
Tidak dapat menemui Suki beberapa hari ini membuat Tomy cemas. Pemuda mengganti mobilnya, segera setelah mengambil termos es. Menatap dari jauh, tangan kanan sang kakek meninggalkan warung.
Perlahan Tomy mengikutinya, menjaga jarak mobil agar, sang bawahan tidak menyadari dirinya diikuti. Beberapa traffic light dan jalan mereka lewati, hingga akhirnya mobil itu terparkir di depan area sebuah rumah sakit swasta.
Sang bawahan berjalan masuk, sedang Tomy yang masih mengikutinya, menghela napas kasar, berusaha mencari informasi dari resepsionis, memastikan dugaannya,"Maaf, saya mencari ruang rawat keluarga saya. Tapi handphonenya tidak aktif, bisa bantu saya?" tanyanya tersenyum terlihat canggung, terkesan natural.
"Atas nama siapa?" tanya sang resepsionis, mulai menatap layar komputernya, hendak mencari daftar identitas pasien.
"Suki..." ucapnya tersenyum mengepalkan tangannya, berharap dugaannya salah.
"Ruangan Tulip, no.135..." sang resepsionis memberitahu ruang rawat Suki saat ini.
"Terimakasih," senyuman di wajah Tomy menghilang, dengan cepat berjalan menapaki tangga, berharap keadaan sang kakek baik-baik saja.
Hingga, langkahnya terhenti memegang hendel pintu di hadapannya dengan tangan gemetar, memberanikan diri membukanya.
"Tomy?" mulut lemah itu berucap lirih.
"Kakek," ucapnya berjalan mendekat, menyentuh tangan keriput sang pria tua."Kenapa kakek tidak mengatakan jika kakek sakit...?"
"Bodoh, ini sudah siang, kamu tidak bekerja? Lalu esnya bagaimana? Kamu tidak akan membawanya ke cafetaria kantormu?" tanyanya, dengan nada lemah, masih berusaha cerewet. Tidak ingin cucunya iba padanya.
"Aku akan kekantor," ucap Tomy matanya memerah berkaca-kaca, menggenggam lebih erat, jemari tangan renta di hadapannya.
"Kakek ingin tidur, pergilah bekerja. Jangan seperti ibumu yang hidup hanya mengandalkan wajah..." mulut pedas itu kembali berkicau, sebelum akhirnya mata itu tertutup sempurna akibat pengaruh obat pada cairan infus.
Tomy mulai bangkit, menghela napas kasar, menyentuh rambut beruban sang kakek."Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya, pada Miko (tangan kanan kakeknya).
"Tuan muda, salah satu sepupu anda meletakan sedikit arsenik dalam minuman tuan besar. Efek jangka panjangnya menyebabkan tuan besar lumpuh, belakangan ini tuan besar sudah berhati-hati mengkonsumsi pemberian sepupu anda. Namun, efek arsenik sebelumnya, ternyata juga merusak organ hatinya," Miko tertunduk menghela napas kasar, merasa tidak dapat menjaga majikannya dengan baik.
"Bagaimana keadaan kakek saat ini?" matanya menatap iba, baru menyadari alasan sang kakek lebih memilihnya.
Namun, ini bukan alasan untuk mengambil jabatan mengerikan, penuh dengan penjilat menjijikkan, jabatan yang sama sekali tidak diinginkan Tomy.
"Sebenarnya dokter menyarankan untuk melakukan cangkok hati, walaupun beresiko karena usia tuan besar saat ini. Namun, hanya itu jalan satu-satunya yang ditemukan..."
Miko menunduk, berlutut di hadapan Tomy,"Tuan muda, saya mohon tolong tuan besar!! Anda harapan satu-satunya, kediaman tuan besar sudah bagaikan ladang ranjau. Hingga saat ini, tuan besar menyembunyikan penyakitnya,"
"Tuan besar membutuhkan donor transplantasi, jika saya hati saya sesuai, mungkin saya sudah bersedia menjadi pendonor, tapi sayangnya tidak sesuai...."
"Beliau, sudah membantu menyekolahkan anak-anak saya. Membantu pengobatan istri saya yang menderita kanker. Tuan besar adalah orang baik, beliau tidak pantas mati dengan cara seperti ini..." ucapnya tertunduk, menitikkan air matanya.
Tomy, tersenyum, merapikan anak rambut Suki,"Kakek, anak dari wanita malam ini, akan memberikan hatinya untukmu. Jika sudah sembuh nanti, jangan berkata pedas lagi. Bertahanlah, sebentar lagi, kakek akan memiliki cicit dariku..."
***
Berbagai tes dijalani Tomy hari itu juga, menunggu hasil? Itulah yang dilakukan Miko.
