Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Harapan


__ADS_3

Kamar Frea, saat ini...


"Hanya ingin!? Mana ada orang menikah dengan alasan hanya ingin?" bentak Frea kesal, sejenak kemudian sebuah pesan masuk ke phonecellnya. Kali ini pesan dari ibunya.


'Kenapa belum datang juga? Cepat pulang!' mungkin begitulah isi pesan yang dikirim Ririn.


"Aku harus pulang," Frea menghela napas kasar, merasa lelah dengan segalanya. Berjalan menuju meja rias menyisir rambut dan mengambil tas serta dompet.


"Pulang? Boleh aku ikut? Aku ingin bertemu dengan orang tuamu..." Tomy tersenyum, mengikuti langkah Frea.


Frea mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar, "Boleh, tapi aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Tidak disangka dengan orang sepertimu," keluhnya.


"Ibuku ingin menjodohkanku hari ini. Jadi agar ibuku menyetujuimu sebagai menantunya berbohonglah. Katakan kamu bekerja di perusahaan atau sebagainya. Mengerti?" tanyanya pada Tomy, dijawab dengan anggukan oleh pemuda itu.


***


Rencana sudah disusun, setelan jas dikenakan sang pemuda. Turun dari taksi bersama Frea, kumat-kamit melatih Tomy untuk berbohong, itulah yang dilakukan Frea selama perjalanan. Tidak mengetahui identitas sebenarnya dari suaminya.


"Jika ditanya pekerjaanmu apa, apa yang akan kamu jawab?" tanya Frea melatih suaminya berbohong.


"Staf marketing..." jawab Tomy mati-matian menahan tawanya.


"Pendidikan?" tanya Frea kembali.


"S1 Ekonomi, universitas swasta dalam negeri..." jawabnya kembali.


"Bagus, ayo kita masuk..." Frea menggengam erat tangan Tomy. Melindungi? Walau bagaimanapun dirinya dan Tomy sudah menikah. Berprinsip, mungkin itulah salah satu kelebihan Frea.


Adrian telah pergi sedari tadi, Fani? Mengetahui kedatangan Frea bersama suaminya, gadis itu ingin pamer lebih banyak lagi. Meminta kekasihnya Yahya (manager anak cabang perusahaan JH Corporation) untuk datang.


Hanya empat orang yang berada di ruang tamu saat ini Johan (ayah tiri Frea), Ririn, serta Fani dan kekasihnya.


Frea menghela napas kasar, melirik pemuda yang berdiri di sampingnya. Wajah penuh senyuman ramah yang polos itu berubah seketika. Menjadi wajah dingin dengan arogansi tinggi, bagaikan makhluk kalangan atas yang dapat menginjak siapa saja yang diinginkannya.


Nice, Tomy ekting yang bagus, kamu terlihat seperti anak konglomerat di film-film... gumam Frea dalam hati bangga dengan ekting suaminya. Tapi apa itu hanya ekting? Atau memang karakter lain dari Tomy?


ART menghidangkan dua cangkir teh lagi, menatap kedatangan Frea dan Tomy, yang mulai duduk di sofa.


"Malam ayah, ibu..." Frea sedikit tertunduk, tersenyum pada Johan dan Ririn.


Johan menghela napas kasar memulai pembicaraan,"Frea, ibumu mengatakan kamu baru saja menikah. Sebenarnya ayah ingin mengatur perjodohan untukmu. Ayah..." kata-katanya disela.


"Bagus, jika anda sudah tau, kami sudah menikah..." Tomy sedikit tersenyum terlihat tenang tanpa emosi, menyesap cangkir teh. Aura dingin yang terasa mendominasi, dari orang yang terbiasa menangani makhluk kalangan atas.


"Jadi, kamu suaminya Frea? Kelihatannya usiamu jauh di bawah kakakku, usia kakakku sudah 34 tahun. Kelihatannya saja masih muda dia..." kata-kata Fani bagaikan angin lalu, tidak ada yang mendengarkan. Tidak diindahkan siapapun.


"Apa pekerjaanmu?" kata-kata yang langsung terhujam dari mulut Ririn.

__ADS_1


Tomy, ayo ingat staf marketing, staf marketing... gumam Frea dalam hatinya, ketakutan.


"Asisten..." jawabnya jujur penuh keangkuhan.


