
"Surprise..." Merlin tersenyum, diikuti dengan menantu, supir, serta managernya. Menurunkan satu-persatu barang yang tidak ada habisnya dari dalam mobil.
"Ibu!?" Tomy mundur satu langkah terkejut, masih mengenakan jubah mandinya turun setelah mendengar suara mobil. "Barang-barang ini?" tanyanya heran.
"Hadiah pernikahan, kamu bilang jika mentraktir kopi saja, pelit. Jadi lebih baik penuhi rumah barumu..." Merlin tertawa, mendekati putranya, merangkul, kemudian menariknya,"Dimana kamarmu? Aku harus memasang ini..." ucapnya membawa rangkaian alat peredam suara.
Dengan cerianya banyak mengoceh berbagai hal pada putranya,"Alat peredam suara diperlukan, jika kamu membuat Frea menjerit bagaimana? Wajahmu saja yang dingin, aslinya di tempat tidur psikopat bukan? Tidak akan melepaskan mangsamu sebelum puas menerkamnya..."
"Ibu!!" Tomy membentak, mengikuti langkah ibunya yang menuju lantai dua.
"Memang hanya seorang ibu yang memahami sifat asli putranya..." Frea menghela napas kasar, memasukkan berbagai macam barang ke lemari pendingin. Lebih mengenal sifat suaminya di tempat tidur.
***
Kamar yang lumayan luas terlihat, Merlin melihat pemandangan malam dari balkon menghela napas kasar sembari tersenyum,"Kamu hidup dengan baik..."
Tomy yang tengah memberi arahan pada pelayan untuk memasang alat peredam suara, mengikuti ibunya, tersenyum padanya,"Lumayan, aku tinggal di yayasan selama lima tahun. Kemudian mengikuti mereka kembali ke Singapura. Anak angkat dari salah satu donatur terbesar, memperlakukanku layaknya saudaranya sendiri. Kami mendirikan JH Corporation, dari saat kuliah, merintis sedikit demi sedikit dengan aku sebagai asistennya..." ucapnya, mengingat majikannya yang kini masih dalam kondisi tidak sehat.
"Apa kamu ingin kembali pada Adrian? Dia ingin kamu yang mengurus perusahaannya..." Merlin menghela napas kasar.
"Apa yang terjadi? Bukannya ibu membenci ayah? Apa sudah mulai tidak membenci lagi?" tanya Tomy tersenyum penuh kecurigaan.
Merlin menghela napas kasar, "Membenci? Ibu masih membencinya. Pria terbaik yang pernah ibu temui adalah almarhum ayah tirimu. Andai saja kami lahir di masa yang sama, dia meninggal terlalu cepat..." ucapnya tersenyum.
"Saat kalian menikah, dia berusia 60 tahun, ibu masih berusia 30 tahun. Ibu yakin, ibu menikah karena menyukainya?" Tomy mengenyitkan keningnya, mengingat prasangkanya dulu.
Plak...
Satu pukulan dilayangkan pada bahu Tomy,"Sesama penyuka yang lebih tua jangan banyak komentar!!" ucapnya kesal.
"Maaf, tapi ibu benar-benar tulus padanya?" tanya Tomy dijawab dengan anggukan oleh Merlin.
"Dia sudah keriput, saat pertama kali bertemu dengannya. Mengulurkan tangannya untuk ibu, yang saat itu hampir dilecehkan, pakaian ibu robek dengan banyak tanda merah dan bekas tamparan."
"Orang lain akan memandang jijik, tapi dia malah tersenyum, memberikan jasnya menutupi tubuh ibu yang terlihat," Merlin tersenyum sendiri, menghela napasnya.
"Ibu sempat berpikir, jika saja orang itu adalah ayahmu. Mungkin kehidupan kita akan lebih baik. Hidup dalam perlindungan dan kasih sayangnya," lanjutnya.
"Tentang ayah (Adrian)? Apa ibu masih menyukainya?" tanya Tomy menatap Merlin yang bagaikan menahan air matanya yang hendak keluar.
