
"Ada? Siapa?" tanya Tomy menatap tajam.
Sang pelayan menghela napas kasar, menyeka air liurnya yang hampir menetes, mengambil selembar uang dari seikat yang diberikan Tomy.
"Karena saya hanya menjawab 'ada,' saya hanya mengambil selembar," ucapnya mengembalikan seikat uang, kemudian berjalan pergi dengan cepat. Tidak ingin ketahuan menerima suap. Tidak ingin menerima kemarahan Gilang, yang akhirnya akan berakhir pada kemarahan Leon.
Pemuda itu terdiam, menatap jenuh, memijit pelipisnya sendiri. Matanya menelisik mengamati area sekitar villa, berjalan-jalan sebentar. Hingga akhirnya berhenti di area gazebo, duduk disana seorang diri.
"Seharusnya hari ini..." gunamnya berusaha tersenyum, tidak ingin menangis. Menahan rasa sesak di dadanya.
Prediksi tanggal kelahiran anak dalam kandungan istrinya. Itulah, hari ini, hari dimana dirinya terlalu lelah. Tidak ingin bekerja atau memikirkan balas dendam. Melihat kucing kecil melahirkan? Mungkin hal yang dapat menghiburnya sejenak. Hingga sudah cukup gila, mengikuti Gilang ke villa miliknya. Menempuh perjalanan yang memakan waktu beberapa jam.
"Frea ijinkan aku menangis hari ini, saja..." air matanya mengalir dalam senyumannya, menonggakkan kepalanya keatas menatap bintang yang bagaikan berkerlip untuknya.
Menempuh perjalanan panjang seorang diri, merindukanmu dan dia. Ingin bermain bersama anak kita, apa kamu sudah memiliki nama untuknya? Apa wajahnya manis? Aku tidak dapat melihat wajahnya. Kalian pergi meninggalkanku terlalu cepat...
"Rawatlah putra kita dengan baik, disana. Tiba saatnya nanti aku akan menyusul kalian..."
Air matanya terus menetes, tidak dapat ditahannya. Untuk malam ini saja, dirinya ingin mengingkari permintaan Frea. Merindukan istri dan calon anaknya, keluarga kecilnya yang seharusnya berbahagia saat ini.
***
Gilang tidak kembali ke villa, hingga dua hari kemudian. Menemani ibu muda yang cerewet. Pagi-pagi buta dirinya sudah mengendap-endap menelisik keadaan villanya. Seorang pelayan, mengikutinya, membimbing Frea yang membawa bayi mungil dalam dekapannya.
Hal yang dilakukannya? Tentu saja, menelisik keberadaan komisaris yang kecanduan game. Namun, penampakan itu tidak terlihat sama sekali. Gilang mulai menghela napas kasar.
"Sepupuku yang kemarin datang, apa sudah pulang?" tanyanya pada salah satu pelayan yang berada di sana.
"Sudah beliau sudah dijemput," jawab sang pelayan.
Gilang menghela napas kasar,"Kembalilah pada suamimu yang kecanduan game!!" ucapnya pada Frea.
Wanita itu menggeleng, "Tidak mau, jika tiba-tiba anakku diculik salah satu anggota keluargamu bagaimana?"
"Benar juga, suamimu yang kecanduan game itu, tidak akan mempedulikan apapun..." kata-kata plin-plan kembali keluar dari mulutnya.
Tomy kecanduan game? Sejak kapan? Bukannya dia kecanduan kerja ya... gumam Frea dalam hati tidak mengerti.
"Baik, tinggallah disini sementara!! Hanya sementara, mengingat kamu yang tidak berguna!!" Gilang menatap sinis.
"Terimakasih, kamu orang yang baik..." mata memelas lemah itu terlihat. Tidak tega, Gilang hanya dapat menyembunyikan hingga wanita ini bersedia kembali pada Tomy.
__ADS_1
"Aku akan menjadi CEO, ayahku akan menjadi komisaris. Kami akan menyingkirkan Mona dan suamimu yang lugu. Jadi jangan menganggapku orang baik..." Gilang berjalan berlalu dengan cepat.
Frea menipiskan bibir menahan tawanya, menatap wajah mungil putranya,"Kira...baru pertama kali ibu bertemu orang yang mengaku penjahat. Paman tadi bukan penjahat, dia hanya orang plin-plan yang baik,"
***
Memanggil Tomy? Itu yang dilakukannya. Ingin mengetahui keadaan perusahaan. Serta tentang keluarganya, setelah menyerahkan jabatannya secara tidak resmi. Tidak ada anggota keluarga yang mengunjunginya kecuali Tomy.
Masa pemulihan Suki dengan tubuh rentanya paling cepat menelan waktu enam bulan. Duduk di ranjang rumah sakit menatap ke arah jendela.
"Kamu sudah mulai bergerak?" tanyanya.
"Belum, tapi semua data sudah aku kantongi. Tinggal mengambil tindakan..." jawab Tomy tertunduk.
"Bisakah kamu memaafkan Mona?" Suki menghela napas kasar.
