
šššš Karena Flashback, update lebih dari sekali. Tenang, bawangnya nggak banyak kok. Cuma cabe aja yang kelebihan...šššš
Matahari menembus tirai jendela sebuah ruangan, selimut terlihat masih berantakan. Kejadian semalam masih terbersit jelas di ingatan seorang wanita dengan banyak tanda merah menghinggapi sekujur tubuhnya...
***
Hujan turun dengan lebat, disertai kilatan petir, Mike tengah berada di kantornya mengerjakan pekerjaan yang tiada habisnya. Sedangkan Jimy, pria yang bersetatus sebagai suami sang wanita, entah berada dimana. Sedang menemani klien minum, itulah alasannya.
Cinta yang benar-benar tulus pada Jimy, membuatnya mempercayai semua kata-katanya. Malam ini dirinya seorang diri di rumah.
Tak...
Suara pintu dikunci terdengar, tangan basah seseorang terasa menyingkap sedikit pakaiannya... Jimy... racaunya dalam hati, masih enggan membuka matanya. Dirinya sedikit meringis kala orang tersebut, mengigit lehernya. Jemari tangannya, merayap di sekujur tubuh Lia.
Namun ada yang aneh, bukan sepasang tangan milik seseorang. Namun, ada satu tangan lagi berusaha melepaskan celana panjang yang dipakainya.
Lia membuka matanya, menyadari seseorang yang menjamah tubuhnya, namun bukan suaminya yang belakangan ini jarang pulang,"Kalian...!!" teriaknya berusaha bangkit, dari kungkungan dua pria yang seharusnya membunuh anak gagap paling dibencinya.
Mulutnya di bungkam menggunakan tangan,"Dengar, kami hampir mati karena tugas dengan bayaran tidak seberapa. Jadi agar kita lolos dari kematian, diam dan nikmati. Lihatlah ke arah handycam, seolah-olah anda puas dengan pelayanan kami..." ucap pria yang berada di atas tubuhnya membelai pipi Lia dengan pisau.
Sedang, pria lainnya meletakkan handycam di atas meja, menghadap ke arah tempat tidur. Pakaiannya sendiri, mulai ditanggalkan satu persatu. Menjamah tubuh Lia, sesuai perjanjian hidup dan mati pada Tomy.
Tidak dengan kasar? Tomy ingin melihat Lia menikmatinya bukan? Dengan bodohnya Lia meracau, merasakan berbagai rangsangan, yang diberikan dua orang pria berusia produktif. Tentunya lebih muda dari usianya. Awalnya menolak dan melawan, namun memang sesuatu yang perlahan dinikmatinya, tidak dapat ditolaknya.
Penyebabnya, suaminya jarang berada di rumah. Menemani klien minum, hanya itu alasan yang keluar dari mulut Jimy setelah belasan tahun pernikahan mereka. Mungkin karena itu pula, Mike yang baru setahun ini tinggal kembali tinggal bersama Jimy menyesali keputusannya meninggalkan Adrian. Terasa, hanya dirinya sendiri yang sibuk mengurusi perusahaan dengan keuangan dan manajemen buruk.
Entah berapa kali Lia dipuaskan, dengan suara erangan yang keluar dari mulutnya, tidak berdaya untuk menahannya. Hingga pada akhirnya tubuhnya mulai lemas. Pria yang berada di atas tubuhnya berbisik,"Anak tirimu menitipkan pesan, bertahun-tahun mencemooh ibuku sebagai wanita malam? Bagaimana rasanya, jika orang asing menikmati tubuhmu, hanya demi bertahan hidup? Jika rasanya menyenangkan, artinya kamu lebih rendah dari ibuku..." ucap pria yang berada di atasnya dengan napas terengah-engah.
Anak gagap sialan!! Anak haram dari wanita murahan... umpat Lia dalam hati, hingga akhirnya memejamkan matanya akibat kelelahan.
Dua orang pria yang menjamah tubuhnya mulai berkemas mengenakan pakaian, mengambil sisa alat pengaman untuk dibuangnya. Merasa tugas mereka telah usai, tidak perlu takut dikejar oleh kematian lagi. Lia? Wanita itu ditinggalkan tidak berdaya di atas tempat tidur. Hasil rekaman, tentu saja dikirimkan pada Tomy.
***
Lia menutupi tubuhnya dengan selimut, merasakan hangatnya sinar matahari,"Anak gagap sialan!!" umpatnya kesal, menitikkan air matanya. Menikmatinya? Tentu saja, namun harga dirinya tidak dapat menerima. Jemari tangannya gemetaran mencoba menghubungi suaminya.
Panggilannya mulai terhubung,"Jimy, segeralah pulang aku..." kata-kata Lia terhenti.