"Kamu tau awal permusuhan kami? Ayahmu, menginginkan ibu menjadi perempuan baik-baik, tanpa peduli bagaimana ibu bisa hidup. Orang gila sialan!!" umpatnya.
"Tapi ibu tetap tidur dengan orang gila itu, sampai memiliki seorang anak..." ucapnya, tertawa kecil."Aku penasaran, bagaimana hubungan kalian di masa lalu..."
"Lain kali ibu ceritakan, omong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Frea?" tanyanya penasaran.
"Aku ingin menjadikannya hadiah ulang tahun untukku, malam ini. Bisa ibu pulang lebih awal?" tanya Tomy memeluk manja tubuh ibunya.
"Anak nakal..." Merlin tersenyum, mengacak-acak rambut Tomy.
***
Mobil hitam mulai melaju meninggalkan kediaman yang lumayan besar tersebut. Merlin menatap rumah putranya dari jauh. "Hiduplah dengan baik..." ucapnya tersenyum.
Menemukan Frea dalam kehidupan putranya mungkin bagaikan dirinya ketika menemukan almarhum suaminya. Tempat perlindungan dalam dunia yang sepi.
***
Adrian menghela napas kasar, melangkah kedalam sebuah restauran. Terlihat beberapa mobil bernilai tinggi terparkir disana.
Perjamuan makan kalangan atas itulah yang terlihat, pertemuan keluarga dengan pemimpin seorang pria tua yang duduk di kursi rodanya.
Hanya Adrian yang hadir seorang diri, dahulu Adrian akan membawa Mike. Irgi? Pernah sekali dibawanya, membentak, membalik meja bagaikan preman. Saat usia pemuda itu 19 tahun.
__ADS_1
Memalukan sebenarnya untuk hadir, namun keluarga, tetaplah keluarga bukan?
Anak dari tiga bersaudara itulah dirinya, anak yang paling memalukan karena menghamili Lia di usia 18 tahun. Anak yang paling memalukan karena memiliki Tomy sebagai anak di luar nikah. Anak yang paling melakukan karena bercerai. Anak yang paling memalukan karena membesarkan anak hasil perselingkuhan istrinya, serta satu anak lagi yang merupakan anak kandungnya, bentukan Irgi tidak jelas bagaikan preman sering membuat masalah.
Restauran Cina dengan ruangan private yang luas. Adrian mulai duduk menatap ayahnya yang tua renta.
"Tidak membawa Irgi?" sindir Gilang (keponakan Adrian) kini bekerja sebagai manager di perusahaan keluarga, milik sang kakek.
"Irgi, sedang sibuk..." jawabnya, mulai mengambil sumpit meletakkan salah satu hidangan dari meja putar dalam piringnya.
"Aku dengar perusahaanmu hampir bankrut karena Mike..." Leon (ayah Gilang, kakak kandung Adrian) meminum segelas air putihnya.
"Iya..." Adrian menghela napas kasar tanpa membantah, hanya ikut makan dan sekedar hadir. Menyadari tidak ada posisi untuknya membela diri disana.
"Kakek, makan yang banyak ya?" Mona (keponakan Adrian), menjabat sebagai wakil direktur, perusahaan keluarga (Bold Company) meletakkan makanan pada piring sang kakek yang duduk di kursi roda.
"Iya, ayah harus cepat sembuh..." Agra (Adik Adrian, ayah dari Mona), menghela napas kasar tersenyum pada ayahnya.
Persaingan? Itulah yang terasa, mengingat usia kakek Suki yang semakin menua, tidak ingin perusahaan keluarga dipimpin siapapun selain dirinya. Tidak ada yang pantas? Memang begitulah pendapatnya pada para penjilat di hadapannya.
Usianya yang matang, membuatnya lebih mengenal perilaku sesungguhnya dari orang-orang. Adrian awalnya menjadi harapannya, namun terperangkap oleh Leon? Sungguh bodoh bukan? Mana mungkin orang yang mudah terbawa perasaan seperti Adrian menjadi pemimpin perusahaan besar?
