Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Sosial Experiment


__ADS_3

Hujan gerimis membasahi jendela mobil yang melaju. Hawa dingin terasa menusuk kulitnya. Menyetir dalam keadaan emosional? Itulah yang terjadi, hingga Zion yang kali ini duduk di kursi pengemudi. Sebuah pesan masuk melalui handphonenya, pesan yang dikirimkan salah satu pengawal.


Tomy menghela napas kasar menatap video dewasa di handphonenya,"Dia menikmatinya," cibirnya tersenyum jijik, sejenak mengalihkan pandangannya menatap tetesan hujan menyapu jendela mobilnya.


Dendam? Apakah itu ada? Tentu saja, Tomy masih mengingat dengan jelas cibiran lingkungan sekitar tentang ibunya. Namun, Merlin memang menjual dirinya, tidak ada pembelaan yang dapat diucapkan seorang anak gagap.


Lia beberapa kali datang hanya untuk sekedar mencibir, berusaha menyulut pertengkaran. Tujuan? Mungkin hanya untuk melampiaskan emosinya pada Adrian yang tidak pernah bersikap hangat lagi padanya. Apa itu salah ibunya? Merlin tidak pernah menemui Adrian lagi. Jika tidak sengaja bertemupun, mereka hanya bertengkar seperti anak kecil.


Namun, hasil tindakan dan kata-kata hinaan Lia, membuat Merlin di pandang lebih rendah lagi. Ibu dan anak yang semakin banyak mendapatkan cibiran.


"Tomy?" Zion mengenyitkan keningnya, masih konsentrasi pada jalanan.


"Emm," hanya satu jawaban yang keluar dari mulutnya. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini.


"Kita akan ke hotel, rumahmu, atau kantor polisi?" tanyanya.


"Tidak tau, jalan saja..." ucapnya hanya terdiam menatap hujan gerimis di pagi yang dingin.


Jalan saja? Tau begitu aku tinggal di rumah saja... Tempat tidurku akan dingin tanpa kehadiranku... Dia (Tomy) sudah menikah, belum mengerti juga, dasar... gerutu Zion dalam hatinya, mencengkram erat stir mobil, masih berusaha tersenyum.


"Tomy, aku serius, kita akan kemana?" tanyanya kembali.


"Hotel saja, kita cari petunjuk lebih banyak lagi. Jika perlu ancam staf hotel..." jawabnya tanpa ekspresi, menemukan jalan buntu.


"Siap senior!!" Zion tersenyum, kembali menginjak pedal gasnya, akhirnya mendapatkan tujuan yang jelas.


Hingga, handphone Tomy kembali berbunyi dengan nomor pemanggil tidak tercatat. Pemuda itu menghela napas kasar, mengangkat panggilannya.


"Maaf, ini siapa?" tanyanya, menyenderkan tubuhnya.


"Aku Frea, bisa menjemputku? Aku terkena sedikit masalah..." jawab seseorang di seberang sana terdengar canggung.


"Zion!! Hentikan Mobilnya!!" bentak Tomy, pada pemuda yang duduk di sampingnya.


Kriiiiet....


Kampret... Aku hampir terkena serangan jantung. Bisa bicara pelan-pelan sedikit... cibir Zion dalam hati, mengerem mendadak, mobil sport yang tadinya melaju dalam kecepatan tinggi.


"Masalah? Kamu tidak apa-apa kan? Perlu aku panggil ambulance? Jangan ragu bercerita apapun padaku, bagaimanapun kondisimu sekarang apapun yang sudah terjadi padamu, aku akan tetap mencintaimu..." ucapnya cepat, penuh haru dalam kepanikan. Seolah logikanya menghilang, melupakan menanyakan lokasi terlebih dahulu.


"Masih menganggap istrimu diperkosa?" Zion bersungut-sungut dengan suara kecil, samar-samar mendengar suara Frea yang sepertinya baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku berhutang. Dompetku ketinggalan, bisa jemput aku di warung kecil, Jalan. Kenanga nomor 342?" tanyanya.


Tomy tertegun sejenak, mengenyitkan keningnya."Warung itu masih ada?" gumamnya tertegun.