"Maaf, om Jimy sedang..." terdengar suara wanita muda dari sana, diiringi suara handphone bagaikan direbut.
"Lia, maaf aku baru bangun, tadi ART di rumah temanku, yang angkat. Aku sebentar lagi pulang..." ucap Jimy terdengar gelagapan.
"Iya," kali ini Lia menjawab dengan singkat, berada di posisi Adrian? Mungkin begitulah dirinya kini. Menutup panggilannya menatap ke arah cermin.
32 tahun yang lalu...
Semua telah diberikan olehnya, pada sang kekasih yang kini tengah kuliah. Sekali? Tidak mereka sudah sering berhubungan layaknya suami-istri. Wanita tercantik di SMU itulah sosok Lia saat itu.
Hatinya hanya tertuju pada Jimy, yang berasal dari keluarga biasa. Hingga sang kekasih memohon sesuatu yang tidak masuk akal padanya. Membawa seorang pemuda rupawan.
"Lia, perkenalkan ini temanku Leon, dia akan membiayai kuliahku di luar negeri..." ucap Jimy memperkenalkan pemuda yang dibawanya.
"Aku Lia, terimakasih..." hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Lia, merasa jika masa depan Jimy cerah, masa depannya juga akan cerah bukan?
"Ini tidak gratis, orang tidak mampu seperti kalian harus tau diri," ucap Leon tersenyum.
"Tidak gratis?" Lia mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Begini, Lia kamu tau Adrian yang sekelas denganmu? Jika kamu mendekati dan menikah dengannya, Leon akan membiayai kuliah serta kehidupanku di luar negeri," ucap Jimy menggenggam jemari tangan Lia.
"Jimy!! Jangan sembarangan!! Aku ...." kata-kata Lia disela.
"Aku mencintaimu, kamu percaya padaku kan? Setelah berhasil nanti, aku akan menikahimu, walaupun harus menunggumu bercerai..." bujuknya.
__ADS_1
Leon menghela napas kasar,"Kamu tidak lelah hidup pas-pasan? Aku mengenal sifat Adrian dengan baik. Dia tidak akan membiarkanmu menginjak sedikitpun lumpur(memanjakan)..."
"Tapi..." kata-kata Lia disela.
"Lia, aku mohon percayalah padaku, adikmu membutuhkan biaya sekolah bukan? Leon akan membantumu," bujuk Jimy, mengeratkan genggaman tangannya.
Keputusan yang benar-benar gila, namun tatapan penuh harap dari Jimy membuatnya tidak berdaya untuk menurut. Naik kasta menjadi kalangan atas? Siapa yang tidak menginginkannya?
***
Remaja rupawan yang tengah konsentrasi belajar, tidak peduli dengan gadis manapun. Itulah sosok Adrian saat itu.
"Aku bisa..." Lia mengeratkan tangannya penuh tekad. Wanita itu berjalan mendekat duduk di sampingnya,"Kamu mau?" ucapnya menyodorkan sekotak kue kering.
"Em," Adrian meraih, kemudian memakannya.
"Enak bukan? Aku membelinya dari toko kue dekat halte," jemari tangan Lia mulai bergerak, menggenggam tangan Adrian. Tatapan mata pemuda itu beralih dari buku yang dibacanya,"Cantik..." ucapnya tersenyum, memang dari dulu mengagumi sosok Lia dari jauh. Mungkin karena itulah Leon memilihnya, untuk menjatuhkan sang adik.
Tapi kecantikan rupa, dan kebaikan hati yang nampak dari luar membutakan mata Adrian. Menyayangi Lia dengan seluruh hatinya, namun hanya balasan semu yang didapatkannya.
Pasangan kekasih, itulah hubungan mereka saat ini. Hubungan yang mengalir bagaikan air, senyuman palsu selalu ditunjukkan Lia.
Hingga menjelang hari kelulusan, semua telah disusun seorang pemuda yang memberi kesempatan Lia hanya bersama Adrian di rumah.
Semua anggota keluarga, berlibur di villa keluarga. Leon dengan sengaja meninggalkannya yang harus mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian.
Belajar bersama? Itulah alasan yang disusun Lia. Menawarkan minuman beralkohol untuk Adrian. Meminumnya bersama, membuat Adrian membuat kesalahan pertama dalam hidupnya, dengan mengatasnamakan cinta? Remaja yang mabuk untuk pertama kalinya itu membiarkan hasratnya bergerak.
***
Kehidupan bahagia? Adrian kehilangan kesempatannya untuk melanjutkan usaha keluarga. Namun, dirinya cukup bahagia, kala istrinya saat itu tengah mengandung Irgi.
