Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Mulut Ember


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Johan mencari informasi lebih banyak lagi.


"Aku dulu satu sekolah dengan Mike," jawaban ambigu keluar dari mulut Tomy. Pemuda yang tersenyum, seolah-olah hanya menyaksikan, tidak mengalami hal yang diceritakannya.


"Omong-omong, apa kak Frea tidak kerepotan? Biar aku tinggal disini, membantu kakak. Aku akan menjaga kakak, dan calon keponakanku..." ucap Fani tersenyum cerah.


Frea menatap jenuh. Merawatku, atau merawat suamiku di tempat tidur...


"Aku hamil, bukan pasien lumpuh yang harus dibantu ke kamar mandi..." ucapnya sinis


***


Beberapa puluh menit menunggu, mobil Johan, serta mobil Fani keluar dari kediaman yang cukup besar.


Adrian menghela napas kasar, menatap Johan yang memarkirkan mobil di dekat mobilnya.


"Kenapa berhenti?" Ririn yang pulang menggunakan mobil terpisah dengan Fani dan Wena mengenyitkan keningnya.


"Ibu ingat anak ke tiga tuan Adrian?" tanya Johan.


Ririn mengangguk,"Anak diluar nikah yang hilang entah kemana bukan? Jika tidak salah informasi terakhir yang didapatkannya anak ketiganya sempat kuliah di Singapura. Kenapa? Apa sudah ketemu? Jika sudah, Fani mungkin akan senang berkenalan dengannya. Memiliki Tomy, sebagai menantu, ditambah anak ketiga tuan Adrian. Aku seperti bermimpi..." ucapnya.


"Ini ada hubungannya dengan anak ketiga tuan Adrian," Johan mulai membuka safety beltnya, berjalan keluar dari mobil diikuti Ririn yang belum mengerti kata-kata suaminya.


***


Pintu mobil Adrian dibukanya, terlihat Adrian duduk di kursi pengemudi, menyenderkan tubuhnya. Johan masuk, duduk di kursi penumpang bagian depan. Sedang, Ririn duduk dengan ragu di kursi penumpang bagian belakang.


"Tuan Adrian?" panggil Johan, menatap Adrian yang hanya terdiam terpaku menatap ke arah depan.


"Aku ayah yang buruk..." ucapnya, menyeka air matanya yang keluar.


"Mungkin hanya nama saja yang sama, Tomy mengatakan dirinya teman sekolah Mike. Jika memang dia putra ketiga anda, dia akan dengan senang hati kembali pada anda," Johan menghela napas kasar.


"Aku yang memutuskan hubungan ayah dan anak dengannya,"Adrian tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri."Dia benar-benar Tomy putraku yang gagap ketika masih kecil,"


"Insiden saat ulang tahunku, hanya diketahui Irgi, Mike, dan Tomy. Irgi saat itu mengurung diri, berubah menjadi pendiam. Seharusnya aku tau penyebabnya, dia merasa bersalah pada Tomy. Aku yang mengusir putraku saat itu..." air mata Adrian kembali mengalir, mengingat keadaan putranya. Siku yang terlihat terluka karena menolong Irgi, anak kurus yang membawa kue kecil murah. Kue yang didapatkannya entah dari mana.


Bagaimana kehidupannya, yang harus bertahan di segala keterbatasannya. Seharusnya, dirinya lebih mengerti, bahkan Irgi dan Mike yang dibanggakan nya, hidup berkecukupan, tidak memberinya kado. Namun, putra gagapnya membawa kue kecil yang pastinya sangat berharga untuknya.

__ADS_1


"Jadi dia benar-benar putra anda?" tanyanya.


Adrian mengeluarkan foto lama di dompetnya. Foto hitam putih 3x4 yang didapatkannya dari sekolah dasar tempat putranya bersekolah dulu. Bahkan hanya foto, dirinya tidak memiliki foto bersama putranya, konyol bukan?


"Apa mirip?" Adrian memperlihatkan foto Tomy kecil.


Johan menggeleng-gelengkan kepalanya, perbedaan yang terlalu jauh, antara putra Adrian yang kurus, dengan Tomy dewasa, walaupun foto hitam putih yang tidak memperlihatkan warna kulit. "Berbeda,"


"Karena itu aku tidak mengenalinya, namun jika diperhatikan senyumannya mirip dengan Merlin," ucap Adrian tersenyum.


"Merlin!?" Johan bertambah tidak mengerti lagi.


Sedangkan, radar Ririn benar-benar terpasang mendengar nama artis senior yang memiliki popularitas tinggi. Harta kekayaan almarhum suami Merlin, diinvestasikan di bidang batubara. Tidak memiliki anak kandung, hanya memiliki seorang anak tiri yang tinggal di Jerman. Tentunya anak tiri yang juga menyayanginya. Setidaknya itulah yang terlihat di media sosial, saat wanita yang hampir seumuran itu berfoto bersama.


"Merlin adalah ibu kandung Tomy, putranya sebelum memasuki dunia hiburan. Dia melahirkan saat berusia 17 tahun. Wajah Tomy, menantu kalian, sedikit mirip dengan Merlin, bukan?" ucapnya.


Seperti terkena serangan jantung, seperti bermimpi, anaknya yang menjadi perawan tua. Bahkan Ririn sempat berdoa penuh kepasrahan, asalkan Frea menikah, dengan tukang kebun pun tidak apa.


