
Tangisan seorang wanita terdengar pilu dalam ruangan dekorasi klasik, berhiaskan taburan kelopak mawar bagaikan kamar pengantin."Tomy maaf, sudah lama aku menyukaimu, karena itu aku..."kata-kata Karin terhenti.
Pemuda itu menghentikan gerakan pisaunya yang tengah mengupas apel."Aku mencintainya dari saat aku berumur 11 tahun. Bekerja keras berusaha untuk membahagiakannya jika bertemu dengannya lagi. Setelah 17 tahun kemudian baru dapat bersama dengannya. Tapi, karenamu dan manusia menjijikkan lainnya, aku tidak dapat membuatnya bahagia,"
"Menyukai!? Kamu tau rasanya menyukai seseorang selama 17 tahun?" tanyanya, kembali mengupas apelnya. Memotongnya menjadi 4 bagian, kemudian menancapkannya menggunakan pisau.
Karin tidak dapat menjawab, raut wajah pemuda yang jarang tersenyum itu telah berubah. Menikah membuatnya bahagia, kehilangan membuatnya menjadi raga berjalan tanpa memiliki hati.
"Ibuku seorang wanita penghibur, wanita murahan. Tapi aku makan dari hasilnya menjual tubuh, dia wanita murahan di mata orang lain, tapi malaikat bagiku. Sedang istriku, tidak pernah menggodaku sekalipun, aku yang menggodanya untuk menikah denganku. Mengemis cinta darinya, hingga akhirnya dia mempercayaiku,"
"Mau apel?" tanyanya menawarkan potongan buah yang tertancap pisau.
Namun tidak ada yang menjawab atau menerima tawarannya. Hingga Tomy memakan sendiri, potongan apel yang tertancap di pisau tajam.
"Jangan bermain-main dengan kata-kata wanita penggoda atau murahan. Sebelum kalian tau yang sebenarnya, alasan mereka menjajakan tubuhnya..." lanjutnya.
"Kerjakan..." Tomy memberi perintah.
Dua orang pengawal mulai berjalan mendekat, melonggarkan dasinya. Melepaskan jasnya, mendekati tubuh Karin.
"Jangan!! Jangan!! Pergi!!" Karin menjerit ketakutan menggeliat bagaikan ulat berusaha mundur menghindar.
Ikatan pada kakinya dilepaskan, kaki putih itu dipegangi. Gadis itu terus saja menagis, meronta-ronta ketakutan. Malaikat yang dicintainya, telah berubah menjadi sosok yang keji bagaikan iblis.
Lehernya dijelajahi pria yang bahkan tidak dikenal, benar-benar menjijikkan rasanya. Benar saat ini Karin hanya dapat menangis dengan air mata mengalir.
Guna menitikkan air matanya, menangis penuh keputusasaan,"Tomy aku mohon, hentikan... Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Lepaskan putriku..."
Pemuda itu hanya terdiam tanpa ekspresi, hingga tiba-tiba pintu di dobrak dari luar...
"Tomy!!" Irgi yang masuk tiba-tiba dipegangi dua orang pengawal. Pemuda itu tidak mengerti dengan tindakan adiknya. Menatap Karin yang dilecehkan masih menjerit berusaha digerayangi.
__ADS_1
"Ini urusanku, keluar!!" bentaknya.
Irgi menghela napas kasar, membawa senjata rahasia untuk menghadapi adiknya yang mengerikan. Pemuda itu mulai mengeluarkan phonecellnya, menghubungi seseorang memasang mode load speaker.
"Tomy!! Ke kantor sekarang!! Dalam 15 menit kamu sudah harus ada disini!!" suara bentakan sang Firaun.
Benar, Irgi tidak secerdas itu, dirinya sempat menanyakan pada Farel tentang perubahan perilaku adiknya. Hal yang dilakukan Firaun? Tentu saja menyuruh Irgi mengikuti Tomy memeriksa hal yang dilakukannya, setelah sebelumnya melacak lokasi Tomy dari GPS phoncell miliknya.
Tomy menghela napas kasar menatap jenuh, berjalan meninggalkan ruangan diikuti semua pengawalnya. Meninggalkan Irgi, Karin, serta Guna.
Irgi menatap jenuh, masih memasang mode load speaker pada handphonenya. "Aku ingin bicara pada Karin," ucap seseorang dari seberang sana.
Tangisan Karin masih terdengar, masih trauma dengan hal yang baru dialaminya.
"Hari ini aku menyelamatkanmu, tapi di kesempatan lain tidak. Tomy orang sulit untuk dihadapi, jadi jangan pernah melukai orang yang dekat dengannya..." ucap Farel dari kantor pusat JH Corporation, sudah menduga hal yang terjadi. Kemudian mengakhiri panggilannya.
