
Cincin berlian indah tersemat di jari seorang wanita hamil, mengelus perutnya pelan, berjalan keluar dari villa. Villa dengan bentuk yang indah, kandungannya kini sudah menginjak bulan ke sembilan. Sudah dua bulan dirinya tidak bertemu dengan Tomy. Pemuda yang menanam benih di rahimnya.
Perutnya dielus pelan olehnya. "Ayahmu menyayangimu, hanya saja hal-hal yang dialaminya terlalu berbahaya bagi kita..."
Tendangan kecil terasa, bayi mungil dalam rahimnya bergerak aktif. Frea hanya tersenyum, hingga kontraksi pertama membuatnya menggenggam pegangan anak tangga dengan erat.
"Tolong..." panggilnya lirih dengan suara lemah.
Pelayan yang disediakan Gilang berlari menghampirinya. Membimbingnya duduk di kursi.
"Sakit!!" Frea menjerit, menahan rasa sakitnya.
"Jangan-jangan mau melahirkan!! Cepat hubungi tuan!! Kita bawa ke bidan dulu!!" ucap salah seorang pelayan mengingat lokasi rumah sakit yang jauh dari villa.
***
Di tempat lain, Gilang mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar, mengikuti cara ayahnya mendekatkan dirinya dengan Tomy. Harapan Leon? Tentu saja, mendekati Tomy, mengendalikannya, menusuknya dari belakang setelah tidak berguna.
Berbincang tentang game yang tidak dimengertinya. Sesuatu hal yang juga tidak dimengerti Tomy.
"Mobile legends?" ucap Tomy mengenyitkan keningnya mengeluarkan keringat dingin.
Gilang mengangguk, menyesal, asal menyebutkan game online yang lumayan populer, sesuatu yang tidak dimengertinya.
Namun, dirinya tidak tahu, pemuda di hadapannya juga tidak mengerti sama sekali. Pemuda yang disangkanya kecanduan game, mengingat perangkat game yang lengkap di kamarnya.
"Kita main mobile legends?" tanya Tomy lagi.
Kali ini Gilang menggeleng, bingung harus bagaimana. Sama canggung dan bingungnya dengan Tomy saat ini.
"Kita main ular tangga ya?" tawar Tomy, pasalnya dirinya juga jarang, tepatnya tidak pernah memainkan game online.
Seketika Gilang mengangguk antusias,"Kita bertarung..." ucapnya sangar.
"Ayo bertarung..." Tomy mengocok melemparkan dadu, penuh semangat.
Permainan yang menegangkan antara dua orang manusia berbeda karakter, dibesarkan dengan cara yang berbeda.
Gilang naik tangga terus menerus, sedangkan Tomy selalu bertemu dengan ular, hingga setiap naik segera turun.
Handphone Gilang tiba-tiba berbunyi, pemuda itu mengenyitkan keningnya kesal, sebab sedikit lagi berhasil mengalahkan Tomy."Ada apa?" tanyanya ketus.
__ADS_1
"Tuan muda, nona yang anda bawa kelihatannya akan melahirkan. Kami sudah mengantarnya ke bidan," ucap sang pelayan dari seberang sana.
"Melahirkan!?" Gilang memastikan pendengarannya.
"Benar tuan..." jawab sang pelayan.
"Aku akan segera kesana," Gilang segera mengakhiri panggilan.
Tomy mengenyitkan keningnya,"Siapa yang melahirkan?" tanyanya.
"Kucing tetangga di villa milikku. Sangat menyebalkan, dia tinggal di villaku. Dan sekarang ingin melahirkan disana, memilih ditemani olehku dari pada suaminya..." kumat-kamit mulut pedas itu berkicau, mengingat tingkah laku Frea yang menyebalkan.
"Kucing bisa menikah? Tidak ingin ditemani melahirkan oleh suaminya?" Tomy tidak mengerti.
Suami kucingnya sedang bermain ular tangga denganku, sial!! Padahal sedikit lagi aku menang... gumamnya dalam hati menghela napas kasar, menatap bidak ular tangganya yang sudah mencapai angka 96.
Gilang segera bangkit mengambil kunci mobilnya, diluar dugaan Tomy menggenggam tangannya."Tunggu, aku ikut..."
"Di rumah saja ya? Bermain game, jadi anak yang manis..." tawar Gilang pada sepupunya.
"Aku ingin ikut, melihat kucing melahirkan mungkin akan menyenangkan," Tomy bersikeras, entah apa yang mempengaruhinya. Hanya ingin mengikuti Gilang tanpa sebab.
"Tomy, kamu tinggal di rumah ya. Aku belikan perangkat game yang baru untukmu," pintanya, memelas tidak ingin keberadaan Frea diketahui. Kemudian situasi menjadi kacau, berada diantara kemarahan seorang komisaris lugu dan ayah yang kejam.
Tidak apa-apa, Frea paling sudah sampai di bidan. Aku tinggal membawa Tomy ke villa, meninggalkan pria lugu ini menginap seorang diri. Lalu mencari kesempatan melihat keadaan Frea... rencana plin-plan yang disusunnya dengan rapi.