Sedang pemuda itu, merapikan pakaiannya, hendak kembali bekerja, menatap wajah cemas pria paruh baya di hadapannya."Tenang, kakek akan sembuh. Jika hatiku tidak cocok, aku akan membawanya berobat ke luar negeri,"
"Tuan besar tidak akan bersedia berobat ke luar negeri. Keluarganya akan curiga, beliau tidak ingin keluarganya mengetahui penyakitnya..." ucap Miko.
"Jika hatiku tidak cocok, dan kakek tidak mau berobat ke luar negeri. Aku akan memaksanya," Tomy tersenyum, menatap jam tangannya, berjalan menelusuri lorong hendak kembali ke kantor tempatnya bekerja.
"Tuan muda, tidakkah anda tertarik menggantikan posisi tuan besar di perusahaan!?" Miko mengeraskan suaranya.
__ADS_1
"Tidak!! Aku punya segalanya!! Hidupku sudah cukup bahagia!!" Tomy tidak menoleh, mempercepat langkahnya.
Pria paruh baya itu menghela napas kasar,"Mereka dapat meracuni tuan besar. Yang akan tuan muda (Tomy) alami, mungkin akan lebih buruk,"
"Mau tidak mau, tuan muda akan berubah fikiran, mengambil pedang yang diberikan tuan besar," gumamnya, menatap kepergian Tomy.
***
Kantor JH Corporation...
Seorang pemuda rupawan memakai sweater putih dengan bawahan jeans hitam lengkap dengan earphonenya berjalan cepat. Hanya pegawai resepsionis dan beberapa orang staf yang mengetahui identitasnya menunduk padanya.
Pintu lift pegawai dinaikinya, menekan tombol lantai 8. Dengan cepat berjalan menuju ruangan terbesar di kantor pusat, ruangan yang ditempati Tomy.
"Tuan..." Karin tertunduk memberi hormat.
"Dimana Tomy?" tanyanya.
"Sepertinya belum datang," wanita itu menjawab gelagapan. Jemari tangannya gemetaran, mengetikan pesan pada Tomy yang kini tengah berada di parkiran rumah sakit.
Di tempat lain, Tomy mengenyitkan keningnya membaca pesan dari Karin,"Firaun datang!! Dia bangkit dari peti mati!! Sial!!" umpatnya, masuk kedalam mobil, menginjak pedal gasnya dalam-dalam, setelah mengetahui kedatangan majikannya.
Dalam waktu beberapa puluh menit, kantor pusat JH Corporation terlihat, wajahnya nampak tegang. Setelah lima bulan tidak bertemu dengan pasien koma yang dua bulan lalu telah bangkit dari kematian.
Berjalan dengan cepat, menekan tombol lift, seakan jika terlambat, dirinya akan dieksekusi. Hingga meja Karin terlihat di depan pintu coklat,"Dimana bos pelit?" tanyanya.
"Di dalam," Karin menghela napas kasar, masih mengagumi pemuda di hadapannya.
Tomy menghirup napas dalam-dalam, membuka pintu besar di hadapannya."Tuan," ucapnya tertunduk.
Senyumannya itu, artinya bekerja lembur. Jangan hanya menikmati malam yang hangat dengan istri di rumah... Tomy memaksakan dirinya membalas senyuman Farel.
"Maaf tidak dapat menjenguk, perusahaan pusat di negara ini, tidak ada yang mengurus," ucapnya.
"Tomy, kamu ingin coklat?" tanya Farel menyodorkan dua bungkus coklat snickers, dari tiga bungkus yang ada di meja.
Dengan ragu pemuda itu meraihnya, menduga-duga hal yang akan terjadi.
"Beli dua gratis satu, kita patungan seperti biasanya, nanti jangan lupa ganti uangku," Farel tersenyum tanpa dosa, meraih satu bungkus lagi, membelahnya menjadi dua. Satu setengah bungkus dimiliki Farel, satu setengah bungkus lainnya dimiliki Tomy.
Firaun pelit, dari dulu tidak pernah berubah. Sudah mengalami koma, aku kira dia akan menjadi orang kaya elite. Ternyata sama saja... gumamnya dalam hati, memakan setengah bungkus snickersnya, berusaha untuk tersenyum.
"Omong-omong Tomy, wanita gila mana yang bersedia menikah denganmu?" tanya Farel heran.
"Dia waras dan sehat, namanya Frea," geramnya menahan kekesalan.
"Aku kasihan padanya, karena harus menikah denganmu yang terlalu sibuk. Ini hadiah untukmu," ucapnya menyodorkan flashdisk.
Inilah yang aku kesal kan dari Firaun pelit ini. Setiap kedatangannya berarti kerja lembur... Tomy menghela napas kasar, meraih flashdisk di hadapannya.
"Dasar orang tidak waras, Firaun menyebalkan, pelit..." komat-kamit kata-kata dengan suara kecil keluar dari mulut Tomy, bagaikan mantra.
"Kamu mencibirku?" Farel menatap tajam.
"Tidak..." jawabnya cepat.
