
Kriit...
Suara rem mobil terdengar, seseorang sampai terlebih dahulu, seorang pemuda dengan wajah pucat tanpa semangat. Menatap gedung pencakar langit di hadapannya. "Apa ayah akan kembali, jika aku dapat mendepak Frans, menggantikannya menjadi CEO Bold Company?" gumamnya menitikkan air matanya.
Anak yang tulus, dan naif tumbuh di bawah perlindungan sang ayah. Tidak apa tangan sang ayah kotor, namun jemari tangan putranya harus bersih. Tidak apa jika sang ayah menjadi kejam, putranya harus tumbuh menjadi malaikat yang baik hati.
Gilang mulai melangkah, tidak menyadari apa yang terjadi, dan apa yang akan menimpa dirinya. Merindukan sang ibu yang bahkan wajahnya hanya diingatnya melalui foto? Mungkin itulah yang terjadi, satu-satunya kasih sayang yang tulus padanya.
Tidak, bukan hanya ibu, ayahnya juga, bahkan Amel, sahabat yang tiba-tiba pergi meninggalkannya tanpa pesan. Pemuda itu begitu kesepian saat ini.
Ting...
Pintu lift terbuka, tidak satupun orang disana, Gilang kembali menangis terisak, bahkan tangisannya terdengar lebih keras lagi. Pandangan matanya beralih, wajah Kenzo kecil terlihat, mengacak-acak rambutnya, yang bagaikan kembali ke usia mudanya.
"Kakak..." gumamnya mengingat bayangan seseorang yang sudah lama menghilang dari hidupnya. Anak yang tumbuh bersamanya, pergi dengan hati yang penuh luka.
Fatamorgana itu tiba-tiba menghilang, entah kenapa wajah Kenzo tiba-tiba terbayang lagi. Setelah sekian lama dilupakannya.
Gilang memejamkan matanya, sepasang mata kembali mengalirkan tetesan air. Namun, kini pemuda itu jauh lebih tenang. Entah kenapa...
Pintu lift kembali terbuka, air mata diseka olehnya...
Gilang mulai melangkah menelusuri satu persatu lorong. Melewati meja beberapa sekretaris dari manager kantor pusat. Hingga tiba di ruangannya yang terletak berdampingan dengan ruangan Agra.
Jemari tangannya gemetar entah kenapa, ketika menyentuh hendel pintu. Perasaan kerinduan akan sosok ibunya semakin terasa.
Kriet...
Pintu itu terbuka, kembali ditutupnya. Mengambil beberapa berkas dokumen, berusaha untuk tetap fokus. Komputer dinyalakannya.
Ting...
Notifikasi pesan masuk terdengar di handphonenya. Dengan nama pengirim Amel.
Gilang segera beranjak, meraih phonecellnya,
'Gilang aku tidak pernah meminta bantuanmu sebagai sahabat, tapi bisa tolong bantu aku kali ini saja. Ini mungkin permintaan terakhirku.'
Itulah isi pesan yang masuk, Gilang mengenyitkan keningnya tersenyum, akhirnya dirinya tidak kesepian lagi. Tangannya mulai bergerak hendak menghubungi Amel, wanita gemuk yang menjadi sahabatnya.
"Hallo, Ndut aku..." kata-katanya terpotong, suara teriakan terdengar. Diiringi suara benda jatuh, sejenak telpon terputus.
"Hallo...hallo..." tidak ada jawaban, Gilang mencoba kembali menghubunginya namun tidak ada hasil. Nomor itu kembali tidak aktif.
Tangannya gemetaran, mencoba menghubungi berkali-kali pun hasilnya sama. Semua orang menghilang, sedang dirinya terdiam dalam ketidak berdayaan.
Tidak menyadari seseorang mengalihkan pandangannya dari ruangan Agra yang kosong. Teropong jarak jauhnya, beralih pada ruangan Gilang yang berada disampingnya. Menampakan seorang pemuda yang dahulu mengadukan perbuatannya. Menunduk dalam kekecewaan.
Senjata, kembali beralih menuju sasaran lain, tentu saja Gilang yang sampai di kantor terlebih dahulu.
