
Mata renta perlahan terbuka, menatap wanita rupawan yang menggenggam jemarinya.
"Maaf..." Merlin terjatuh, terkejut mengetahui Damar tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa," wajah keriput itu tersenyum di hadapannya, mengacak-acak rambutnya. Kemudian bangkit dari sofa, berjalan memegangi kepalanya menuju kamarnya.
Wanita itu berlari dengan cepat, memapahnya,"Kamu sakit?" tanyanya.
Damar mengangguk, tersenyum tipis,"Aku sudah tua, jadi wajar saja memiliki banyak penyakit..."
Merlin menatap iba padanya, hanya ditemani pelayan di sana. Tidak memiliki sanak keluarga, membimbingnya perlahan menuju kamar. Hanya pria yang nampak tegar, sepatu dan kaos kaki Damar dilepaskannya.
"Ambilkan obat di laci..." ucapnya, Merlin mengangguk menuangkan air. Membantunya minum.
Obat-obat berukuran cukup besar, beberapa botol berada di laci, jenis obat-obatan yang tidak diketahuinya.
"Uuuueekk..." pria renta itu tiba-tiba muntah. Merlin mengelus pelan tengkuknya tanpa jijik,
"Keluarkan semuanya..." ucapnya menggenggam jemari tangan Damar, berusaha menguatkannya.
"Kamu tidak jijik?" kata-kata itu bagaikan diulangi oleh Damar, menatap selimut, pakainya yang hampir semuanya dilumuri muntahan.
Merlin menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum, "Kamu manusia bukan? Aku mungkin akan jijik jika kamu siput berlendir," kata-kata Damar diulangi olehnya.
Mungkin kehangatan yang diinginkannya, tersembunyi di balik kulit keriput yang membalut tubuh tua renta di hadapannya.
Damar terdiam, setetes air matanya mengalir diseka olehnya. Menggenggam balik jemari tangan halus seorang wanita yang menemaninya beberapa hari ini. Merasa tidak seorang diri lagi.
Wanita itu tersenyum, membantunya berbaring, mengganti selimut yang tebal, serta pakaian Damar yang kotor. Benar-benar tidak jijik sama sekali, membersihkan tubuh keriput itu perlahan.
Andai penyakit ini tidak ada, andai kita hidup dimasa yang sama... Damar tertunduk, berusaha tersenyum. Menyadari dirinya yang sudah renta, tidak akan dapat memiliki wanita dengan wajah rupawan di hadapannya.
Tidak akan disukai oleh Merlin? Namun tidak ada yang mengerti isi hati manusia. Hati Merlin telah luluh dari awal, pada mata pria di hadapannya. Seseorang yang diinginkannya untuk melabuhkan hatinya, menemani hari-harinya. Pria yang bagaikan sinar matahari yang hangat.
Namun, apa Damar akan menyukai wanita penghibur sepertinya? Apa Damar tidak akan beranggapan buruk seperti semua orang, memandang Merlin sebagai wanita gila harta yang menyukai pria tua? Tapi, perasaan nyaman yang dirasakan Merlin nyata, walau hidup sederhana tidak apa, asalkan dapat bersama pria yang benar-benar mengasihinya dengan tulus. Dapat menjaga dirinya dan Tomy nantinya.
***
Hubungan asmara yang menggebu-gebu? Tidak, hanya hubungan kasih yang sederhana. Sesuatu yang mereka jalani beberapa bulan. Merlin sudah mulai debut menjadi selebriti membintangi beberapa judul film. Cantik, tubuh yang menggoda, namun tidak pernah memandang pria manapun.
Bahkan produser atau pengusaha yang sama kayanya dengan Damar pernah berusaha mendekatinya. Tentunya mereka berusia jauh lebih muda, dari sang pria renta. Tidak pernah ada yang digubris Merlin.
Setiap hari seusai syuting atau pemotretan mereka makan malam bersama di dalam rumah itu. Selebriti cantik, muda, sudah dapat hidup mandiri.
Damar hanya tersenyum tipis, menyadari mungkin suatu hari nanti, Merlin akan menemukan pasangan yang sesuai. Meninggalkannya kembali hidup seorang diri.
__ADS_1
Pria tua itu kembali berjalan ke toilet, memuntahkan isi perutnya. Kepalanya terasa lebih sakit lagi. Tubuhnya terasa limbung, ambruk, menutup matanya.
***
Kelopak mata keriput itu kembali terbuka, alat pernapasan terpasang padanya. Wajah wanita rupawan itu terlihat lagi, kali ini menangis menitikkan air matanya, meraung-raung bagaikan anak kecil.
"Jangan menangis..." ucapnya dengan nada lemah.
"Kanker otak? Apa tidak ada cara menyembuhkannya?" tanyanya, menggenggam jemari tangan Damar.
Damar menggeleng, "Aku terlalu tua untuk menjalani operasi, kemoterapi aku sudah lelah..." ucapnya.
"Ayo kita menikah!! Kamu harus sembuh..." Merlin antusias.
Damar berusaha tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jika karena iba, sebaiknya jangan. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang..."
"Aku ditolak?" Merlin mengenyitkan keningnya.
Damar kembali menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan begitu aku..." kata-katanya terhenti, Merlin berjalan cepat meninggalkan ruang rawatnya.
