
Luka di tangannya sudah diobatinya. Namun, sisa pecahan gelas masih berserakan. Begitu pula dengan isi kotak P3K yang masih berhamburan. Sebuah notifikasi pesan masuk ke handphonenya.
Benar, itu dari Simon, meminta kiriman uang untuk membeli mobil baru. Rangga memejamkan matanya sejenak, terlalu melelahkan baginya. Namun, rasa sakit di hatinya belum juga pudar.
"Apa setelah Suki merasakan kehilangan, rasa sesak di dadaku akan hilang?" gumamannya bertanya pada dirinya sendiri, masih menatap langit-langit kamar.
Hingga jemari tangannya terangkat, selalu seorang diri mengobati lukanya. Motivasi hidupnya mungkin hanya balas dendam. Hingga pandangannya beralih, menatap ke arah balkon.
Perlahan mulai bangkit hendak merasakan terpaan dinginnya angin di pagi hari.
Pandangannya beralih, mengenyitkan keningnya, menatap Gilang, duduk seorang diri di area taman mencoba menghubungi seseorang.
Kehilangan? Mungkin itulah yang akan dirasakan pemuda yang begitu mengagumi ayahnya itu. Apa sebuah kehilangan pantas untuknya?
Rangga terdiam, menatap satu-satunya orang yang menghargai kehadirannya sebagai anak adopsi 21 tahun yang lalu. Pemuda itu, mulai keluar dari kamarnya, berjalan hendak menemui Gilang.
***
Langkahnya terhenti, menatap seseorang yang dianggapnya sebagai seorang adik, kini telah tumbuh dewasa. Perlahan kembali berjalan mendekatinya dengan ragu ...
"Mau soda?" Rangga tersenyum, yang memang membawa dua kaleng soda, guna memulai pembicaraannya.
"Terimakasih, omong-ngomong ini dari uangmu sendiri kan? Bukan dari kulkas dapur?" tanya Gilang hendak menarik kata terimakasih, jika yang diberikan Rangga berasal dari rumahnya sendiri.
Rangga tertawa kecil, berjalan duduk di bangku taman panjang di samping Gilang. "Tomy, memberi gaji pertamaku hari ini, gajinya diberikan mingguan..."
"Owh..." Gilang meminum sekaleng soda dalam genggamannya tanpa rasa bersalah.
"Dasar..." kebiasaannya sebagai seorang Kenzo tidak menghilang, merangkul bahu Gilang, usai mengacak-acak rambutnya.
Gilang tertegun, menghela napas kasar tersenyum, entah kenapa rasanya cukup mengenal sosok Rangga. Hanya perasaan nyaman bagaikan seorang kakak.
"Namamu Gilang bukan? Kenapa sendirian disini?" tanya Rangga mengenyitkan keningnya.
"Aku baru selesai membicarakan masalah perusahaan dengan paman dan saudari sepupuku,"
Gilang tertawa kecil, menatap ke arah Rangga."Entah kenapa, aku merasa bersyukur perusahaan mengalami masalah. Setidaknya keluarga kami tidak bertengkar lagi saling mencari kelemahan dan menjatuhkan. Hanya berusaha bersama mengatasi masalah,"
"Aku bodoh bukan?" lanjutnya.
Rangga mengangguk, tersenyum,"Bodoh dan terlalu naif. Tapi membuatku iri dengan jalan fikiranmu. Lalu apa yang membuatmu memegang handphone dengan cemas?"
__ADS_1
"Temanku, dia baru pindah ke luar kota. Tapi nomor handphone yang diberikannya tidak dapat dihubungi..." jawab Gilang, masih menghela napas, meminum seteguk soda.
"Dia tidak ingin bertemu atau berhubungan denganmu lagi. Itulah alasannya..." Rangga menghela napas kasar.
"Gendut, tidak mungkin..." kata-kata Gilang disela.
"Wanita yang ada di meja makan kekasihmu kan?" tanya Rangga, dijawab dengan anggukan oleh Gilang.
"Apa sahabatmu seorang wanita?" tanya Rangga lagi.
"Iya, dia wanita, tapi hubungan kami hanya sebatas sahabat..." jawab Gilang.
Rangga menghela napas kasar, menatap ke arah bintang yang bertaburan di langit."Seseorang cenderung menghindar jika menunggu sesuatu yang sudah pasti tidak dapat diraihnya. Tidak ingin merasa sakit terlalu lama..."
"Aku memahami perasaan sahabatmu..." lanjutnya.
Memahami? Mungkin iya, terlalu menyakitkan baginya selama 8 tahun mengejar kasih sayang Suki yang tidak pernah menganggapnya sebagai cucu, bahkan bagian anggota keluarga.
"Maksudnya?" Gilang mengenyitkan keningnya, tidak mengerti.
"Dia ingin memilikimu, tapi sudah mengetahui tentang kekasihmu, hingga dia memutuskan untuk menyerah dan pergi. Agar tidak merasakan sakit melihat kalian bersama..." jawab Rangga, kembali menghela napas.