Mampus... Kakek itu akan mencibirku habis-habisan lagi... gerutunya dalam hati mengingat mulut pedas penjaga warung yang selalu memberinya dua bungkus nasi, dan uang sebesar sepuluh ribu rupiah.


***


Siapa sangka, warung tua yang sudah berkali-kali di renovasi namun tidak mengubah bentuk asalnya itu masih berdiri, walaupun jarang buka. Untuk apa? Suki masih berharap cucu yang paling sering dicacinya datang, hanya untuk sekedar singgah.


Namun kini kakek tua itu duduk di atas kursi roda. Terdiam di tengah hujan gerimis, menyaksikan sebuah mobil sport diikuti dua mobil lainnya berhenti di warung kumuh itu.


Seorang pria ber jas hitam (pengawal) di mobil belakang berlari membukakan payung untuknya(Tomy). Satu lagi pria dari mobil yang sama berlari membawakan payung untuk seorang pemuda yang turun dari kursi pengemudi (Zion).


Suki mengenyitkan keningnya, menatap sosok pemuda yang berkulit putih, memakai pakaian yang tidak berharga murah. Berbeda dengan 17 tahun yang lalu, anak berkulit dekil dengan pakaian compang-camping, sandal jepit dengan peniti di bagian bawahnya.


Suki mengepalkan tangannya, penuh harap akan sosok pemuda yang turun.


Hingga, gerak gerik itu terlihat lagi, memasuki warung dengan canggung dan ragu. Sama seperti 17 tahun yang lalu, anak yang canggung. Takut dirinya akan di cibir, namun masih memerlukan uang dan dua bungkus nasi.


Plak ....


Sebuah snack dilempar Suki dengan kencang tepat mengenai wajah Tomy. Lengkap dengan teh yang mulai mendingin, mengenai wajahnya.

__ADS_1


Wah, berani sekali kakek ini, dipastikan warungnya akan rata dengan tanah... fikir Zion menggeleng-gelengkan kepalanya iba.


"Maaf..." Tomy yang biasanya dingin, kini takluk penuh rasa bersalah. Takluk? Tentu saja pemuda itu hanya akan takluk pada orang yang berjasa dalam hidupnya.


Dia memang cucuku yang gagap... Suki menipiskan bibir, menahan tawanya.


Minta maaf? Aku tidak salah dengar kan? Kakek tua yang hebat... Zion mengacungkan jempolnya, menatap kakek Suki.


"Katanya besok akan datang!! Tapi tidak datang!! Es yang aku buat meleleh hancur semua!!" bentak Suki menunjuk-nunjuk pada pemuda di hadapannya.


"Maaf...!!" Tomy kembali menunduk, mengingat dirinya memang pergi tanpa pemberitahuan.


"Sekarang sudah bisa bicara lancar!? Lalu mau berhenti!! Besok bawa es lilin lagi!!" kakek Suki bersungut-sungut, terlihat merajuk.


"Kakek, sekarang aku sudah dewasa, punya banyak pekerjaan, aku..." kata-kata Tomy di sela.


"Pantas saja tidak pernah kesini!! Anak wanita malam, memang seperti kacang lupa pada kulitnya!!" sindiran dari mulut pedas itu lagi terdengar.


"Tomy, kamu kenal kakek ini?" Frea mengenyitkan keningnya.


"Tentu saja suamimu kenal!! Dia ini penjual es lilin keliling!!" cibir sang kakek pada cucunya.


"Sttt... kakek itu istriku, jangan ceritakan..." kata-kata Tomy terhenti.


"Ceritakan apa!?" bentak Suki kembali. Membuat Tomy beringsut menunduk, tidak dapat berkata-kata."Berlutut!!" anehnya Tomy menurut, berlutut di hadapan pria yang duduk di kursi roda.


Ceritakan betapa kerasnya hidupmu? Kamu sudah tumbuh dewasa... jemari tangan keriput sang kakek mengelus rambutnya pelan. Menyentuh bahu kokohnya.


Maaf kakek egois, mendidikmu terlalu keras. Berencana membiarkanmu hidup dalam kesulitan hingga SMU, kemudian membawamu pulang saat kelulusanmu. Tapi cucuku yang gagap, menempuh jalan yang berbeda 17 tahun yang lalu. Menghilang sebelum kakek membawamu pulang, meraih hidup yang lebih baik, seorang diri...


