
Sebuah celana panjang pria teronggok di lantai. Diikuti dengan beberapa helai pakaian lainnya. Tempat tidur mulai berdecit, seiring dengan deru napas pasangan suami istri yang saling berpacu, menghirup oksigen. Tautan bibir berulang-ulang terjadi di sela tubuh mereka yang menyatu sempurna.
Desiran aneh terasa dalam tubuh mereka. Hanya napsu? Tidak, Tomy dapat menahan segalanya. Hanya menginginkan dan bernafsu pada wanita dalam kungkungannya.
Kuku-kuku tajam menancap di punggungnya kala, kedua tubuh bergetar bersamaan. Lemas setelah menumpahkan semua perasaan tertahannya.
***
Tomy bagaikan lupa diri, belum benar-benar memberikan penjelasan pada kedua sepupunya yang hanya diam selama lebih dari dua jam, tanpa berani untuk mengetuk pintu.
Mona dan Gilang saling melirik, namun enggan bicara. Hingga salah satu mengalah, menghela napas kasar.
"Apa yang kamu lakukan tentang racun?" Gilang mengenyitkan keningnya.
"Aku yang menyebabkan kelumpuhan kakek. Beberapa minggu yang lalu Lian ketahuan selingkuh, kemudian meninggalkanku. Rencananya, aku akan bunuh diri, tapi Tomy menggati botol racunnya..." jawabnya menghela napas kasar.
"Keji..." Gilang menggelengkan kepalanya heran. Bagaimana bisa tuan putri seperti sepupunya, tega meracuni sang kakek.
"Lalu kamu? Bagaimana istri Tomy bisa masih hidup?" tanya Mona memandang curiga.
"Aku yang menyelamatkannya saat kebakaran..." Gilang menjawab dengan bangganya.
"Bagaimana bisa kamu tau tentang kebakaran di rumahnya?" tanya Mona lagi, memandang lebih curiga lagi.
"Iya, aku mengaku, ini perbuatan ayah. Tomy rencananya akan disingkirkan, tapi saat mengikuti kakek ke rumah sakit, aku melihat Tomy tidak sadarkan diri disana. Dia ada disana, berarti tidak ada dirumahnya. Tapi istrinya di rumah, aku bingung harus berbuat apa. Jadi aku membawa kabur istrinya..." jawab Gilang menghela napas kasar, mulai meminum minuman dingin di hadapannya.
"Plin-plan, tidak berpikir panjang sebelum bertindak. Terlalu baik, tapi itulah yang menyelamatkan nyawamu," Mona ikut-ikutan menghela napasnya.
"Jadi siapa yang akan menggantikan posisi CEO?" tanya Gilang, dengan wajah polosnya.
"Tidak tau, tapi masalah di perusahaan sudah banyak. Frans (CEO Bold Company) sudah keterlaluan, ayah (Agra) dan paman Leon hampir tidak istirahat karena masalah yang ditimbulkannya," jawabnya, kesal pada wajah memuakan CEO saat ini.
"Sebenarnya kenapa kakek sangat mempercayainya?" Gilang mengenyitkan keningnya.
"Frans, awalnya adalah bawahan kakek yang paling royal. Karena kita terlalu sibuk bertentangan, saling menjatuhkan, kakek berniat menjadikannya penengah dengan mengangkatnya menjadi CEO. Tapi lambat laun, dia semakin lupa diri, membuat masalah di perusahaan,"
"Jika perusahaan bermasalah, nilai saham akan anjlok, perusahaan dapat terancam pailit. Untuk mendapatkan dana mau tidak mau kita harus menjual saham. Saat itulah Frans akan membeli saham dengan harga murah. Menguasai perusahaan sedikit demi sedikit..." jelasnya.
"Kakek bodoh, mengangkat orang sepertinya. Lalu kenapa tidak memecatnya?" Gilang menghela napas kasar.
__ADS_1
"Kamu fikir memecat CEO semudah mengangkatnya. Lebih dari 35% pemegang saham berpihak padanya. Jika saham ditarik maka perusahaan akan merugi,"
"Pemegang saham seperti berpihak padanya. Menginginkan menggulingkan keluarga kita dari perusahaan yang didirikan kakek," Mona mulai berbaring di sofa, melihat handphonenya, membuka media sosial.
"Jika begitu, mudah, dengan mengangkat ayahku menjadi komisaris..." kata-kata Gilang disela.
"Maka ayahmu akan menendang aku dan ayahku dari perusahaan. Tentunya aku tidak akan tinggal diam..." bentaknya menatap tajam.
"Lagipula, Frans sepertinya lebih berbahaya dari ayahmu. Paman Leon tidak akan dapat mengatasinya seorang diri," Mona kembali meletakkan handphonenya memikirkan sesuatu.
"Jika mengetahui kepribadian Tomy, memilihnya sebagai komisaris juga tidak buruk. Otak pintar ayahmu, jiwa psiko sepupu kita, di tambah kepribadianku yang luar biasa. Jika berkolaborasi Frans dapat kita depak," lanjutnya mulai tertawa.
Gilang mengenyitkan keningnya,"Lalu aku dan paman Agra?" tanyanya.
"Kalian tidak dihitung, entah kenapa kalian adalah kegagalan genetik, gen kalian tidak berkualitas sama sekali..." Mona menghela napas kasar, mengingat kemampuan ayahnya yang hanya rata-rata. Sedangkan Gilang pintar, tapi terlalu baik, hanya mengikuti Leon, berpura-pura menjadi arogan berlindung di balik ayahnya.