Air mata Simon yang berdiri di gedung pencakar langit lainnya mengalir. Mengakhiri nyawa Agra dan Gilang adalah akhir rasa sakitnya. Kemudian, memulai hidup baru di negara lain.
Kejadian satu tahun yang lalu masih teringat jelas dibenaknya...
Satu tahun yang lalu kantor pusat Bold Company...
Pintar dan cekatan itulah sosok Simon, manager? Bukan, dirinya hanya supervisor, satu tingkat di bawah manager.
"Ini, sisihkan sedikit, nanti kamu dapat komisi," ucap sang manager keuangan, memberikan sebuah flashdisk padanya.
Komisi? Dirinya tau ini adalah korupsi, namun tidak dilakukan olehnya saja. Dirinya hanya bertugas menggati data laporan keuangan, dengan komisi yang tidak seberapa. Sedangkan, beberapa petinggi di Bold Company yang akan mendapatkan keuntungan puluhan, bahkan ratusan kali lipat daripadanya. Bagaikan kutu yang bergerak berkelompok, dirinya hanya mendapatkan hasil yang kecil saja.
__ADS_1
Namun, ini hal yang lumrah bukan? Jika tidak menuruti perintah atasan dirinya mungkin akan dipecat. Tidak boleh terlalu jujur jika ingin hidup, namun disanalah letak masalahnya.
Komisi puluhan juta masuk dalam rekeningnya setiap bulan. Sebuah paper bag, dibawanya masuk ke dalam rumah,"Kamu mau kemana?" tanyanya menatap istrinya yang tengah berdandan dengan pakaian menggoda.
"Jalan-jalan jenuh di rumah, anak juga tidak ada. Mana uang!?" wanita rupawan berpakaian minim itu menadahkan tangannya.
"Ini gajiku dan sebagian bonusnya, tolong simpan, ini harus cukup untuk sebulan..." ucap Simon, memberikan salah satu kartu ATM-nya.
Wanita itu tersenyum, menyimpan kartu, kemudian menatap sinis,"Seharusnya aku menikah dengan orang kaya saja. Bukan dengan suami mandul yang miskin..." sinisnya meninggalkan Simon terdiam mengepalkan tangannya, menahan amarah dan sesak di dadanya.
Miskin? Tidak, Simon memiliki rumah sendiri peninggalan kedua orang tuanya, walaupun tidak begitu luas. Bahkan memiliki mobil, walaupun bukan mobil berharga fantastis. Namun, inilah resikonya, dirinya menikahi nona muda kaya yang keluarganya tiba-tiba bangkrut.
Memang dirinya lah yang pertama kali mencintai istrinya sebelum menikah. Namun, itu tidak berarti harga dirinya dapat diinjak-injak.
"Aku mandul!?" gumamnya menitikkan air matanya, menjambak rambutnya sembari berteriak histeris.
Simon tidak mandul, namun istrinya lah yang diam-diam meminum obat kontrasepsi, entah apa tujuannya. Pemuda itu pernah menanyakan prihal keberadaan obat tersebut, namun istrinya kembali berkata-kata kasar membela dirinya sendiri dengan alasan itu adalah titipan teman.
Titipan teman? Titipan teman yang telah habis setengah? Dan sekarang mengatakan suaminya mandul, padahal mereka bahkan tidak pernah memeriksakan diri bersama ke rumah sakit.
Benar-benar menikahi nona muda sialan!! Namun, rasa sakit kembali berbalut rasa cinta, menatap rupa fisiknya yang cantik. Tanpa peduli hati yang mencintainya atau tidak.
Hingga tiba hari itu, hari yang paling buruk dalam hidupnya...
Gilang dipindahkan menjadi manager baru divisi marketing. Anak kesayangan Leon itu, bekerja dengan teliti walaupun sifat aslinya naif. Beberapa laporan keuangan dibandingkan dengan kinerja divisi marketing serta kontrak pembagian hasil kerjasama dengan perusahaan lainnya...
Ratusan juta? Tidak, ratusan miliar dana menghilang dalam periode waktu tiga tahun. Anak tukang mengadu, tidak akan bicara pada atasannya atau karyawan lain. Namun hanya pada Leon sang ayah.
Dengan gagah berani Gilang mengadu pada ayahnya. Hingga pada akhirnya sindiran telak mengalir pada pamannya Agra yang dianggap tidak becus sebagai salah satu direktur.