Sang kakek menangis terisak, memeluk erat tubuh Tomy. Haru, begitulah semua orang melihat adegan di hadapannya, "Akhirnya, kamu kembali untuk mengganti rugi es lilin yang mencair 17 tahun yang lalu..." ucap sang kakek.


Seketika suasana hening, Tomy mengenyitkan keningnya,"Aku harus membayar ganti rugi karena tidak datang?"


Kakek Suki masih memeluk cucunya sembari mengangguk,"60.000, karena inflasi nilai barang menjadi 120.000 ditambah dengan cemilan yang dihabiskan istrimu. Totalnya 156.000,"


Tepatnya saat dirinya berusia 9 tahun, kakek tua yang memanggil, kemudian memeluknya. 'Anak gagap, kamu lapar? Bagaimana jika menjual es lilin, milik kakek?' kata-kata dan pelukan hangat yang tidak dimengertinya kala itu.


***


Tomy menghela napas kasar, menggenggam jemari tangan Frea, setelah mendengar dari istrinya, semua hal yang terjadi,"Terimakasih..." ucapnya tersenyum.


"Sesuai janji istrimu. Kamu berhutang seumur hidup padaku..." kata-kata Suki terdengar tegas,"Bocah gagap!! Kamu bisa melunasinya mulai dari sekarang..." ucapnya dengan pria di belakangnya mengeluarkan dua termos besar es lilin, yang entah di dapatkannya dari mana.


"Es lilin lagi?" Tomy mengenyitkan keningnya.


"Jual di cafetaria tempatmu bekerja..." ucap Suki tersenyum tanpa dosa.


Aku sudah mendapat firasat buruk dengan mendatangi tempat ini lagi... benarkan?... lihat es lilin menyebalkan berbagai warna itu. Mungkin saat Frea hamil nanti anak kami akan meminta es lilin. Karena ayahnya membawa banyak es lilin kemana-mana... sial... cibir Tomy dalam hati.


"Es lilin..." Tomy mengangkat dua buah termos tanpa dapat membantah.


"Nanti kakek bungkuskan makanan, tenang saja!! Lauknya ikan teri dan sayur bayam..." Suki tertawa kencang, tidak dapat menahan tawanya lagi.


"I...iya, aku akan membalas budi dengan baik. Aku pamit..." Tomy tersenyum, memegang payung untuknya dan Frea. Sedang termos es diraih pengawalnya dimasukkan ke dalam kursi penumpang bagian belakang.


"Nanti sore jangan lupa datang, kembalikan termos kosongnya!! Tanpa nasi bungkusku, kamu tidak akan bisa makan kan!?" ucap sang kakek dari warung.


"Iya!!" teriak Tomy dari mobil yang mulai melaju.


Suki terdiam sejenak, menatap kepergian cucunya.


"Tuan besar..." sang bawahan tertunduk, seperti ragu ingin bertanya.


"Ada apa?" Suki menghela napas kasar.

__ADS_1


"Saya rasa, tuan Gilang, Mona, dan Leon serta Agra, lebih cocok menjadi kandidat komisaris. Mereka lebih mengetahui situasi perusahaan, juga pendidikan..." kata-kata sang bawahan terhenti.


"Ambil tab di laci..." ucapnya.


Sang bawahan menurut, mengambil benda tersebut.


"Buka dokumen, yang aku beri kata sandi. Sandinya 12FR15TY21," Suki menghela napas kasar.


Sang bawahan menurut, mengenyitkan keningnya tidak percaya menatap dokumen tersebut.


Isi dokumen? Seluruh profil asisten JH Corporation. Tentunya Suki membayar mahal pada profesional heaker. Dokumen yang menyatakan pendidikan ketika di Singapura, namun tidak mengikut sertakan masa kecil.


"Gelar master, National University of Singapore? Bahkan ikut andil mendirikan JH Corporation?" tanyanya menatap tidak percaya. Mengingat usia Tomy yang masih terlalu muda serta, hidup tanpa perlindungan Suki.