Pria renta itu hanya meneteskan air matanya, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, mengejar Merlin. Terdiam menatap pintu itu tertutup,"Aku mulai mencintaimu... Tapi masa depanmu masih panjang, untuk menikah karena iba,"
***
Tapi tanpa diduga, Merlin datang kembali membawa dua buah map, buket bunga, serta kotak yang berisikan sepasang cincin.
"Ini semua kelengkapannya, perjanjian pra nikah, aku tidak akan mengambil harta gono-gini sama sekali jika kita berpisah. Tinggal kamu tandatangani saja ..." ucap Merlin menyodorkan map pertama.
"Ini data lengkap tentang kesehatanku, aku sama sekali tidak memiliki penyakit seksual menular," map kedua disodorkannya.
"Ini cincin pernikahan kita, aku yang memilihnya sendiri... dan ini seratus tangkai bunga mawar...Aku mencintaimu..." ucapnya tulus, mencium pipi keriput dihadapannya.
"Aku dilamar?" Damar tertawa kecil, tersenyum padanya.
Merlin mengangguk,"Aku mencintaimu... akan menemani hingga akhir hidupmu. Jadi berusahalah sembuh, agar dapat merasakan lebih banyak kasih sayangku..." wajahnya nampak serius, memeluk Damar, sembari menitikkan air matanya.
Wanita cantik, memiliki karier yang bagus dengan tubuh menggoda, diidamkan banyak pria. Berakhir menyukai pria tua? Namun itulah kenyataannya, Merlin menemukan satu-satunya keajaiban dalam hidupnya, tempatnya berlindung dari sinar matahari yang terlalu terik. Jemari tangan tua renta yang dikasihinya.
***
Namun pohon tua akan lapuk, dedaunannya akan berguguran perlahan...
Pernikahan sederhana, yang tidak diliput media. Mengadakan resepsi yang hanya dihadiri beberapa rekan bisnis. Cibiran orang-orang terdengar.
"Seperti pasangan kakek dan cucunya..."
__ADS_1
"Damar yang pria tua berkharisma, sekarang aku melihatnya seperti orang tua mesum yang menyukai daun muda..."
"Aku tidak menyangka, Merlin wanita materialistis yang pintar. Menikahi duda tua kaya, hanya untuk mendapatkan hartanya..."
"Merlin menikah dengan pengusaha tua? Mungkin ini paksaan?"
Dan banyak lagi cibiran tentang pasangan beda usia itu. Merlin tidak menggubrisnya, keduanya hidup penuh senyuman, saling menggenggam tangan.
Kepuasan ranjang? Tidak, itu tidaklah penting untuk Merlin. Melakukannya jika suaminya menginginkannya, jika tidak, berbaring di tempat tidur berdua menceritakan hari-hari yang mereka jalani, penuh tawa.
Damar meraih tissue, menutupi hidungnya yang mimisan. Darah terus saja mengalir tanpa henti. Sudah lelah? Tubuh rentanya sudah lelah dengan rasa sakit. Namun wanita di sampingnya membantu menyeka menggunakan tissue, menghapusnya tanpa rasa canggung.
Dirinya tidak tega meninggalkan istrinya, wajah cantik yang terlihat masih muda. Tangan halus yang tiada kenal lelah, merawat, mengasihinya.
"Bertahanlah, aku mencintaimu..." tangisannya akan terdengar setiap kali Damar kesakitan akibat kanker ganas di otaknya.
Mungkin itulah yang memperpanjang hidupnya, walau hanya beberapa tahun.
***
Hingga, Merlin pulang dalam keadaan kacau. Memeluk erat tubuh suaminya.
"Tolong aku ..." ucapnya lirih, kala menyangka mayat remaja yang ditemukan di jalanan adalah putranya, walaupun ternyata bukan.
Namun, itu mampu membuat Merlin membulatkan tekadnya agar segera menjemput Tomy yang diyakininya berada di rumah Adrian.
"Ada apa?" Damar membalas pelukannya, menepuk punggungnya menenangkan.
"Maaf, menyembunyikannya aku bermaksud memberitahumu, setelah mengumpulkan uang untuk menjemputnya..." ucapnya dengan air mata yang mulai mengalir.
Damar melepaskan pelukan mereka jemari tangan keriputnya menyeka air mata istrinya."Tidak apa-apa, ceritakan pelan-pelan..."
"Aku memiliki seorang putra di luar nikah. Dia tinggal di rumah ayah kandungnya,"
"Aku ingin menjemputnya, tapi lima tahun yang lalu aku terlanjur menggunakan uang pria itu untuk operasi pengangkatan tumor," isaknya
"Aku ingin menjemputnya, setelah mengumpulkan uang, mengganti uang yang telah aku gunakan. Tapi aku baru mengumpulkan setengahnya, boleh aku pinjam uangmu?" pintanya.
Damar tertawa kecil, mengacak-acak rambut istrinya. "Kenapa tidak bilang dari awal? Putramu adalah putraku juga. Lagipula tidak perlu mengatakan, gunakanlah uang yang aku berikan sebelum uangnya dimakan rayap..." gurauannya.
Tidak pernah menggunakan uang pemberian Damar? Merlin tidak ingin perasaannya diragukan suaminya. Terlebih penghasilannya sebagai selebriti terbilang cukup untuk menunjang hidupnya.
Istri yang mencintai suami rentanya dengan tulus.
Bersambung
__ADS_1