"Jangan bercanda gendut tidak mungkin..." kata-kata Gilang disela.
"Menyukai? Kamu sudah gila ya!? Dia tidak cantik sama sekali!! Sudah dua tahun kami berteman, hanya teman biasa!!" bentak Gilang, tidak terima.
"Aku menyukainya, wanita seperti itu, mungkin aku akan menyukainya..." Rangga kembali tersenyum, menatap ke arah bintang.
"Kamu tidak salah kan? Dia gemuk dan..." kata-kata Gilang untuk kesekian kalinya terpotong.
"Menunggu seseorang memandangnya selama dua tahun memerlukan kesabaran yang gila-gilaan. Melihat, sepasang insan bermesraan setiap hari, dengan tabah menangis di pojokan..."
Tawa Rangga terdengar lebih kencang,"Aku ingin ditemani orang seperti itu. Pasti menyenangkan untuk selalu mengganggunya,"
Gilang mengepalkan tangannya, cemburu yang tidak disadari? Mungkin itulah perasaannya saat ini. "Gendut, tidak akan mau denganmu!! Dia sahabat terbaikku!!" bentaknya, berjalan pergi bagaikan anak kecil yang merajuk.
Rangga masih terdiam menatap ke arah bintang,"Bocah itu (Gilang), bahkan lebih beruntung dariku. Membuang orang menempel padanya selama dua tahun, tanpa peduli dilukai. Andai orang seperti itu ada dihidupku, aku akan mengurungnya..." gumamnya tertawa kecil.
***
Wanita berpakaian minim, berjalan menuruni anak tangga, membawa segelas susu. Apalagi triknya hari ini? Leon tidak ada di rumah, saatnya menguji kemampuan putra dari pria paruh baya itu.
__ADS_1
Susu dicampur dengan afrodisiak (penambah gair*h). Berjalan dengan riasan wajah tipis, pakaian minim yang menggoda. Dapat membuat panas dingin pria manapun yang berada di dekatnya.
Hingga sosok pemuda polos bermulut pedas itu terlihat. Perlahan Keyla berjalan mendekatinya, "Gilang, kamu belum tidur? Kebetulan aku membuat segelas susu, kamu mau?" tanyanya.
Pemuda itu masih kesal bersungut-sungut, meraihnya, tanpa meminumnya,"Rangga bilang akan menyukai si gendut. Apa dia sudah gila!? Mereka tidak boleh bersama..." ucapnya meracau, seakan membayangkan dua insan itu benar-benar bersama.
"Tenang, minum dulu ya?" Keyla berusaha bersabar.
Gilang mendekatkan bibirnya pada gelas, mata Keyla membulat penuh harap pemuda itu akan meminumnya.
"Tidak boleh!! Gendut terlalu lugu, wajah Rangga seperti play boy..." Gilang kembali menurunkan segelas susu yang hendak diminumnya.
"Mereka tidak saling mengenal, Rangga hanya asal bicara. Lebih baik minum susu, setelah itu tidur ya!?" Keyla kembali berusaha membuat Gilang meminum susu buatannya.
Pemuda itu, kembali mengangkat gelas, hendak meminum susu. "Aku tidak boleh membiarkan mereka bertemu..." ucapnya, kembali menurunkan gelas yang hendak menyentuh bibirnya.
Keyla berusaha tersenyum, ingin rasanya wanita itu mencekoki mulut kekasihnya, dengan segelas susu. Membawanya ke tempat tidur, agar Leon tidak punya pilihan lain selain membiarkan putranya menjadi suami dari seorang Keyla.
"Minum susunya dan segeralah tidur ya..." Keyla menghela nafas kasar.
Tangan Gilang kembali terangkat hendak meminum segelas susu di tangannya. Entah keberuntungan anak baik, atau almarhum sang ibu yang masih melindunginya.
Tiba-tiba tangan Rangga muncul, merebut susu di tangan Gilang kemudian meminumnya hingga tandas. "Tidur!! Kembali ke kamarmu!!" ucapnya pada Gilang.
"Dan kamu, aku akan membuat perhitungan denganmu!!" Rangga menatap tajam pada Keyla, segera naik dengan cepat ke lantai dua.
Keyla tertegun dalam keheningan, menatap Gilang menurut kembali ke kamarnya.
"Rumah ini dipenuhi pria tampan, tapi hampir semua dari mereka buta, tidak dapat melihat kecantikanku. Satu-satunya yang tidak buta, malah anak kesayangan papanya..." gumamnya, merutuki nasib buruknya.
***
Sedangkan di lantai dua, Rangga berendam air dingin dalam bathtub. Sembari meminum banyak air putih.
"Wanita sialan!!" umpatnya.
Bersambung
...Sampah bagi kita, terkadang merupakan harta tidak ternilai bagi orang lain......
...Hargai yang kamu miliki sekarang, cepatlah menyadari betapa berharganya benda yang kamu abaikan......
__ADS_1
...Sebelum orang lain memungut, kemudian lebih mencintai dan menghargainya......
Author