"Baik kamu boleh ikut, tapi aku tidak menjamin kucingnya masih berada di villa..." ucap Gilang memperingatkan.
Tomy hanya mengangguk sembari tersenyum. Entah dorongan apa, hanya ingin. Hatinya merasa tidak tenang, tanpa alasan.
***
"Nggh...aaaa..." teriak Frea tidak kuasa menahan rasa sakitnya.
"Jangan terlalu banyak teriak, nanti tenaganya habis. Atur napasnya, hirup melalui hidung, keluarkan melalui mulut..." sang bidan memberi intrupsi.
Wanita itu mengatur napasnya, berusaha tenang,"Tomy br*ngsek!! Tau sesakit ini aku tidak akan mau menjadi ibu dari anakmu...!!" jeritnya berusaha menahan rasa sakit.
"Atur napasnya, pelan-pelan, kepalanya sudah sedikit kelihatan..." bidan berucap penuh harap, menatap kepala bayi yang hampir keluar.
"Aaaaaggghhh...aaaa..." teriakan panjang terdengar, bersamaan dengan suara tangisan bayi mungil.
__ADS_1
Bulir-bulir keringat dingin masih membasahi dahinya, mengalir ke pelipis hingga pipinya. Bayi mungil itu terlihat juga, masih tersambung dengan ari-ari yang tengah dipotong sang bidan.
Kata-kata yang tidak menginginkan menjadi ibu dari anak seorang pemuda bernama Tomy seolah menghilang tidak pernah diucapkannya.
Menatap sang bayi mungil dibawa untuk dimandikan oleh asisten bidan. Sedangkan sang bidan mengurus dirinya, menjahit serta membersihkan sisa gumpalan darah pada rahimnya.
Hingga sang bayi dibawa padanya, untuk disusui. Bayi mungil dengan mata yang terbuka, bagaikan sebuah keajaiban menatap bayi mungil itu menyusu dengan rakusnya.
"Anaknya tampan..." ucap sang bidan tersenyum.
"Iya tampan, seperti bocah br*ngsek..." Frea ikut tersenyum, pada putranya yang mulai menggerakkan tangan mungilnya menyusu sembari memegang dada sang ibu.
Seperti sebuah keajaiban baginya, jika difikirkan ulang olehnya. Anak kecil kucel penuh luka yang diberinya makan? Kini memiliki anak hasil dari benihnya? Sesuatu aneh yang tidak terduga, air matanya mengalir, kerinduan senyuman suaminya yang dulu antusias ingin menyambut kehadiran anak pertama mereka terlintas. Pemuda yang menyingsingkan lengan kemeja kerjanya, hanya untuk memasang mainan kuda-kudaan.
"Akira Aran... anak ibu yang manis..." ucapnya menentukan nama seorang diri setelah mencari dari beberapa kamus dan buku. Nama yang berasal dari bahasa Jepang dan Denmark, tegas dan cerdas. Itulah sifat yang diinginkan untuk melekat pada putranya.
"Kita tinggal disini sementara, menumpang pada si orang plin-plan, meminta belas kasihnya, hingga keadaan aman. Ibu berjanji kita akan bertemu dengan ayahmu..." lanjutnya, tersenyum tulus menatap putra manisnya. Bayi kecil dengan mata terbuka yang menatapnya sembari meminum ASI tanpa henti.
***
Orang gila ini, dia penggemar game kenapa bersikeras datang hanya untuk kucing melahirkan... kesal Gilang, menatap Tomy yang terdiam mengenyitkan keningnya.
Pelayan di villa miliknya hanya terdiam, tidak mengetahui sosok yang datang. Pemuda yang hanya duduk sembari meminum secangkir teh.
"Tomy, kucingnya sudah tidak ada, kamu pulang ya..." ucapnya penuh harap, setelah dua jam Tomy diam tanpa ada niatan untuk beranjak.
"Aku akan menginap, entah kenapa ada sesuatu yang menarikku untuk kemari..." pemuda yang terkenal dalam keluarga besarnya, kecanduan game itu tersenyum tanpa dosa.
"Ya sudah... pelayan akan menyiapkan kamar untukmu. Aku pergi sebentar..." Gilang menghela napas kasar.
Tomy hanya mengangguk sembari tersenyum, menatap kepergian Gilang. Mobil itu perlahan melaju meninggalkan area villa, bersamaan dengan Tomy yang memanggil seorang pelayan.
"Kamu, ikut aku..." ucapnya berjalan pergi, diikuti seorang pelayan.
Banyak hal mencurigakan dalam diri Gilang. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Hingga akhirnya langkah Tomy terhenti di balkon lantai dua yang sepi, hanya ada dirinya dan seorang pelayan.
Senjata terkuat dikeluarkannya, dari kantung sweater nya yang cukup besar. Benar, setumpuk uang senjata andalan kalangan atas.
"Apa ada tamu lain yang disembunyikan Gilang?" tanyanya tersenyum pada sang pelayan.
"Ada..." sang pelayan mengangguk, menelan liurnya, meraih uang yang diberikan Tomy.
__ADS_1
Bersambung