Orang ulet dan berdarah dinginlah yang diperlukan untuk menjadi Komisaris Utama baru dari Bold Company, perusahaan besar yang tidak hanya memiliki kantor di Indonesia.
Kakek itu mengetahui semuanya, namun enggan berkata-kata. Lia gadis tercantik di tempat Adrian bersekolah ketika SMU, sengaja dibayar Leon untuk mengejar adiknya Adrian. Merencanakan dengan matang agar mereka tidur bersama dalam keadaan mabuk.
Rencana yang matang, hingga Adrian dicoret sebagai daftar pesaingnya sebagai pewaris perusahaan keluarga. Harus menikah di usia muda dengan Lia yang sebenarnya tidak mencintai Adrian dari awal. Menerima modal untuk mendirikan perusahaan sendiri. Namun, tidak boleh berbuat hal yang mencoreng nama baik keluarga lagi.
Namun, perselingkuhan? Anak di luar nikah? Perceraian? Itu semua cukup sebagai alasan untuk menarik semua saham di Pratama Group. Adrian berusaha bangkit seorang diri tanpa bantuan keluarganya pasca perceraian. Hingga Pratama Group kembali berdiri hingga sekarang.
"Ayah, apa ayah sudah memutuskan, orang yang akan menggantikan ayah sebagai Komisaris Utama?" tanya Agra, mengambil daging sapi, meletakkan dalam piring ayahnya.
Kalian ingin aku cepat mati? Agar bisa memakan jeri payahku... Dasar ulat parasit!! Andai saja aku punya anggota keluarga yang pintar dan ulet, seperti ulat pucuk daun teh yang memanjat tanpa kenal lelah... Aku akan langsung memberikan segalanya padanya... gumamnya dalam hati berusaha tersenyum.
"Belum, tidak ada kandidat yang cocok," ucapnya, mulai menggunakan sumpitnya untuk makan. Sejenak kegiatannya terhenti,"Adrian, putra ketigamu apa akan memimpin Pratama Group? Kenapa tidak membawanya kemari? Kamu tidak ingin ayah mengincarnya untuk memasuki Bold Company (perusahaan keluarga milik Suki)?" tanyanya menatap tajam.
"Anak yang hidup tanpa apapun, paling berakhir menjadi, tukang penurun gas LPG, paling bagus menjadi supir bis. Syukur-syukur tidak seperti Irgi, menjadi residivis..." sindir Leon, tersenyum menatap adiknya.
"Paman (Leon), jangan seperti itu walaupun anak dari wanita malam, dia juga anggota keluarga kita..." Mona menghela napas kasar terlihat cemas. Padahal sebenarnya, memperjelas status putra ketiga Adrian, sebagai anak di luar nikah.
Inilah sebabnya Irgi tidak diizinkan hadir, jika hadir, mungkin pemuda emosional itu akan menggebrak meja, menumpahkan semua hidangan. Menarik kerah kemeja pamannya, membuat keributan.
Suki menatap wajah tenang Adrian yang kembali makan, seolah tidak menghiraukan atau membantah kata-kata Leon dan Mona. Senyuman menyungging di bibirnya, tidak dapat membohongi pria tua itu.
Tidak dapat membohonginya? Tentu saja, jika putra ketiga Adrian (Tomy) adalah benalu tidak berguna, pria itu tidak akan diam ketika anaknya dihina. Membeberkan semua kelebihan putranya.
Namun, wajah Adrian nampak tenang, menyembunyikan putra ketiganya dari Suki, mungkin merupakan tujuannya. Menjadikan Tomy pemimpin perusahaannya, tidak memiliki pilihan lain lagi sebagai penerus.
"Apa yang kamu lakukan di Singapura satu tahun yang lalu? Pratama Group hanya bergerak di dalam negeri saja bukan?" tanya Suki menatap tajam.
"Aku berlibur," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Adrian. Jawaban yang tidak begitu saja dipercayai Suki.
