Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Partner


__ADS_3

"Jadi kamu melakukannya bukan karena paksaan?" pria paruh baya itu menghela napas berkali-kali, setelah menerima penjelasan dari putrinya. Mona mengangguk membenarkan, menatap ayahnya.


"Lalu kenapa tidak bilang dari awal!! Kita bisa menyembunyikan kehamilanmu dari pamanmu, menggunakan detektif, mencarinya pelan-pelan..." lanjut Agra memijit pelipisnya sendiri, heran dengan tindakan gegabah putrinya.


"Pakai detektif akan lama, orang-orang paman Leon bergerak lebih cepat," ucap Mona tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Agra kembali mencoba lebih bersabar lagi, "Maaf sudah memukulimu, siapa nama lengkapmu? Pekerjaan? Status?" tanyanya.


"Vincent Alexander, bekerja di salah satu bank swasta. Aku duda satu anak..." jawabnya jujur, masih menenggak minuman dingin, yang sudah dihabiskannya sekitar tiga gelas.


"Aset?" tanyanya lagi.


"Sebuah apartemen yang aku sewakan, rumah seluas 10 are terletak dipusat kota, sebuah ruko yang juga aku sewakan, satu unit mobil dan motor," jawab Vincent jujur.


"Hanya itu?" Agra kembali menghela napas.


Vincent mengangguk, memang hanya itu yang dimilikinya. Namun, milik orang tuanya tidak dihitung olehnya. Ayahnya telah meninggal, mewariskan sejumlah saham, dan tanah padanya serta ibunya. Sedang, Lidia sendiri, entah berapa cabang restauran yang dimilikinya. Anak tunggal yang dimanjakan? Itulah dirinya dahulu, sebelum Frea meninggalkannya.


Pemuda itu menjadi lebih dewasa, berusaha seorang diri dari nol. Hingga berakhir menjadi manager bank swasta.


"Ayah akan menyiapkan kediaman terpisah untuk kalian. Satu lagi, putuskan hubunganmu baik-baik dengan Lian. Dia masih sering mencoba menemuimu..." nasehatnya pada Mona.


"Ayah, masalah perusahaan..." kata-kata Mona terhenti, Agra menggenggam jemari tangan putrinya.


"Masalah perusahaan, kamu tenang saja, ayah yang akan menangani," ucapnya.


"Bukan begitu, Tomy dia tidak seperti yang ayah fikirkan. Kakek memiliki maksud tertentu memintanya memasuki perusahaan," wajah Mona nampak serius, mengatakan tentang rahasia saudara sepupunya.


"Dia hanya mengurung diri seharian di kamar dengan istri dan anaknya. Bermain game, semalaman, sepupumu yang tidak berguna hanya simbolis yang digunakan kakekmu untuk menggertak kita," langkah Agra terlihat lemas, berjalan meninggalkan kamar putrinya.


Keadaan perusahaan? Proyek di Filipina gagal, mengalami kerugian yang cukup besar. Dalang dari semua ini? Tentunya adalah Frans. Cukup melelahkan bagi Agra, menangani perusahaan dari sudut yang terpisah dengan Leon.


"Tomy?" Vincent mengenyitkan keningnya, mengingat nama bocah yang pada akhirnya berhasil mengambil Frea darinya.


"Tomy adalah nama sepupuku, karena kamu belum bisa bangun. Jadi mungkin lusa baru akan aku pertemukan dengan seluruh anggota keluarga..." ucapnya tersenyum.


"Iya, mungkin hanya nama yang sama," Vincent tersenyum, kembali meminum minumannya.


"Apa minumannya enak?" tanya Mona, dijawab dengan anggukan oleh Vincent.


"Aku ingin coba..." bibir pemuda itu dibungkamnya, menjelajahinya perlahan. Entah kenapa perasaan berbeda menjalar dalam dirinya.

__ADS_1


"Minumannya enak..." ucap Mona dengan deru napas tidak teratur.


"Ingin lagi?" Vincent menawarkan, memasukan beberapa teguk ke dalam mulutnya. Kembali menarik tengkuk Mona.


Perasaan aneh yang terkait...


Karena patah hati? Apa itu penyebabnya? Entah kenapa, rasa berdebar saling memahami ini nyata bagi dua insan yang tengah memangut bibir mereka tanpa menemukan kepuasan.


***


Tempat lain...


Sebuah mobil mengalami kecelakaan, beberapa ledakan dari tangki bahan bakar terjadi. Orang-orang yang berada disekitar area berhamburan untuk menolong.


Seorang pemuda tersenyum menatapnya dari dalam sebuah mobil berwarna hitam, memberi tanda centang pada buku kecil dengan puluhan foto yang dibawanya. Sebagai pertanda tugasnya hari ini telah usai, dari rangkaian tugas yang harus dilaksanakannya.


"Uang sudah di transfer...list berikutnya," pemuda itu tersenyum, hendak kembali memeriksa daftar pada buku kecil miliknya. Namun, suara ketukan jendela dari seorang pengamen mengejutkannya, hingga buku kecil itu terjatuh.