"Aku menunggu keputusan kakek," pemuda itu mulai duduk, membantu sang kakek membersihkan dirinya. Air hangat telah tersedia disana, membersihkan pelan tubuh renta di hadapannya.
"Jangan membunuh Mona," pintanya.
Tomy menghentikan gerakan tangannya, mengangguk, menyanggupi.
"Tentang kematian istri dan calon anakmu..." kata-kata Suki terhenti.
Kehilangan istri yang tengah mengandung? Suami mana yang tidak memendam dendam. Memintanya memaafkan pun rasanya sulit. Matanya menyiratkan kesedihan, bagaikan menyerah dengan hidupnya.
"Kakek, boleh aku tinggal di villa milik Gilang?" tanyanya.
"Tinggal di villa?" Suki mengenyitkan keningnya.
"Tidak tau kenapa, aku merasa tenang berada disana..." jawabnya.
***
Mati perlahan-lahan itulah yang direncanakan Tomy, untuk sepupunya tersayang. Mona menitikkan air matanya, kala pemuda itu datang lagi padanya.
"Maaf, aku baru sampai..." wajah memuakan itu akhirnya muncul, setelah kehabisan uang.
"Tidak apa-apa, apa benar kamu memutuskan hubungan dengannya, dan akan menikahiku?" tanya Mona memastikan.
Lian mengangguk, memegang jemari tangan Mona. "Aku hanya tidak percaya diri, karena tidak memiliki perusahaan sendiri. Setelah perusahaanku, dengan Mona-ku tersayang sebagai investornya berdiri. Aku akan lebih percaya diri berjalan bersamamu di altar," ucapnya.
__ADS_1
Wanita cantik itu mengangguk, bagaikan menepis semua logika buruknya. "Boleh aku lihat dulu proposal perusahaan yang akan kamu dirikan?"
Sang pemuda mengangguk,"Transfer uangnya dulu, besok aku akan membawa proposalnya,"
Mona menggeleng, sembari memaksakan diri tersenyum. "Aku akan membantumu hingga akhir, jadi jika ada hal yang salah dengan perusahaan yang akan berdiri kita dapat memperbaikinya sama-sama,"
"Iya..." pemuda itu berusaha tersenyum, merasa ada hambatan dalam rencananya.
Rencana? Tentu saja menikah dengan wanita yang baru dikenalnya beberapa bulan. Pergi ke luar kota, mendirikan perusahaan sendiri. Meninggalkan mantan kekasihnya yang kaya, dengan janji yang diingkarinya.
Mona, tertunduk mencengkram erat botol kecil yang mungkin sudah diisinya dengan arsenik dosis tinggi dalam tasnya. Putus asa? Begitulah yang dirasakannya, menyerahkan kesuciannya, bahkan mengemis cinta, pemuda di hadapannya ini hanya dapat mengecewakannya.
Mona mengetahui segalanya, kehadirannya saat ini. Hanya untuk melihat wajah pria yang dicintainya untuk terakhir kali.
"Aku harus pulang, ibu menelfon..." ucapnya mencari alasan untuk kembali menemui kekasih barunya.
Mona menggenggam jemari tangannya penuh harap,"Bisa temani aku malam ini saja..." ucapnya.
Lian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ibuku sakit..." alasannya.
"Pergilah..." kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Mona, berusaha tersenyum dalam keputusasaannya.
Punggung pemuda kokoh, berjalan meninggalkannya. Tanpa menoleh sedikitpun, luka di hatinya semakin dalam. Cairan dalam botol arsenik itu mulai dikeluarkannya, mencampur pada makanannya sendiri.
Air matanya mengalir memakan suap demi suap. Dalam restauran, tempat yang dikatakan memiliki cita rasa makanan enak oleh sepupunya.
"Tidak begitu enak, Tomy seleramu buruk..." gumamnya, nasih menitikkan air matanya, memakan-makanan terakhirnya.
Tidak menyadari, sang sepupu berdiri di dekat tiang penyangga, membawa botol arsenik dosis tinggi yang asli. Memasukkan dalam sakunya, mengampuni sepupunya yang sudah meracuni sang kakek? Tidak, namun jika itu permintaan Suki, pemuda itu hanya dapat patuh.
Tomy melangkah keluar area restauran, menghela napas kasar, menatap pos ronda yang kini telah menjadi pertokoan di dekat sana. Kejadian yang masih diingatnya saat hatinya pertama kali berdebar dengan cepat.
"Kakak, aku merindukanmu..."
***
Putus asa menganggap inilah detik-detik terakhir hidupnya. Menunggu reaksi arsenik dosis tinggi yang sebenarnya hanya memakan makanan yang bercampur air berwarna.
"Aku ingin tau rasanya selingkuh sebelum aku mati..." gumamannya menangis tiada henti, dengan mata menelisik mencari orang yang paling rupawan disana.
Mungkin jika mayatnya ditemukan saat tengah tidur dengan pria lain. Lian dapat dibalasnya, anggapan yang benar-benar tidak rasional.
__ADS_1
Bersambung