"Jika sudah menemukan putra ketigamu, bawa dia ke hadapanku. Aku juga ingin mengenal cucuku. Irgi terlalu emosional untuk masuk ke membantu ayah di perusahaan keluarga. Mike? Aku sudah memiliki begitu banyak penjilat di sekitarku. Bawa putra ketigamu menemuiku," ucapnya menghela napas kasar, melirik ekspresi Adrian.
Pria itu nampak pucat pasi, kemudian berusaha tersenyum. "Informasi yang terakhir aku dapatkan dia masuk STM (Sekolah Teknik Mesin). Melanjutkan bekerja di beberapa bengkel, aku sulit menemukannya, karena dia sering berpindah tempat..." dustanya, sembari tersenyum.
"STM? Saat SMU mungkin sempat tauran dekat sekolahku..." Gilang tertawa kecil, meminum air putih di hadapannya. Adrian hanya tertunduk sembari tersenyum.
Namun berbeda dengan kakek tua yang tengah duduk di atas kursi roda. Kakek itu melanjutkan makannya dengan tenang.
***
Hujan deras melanda, jemari tangan keriputnya, meraba ke arah jendela.
__ADS_1
"Tuan besar..." seorang pria menunduk memberi hormat.
"Selidiki tentang putra yang belum ditemukannya, dan apa yang dilakukan Adrian di Singapura..." ucapnya pada bawahannya yang setia.
"Maaf tuan, dia hanya anak di luar nikah. Lagipula kemampuan Gilang, Mona, atau Leon dan Agra tidak perlu diragukan lagi. Jika salah satu dari mereka yang menjadi komisaris utama..." kata-kata sang bawahan terpotong.
"Mereka hanya pandai bicara, saling menikam dan mengambil keuntungan. Perusahaan adalah medan perang bagi mereka. Kamu tau, apa yang akan terjadi jika aku menunjuk salah satu dari mereka?" ucapnya, dijawab dengan gelengan kepala oleh pria paruh baya yang berdiri di belakangnya.
"Perang saudara, jabatan sebagai Komisaris Utama, berarti bertanggung jawab pada pemegang saham. Bahkan dapat memecat direktur atau lebih tinggi lagi, memecat CEO. Keluargaku terlalu gelap mata, jabatan tertinggi sebagai Komisaris Utama akan digunakan sebagai pedang untuk mereka,"
"Mengangkat dan memecat CEO berdasarkan hubungan darah, mengeluarkan saudara sendiri dari perusahaan. Menyaring pegawai menjadi dua kubu, perusahaan akan kacau. Pemegang saham mungkin akan mundur satu-persatu," lanjutnya.
"Maaf, tapi anak STM...?" sang pria paruh baya tersenyum menahan tawanya.
"Kamu fikir Adrian bodoh!? Dia juga tidak memiliki penerus yang sesuai, kecuali kemungkinan putra ketiganya. Singapura? Mungkin jejak putranya berada disana. Hingga dia sempat meninggalkan Mike memimpin perusahaannya, perusahaan yang hampir pailit karena seorang pengkhianat,"
"Tentang anak ketiga Adrian yang menghilang, aku pernah menemuinya diam-diam. Kamu tau hal yang dilakukannya agar dapat tetap hidup?" tanya Suki pada orang yang berdiri di belakangnya. Sang bawahan menggelengkan kepalanya, pertanda tidak mengetahui.
"Menjual es lilin yang aku buat..." jawabnya tertawa kencang.
17 tahun yang lalu...
Penjaga warung? Benar itulah caranya untuk melihat cucu yang tidak pernah dibawa Adrian ke rumahnya. Anak kecil dengan pakaian lusuh, datang kesana atas tawarannya untuk menjual es lilin. Bukan kebetulan, tapi dengan sengaja menghentikan anak gagap itu, setidaknya memberi perhatian pada cucunya dengan cara yang berbeda.
Cucu yang terdidik, untuk hidup berusaha dari garis terbawah. Begitulah dirinya merancang Tomy dari awal.