Kenapa jadi asisten!? Kamu gila ya? Tidak ingat yang aku ajarkan? IQ-mu sangat rendah ya... kesal Frea ingin rasanya berteriak mencakar-cakar wajah rupawan suaminya saat ini.


Ririn tertawa kecil,"Asisten? Kalau hanya asisten artis tidak mungkin dapat menyaingi pria yang akan kami jodohkan..." kata-katanya terhenti sejenak.


"Asisten dari pemilik perusahaan, jabatanku lebih tinggi dari sekretaris atau direktur," lanjutnya, menghela napas kasar, terlihat jenuh.


Frea mengenyitkan keningnya kesal, Lebih tinggi dari direktur? Kebohongan yang keterlaluan!! Setidaknya jika berbohong menjadi staf, aku dapat memohon salah satu temanku agar kamu berfoto di kantornya, untuk membuatkan bukti. Tapi jika lebih tinggi dari direktur? Matilah aku, bagaimana membuktikannya...


Johan menghela napas kasar, "Apa pendidikan terakhirmu?" tanyanya.


S1 jurusan ekonomi, universitas swasta dalam negeri. Hal sekecil ini apa kamu bisa salah menjawab lagi, dalam taksi kita sudah belajar berbohong berkali-kali. Aku mohon jangan menjawab yang aneh-aneh... gumam Frea dalam hatinya, menatap ke arah suaminya penuh harap, akan kata-kata yang akan keluar dari mulut pemuda itu.


"Gelar master jurusan bisnis, National University of Singapore," Tomy kembali menjawab dengan jujur.


Tubuh Frea melemas, tidak memiliki cara untuk berbohong lagi. Mengingat kata-kata gila, mustahil bin ajaib yang keluar dari mulut suaminya. Mulut yang ingin dihajar sekali saja olehnya.


Johan mulai menatap jenuh, tidak percaya? Tentu saja, namun dirinya harus kembali bertanya bukan? Agar membuka mata putri tirinya untuk bercerai dan menerima perjodohan, "Maaf di perusahaan mana kamu bekerja? Bukannya aku menuduhmu, atau mencurigaimu. Tapi aku tidak ingin putri tiriku ditipu..."


"JH Corporation, asisten pemilik perusahaan..." jawab Tomy dengan raut wajah tenang.


Fani tersenyum, memiliki celah untuk menentang kakaknya, mengingat Yahya bekerja di anak cabang perusahaan tersebut."Berarti kamu atasan Yahya? Jabatanmu jauh lebih tinggi? Pacarku adalah manager di anak cabang perusahaannya,"


"Yahya kamu mengenalnya?" Johan mengalihkan perhatiannya pada calon menantunya.


"Ternyata penipu, akhiri pernikahan kalian! Frea dia bisa saja suatu saat nanti akan mengambil alih toko-tokomu, kemudian meninggalkanmu..." Ririn menghela napas kasar.


Frea mencubit paha suaminya,"Benarkan terbongkar dengan mudah?" ucapnya berbisik kesal.


Tomy tersenyum, "Apa kamu dari perusahaan konveksi?" tanyanya pada Yahya, mengingat salah satu cabang JH Corporation di kota tersebut.


Yahya mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Menatap pemuda yang kira-kira seusia dengannya.


"Hera (direktur perusahaan konveksi), aku akan memintanya untuk lebih meninjau para managernya..." ucapnya, menghela napas kasar, mulai bangkit,"Jika kalian menganggapku sebagai penipu, tidak apa-apa,"


"Frea..." Tomy mengulurkan tangannya, agar istrinya ikut bangkit. Dengan ragu, Frea mulai bangkit, berjalan pergi bersama Tomy.


Hera? Mendengar nama itu, wajah Yahya pucat pasi, sedikit menerka-nerka kebenaran ucapan pemuda di hadapannya.


"Tunggu! Frea, dia hanya seorang penipu! Kamu mau memiliki suami seorang penipu?" tanya Ririn memperingatkan.


Ibu, ini lebih buruk, dia seorang gigolo... gumam Frea dalam hatinya berusaha tersenyum.


"Ibu, ini adalah pilihanku, jangan mencemaskanku..." ucapnya tenang kembali melangkah pergi. Bagaikan anak yang pamit pergi dengan pria yang benar-benar dicintainya, menghadapi dunia.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu melangkah meninggalkan rumah perlahan. Benar-benar terlihat saling mencintai, Frea menggengam erat jemari tangan suaminya, bahkan terlalu erat.


