Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Mencari Mad Hatter Bagian 2


__ADS_3

Lipatan kertas dibukanya, goresan tinta terlihat diatas keras kusut...


'Kakak, apa kamu melupakanku? Maaf sudah membuat permohonan dengan seribu bangau, agar kamu menungguku tumbuh dewasa untuk menikahimu.


Terimakasih, 17 tahun yang lalu menyuapiku dengan makanan, walaupun sepertinya kakak sudah melupakannya. Semenjak saat itu aku mulai menyukaimu. Berharap kakak akan ditinggalkan kekasih kakak yang terlalu sempurna.


Tetap melajang menungguku dewasa. Harapan yang menjadi kenyataan. Sebulan ini, kita menjadi pasangan suami istri. Aku bahagia...


Tidak perlu merasa bersalah padaku. Jika kamu mencintainya, aku akan mundur. Saat dimana kalian memutuskan akan bersama, aku akan datang kembali, membawa surat perpisahan kita. Tanda aku melepaskan kakak bahagia bersamanya'


'Suamimu... Pangeran tampan'


"Bocah nakal!! Dasar!! Sudah menyumpahiku menjadi perawan tua!! Seharusnya kamu bertanggung jawab hingga akhir...!!" gumamannya dengan air mata membasahi pipinya.


Frea melempar keras ke tempat dalam sampah, sama seperti 11 tahun yang lalu. Saat kutukan dari seribu origami kertas datang.


"Bocah!! Aku akan menemukanmu..." gumamnya menghapus air matanya. Tidak ingin kehilangan seseorang yang meramaikan harinya. Percaya pada mitologi? Tidak, namun jika sudah mengutuk, harus bertanggung jawab hingga akhir bukan?


***


Gigolo? Mungkin Frea masih mengira-ngira profesi suaminya. Tempat pertama yang didatanginya adalah club'malam. Tempatnya mabuk dan bertemu Tomy.


Suara dentuman musik terdengar, wanita itu mendekati bartender. Mencari informasi,"Kalau ingin menyewa pria penghibur bagaimana caranya?" tanyanya dengan suara kecil, menahan rasa malunya.


Sang bartender mengamati penampilan Frea dari atas hingga bawah. Menghela napas kasar, seorang wanita cantik ingin menyewa gigolo? Jangankan dibayar, membayarpun pria akan berebut memberi penawaran tertinggi. Namun, sang bartender tetap menjawab pertanyaan Frea.


***


Uang Frea sukses terkuras, mengenyitkan keningnya menyewa ruangan VVIP. Mucikari yang memang khusus berada disana untuk menyewakan pria penghibur, membuat beberapa pria rupawan dengan bentuk tubuh sempurna berjejer


"Bagaimana? Dijamin pelayanan memuaskan. Kamu tidak akan kecewa, ukuran didalam, pastinya bukan size kecil, size besar dan panjang. Silahkan dipilih, harga service bisa di nego..." ucap seorang mami, tersenyum menatap Frea.


Beberapa pria yang berjejer tersenyum, menatap calon klien salah satu dari mereka yang terpilih nantinya. Tidak habis fikir wanita secantik ini menyewa gigolo. Bahkan tanpa dibayarpun mereka bersedia memberikan service, apalagi jika dibayar.


"Tidak, ada yang aku sukai. Ada yang lebih mahal disini? Pria yang sering disewa artis atau wanita karier setingkat direktur?" tanya Frea mengingat rupa dan bentuk tubuh suaminya yang terlihat jauh lebih sempurna.


"Mereka juga sering disewa kalangan atas. Tapi jika kamu ingin yang termahal, tunggu sebentar..." sang mucikari tersenyum, berjalan keluar.


Aku mohon Tomy ...aku mohon Tomy...aku akan mempertaruhkan, membayar dengan salah satu tokoku jika ini Tomy... pintanya dalam hati.


Griet...


Pintu mulai terbuka, sang mucikari masuk diikuti seorang pemuda. Pemuda blasteran, dengan tubuh berotot, sorot mata coklatnya tajam. Mungkin dapat menghipnotis wanita mana saja untuk menyentuhnya.