"Kegagalan genetik? Aku bisa..." kata-katanya terhenti, pintu itu akhirnya terbuka juga. Menampakkan seorang pemuda yang menatap tajam pada Gilang, dengan rambut basah, hanya mengenakan jubah mandi saja.
"Jaga jarak dari Frea..." ucapnya memperingatkan, masih mencurigai hubungan Gilang dan Frea. Berjalan menggendong putranya yang masih tertidur ke lantai dua.
Beberapa saat kemudian giliran Frea yang keluar, dengan rambut setengah kering, menatap tajam pada Gilang,"Kamu mengadu ya!?" kesalnya berjalan mengikuti Tomy. Mengira Gilang lah yang membocorkan informasi tentangnya.
"Itu karena kamu terlalu plin-plan dan baik..." Mona menghela napas kasar.
***
Tidak ada yang tau apa saja yang tersimpan di kamarnya. Bayi mungil itu mulai diletakkannya di atas tempat tidur berukuran king size. Lemari paling pojok dibukanya, semenjak mengetahui Frea masih hidup, berbagai paket dipesannya. Tentunya penjaga di depan gerbang yang akan menerimanya terlebih dahulu.
Baby box bongkar pasang mulai dirakit nya, sedikit demi sedikit. Mengikuti instruksi yang terlihat. Dibacanya dengan teliti...
Frea memasuki kamar, kembali menutup pintu, menghela napas kasar,"Di lantai bawah sudah ada baby box, kenapa membuat yang baru?" tanyanya.
"Yang membelikannya Gilang kan? Aku masih bisa membiayai anak dan istriku. Biaya persalinannya nanti, akan aku ganti..." ucapnya masih dengan wajah dingin, tingkat kecemburuan dan arogansi yang tinggi, memasang rangkaian satu persatu.
Frea menipiskan bibir menahan tawanya,"Gilang orang yang baik dan lugu, dia lumayan lucu,"
Tomy membulatkan matanya, menatap ke arah Frea,"Aku lebih lucu darinya kan, kakak...?" matanya memelas menunjukkan pesona manisnya. Kharismanya yang beberapa jam lalu lenyap tanpa sisa. Mungkin perbedaan antara ketua mafia dan brondong manis, tidak berdosa.
"Aku hanya bercanda, kamu cemburu?" tanya Frea ikut berjongkok di samping suaminya.
__ADS_1
"Tidak..." jawabnya, kembali memasang baby box. Bukankah tidak akan ada pria yang mengaku dirinya cemburu? Kecuali dalam keadaan terdesak, ego sebagai seorang pria yang membuatnya tidak mengakui dirinya cemburu.
"Tidak?" Frea menghela napas kasar,"Padahal aku berharap kamu cemburu..." ucapnya tersenyum.
Sinar bulan yang redup memasuki jendela balkon. Pasangan suami-istri itu saling menatap, Tomy meletakkan pekerjaannya, jemari tangannya yang dingin mengelus pipi istrinya.
"Iya aku cemburu..." ego dan gengsinya luluh begitu saja, takluk pada wajah istrinya. Cahaya pertama yang didapatkannya ketika menapaki hidup berkrikil yang menyakitkan.
Frea tersenyum, menggenggam jemari tangannya,"Maaf harus bersembunyi, aku terlalu takut untuk kembali..." air matanya menetes mengingat trauma yang dialaminya kala terjebak dalam kobaran api.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, tidak dapat menjagamu..." Tomy memeluknya erat, menenangkan istrinya, walaupun tidak tau harus berbuat apa. Jemari tangannya menepuk punggung Frea pelan. Wanita rapuh yang masih menangis terisak.
"Kita tidur bertiga ya?" ucapnya tersenyum hangat, melonggarkan pelukannya, menghapus air mata istrinya.
Trauma? Hal itu seharusnya masih ada, Frea masih takut pada ruangan gelap. Tidak dapat tidur jika lampu tidak menyala dengan terang.
Namun, malam ini berbeda, bayi mungil tertidur pulas diantara mereka. Jemari tangan kedua orang tuanya saling menggenggam erat, saling berhadapan. Hanya sinar bulan purnama satu-satunya sumber cahaya yang memasuki balkon.
Wajah Frea nampak tenang tertidur dengan damai...
Tomy perlahan membuka matanya, menatap wajah wanita itu lekat.
Apakah ini obsesi atau cinta? Semua sama bagiku...
Jika kamu menghilang dari dunia ini, aku adalah raga tanpa jiwa. Sesuatu mengerikan, yang tidak memiliki perasaan...
Tau kenapa? Karena jiwaku akan kembali hanya saat bersamamu. Hanya dapat menunjukkan sisi lemahku padamu, sebagai manusia yang rapuh...
Tomy...
***
Rapat pemegang saham tiba-tiba diadakan, Leon menghela napas kasar, memasuki ruangan. Tidak memiliki kekuasaan bicara, hanya dapat terdiam mendengarkan, sesuatu yang menyebalkan baginya.
Beberapa pemegang saham mulai memasuki ruangan. Begitu pula dengan CEO Bold Company, pemuda yang tersenyum menatap remeh pada Leon.
"Sial... Tidak mungkin aku memaksa pecandu game itu, hadir kan?" sang pria paruh baya menghela napas kasar, menghadapi Frans seorang diri, dengan kekuasaan dan hak bicara yang minim.
Bersambung
__ADS_1