"Sakit..." Tomy meringis, mengibas-ngibaskan jemari tangannya. Setelah sampai di area depan rumah.


"Tau sakit!? Kenapa bertindak tidak sesuai rencana?" ucap Frea kesal.


"Maaf, sebagai hukumannya mau aku gendong hingga halte bis?" tanya Tomy, sedikit membungkuk, membelakangi Frea, bagaikan memberi jalan bagi gadis itu untuk naik.


"Kekanak-kanakan!!" Frea mengalihkan pandangannya.


"Ini menyenangkan, lagi pula jalan menuju halte terlihat sepi, tidak akan ada yang menertawakanmu..." ucapnya.


Memiliki suami yang berusia lebih muda? Mungkin tidak apa-apa, untuk sedikit menunjukkan sisi kekanakan yang lemah. Perlahan Frea mulai tertarik untuk naik ke atas punggung kokoh di hadapannya. Dagunya menyender di pundak pemuda yang berjalan sembari tersenyum.


"Siapa Hera?" tanyanya pada Tomy.


"Direktur perusahaan konveksi..." jawabnya.


Frea mengenyitkan keningnya menatap curiga,"Salah satu customermu? Kamu pernah berapa kali melakukan janji temu (kencan) dengannya?" tanyanya masih mengira suaminya adalah pria penghibur.


"Janji temu (rapat atau menyerahkan dokumen)? Cukup sering terkadang di kantor pusat atau hotel..." jawabnya jujur.


"Kamu cukup ahli ya?" gerutu Frea kesal.


"Tentu saja, aku seorang profesional..." Tomy membanggakan dirinya sendiri.


Menyebalkan!! Suamiku pernah dijamah berbagai wanita!! Sedangkan dia mendapatkan aku yang original!! Tidak adil... wajah Frea terlihat kesal, antara merasa tidak adil dan cemburu.


Hujan mulai turun di sela perjalanan mereka, Tomy segera berlari menuju pertokoan yang sudah tutup. Perlahan menurunkan Frea disana, memberikan jasnya untuk menghangatkan tubuh Frea.


"Maaf..." ucapnya tersenyum, menggosok-gosok jemari tangan istrinya, tidak ingin Frea kedinginan sedikitpun.


"Tomy, kenapa kamu menikahiku?" tanyanya, menatap pemuda di hadapannya.


"Karena aku mencintaimu..." ucap Tomy tersenyum tulus.


"Kita belum pernah bertemu sebelumnya, dan aku..." kata-kata Frea terhenti.


"Apa kamu belum menyukaiku? Tidak apa-apa, jangan dipaksakan... Jika suatu saat nanti kamu bertemu orang yang benar-benar kamu cintai, aku berjanji akan melangkah mundur..." ucapnya tersenyum hangat. Menggenggam jemari tangan Frea, mengingat wajah bahagianya saat Vincent dulu masih ada dalam kehidupan istrinya.


"Jangan sampai istriku kedinginan?" lanjutnya merangkul bahu Frea, menunggu hujan deras di hadapan mereka reda. Frea menatap wajah putih yang juga terlihat kedinginan, tidak rela? Mungkin itulah perasaannya saat ini. Walaupun hanya dua hari, memiliki suami yang menjaganya bagaikan seperti sebuah mimpi baginya.


Tomy terdiam menatap tetesan air hujan, jemari tangannya masih mengerat merangkul istrinya, seolah takut akan kehilangannya.


Apa kamu masih mencintainya (Vincent) ? Aku sudah bisa bicara, tidak bisakah kamu belajar mencintaiku? Apa dia begitu berarti bagimu...


Jika kamu tidak bahagia bersamaku, dan dia hadir kembali. Aku tidak tau, apa aku masih memiliki keberanian bersikukuh untuk bersamamu... Tolong jangan mencintainya lagi...

__ADS_1


Pesan dari Vincent? Benar, salah satu pesan yang masuk di handphone Frea, tidak sempat dibaca gadis itu berasal dari Vincent, anak pemilik restauran tempatnya dulu bekerja. Pesan yang diam-diam dihapus Tomy saat gadis itu tengah menangis merutuki nasibnya.


Bersambung


__ADS_2