Irgi menghela napas kasar, memasukkan kembali phoncellnya, melepaskan ikatan di tangan Karin. Kemudian memberikan jaket miliknya yang kebesaran, menaikkan resletingnya.
"Pelajaran untukmu, jangan mencoba cara curang untuk membuat seseorang mencintaimu. Jika dia tidak mencintaimu, lepaskan saja dia bahagia dengan orang lain..." Irgi tersenyum, menyentil dahi Karin yang masih menangis terisak.
Gadis itu masih menangis sesenggukan, memeluk tubuh Irgi erat,"Aku tidak tau..." jeritnya.
"Aku menyuruh orang menjatuhkan pot bunga ke atas kepala Frea, membuat stopkontak yang terhubung dengan komputernya mengalami konsleting, supaya dia mati tersetrum. Menyuruh orang menabraknya, tapi aku tidak benar-benar sampai membunuhnya..." Karin masih sesenggukan, memeluk tubuh Irgi.
"Karena tidak bisa membunuhnya, aku hanya membuatnya tidur dengan pria sewaan, mengirim rekamannya pada Tomy. Tapi itu juga gagal..."
"Aku tidak salah!! Kenapa dia membuat balas dendam yang mengerikan..." lanjutnya, menjerit sembari curhat.
Irgi menatap jenuh, melepaskan pelukan Karin,"Kamu pantas mendapatkannya, aku akan kembali memanggil pengawal Tomy untuk melayanimu di tempat tidur..." ucapnya, baru mengetahui tindakan Karin yang memang keterlaluan.
"Jangan!! Dasar resedivis!!" Karin bangkit tiba-tiba rasa traumanya menghilang, mengejar Irgi, menjambak rambutnya penuh rasa kesal. Bahkan mencakar lengan Irgi.
__ADS_1
"Lepas!!" Irgi menepis, berlari dengan cepat, tidak ingin terkena jambakan serta cakaran singa betina yang mengamuk.
Aku pandai bela diri, dapat melawan siapa saja. Tapi kenapa aku malah tidak bisa melawan, berhadapan dengan nona muda manja bercakar tajam ini... gumamannya dalam hati melarikan diri menelusuri lorong.
Tidak ada yang menyadari seakan melupakan keadaan Guna. "Karin!! Karin!! Karin ayah masih terikat!!" ucapnya berteriak memanggil putrinya yang hanya berkonsentrasi mengejar Irgi meninggalkan kamar hotel.
"Putri tidak berbakti melupakan ayahnya sendiri..." gerutunya, merutuki nasibnya yang masih terikat seorang diri di kamar hotel. Menunggu seseorang untuk mengingat dirinya yang terlupakan.
***
Kantor pusat JH Corporation...
"Jadi dia melakukan itu pada istrimu," Farel mengenyitkan keningnya, merebut minuman milik Tomy setelah menghabiskan minumannya sendiri.
Tomy mengangguk, menyenderkan tubuhnya di sofa. Mulai berbaring, seakan itu masih ruangan kerjanya sendiri.
"Aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada Jeny (istri Farel)," Farel menghela napas kasar.
"Itulah, kenapa kamu menghentikanku?" tanya Tomy mengalihkan pandangannya menatap ke arah Farel menunggu jawaban.
"Hanya ingin, Karin memang berbuat kesalahan. Tapi tidak berhasil mencelakai istrimu, bukan? Tidak sepadan untuknya, menerima konsekuensi besar. Padahal tidak mendapatkan hasil sama sekali," jawab Farel kembali menghela napas.
Pandangan Farel beralih menatap ke arah jendela,"Kamu pernah berfikir, kalau kamu terlahir dengan keberuntungan gila-gilaan?"
"Terlahir prematur, di pemukiman kumuh, tapi tetap hidup. Dibiayai oleh yayasan dari kecil, kemudian tinggal di Singapura mengikuti yayasan, bertemu denganku. Kita mirip, memiliki keberuntungan gila-gilaan," Farel tertawa kecil,"Mungkin saja suatu keberuntungan yang ajaib terjadi, istrimu hidup di suatu tempat, menunggumu, menemukannya..."
Tawa yang tidak sekedar omong kosong, Tomy memang tidak dapat menghadiri pemakaman istrinya. Karena kondisinya yang memburuk pasca operasi. Namun Farel hadir disana, menatap mayat yang terbakar tanpa cincin berlian pernikahan.
Cincin yang dulu disimpan asistennya bertahun-tahun untuk menikahi seorang wanita yang kini sudah meninggal.
Bersambung
__ADS_1