Dengan modal pemberian ayahnya, Adrian melanjutkan kuliah sembari merintis sebuah perusahaan. Melelahkan? Tentu saja, namun semuanya terbayarkan kala, mengelus perut buncit Lia. Bayi dalam kandungan Istrinya menendang aktif, membuatnya tersenyum bahagia.
Tiga tahun berlalu, terbiasa hidup nyaman? Begitulah hal yang dijalani Lia tiga tahun belakangan ini. Pulang pergi dengan supir pribadi, membeli apapun yang diinginkannya. Anak yang dijaga oleh baby sitter, dirinya benar-benar diperlakukan dengan baik.
Melayani suami yang tidak dicintainya hanya sesekali. Mengingat Adrian yang terlalu sibuk dengan perusahaan yang mulai berkembang dan kuliahnya.
Bahagia? Apa ini yang disebut kebahagiaan? Tidak, dengan tidak sabaran Lia pergi menuju sebuah apartemen. Apartemen yang dibelinya menggunakan uang bulanan yang diberikan Adrian.
Enam bulan sekali, selama sebulan, Jimy akan pulang ke Indonesia. Tinggal di apartemen milik kekasihnya, hal yang mereka lakukan? Tentunya melepaskan kerinduan, membuktikan hal yang diagungkan sebagai cinta. Cinta? Apa cinta hanya sesuatu yang melukai hati orang lain.
"Jimy, kapan aku dapat bercerai dengan Adrian?" tanyanya, memeluk tubuh kekasihnya berbalut selimut yang sama.
"Setelah aku membangun usaha sendiri, tidak perlu takut jika hubungan kita diketahuinya. Skandal? Jika dia terlibat sedikit saja skandal atau bercerai darimu, keluarganya akan menarik seluruh saham di perusahaan yang dirintisnya dengan susah payah," jawab Jimy, mengecup pucuk kepala Lia.
Benar-benar sebuah kebodohan, diluar uang yang diberikan Leon. Lia ikut pula mengirimkan uang pada Jimy, tentunya dari hasil kerja keras Adrian.
Alasan Adrian tidak dipilih Suki sebagai penerus perusahaan keluarga (Bold Company)? Tentu saja, pria bodoh yang berhati lembut, tidak mengenali hati seseorang. Hanya menilai rupa fisik dan mulut manis di depan. Mudah dijebak dan terjebak, hanya kembali berusaha bangkit, pintar dalam akademis, ulet, hanya dengan itu tidak dapat digunakan untuk memimpin perusahaan besar.
Menjerat lawan, tidak mudah terjerat, pandai menilai seseorang, mengatur strategi, memiliki kecenderungan berwatak sedikit psikopat. Taukah kalian? Ada sebuah artikel menyatakan beberapa CEO perusahaan besar memiliki kecenderungan psikopat? Tidak membunuh, tapi dengan tega melumpuhkan lawannya tidak mempedulikan apapun. Hanya kecenderungan psikopat, bukan kepribadian psikopat sesungguhnya yang menganggap membunuh adalah kesenangan. Itulah yang dibutuhkan Suki, hanya sebagian yang dibutuhkannya berada dalam diri Adrian, membuatnya keluar dari kandidat yang diperlukan.
***
Tidak disangka, hubungan yang Lia dan Jimy jalani membawa Mike ke dunia ini. Namun api yang dipendam dalam sekam, cepat atau lambat akan diketahui bukan?
Mike saat itu tengah sakit, Adrian bergantian mengawasi dengan Lia di rumah sakit. Malam itu, giliran Adrian yang baru saja pulang dari kantornya menjaga Mike. Membiarkan Lia pulang seorang diri.
Tak...
Sakelar lampu dinyalakannya, Jimy yang baru pulang dari luar negeri di masa liburannya semakin berani saja. Mendatangi rumah Adrian tengah malam, mengetahui ketidak beradaan pemuda itu.
"Jimy!? Kenapa disini? Nanti Adrian..." kata-katanya terhenti dengan kecupan singkat di bibirnya. "Tidak akan ketahuan, jika ketahuan pun dia tidak akan berani menceraikanmu, perusahaannya akan aman selama dia tidak terlibat skandal bukan...?" ucapnya mulai melepaskan pakaian yang dikenakan Lia.
__ADS_1
"Jimy, aku baru satu bulan yang lalu melahirkan, aku..." kata-kata Lia kembali dihentikan.
"Bantu aku..." ucapnya mengigit pelan telinga Lia.
Mengangguk, wanita itu mengerti dengan kata-kata yang keluar dari mulut kekasihnya.
Melepaskan hasrat namun tidak melakukan hubungan layaknya suami-istri. Tidak menyadari seseorang melangkah menaiki tangga, membawa makan malam untuk Lia, meninggalkan Mike dalam pengawasan perawat.