Perawan tua itu kini tengah hamil, dihamili oleh suaminya, yang ternyata bukan seorang gigolo, tapi pemuda mapan dengan penghasilan fantastis. Bukan cuma itu, suami putrinya, ternyata putra tunggal yang disembunyikan seorang selebriti terkenal.


Ditambah kandidat utama pewaris Pratama Group. Ririn masih tertegun mencerna semuanya, artis sinetron idolanya, yang hanya dapat dilihatnya di TV ternyata besannya.


Johan kembali, menghela napas kasar,"Lalu sekarang apa rencana anda?"


"Bold company?" tanya Johan yang memang sudah lama mengenal Adrian.


Adrian mengangguk,"Seluruh anggota keluarga yang berpotensi, dan berbakat akan ditarik ke perusahaan keluarga, memilih komisaris yang baru. Sementara waktu, aku hanya akan membantu Tomy diam-diam hingga komisaris baru Bold Company diangkat. Rahasiakan ini!!"


Bold company? Pakaian, perusahaan pengiriman, perbankan, properti, bahkan mengekspor produk pangan. Benar-benar menantu di luar imajinasi... jemari tangan Ririn gemetaran membayangkan apa saja sebenarnya yang dimiliki menantu yang dulu dikira akan merebut toko-toko milik putrinya.


Merebut toko? Bahkan hanya tinggal menunjuk, membeli mall pun menantunya bisa.


"Ririn, kamu bisa menjaga rahasia!?" tanya Johan pada istrinya.


Menjaga rahasia, memiliki berlian tapi tidak bisa pamer, hanya disimpan dalam kotak? Memiliki Lamborghini, tapi hanya boleh diparkiran di garasi? Benar-benar bukan gaya Ririn yang suka membual.


"Sepertinya..." ucapnya tertawa kecil ragu, karena tangannya bergerak terlalu cepat, terlanjur memposting status, dirinya adalah besan selebriti terkenal.


***

__ADS_1


Seorang pemuda tersenyum, melonggarkan dasinya, menerima pesan tentang hasil pemeriksaannya. Sejenak dirinya menatap wajah tenang Frea yang tertidur nyenyak.


"Sayang..." ucapnya tersenyum, mengecup kening istrinya.


Frea mulai membuka matanya, memeluk manja tubuh suaminya,"Emggh...Ada apa?" tanyanya.


"Lusa, kamu harus ke dokter bukan? Aku ada tugas dinas memeriksa perusahaan cabang di luar kota, selama seminggu. Maaf, aku tidak bisa ikut mengantarmu..." Tomy menghela napas kasar, tidak ingin Frea cemas, mengetahui dirinya akan menjalani operasi besar, mencangkokkan hatinya untuk Suki.


"Jangan terlalu lama, aku..." kata-kata Frea terhenti ragu untuk melanjutkan, ada perasaan aneh dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, Tomy meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama.


"Aku tidak akan bisa selingkuh, karena kakak terlalu cantik," Tomy tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. Mengecup kening Frea berkali-kali, berusaha menenangkan perasaan istrinya.


Menginap seminggu di rumah sakit, mungkin akan memaksakan dirinya untuk segera pulang. Walaupun keadaan mungkin belum pulih benar. Serakah? Mungkin benar, menginginkan kesembuhan Suki, sekaligus tidak ingin istrinya yang tengah mengandung mencemaskan dirinya.


"Tomy, jangan pergi..." Frea menagis terisak.


"Maaf, ini sangat penting. Seminggu saja..." pemuda itu memelas, mengecup pipi, bermuara pada bibir Frea, hanya kecupan singkat.


"Aku mencintaimu, jangan pergi," pinta Frea, kembali menenggelamkan dirinya pada dada bidang suaminya.


"Maaf..." hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Tomy. Membalas pelukan Frea, entah kenapa air matanya ikut keluar, mungkin untuk pertama kalinya, dirinya mengecewakan istrinya.


***


Seorang pria paruh baya, memeriksa beberapa dokumen, wajahnya terlihat murung, "Sial!!" umpatnya, melempar benda-benda yang berada di atas meja kerjanya.


"Tuan?" asistennya tertunduk, menunggu perintah.


"Bocah golongan rendah itu ingin mendaki mendapatkan tahta!! Tidak tau diri!!" Leon menghela napas kasar mulai berpikir.


"Buat kematian yang wajar untuknya. Bakar tubuhnya hingga menjadi abu..." lanjutnya, memijit pelipisnya sendiri.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar, Gilang (putra Leon) masuk sembari tersenyum."Ayah memanggilku?" tanyanya.


Raut wajah Leon berubah, pria paruh baya itu tersenyum cerah pada putra tunggalnya,"Gilang, bersiap-siaplah kamu harus belajar banyak saat menduduki jabatan CEO nantinya,"


"Apa anak ketiga paman Adrian yang menunjukku atau kakek sendiri?" tanyanya, sudah mengetahui, komisaris berikutnya yang dipilih Suki adalah sepupu yang tidak pernah ditemuinya.

__ADS_1


"Kakekmu, akan memilih ayah sebagai komisaris. Anak ayah yang pintar ini, tenang saja, belajarlah sedikit demi sedikit, lampaui Mona. Ingat, hanya dia sainganmu saat ini..." jawabnya pada Gilang, pemuda yang hanya terdiam sembari membalas senyuman ayahnya.


Bersambung


__ADS_2