Seperti biasa dalam beberapa tahun ini, Suki yang saat itu masih dapat berjalan dengan lancar, berada di warung kumuh di sela waktu makan siangnya. Menanti cucu yang menerima didikan keras darinya tiba.
"P...p....pak sa....saya..." kata-kata Tomy terhenti, sang kakek yang menjadi penjaga warung terlihat tidak sabar.
"Sudah ambil sana!! Ingat harus habis!!" bentaknya, menyodorkan dua buah termos penuh es lilin,"Ingat, kalau bukan saya yang buatin kamu dagangan, mana bisa kamu makan," sinisnya.
"Te...te...te... terimakasih..." anak yang masih memakai seragamnya itu mengambil dua buah termos es.
"Gagap bikin emosi saja. Dosa ibunya yang terlalu banyak, makanya anaknya gagap..." kakek Suki kembali mencibir dengan sengaja, menguji mental cucunya.
Tomy menghentikan langkahnya, menggenggam erat pegangan termos esnya. Sedikit menitikkan air matanya.
"Apa aku keterlaluan?" Suki mengenyitkan keningnya, menatap cucunya dari jauh. Berjalan membawa dua buah termos es lilin di tangannya.
***
Aktifitas yang biasa dilakukan Suki setiap hari, menghentikan mobilnya di depan warung saat hari sudah mulai sore. Mengganti pakaian bagusnya dengan pakaian lusuh, menunggu cucunya yang gagap datang ke warung dengan sabar.
Hingga malam hampir menjelang, kakek itu tidak sabaran lagi ingin menyusul cucunya sampai akhirnya, anak itu terlihat juga. Sama seperti hari sebelumnya, uang 10.000 rupiah diberikannya pada Tomy beserta dua bungkus nasi.
"Te...te..." kata-kata Tomy terpotong.
"Tidak usah bilang terimakasih!! Capek saya dengar te...te...te!! Suara kamu seperti kaset rusak!! Pergi sana!!" bentaknya.
Anak berpakaian lusuh itu melangkah pergi dengan tersenyum, sesekali menatap nasi bungkus di tangannya. Anak yang terlihat benar-benar kurus, tidak menyadari penjaga warung dengan mulut sinis yang selalu memberinya makan dan sedikit uang sebagai imbalan menjual es lilin adalah kakek kandungnya. Kakek yang mendidik cucunya, menunggu saat yang tepat membawanya pulang.
***
Namun apakah semua sesuai rencana Suki? Hingga datang hari dimana cucunya tidak datang sama sekali. Tepatnya saat Tomy memutuskan untuk tinggal di yayasan.
Suki menunggu kedatangan cucunya dari siang hingga malam. Anak gagap yang pintar dan jujur, berjuang hidup bagaikan ulat daun teh yang memanjat hingga ke pucuk.
Namun, anak itu tidak datang sama sekali, bahkan setelah menunggu hingga seminggu. Setiap siang sang kakek akan berada disana dengan pakaian lusuh. Anak itu tidak pernah datang kembali.
Memang sempat, dengan rasa putus asa mencari keberadaan rumah Merlin. Rumah menyedihkan yang terbuat dari triplek beratapkan seng, tidak layak disebut rumah. Beberapa buku milik cucunya tertinggal buku lusuh dengan isi yang penuh, pensil yang pendek, tidak ada hal istimewa. Hanya anak yang hidup ditengah kerasnya dunia, dibawah garis kemiskinan.
"Seharusnya aku membawanya pulang lebih awal..." gumam Suki menitikkan air matanya, membaca tulisan tangan cucunya pada beberapa buku tulis. Selalu mendapatkan nilai tertinggi, bahkan mencatat isi buku pelajaran yang tidak diperuntukkan untuk anak seusianya.
__ADS_1
Tomy terlalu pintar untuk anak seusianya, itulah cucunya. Yang mungkin masih berusaha memanjat seorang diri, penuh harap ditengah kerasnya dunia.
Bersambung