"Ini yang termahal..." ucap sang mucikari dengan bangganya.

__ADS_1


Frea mengenyitkan keningnya, mungkin satu-satunya wanita yang tidak menjerit kegirangan menatap pemuda yang berdiri. Terlihat jantan penuh kharisma dengan senyuman mematikan.


"Bukan yang seperti ini!! Wajahnya pucat seperti vampir, tapi senyumannya secercah matahari. Pintar memasak, pintar memperbaiki rumah, suka kebersihan, jika bertemu orang lain sifatnya arogan. Ada yang seperti itu?" tanyanya, menerangkan tentang sosok Tomy.


"Kamu mencari kepuasan di tempat tidur atau mencari jodoh!?" sang mucikari mengenyitkan keningnya kesal. Mendengar kata-kata pandai memasak, pintar memperbaiki rumah, serta suka kebersihan.


"Tapi, aku bertemu di club'malam ini yang seperti itu. Namanya Tomy dia..." kata-katanya terhenti. Sang mucikari, mencari isyarat agar pria-pria yang berada di ruangan, keluar.


Kemudian mengikuti mereka, hingga ambang pintu,"Kalau tidak berniat menyewa, jangan buang-buang waktu!!" bentaknya membanting pintu kesal.


Frea mengacak-acak rambutnya frustasi, "Aku menghamburkan uang hanya untuk reservasi ruangan VVIP," gumamannya kesal.


Sejenak perhatiannya teralih, teringat sosok Merlin dan Hera, direktur salah satu anak cabang JH Corporation. Dua nama yang dekat dengan sosok Tomy. Masih menyangka kedua orang itu pernah menyewa dan berkencan dengan suaminya.


"Sugar Momy..." geramnya kesal, mengingat kemungkinan Tomy kembali pada salah satu dari mereka.


***


Penampilan yang terlihat sempurna, menatap dirinya sendiri di cermin. "Aku akan bersaing dengan mereka, walaupun mempertaruhkan tokoku!! Dasar tante-tante!!" racaunya kesal, penuh rasa kecemburuan yang membabi buta. Berjalan meninggalkan kamar, mencari keberadaan suaminya yang membuatnya tidak dapat tidur selama beberapa hari ini.


Mungkin karena kebiasaan bocah tengik itu memeluknya ketika tidur. Memberinya rasa nyaman, meramaikan hari-hari penuh tawa.


Frea sedikit tersenyum sebelum menutup pintu apartemennya,"Aku akan membawamu kembali, berapapun penawaran harga yang kamu buka..." ucapnya.


***


Merlin membaca naskah, duduk ditemani managernya. Tidak menyadari bahaya yang mengintai, hingga Frea mulai berjalan mendekat.


"Berhenti!! Kamu siapa?" tanya salah seorang kru film.


"Aku ingin bertemu dengan Merlin dan meminta tanda tangan..." jawabnya, asal.


"Tunggu disini, jumpa fans setelah syuting usai," sang kru menghela napas kasar, tidak ingin waktu syuting terganggu.


Tidak diijinkan masuk, terdiam di belakang pagar pembatas, berjongkok terkantuk-kantuk, selama beberapa jam. Hingga malam menjelang, syuting telah usai. Frea mulai bangkit, mengamati dari jauh Merlin mengenakan kacamata hitamnya, mengambil tasnya hendak beranjak.


Sekarang saatnya, menanyakan keberadaan Tomy pada tante pecinta daun muda... gumamannya penuh tekad, berjalan mendekat beberapa langkah.


"Tante Merlin, aku..." kata-katanya terhenti.


Puluhan orang datang berkerumun,"Merlin!! Merlin!!" teriak orang-orang itu, tidak menyisakan tubuh Frea sama sekali berdesakan, terinjak. Bahkan terkadang yang nampak hanya tangannya saja. Merlin membuka sedikit kacamatanya, menyadari keberadaan menantunya, tersenyum berjalan seolah tidak melihat. Masuk ke dalam mobilnya dengan bantuan dua orang bodyguard, melewati kerumunan fans.


