi anak yang tidak lemah ditengah keterbatasan mereka. Namun, semua berubah ketika putranya berusia 9 tahun.


Merlin tertegun, "Tumor?" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya, menitikkan air matanya. Tidak dapat membayangkan hidup putranya tanpa kehadirannya.


Adrian, hanya itu harapan terakhirnya agar ada yang menjaga Tomy. Namun, anak itu terlalu mencintai ibunya. Merlin dengan sengaja memperlakukan putranya dengan buruk. Berharap, Tomy akan mengadu pada sang ayah. Adrian mungkin akan iba dan membawa Tomy tinggal bersamanya.


Uang dari yayasan, dalam tiga tahun ini digunakan untuk pengobatannya. Anaknya bagaikan tidak terurus. Iba? Namun, dirinya harus tega, menginginkan putra gagapnya dapat hidup bahagia, kembali pada sang ayah memiliki status bagaikan tuan muda. Status yang seharusnya dimilikinya.


Dalam dua tahun ini, tidak ada yang terjadi. Tomy bagaikan benalu dimata Adrian. Tahukah kalian apa yang terjadi saat Tomy meminta gorengan kemudian dipukuli oleh pelanggan ibunya?


"Mana bayaranku!?" bentak Merlin, setelah menyerahkan tubuhnya.


"Tidak perlu terburu-buru, cantik..." ucap sang pria, memberikan uang.


"Pergi!! Dengar!! Ini terakhir kalinya aku memberikan service padamu!! Buang alat pengamanmu di tempat lain!! Jangan kotori rumahku!! Bawa gorenganmu pergi!!" bentaknya, menatap tajam, tidak tega tubuh putranya dipukuli menggunakan gantungan baju, hanya karena gorengan yang dimiliki pria itu.


Namun dirinya benar-benar tidak memiliki uang sama sekali, setelah membeli obat yang harganya tidak murah, bahkan untuk membeli sekantung gorengan tidak ada. Baru mengetahui putranya belum makan dari pagi. Dengan melayani pelanggan ini, barulah Merlin memiliki sedikit uang.


***


Dengan pakaian tidak rapi, wanita itu berjalan cepat, seusai kepergian sang pria. Membeli sebungkus makanan, serta obat memar, mencari keberadaan Tomy. Namun, langkahnya terhenti, menghela napas kasar, ada tangan baik hati yang tidak diketahuinya. Memberikan makanan, serta mengobati putranya.


Merlin tersenyum, menatap putranya dari jauh, berjalan pergi kembali pulang. Tetap bertindak kasar dan acuh, agar Tomy kembali pada Adrian.


Sejujurnya dirinya membenci Tomy karena membuatnya tidak dapat memiliki keturunan lagi. Namun, rasa kasihnya sebagai seorang ibu tetap ada, menginginkan kebahagiaan putranya. Mengingat dirinya yang tidak mungkin dapat mengumpulkan uang untuk operasi pengangkatan tumor. Setelah dirinya mati? Akan kemana putranya?


Hingga hari dimana dirinya sakit, hanya anak itu yang merawatnya. Berharap untuk yang terakhir kalinya, Adrian akan menerima Tomy. Merlin menyuruh anak itu menemui ayahnya dengan alasan untuk meminta uang.


Dan benar saja, kali ini berhasil. Jumlah dengan nominal uang fantastis yang dibawa putranya. Mungkin ini pertanda anaknya telah diterima sang ayah.


Tomy kecil tetap menjaga Merlin hingga terlelap tidur di kursi. Sang ibu menitikkan air matanya, mengelus pelan rambut putranya,"Ayahmu sudah mengakuimu, hiduplah dengan baik bersamanya. Maaf, uangnya ibu pakai untuk biaya operasi, ibu ingin hidup. Melihatmu tumbuh dewasa..." ucap seorang ibu yang benar-benar egois. Dengan prasangka yang salah, mengira putranya sudah diterima sang ayah.


***


Hal yang dilakukan Merlin setelahnya? Tentu saja menjalani operasi pengangkatan tumor. Sisa uangnya yang tidak seberapa, digunakan untuk memasuki dunia hiburan.


Berharap dapat mengangkat status sosialnya, hingga dapat menjemput Tomy dari rumah Adrian suatu hari nanti.


Namun, manajemen artis yang buruk menjeratnya untuk menjual diri. Tangan tua renta terulur menolongnya, tidak jijik padanya, melindungi dirinya. Sosok hangat dengan pipi tua keriputnya. Pria yang pada akhirnya menjadi suaminya.


Mungkin ini perkataan bodoh. Andai saja mereka hidup di masa yang sama, andai saja pria pertama yang menidurinya adalah tangan tua renta yang kembali muda. Mungkin Merlin akan hidup bahagia, Tomy akan memiliki ayah yang memanjakannya. Harapan yang tidak mungkin menjadi kenyataan, menyadari mereka terlahir di masa yang berbeda. Tangan itu telah keriput saat ditemukannya, hingga akhirnya terkubur di tanah. Pria yang memberinya sedikit kehangatan di dunia yang kejam, kembali diambil oleh Tuhan.


...Jika kehidupan kembali ada (reinkarnasi), aku ingin membalas budimu. Saat aku menyusulmu nanti, aku ingin kembali mengabdikan diriku padamu, yang selalu melindungiku....


...Ingin terlahir dimasa yang sama denganmu, sehingga tidak ada yang mencibir kita, bagai pasangan kakek dan cucunya....


...Saat itu kita akan berjalan bersama, dengan anak-anak kita yang tersenyum bahagia. Keluarga kecil yang kita miliki, anak perempuanmu dan anak laki-lakiku, yang juga terlahir kembali sebagai darah daging kita....


...Ini hanya impianku, impian yang indah bukan......


...Tenanglah di surga .. Suamiku......

__ADS_1


Merlin...


Bersambung


__ADS_2