Gilang melangkah cepat bagaikan pahlawan yang ditemani ayah serta pamannya. Mendatangi divisi keuangan, membawa bukti, melempar tepat di hadapan manager.
"Dimana orang bernama Simon!?" bentaknya.
"Aku..." Simon bangkit dengan ragu.
"Kenapa kamu menyelewengkan dana sebesar..." kata-kata Gilang terpotong dengan suara batuk dari sang ayah.
Mata Simon membulat, jemari tangannya gemetaran seketika. Korupsi? Namun bukan hanya dirinya yang melakukan. Dirinya hanya mendapatkan komisi yang terkecil. Kenapa hanya tertuduh seorang diri?
Leon mulai bicara, "Putraku menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan, saat membaca data penjualan tahun lalu. Kamu mengambil dana seorang diri atau ada orang yang menyuruhmu?" tanyanya berpikir jernih. Kasus korupsi sebesar ini tidak ada yang menyadari, apalagi dilakukan oleh pegawai biasa? Tidak, pasti ada orang-orang lain yang terlibat.
Manager keuangan mulai mendekat, berpura-pura menangis iba. Memeluk tubuh Simon,"Kamu sudah seperti putraku, kenapa malah melakukan korupsi. Jika butuh uang katakan padaku..." ekting memuakan darinya. Sejenak berbisik di telinga Simon, "Tanggung semuanya, menggantikan kami. Jika tidak, nyawa istrimu akan habis," ucapnya.
Simon tertegun, wanita br*ngsek itu entah mengapa masih ada dalam hatinya. Istri? Mungkin status itu yang menahannya. Hingga sang manager keuangan melepaskan pelukannya.
"Aku...aku melakukannya seorang diri..." ucapnya menutup matanya, menanggung semua kesalahan di pundaknya.
Leon menghela napas kasar,"Kamu memilihnya sendiri, jika kamu menyebutkan nama orang lain maka aku akan dapat menyelidikinya. Karena memilih menanggung seorang diri. Terima akibatnya..." ucapnya berjalan pergi menatap dingin, diikuti putra kesayangannya.
"Agra!! Urus bawahanmu!!" perintah Leon, menepuk bahu adiknya.
***
Semua diterimanya, demi hidup istrinya. Mempertaruhkan semua yang dimilikinya, ikhlas awalnya memang begitu. Berharap dapat menemui istri yang dicintainya, istri yang dengan sabar menunggunya selama dirinya mendekam di penjara.
Tidak satupun, petinggi Bold Company yang menikmati uang dalam jumlah besar itu menjenguknya. Bahkan manager divisi keuangan sekalipun.
Namanya di blacklist dari semua perusahaan? Awalnya tidak masalah baginya. Mungkin dengan dukungan istrinya, dirinya dapat bangkit perlahan.
Hingga surat gugatan cerai diterimanya. Wanita itu datang bersama pria lain, pria yang terlihat lebih kaya darinya, serta seorang pengacara.
__ADS_1
"Maaf, kita harus berpisah, aku tidak dapat hidup susah dengan pria mandul sepertimu lagi..." istrinya berucap, sembari tersenyum.
"Mandul!? Kamu yang selalu meminum obat kontrasepsi!!" bentak Simon, air matanya mengalir tidak dapat menerima kata-kata yang keluar dari mulut istrinya.
"Begini, mobil dan rumah akan dibagi dua sebagai harta gono-gini. Alasan perceraian, karena kamu melakukan tindakan kriminal, tidak memberikan nafkah selama beberapa bulan, kekerasan dalam rumah tangga, cek-cok yang..." kata-kata pengacara yang dibawa istrinya terhenti.
Simon meraih kerah kemeja pria paruh baya itu,"Kamu tau apa? Aku bahkan tidak pernah membiarkannya menyapu rumah!! Kekerasan? Jangan bercanda!!" bentaknya, hatinya benar terasa sakit saat ini.
"Ada bekas luka di lengannya, walaupun sudah hampir menghilang..." kata-kata sang pengacara kembali disela.
"Itu karena dia jatuh saat mabuk, tangannya tidak sengaja terkena pecahan gelas..." ucap Simon, mengatakan yang sebenarnya.
