
"Kandunganmu baik-baik saja, morning sick biasa terjadi pada kehamilan trimester awal..." Albert tersenyum, merogoh tasnya, memberikan lolipop pada Gea yang terlihat mencemaskan calon ibunya.
"Tenang, adikmu tidak apa-apa, jangan takut," lanjut sang dokter penuh senyuman, seraya memberikan beberapa vitamin pada Mona.
"Terimakasih..." wajah suram Gea, berangsur menjadi senyuman, mengelus pelan perut Mona.
"Saya undur diri," ucapnya berjalan keluar, meninggalkan kamar Mona.
Vincent? Pria itu harus segera kembali bekerja di bank, tidak dapat mengambil cuti sakit terlalu lama. Menyerahkan segala persiapan pada EO, mengingat dirinya yang kembali harus cuti saat hari pernikahan.
"Dokter Albert baik, jika besar nanti aku ingin menjadi seorang dokter. Agar dapat merawat ibu dan ayah ketika sakit nanti," kata-kata polos yang keluar dari mulut Gea, memakan lolipop yang diberikan padanya.
Mona hanya mengangguk, memeluk tubuh putri sambungnya.
Pemuda bernama Albert berjalan menelusuri lorong, menatap ke arah jam tangannya beberapa kali. Hingga, langkahnya terhenti di depan kamar Tomy yang tertutup.
Senyuman ramah tidak terlihat lagi di wajahnya. Kembali berjalan, menyadari tidak akan ada yang keluar hingga dirinya menghela napas kasar, berusaha tersenyum.
Menatap Frea yang duduk di ruang tamu ketika turun menuju lantai satu, menimang Kira dalam dekapannya.
"Bayi mungil yang manis, namamu siapa?" tanya sang dokter menyentuh pipi Kira penuh senyuman.
"Namanya Kira," jawab Frea tersenyum pada sang dokter muda.
"Kira manis, mau berfoto dengan paman?" tanyanya, terlihat gemas.
"Boleh aku mengambil foto dengannya? Dia manis," Albert meminta izin, dijawab dengan anggukan oleh Frea.
Pemuda itu merogoh sakunya, mengambil beberapa gambar. Hingga, aktivitasnya terhenti menatap, Tomy melangkah turun diikuti seorang pemuda yang kini telah terlihat lebih bersih, memakai pakaian rapi.
"Tuan..." ucap sang dokter muda, menunduk memberi hormat.
Tomy menghela napas kasar, mengenyitkan keningnya, kemudian berbisik pada Frea. "Jangan terlalu dekat dengannya, dia terlihat mencurigakan..."
Frea membulatkan matanya, mengeluarkan keringat dingin ketakutan, menoleh ke arah Albert, mulai berbisik pada suaminya,"Mencurigakan bagaimana? Dia terlihat baik..."
"Rupa luar tidak sama dengan dalamnya..." ucap Tomy kembali.
Tidak menyadari dua orang yang berada disana mendengarkan kata-kata mereka yang tidak terlalu pelan itu.
Rangga (nama sang gelandangan) mengenyitkan keningnya, ingin rasanya menepuk jidatnya sendiri menatap kelakuan pasangan suami istri itu. Yang berbicara berbisik, namun terdengar jelas di hadapan orang yang mereka bicarakan.
Sedang, Albert yang menjadi topik pembicaraan mereka, berusaha menampakkan senyuman lebarnya, menahan segala kekesalannya. Ingin rasanya mengumpat dan membela diri, namun semua tertahan dalam senyuman.
__ADS_1
"Apa maksudnya? Apa dia akan berusaha menyerang kita?" tanya Frea masih berbisik, dengan volume tidak terlalu pelan.
Kedua orang yang berdiri disana, seketika memasang radarnya. Mendengar baik-baik hal yang akan dikatakan Tomy.
"Tidak, lebih berbahaya...dia mungkin akan..." kata-kata Tomy kembali terhenti.
Suasana lebih tegang, Rangga yang tidak mengenal Albert mulai melirik ke arahnya menjaga jarak. Sedangkan Albert tetap berusaha tersenyum, mendengar kata-kata salah satu majikannya.
"Akan merebutmu dariku..." Tomy malah tersenyum, mengecup pipi Frea dihadapan dua makhluk hidup yang masih singgel.
Krik...krik...krik... (Anggaplah suara jangkrik entah dari mana)
Membuat kedua orang pemuda itu merasa lebih dongkol lagi. Berfikiran Tomy akan menganggap Albert sebagai musuh? Tapi, apa ini? Pemuda itu hanya cemburu pada sang dokter muda yang tinggal disana.
"Dia sudah gila..." Albert menghela kasar.
"Aku ingin punya pacar, apa punya pacar menyenangkan?" mata Rangga berkaca-kaca, menatap pasangan suami istri yang membuat siapapun iri.