Dalam pintu mobil yang tertutup, sang manager mengenyitkan keningnya."Bukannya yang pertama menghadang kita adalah menantumu?" tanyanya.


"Iya, dalam sinetron, aku adalah ibu mertua yang kejam. Jadi biarkan dia tersiksa diluar sana..." Merlin tertawa kecil, mengerikan.

__ADS_1


***


Langkahnya gontai, dengan tubuh dan rambut acak-acakan. Mulai membaringkan dirinya di tempat tidur, tertidur perlahan karena kelelahan setelah saling dorong dengan fans Merlin.


"Bocah nakal..." Frea mengigau dalam tidur lelapnya.


Buntu, itulah jalan yang ditemuinya. Sangat sulit untuk menemui Merlin yang dianggapnya sebagai salah satu klien yang pernah berkencan dengan suaminya.


Hingga disinilah dirinya berdiri, dihadapan gedung pencakar langit yang besar. Salah satu anak cabang JH Corporation tempat Hera bekerja.


Menunggu di parkiran menjadi pilihannya, hingga wanita berusia 55 tahun itu keluar.


"Maaf, apa nama anda Hera?" tanyanya, dengan wajah serius.


"Iya, ada keperluan apa?" jawab Hera, penuh kharisma hendak memasuki mobil.


"Lepaskan suami saya!! Jangan menjadikannya pria simpanan!! Saya akan membayar berapapun..." ucapnya asal bicara. Melirik mobil Hera yang berharga fantastis. Mungkin seharga dua buah toko miliknya.


"Jangan macam-macam ya!! Ini pencemaran nama baik!! Suami saya seorang jaksa!! Saya dapat menuntutmu!!" Hera meninggikan intonasi bicaranya, mengeluarkan keringat dingin, terlihat beberapa orang disekitarnya mulai berbisik-bisik menggunjingkan bos mereka.


Wanita itu berusaha mengingat-ingat, tidak pernah rasanya memiliki pria simpanan. Paling hanya One Night Stand (hubungan satu malam) dengan pria penghibur.


"Tante-tante pelakor!! Ingat umur!! Suami saya masih muda, usianya baru 28 tahun!! Tolong kembalikan dia!!" bentak Frea kesal.


"28 tahun? Memang siapa nama suamimu!?" tanya Hera.


"Tomy..." jawabnya.


"Istrinya orang gila itu!?" Hera tertawa dengan kencang,"Security!!" panggilnya berteriak.


***


Siapa bilang jago beladiri harus berkelahi dalam setiap situasi? Frea hanya dapat menahan diri, tidak ingin dibawa ke kantor polisi hanya karena mematahkan tulang dua orang security. Membiarkan tubuhnya di dorong keluar dari gerbang kantor.


Hera mengenyitkan keningnya, menertawakan wanita di hadapannya,"Istrinya pak Tomy orang biasa!? Monster gila itu menikah dengan orang biasa!? Jangan menjadi penipu, hanya karena tau nama orang dari kalangan atas,"


"Kalangan atas!?" Frea mengenyitkan keningnya.


"Iya, asisten pemilik JH Corporation. Namanya Tomy, satu-satunya monster gila yang tidak ada hentinya mengirimkan pekerjaan. Semua harus sempurna, tidak boleh salah sedikitpun!!"


"Orang gila itu memang baru menikah, aku bisa menebak istrinya wanita super sempurna!! Jadi jangan bawa-bawa nama istri monster gila itu, karena tidak mungkin berpengaruh. Tidak akan ada yang percaya istri yang disembunyikannya orang biasa," ucapnya kembali tertawa, berjalan kedalam hendak mengambil mobil miliknya di area parkir.


Dua orang security menutup gerbang, membiarkan Frea tertegun seorang diri.


"Di... dia bukan gigolo?" gumamnya, tertegun tidak percaya dengan pendengarannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2