"Lebih dari itu, perusahaan kain kita hampir tutup. Saat itu, aku harus turun tangan sendiri, karena dia (Tomy) melaporkan tentang proses pengolahan limbah yang tidak benar. Padahal dia tau sendiri, merk Bold tentu saja milik keluarga besar ayahnya. Melumpuhkan lawan, tidak memandang keluarga, hanya memandang yang benar dan salah. Orang teliti tanpa celah..." Suki tertawa kecil penuh kebanggaan.


"Dia lebih memihak JH Corporation? Lalu kenapa anda bersikeras menemukan fakta tentangnya?" tanya sang bawahan tidak mengerti dengan fikiran tuan besarnya.


"Salah satu pabrik kain kita yang bermasalah, saat itu di pegang oleh Agra. Agra memilih menyuap pejabat setempat agar diloloskan dari uji pengolahan limbah dari pada memperbaharui alat,"


"Tidak teliti, membiarkan lawan menemukan celah, berbuat curang. Memimpin di dalam negeri tidak apa-apa, tapi ketika memimpin bisnis besar multinasional. Menggunakan cara-cara tersebut, maka cepat atau lambat semua akan runtuh..." jelasnya.


"Lalu kenapa anda tidak terus terang saja memintanya membantu di perusahaan?" tanya sang bawahan kembali.


"Tidak bisa, cucuku memiliki royalitas yang tinggi pada orang yang pernah menolongnya. Pemilik JH Corporation adalah orang yang menyokong biaya kuliahnya, saat ini bocah licik itu (pemilik JH Corporation) dalam keadaan koma. Satu-satunya jalan membawa Tomy kembali hanya meminta langsung padanya..."


Suki menghela napas kasar,"Sebenarnya ada cara lain, sandra ibu dan istrinya. Ancam akan membunuh mereka, menguliti mereka hidup-hidup. Tapi aku akan menjadi kakek yang buruk kan?" ucap Suki tertawa dengan leluconnya yang tidak lucu.


***


Kantor JH Corporation...


Kali ini langkahnya tertuju menuju cafetaria, pegawai disana mengenyitkan menatap karyawan berpenghasilan paling tinggi, sekaligus paling pelit di kantor tersebut.


"Es lilin?" tanyanya memastikan.


Makhluk astral super pelit ini ingin menjual es lilin? Dia fikir ini kantin Sekolah Dasar... gumaman sang pegawai cafetaria menatap jenuh.


"Aku hanya menitipkannya, apa tidak boleh!?" Tomy mengenyitkan keningnya.


"Tapi..." sang pegawai cafetaria menghela napas kasar, mengingat tidak mungkin ada anak kecil di kantor atau ada karyawan yang mayoritas dari kalangan menengah ke atas akan membelinya.


"Taruh dan bantu aku jual!! Apa susahnya!?" ucap Tomy berjalan meninggalkan pegawai cafetaria, acuh tak acuh mengingat kesibukannya yang menumpuk.


"Orang pelit gila..." cibir pegawai cafetaria menatap es lilin berwarna-warni bagaikan pelangi.


Namun siapa yang sangka, salah satu pegawai mempostingnya dalam Group media sosial, setelah mengambil gambar Tomy dari jarak yang lumayan jauh.


Fans? Mungkin adalah seseorang yang tidak akan pernah berfikiran buruk tentang idola mereka.


'Pak Tomy membawa dua termos es, dengan memakai jas. Babang-babang es lilin keren!! Kuy...borong ke cafetaria...'


'Vampir keren kita, mungkin mengajarkan cara hidup sederhana, calon suami idaman'


'Gajinya paling tinggi, calon suamiku mungkin sedang melakukan sosial experiment...'


Dan masih banyak komentar lainnya yang membuat jajanan anak-anak itu laku keras.


Sementara, Frea memaksa ingin bekerja seperti biasanya, walaupun Tomy menginginkan agar istrinya tinggal di rumah sementara. Wanita itu, menghela napasnya menatap komentar dalam Group Facebook.


"Frea kenapa suamimu menjual es lilin?" Keysha bertanya penuh rasa penasaran.


"Dia sudah melakukannya dari dulu, untuk nasi bungkus dan bertahan hidup..." jawab Frea jujur.


Keysha terdiam seketika, mengenyitkan keningnya mendengar jawaban tidak masuk akal yang keluar dari mulut Frea.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2