Jemari tangan yang mencengkram jas sang pengacara ditepis,"Siapa yang peduli, kata-katamu yang tidak memiliki bukti,"
"Nyonya, Tuan, kita sudah menyerahkan surat gugatan. Sebaiknya kita segera pergi..." lanjutnya tersenyum, diikuti kedua kliennya.
Sejenak langkah wanita cantik yang akan menjadi mantan istrinya itu terhenti,"Oh iya, aku lupa bilang, alasan aku meminum obat kontrasepsi karena tidak ingin memiliki anak dari pria sepertimu. Pria yang tidak bisa diajak hidup bersenang-senang..." ucapnya penuh senyuman.
Simon tiada hentinya menitikkan air mata, karena menjaga nyawa wanita k*parat itu dirinya harus dipenjara menanggung semuanya seorang diri. Terlibat korupsi? Itu juga karena membayar biaya perawatan wajah istrinya yang tidak sedikit.
Apa ini kesalahannya? Tidak, ini kesalahan dunia yang terlalu kejam padanya. Orang-orang itu harus mati... orang-orang yang dapat hidup bahagia dalam penderitaannya...
Hingga kesempatan itu tiba, Frans datang menemuinya yang berada dalam penjara. Pria itu tersenyum padanya.
"Aku bisa membantumu lepas dari jeratan hukum. Merekayasa bukti, hingga hanya harus mengganti sedikit uang yang kamu ambil dari Bold Company. Asalkan jawab pertanyaanku, apa kamu ingin balas dendam?" tanyanya.
"Aku ingin membunuh mereka," tangisannya terdengar terisak. Merasa semua ini tidak adil untuknya
"Siapa saja yang akan mati...?" tanyanya kembali, duduk di hadapan Simon.
Satu persatu nama disebutkannya, termasuk Leon dan Agra. Namun, nama dua orang sasaran utamanya tidak disebutkan sama sekali olehnya. Mantan istrinya dan Gilang...
***
Aneh begitulah perasaannya, Frans memberikan uang dalam jumlah fantastis padanya, atas perintah majikan aslinya. Mentransfer uang secara rutin setelah melepaskan Simon dari penjara.
Sasaran pertamanya, adalah mantan istri yang dahulu dicintainya. Sedang untuk penutupan tentu saja Gilang, pemuda yang paling dibencinya.
Sejumlah uang ditariknya, merencanakan rencana yang matang. Menunggu istrinya di sebuah club'malam. Hujan, mengguyur dengan deras saat itu. Dugaannya benar, wanita cantik itu keluar dalam keadaan mabuk.
Memakai pakaian minim, berjalan ke area toilet yang tidak memiliki CCTV.
Jemari tangannya tiba-tiba ditarik, melalui jalan keluar belakang yang sepi. Tanpa penerangan, area belakang club'malam.
Petir menyambar di tengah hujan, wajah pria yang menariknya terlihat. Simon memakai setelan hitam serta masker yang sudah diturunkannya sedagu. Menampakan wajahnya secara sempurna.
"Simon bodoh aku tidak pernah mencintaimu," racaunya dalam keadaan mabuk.
Simon memeluknya, kemudian tersenyum penuh kebahagiaan,"Tapi aku mencintaimu..."
Berpelukan dalam hujan, tidak melepaskan tubuh wanita yang dicintainya. Tubuh keduanya basah, air berwarna merah mengalir di bawah kaki Simon dan mantan istrinya.
Mata wanita itu telah terpejam sempurna, air mata Simon mengalir bercampur dengan tetesan air hujan.
Tikaman di jantung? Tentu saja itulah yang dilakukannya. Mengakhiri segalanya, mengakhiri rasa cinta yang menyakitkan.
Pria bodoh yang memulai cintanya, mengakhirinya dengan tangis.
Area belakang club'malam yang sepi, tanpa satupun pemukiman, dalam kondisi hujan deras. Dirinya memeluk tubuh dingin yang telah ditikamnya itu semakin erat. Hingga berakhir melepaskannya terkulai tanpa napas di atas tanah berlumpur. Meninggalkan tubuh wanita cantik seorang diri...
Dosa pertama yang ditorehkan tangan penuh dendam...
__ADS_1
Bersambung