Pintu dibukanya...
"Lia?" Adrian mundur satu langkah, seolah masih mencerna hal yang dilihatnya.
"Adrian, aku..." kata-kata Lia yang tengah merapikan penampilannya yang tidak tidak mengenakan atasan sama sekali terhenti, Jimy yang duduk di tepi tempat tidur hanya mengenakan boxernya saja, mencium bibir Lia singkat.
"Dengar, istrimu selalu dapat memuaskanku. Bahkan tanpa berhubungan seutuhnya," ucap Jimy tersenyum. Cemburu? Tentu saja, andaikan dirinya terlahir di keluarga kaya tidak perlu menyaksikan sendiri pernikahan Lia. Menatap anak Lia dengan pria lain (Irgi), anak yang tidak mungkin ada, jika saja dirinya kaya. Menghina Adrian di hadapannya selagi bisa, hal yang benar-benar dinikmati Jimy saat ini.
Adrian tertunduk menitikkan air matanya, tertawa kecil, menertawakan kebodohannya, "Sejak kapan?" tanyanya. Seakan usahanya untuk memanjakan dan menyayangi Lia tidak ada artinya.
"Dari dulu kami saling mencintai. Putus? Kami tidak pernah berpisah. Aku hanya mengingatkanmu, nasib perusahaanmu tergantung bagaimana harmonisnya rumah tanggamu di depan umum..." Jimy menjawab, tersenyum sembari merangkul Lia.
"Lia!?" teriak Adrian, suaranya menggema seakan meminta penjelasan dari istrinya.
Namun, wanita yang hampir empat tahun dinikahinya itu tidak menjawab, memalingkan wajahnya. Seolah membenarkan kata-kata Jimy.
Tengkuknya kembali diraih oleh Jimy, mencium bibir kekasihnya, dihadapan Adrian.
"Sialan!!" umpat Adrian mengepalkan tangannya. Melempar makanan yang dibawanya asal.
***
Terlalu baik, itulah sosok Adrian saat itu. Ingin memukul, namun scandal pemukulan akan sampai ke permukaan.
Berusaha menjadi suami yang baik bertahun-tahun di usianya yang terlalu muda untuk membangun rumah tangga. Namun, hanya ini balasan yang didapatkannya.
Membalas perselingkuhan, hanya itu jalan yang dapat difikirkannya. Untuk pertama kalinya menyewa wanita pada mucikari yang ditemuinya di sebuah club'malam yang berada satu gedung dengan sebuah hotel.
Pemuda itu tetap menitikkan air matanya, dalam sebuah ruangan,"Aku akan bayar berapapun. Asalkan dia masih perawan..." ucapnya tanpa ekspresi.
"Sulit..." sang mucikari menghela napas kasar. "Ada satu, tapi masih terlalu muda..." ucapnya mengingat seseorang.
"Tidak apa-apa, bahkan saat pertama kali melakukannya, istriku sudah tidak suci lagi. Jika tidak mendapatkannya dari istriku, aku akan mendapatkannya dari wanita lain," racau Adrian yang masih terlalu labil, menangis dalam keadaan kacau.
"Tunggu sebentar..." sang mucikari segera berlari ke tempat lain.
Tak ...tak ...
Suara derap langkah sang mucikari berjalan mendekati emperan pertokoan yang tutup, di dekat club'malam.
"Merlin... Merlin," panggil sang mucikari, membangunkan gadis yang tertidur mendekap adiknya.
Gadis yatim-piatu, itulah dirinya setelah kematian kedua orang tuanya. Sang adik yang masih berusia 6 tahun hendak dibawa ke panti asuhan oleh yayasan sosial. Tidak ingin terpisah dengan sang adik, membuatnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Menjadi pengamen, tukang cuci piring, apapun, hanya agar perutnya dan sang adik terisi.
"Ada apa?" tanyanya, mengusap-usap matanya.
"Kamu mau melayani tamu? Bayarannya besar, kalau dapat bayaran kamu bisa ngekos, sisa uangnya bisa ditabung untuk biaya hidup..." ucap sang mucikari meyakinkan.
"Tapi Adi (adik Merlin) masih tidur..." ucapnya tidak tega.
"Hanya sebentar, nanti pagi-pagi sekali kita kembali bawa banyak uang. Adik kamu pasti juga akan senang bukan?" tanyanya.
Merlin menghela napas kasar, menatap iba pada adiknya yang hanya sekedar makan beberapa minggu ini. Hingga gadis itu akhirnya mengangguk. Dosa besar? Benar, hal itu akan dilakukannya hanya untuk tinggal bersama Adi.
Bersambung
__ADS_1