"Bodoh..." cibir Albert, kembali naik ke lantai dua.
Pemuda itu, berjalan menaiki tangga hingga menuju kamarnya. Merogoh kembali phoncellnya, guna mengirim fotonya bersama Kira, pada seseorang. Pemuda itu menghela napas kasar, menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar seakan kelelahan.
***
Posisi yang dipegang Rangga? Seseorang yang bahkan tidak dapat menunjukkan ijasahnya? Tentu saja pelayan pribadi Tomy, bukan asisten, namun pelayan.
"Ada yang salah..." Tomy mengenyitkan keningnya.
"Apa?" tanya Rangga dengan wajah lugunya.
"Kenapa posisiku seperti supir taksi!! Pindah ke kursi depan!!" bentak Tomy, terheran-heran bisa-bisanya dirinya bagaikan supir.
"Maaf..." Rangga tertawa kecil cengengesan segera berlari, duduk di kursi penumpang bagian depan.
***
Tidak ingin hal yang buruk terjadi padanya lagi, dua orang pengawal ditugaskannya berjaga dekat area kantor pusat. Seperti biasa mobil Tomy berhenti di depan kantor pusat Bold Company.
Security membukakannya pintu untuknya. Salman segera berjalan cepat mengikuti langkah tuan mudanya.
"Benar-benar keren, aku ingin sepertinya..." Rangga tertegun kagum, sejenak kemudian berlari cepat mengejar langkah Tomy,"Tuan tunggu!!" panggilnya, berteriak.
Bagian dalam kantor yang besar, Rangga hanya dapat melangkah cepat mengikuti Tomy dan Salman. Seakan takut akan tersesat, dalam gedung pencakar langit itu.
__ADS_1
Hingga memasuki lift, sudah ada dua orang didalamnya, Frans dan Rey sekretarisnya. Tomy masuk tanpa terlihat peduli. Aura suram terasa disana.
"Kenapa memecat begitu banyak orang?" Frans memulai pembicaraannya.
"60% perusahaan ini milikku, aku orang terkaya di perusahaan ini, berarti apapun yang aku lakukan terserah aku, bukan?" jawab Tomy tersenyum mengejek.
"Kita tidak ada dendam, mari bersahabat..." Frans mengulurkan tangannya.
"Kita punya dendam, kamu meminta istriku menjadi Bed Partner-mu..." wajah Tomy terlihat datar tanpa ekspresi.
Sementara Rangga, Rey, dan Salman mulai menahan tawa, menatap berbeda pada sosok Frans yang kaku.
"Aku tidak bermaksud, hanya menguji kemampuan bahasa Inggris..." kata-kata Frans yang hendak menjelaskan terhenti.
Ting...
Pintu lift tiba-tiba terbuka.
Salman, tertawa kecil,"Bed Partner," cibirnya. Diikuti gelak tawa Rangga yang juga berjalan cepat menyusul langkah Tomy keluar dari lift.
"Tuan maaf, bed partner?" Rey ikut-ikutan menipiskan bibir menahan tawanya, seakan bertanya.
"Diam!!"
***
Sementara itu, di sebuah rumah sakit...
Suki menatap ke arah jendela, menghela napas kasar, berusaha tersenyum,"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanyanya pada Miko.
"Tuan muda Tomy menjalankan tugasnya dengan baik. Proyek besar di Filipina sempat mengalami kerugian besar, membuat harga saham sempat merosot. Namun, belakangan ini kembali meningkat dengan adanya usulan pengembangan produk baru..." jawab Miko, menghela napas kasar, sembari mengupas buah apel.
"Baguslah, ini mungkin sebagian karma atas perbuatanku, anggota keluarga yang berusaha saling membunuh. Perusahaan yang aku rintis hampir dikuasai orang lain..." ucapnya dengan setetes air mata mengalir dari ekor matanya.
"Ini bukan kesalahan anda, itu keputusan yang sulit untuk dibuat..." Miko mulai memotong buahnya, menatap wajah tuannya.
"Aku tau, tapi benar-benar seperti hukum karma. Aku mengangkat anak itu sebagai anak asuh. Tapi memperlakukannya tidak adil, setiap detik dalam kehidupannya saat di rumahku mungkin sudah seperti di neraka,"
"Anak yang pintar, aku mengembalikannya ke panti asuhan, sungguh bodoh..." lanjutnya terdengar, terisak.
"Tuan muda Tomy tumbuh di lingkungan yang lebih keras, tapi dapat bertahan. Anak itu juga pasti akan bertahan, jangan menyalahkan diri anda lagi..." Miko, menyodorkan potongan buah pada Suki.
Suki hanya terdiam, tidak mengambil piring yang disodorkan Miko. Menatap ke arah jendela.
__ADS_1
Apa kamu masih hidup... Apa dapat hidup dengan baik...
Bersambung