"Ini, pergi sana..." ucapnya menyodorkan uang 2000 rupiah, untuk sang pengamen. Kembali memungut list catatannya.


Buku yang terbuka menampakkan sekilas foto Agra dan Leon, entah berada di urutan list keberapa. Sang pemuda menutup kembali bukunya, seusai menatap profil korban berikutnya.


Sasaran berikutnya? Salah satu petinggi Bold Company. Sang pemuda menyenderkan tubuhnya di kursi pengemudi, memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Membeli beberapa kaleng minuman dingin.


Tersenyum, menghabisi semua orang di kediaman utama adalah tujuan akhirnya, setelah Bold Company runtuh seluruhnya.


***


"Sial!! Aku harus pergi sebentar," Tomy mengambil sebuah tas ransel. Mengenakan sweater dan celana panjangnya.


"Jika ada yang bertanya, katakan aku pergi menonton kompetisi gamers," lanjutnya, berjalan menghampiri putranya dalam gendongan Frea, mencium kening dan pipinya,"Ayah mencintaimu..." ucapnya, berjalan pergi, hingga depan pintu kamar.


Namun langkahnya terhenti, kembali berbalik, tersenyum mendekati istrinya,"Aku mencintaimu..." bibir Frea dikecupnya.


"Aku juga, apapun yang kamu lakukan, berhati-hatilah," Frea tersenyum pada suaminya, pemuda yang menjaga dan menyayanginya sepenuh hati.


Mungkin dirinya tidak pernah berharap mendapatkan suami seperti pemuda di hadapannya. Hanya seorang suami sederhana yang mencintainya sudah cukup. Suami yang mencintainya? Tomy memang mencintainya, pemuda yang mencintainya dengan berlebihan.


Senyuman itu terlihat, Tomy mengangguk, berjalan dengan cepat menggendong sebuah tas ransel berukuran besar.


Keluar dari kediaman, menolak diantarkan supir. Menaiki taksi online menjadi pilihannya. Sebelum akhirnya berhenti di salah satu halte menaiki sebuah bis.

__ADS_1


***


Hari sudah mulai sore, Tomy menonggakkan kepalanya, menatap gedung pencakar langit di hadapannya, kantor pusat JH Corporation, tempatnya berdiri saat ini.


Tomy berjalan dengan cepat, memasuki lift. Partner tidak terpisahkan? Itulah dirinya dan majikannya. Menggerogoti perusahaan-perusahaan besar, meruntuhkannya, hal yang sering mereka lakukan dahulu.


Dua orang dengan karakter serupa, tersenyum namun menusuk dari belakang.


Tomy kembali berjalan cepat, hingga tiba di hadapan pintu besar berwarna coklat, membukanya perlahan.


"Tuan, apa anda mau bergabung untuk bermain denganku?" tanyanya tersenyum.


"Tidak, jika tidak menguntungkan, aku tidak akan ikut..." jawab seseorang yang duduk dengan tenang.


"Kita bagi keuntungan 30:70," tawar Tomy, mendekati meja Farel.


"50:50," Farel mengenyitkan keningnya.


"Tawaran terakhirku 35:65. Proposal dan data sudah ada, beberapa mata-mata sudah masuk ke dalam perusahaan mereka," Tomy tersenyum,"Jika tidak mau, biar aku sendiri saja..." ucapnya.


Dasar Firaun serakah, yang keluar modal awal aku ... Masih berani menuntut 50:50... gumam Tomy dalam hati menahan kekesalannya, berjalan hendak pergi.


"Tunggu, deal!! Perusahaan mana?" tanya Farel, menghentikan langkah Tomy.


Sudah aku duga, Firaun pelit, uang berkuasa... kumat-kamit ingin rasanya mencibir Farel.


Tomy menghela napas kasar menghidupkan laptopnya. Mulai membuka beberapa e-mail."Yang mendapatkan keuntungan dari kegagalan proyek Bold Company di Filipina. Penyokong dana terbesar, untuk menghancurkan Bold Company," ucap Tomy menunjukkan laptopnya.


"W&G Company? Kamu ingin meruntuhkannya?" tanya Farel menatap tajam.


Tomy mengangguk, "CEO, beberapa tikus penghianat di Bold Company, mereka yang mengirimnya. Kita bisa masuk menghisap intisari mereka sedikit demi sedikit..."


"Tapi ini W&G Company!?" Farel membentak.


"Apa terlalu sulit?" tanyanya, penuh harapan dapat bekerjasama dengan sahabat, rangkap bagaikan saudara laki-lakinya.


"Meruntuhkan mereka sangat menguntungkan untuk perusahaan pusat JH Corporation di Singapura. Mereka juga pernah mencibir Rafa (putra pertama Farel) sebagai anak luar nikah!! Deal!! Kita bantai mereka secara terang-terangan!!" Farel menggebrak meja, penuh senyuman. Hari-hari membosankannya seorang diri hanya bersama Irgi, berakhir.


Sudah aku duga, Firaun tidak akan takut pada apapun. Kecuali pada istrinya yang kasar... Tomy menghela napasnya, tidak sadar diri, sebagai sesama makhluk yang ditaklukkan wanita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2