__ADS_1
Farel melemparkan kunci, tepat ditangkap jemari tangan Tomy,"Hadiah pernikahanmu, villa yang dingin di pegunungan. Maaf terlambat memberikannya,"
"Terimakasih..." ucapnya tersenyum.
"Aku lupa, kamu menjual es lilin kan? Aku beli lima..." Farel menyodorkan uang 10 ribu rupiah.
"Aku lupa!! Es ku akan mencair!!" dengan cepat, Tomy keluar dari ruangan, melupakan dua buah termos es-nya. Membayangkan kemarahan Suki nantinya, jika es lilin rusak tanpa terjual.
***
Bebas tugas, namun melakukan hal memuakan. Hari ini sang Terminator, maksudnya Gretel, memakai kaos couple berwarna pink yang diberikan Keysha.
Turun dari mobil, menghela napas kasar duduk di dekat pedagang bakso keliling, luar area mall.
Hidup biasa-biasa saja, sang ayah yang membesarkannya, sedangkan ibunya kembali ke negaranya setelah bercerai. Jangan kira wajah bule makanannya ala Eropa, pemuda itu sudah terbiasa mengkonsumsi nasi atau lontong. Layaknya orang Indonesia pada umumnya, yang kenyang dengan olahan beras.
Satu porsi bakso sudah ada ditangannya, duduk di atas kursi plastik yang disediakan sang pedagang keliling, lengkap dengan es kelapa yang diletakkannya di kursi kosong lainnya.
Hingga pasangan suami istri memakai baju layaknya orang kondangan, duduk di dekatnya. Memesan dua porsi bakso, dan es kelapa pada dua pedagang keliling yang berjualan berdampingan itu.
"Huk...huk..." sang pria paruh baya tersungkur di trotoar.
"Bapak!!" istrinya mulai panik ketakutan, mengguncang-guncan tubuh suaminya.
"Minggir!!" Gretel tiba-tiba bangkit, menarik sang pria paruh baya, menarik dadanya dari belakang, kemudian memukul tengkuknya. Hingga bakso berukuran besar itu keluar.
"T...t...tang (thanks)," sang wanita, yang kurang fasih berbahasa Inggris, menatap keadaan suaminya yang sudah mulai baik-baik saja setelah tersedak bakso berukuran sedang.
"Saya orang Indonesia," ucap Gretel menghela napas kasar.
"Nak, namamu siapa? Pekerjaanmu apa?" tanya sang wanita paruh baya antusias.
"Pengawal, semacam bodyguard, nama saya Gretel," jawab Gretel, kembali duduk memakan semangkok bakso miliknya.
Sang wanita paruh baya mulai berbisik pada suaminya,"Pak ganteng, gagah, seperti kapten... kapten...." kata-kata sang ibu terhenti, melupakan nama tokoh pahlawan TV.
"Kapten Amerika!! Coba itu calon mantu kita, ya bu...?" sang bapak melanjutkan, kagum pada Gretel. Yang masih cuek setelah menolong nyawanya, memakan bakso tidak memperhatikan pasangan suami istri di hadapannya.
Hingga, handphonenya berbunyi, Gretel segera membayar bakso miliknya, berjalan masuk ke dalam mall, mencari lokasi cafe tempat pertemuan.
Pemandangan menjemukan terlihat, gadis itu, bertengkar dengan Dika mantan kekasihnya. Tentunya, Dika sudah tahu dari internet tentang rupa Tomy yang asli.
"Kita lihat!! Apa paman dan bibi akan memilihku, atau penipu yang kamu sewa..." ucap Dika bersungut-sungut kesal, menunjukkan foto atasan Keysha yang asli.
Sial! aku lupa, foto pak Tomy pasti ada di internet. Kenapa aku pinjam nama suami sahabatku. Seharusnya aku membuat skenario FTV, 'Aku pinjam nama suami sahabatku, sebagai nama pacar palsuku,' pasti laku keras... gumamannya dalam hati berusaha menghibur diri, ditengah situasi sulit yang dialaminya.
"Kami saling mencintai!! Apa salahnya!?" bentaknya tidak mau kalah.
Sejenak kemudian melirik ke arah Terminator, eh salah kapten Amerika, salah lagi, maksudnya Gretel. Berlari menyambutnya dalam pelukan."Ingat, pura-pura jadi pacarku, usir Dika. Setelah itu, buat ibu dan ayahku tidak menyukaimu," bisiknya.
Rencana yang tersusun rapi, membuat ibu dan ayahnya tidak menyukai Gretel, namun mengusir Dika? Tentu saja agar terkesan bagaikan hubungannya dengan Gretel saling mencintai namun tidak direstui. Dengan begitu, dirinya dapat mengulur waktu hingga mendapatkan kekasih baru, tanpa dipaksa menikah dengan Dika.
Gretel memutar bola mata malas, memakai kaos couple pink? Apa harus? Agar terkesan pasangan saling mencintai, adalah alasan Keysha. Benar-benar bukan gaya sang Terminator.
Bersambung
__ADS_1