
Api menjilati sebuah kediaman megah membakar semua impian seorang pemuda,"Aaagghhhh!!" teriaknya kala dua orang petugas pemadam kebakaran mencoba menghentikannya mendekat.
Api telah menjilat hingga bagian depan, tidak ada yang tersisa, merobohkan kayu-kayu besar yang menjadi pondasi atap bangunan. Matanya memerah, perlahan akhirnya air mata itu tidak dapat juga ditahannya. Mengalir dari pipi hingga dagunya.
Kakinya lemas, kamar bayi, wanita yang dicintainya, semua lenyap dalam sekejap.
Masih mengenakan pakaian pasien, dengan luka di pergelangan tangannya, akibat mencabut infus secara paksa.
Pandangan matanya berubah, tersenyum penuh dendam, mata yang seakan-akan mencabik satu persatu, tanpa dapat dihentikan.
Senyuman hangat beberapa bulan yang lalu masih terasa, mengingatnya di setiap lorong rumah yang kini terbakar...
Beberapa bulan yang lalu...
"Uuuueekk..."
Dirinya menyeka mulutnya di wastafel,"Akhirnya, terjadi juga..." ucapnya tersenyum.
Beberapa mangga sudah berada di hadapannya. Tangannya bagaikan cekatan untuk mengupasnya.
"Sedang buat apa?" Frea mengenyitkan keningnya, menuruni tangga. Menyadari ketidak beradaan suaminya ketika membuka mata.
"Es lilin rasa rujak, kamu mau?" tanyanya.
"Iya..." Frea mengangguk terlihat antusias, perutnya perlahan sudah mulai terlihat membesar. Berjalan mendekati suaminya, mendekap tubuh Tomy erat dari belakang, menyender pada punggung kokohnya.
"Istriku yang manja..." Tomy tertawa kecil, melepaskan tangan Frea, mulai berbalik mencium keningnya."Apa sudah cukup?" tanyanya.
Frea menggelengkan kepalanya, berjinjit, mencium sekilas bibir suaminya.,"Sekarang sudah, mau aku bantu?"
Tomy mengangguk, mengelus perut istrinya yang sedikit membuncit. "Anak papa," ucapnya tersenyum.
Kebahagiaan yang indah untuknya, menatap wajah yang dulunya paling ingin dimiliki seorang anak kelaparan dengan banyak luka. Wajah teduh yang kini menjadi miliknya seutuhnya, mengandung benih kecil yang ditanam olehnya.
Hari-hari yang benar-benar sempurna, setiap detik adalah detik terbaik baginya.
"Tomy..." Frea yang masih membantunya, menghela napas kasar."Aku memiliki keinginan tersendiri," ucapnya.
"Apa?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Kamu mengatakan ingin mati lebih dulu dariku kan? Aku juga, ingin mati lebih dulu darimu..."
Jemari tangan Tomy yang tengah mengupas mangga terhenti, pemuda itu tertegun diam, menatap ke arah istrinya.
"Entah kenapa, setelah memikirkannya lagi, menghabiskan masa tua bersama, kemudian kehilanganmu akan terasa menyakitkan. Kebahagiaanku sekarang bergantung padamu..." lanjutnya, menunduk penuh senyuman.
"Kakak bodoh, tanpamu bagaimana aku dapat tersenyum kembali? Jika kamu mati lebih dulu dariku, aku akan menyusulmu segera setelahnya," ucap Tomy menghela napas kasar melanjutkan mengupas mangga dihadapannya.
Frea menggelengkan kepalanya,"Saat itu kamu harus tetap tersenyum, dan hidup dengan baik. Berjanjilah..."
"Tidak akan terjadi," Tomy tertawa kecil, membawa mangga yang telah dikupas ke wastafel, untuk dicuci.
__ADS_1
"Karena tidak akan terjadi, maka berjanjilah!! Agar anak kita tidak cerewet seperti ibunya yang terus meminta ayahnya berjanji..." Frea kembali memeluk tubuh itu dari belakang, penuh senyuman.
Tomy menghela napas kasar,"Iya aku berjanji, tapi aku tidak akan membiarkannya terjadi..."
...Menua bersamamu adalah impianku. Kamu tau kenapa? Tangan halusmu, aku ingin melihatnya menjadi keriput, rambut hitammu, aku ingin menantikannya berubah menjadi putih....
...Menatap cucu-cucu kita bermain di halaman belakang rumah kita. Tertawa bersama mereka, ketika jemari tangan kecil menggenggam tangan keriput kita. Masa tua yang indah, aku ingin mengalaminya......
Tomy...
***
Menyambut masa depan yang indah, dengan selimut dan pakaian bayi yang tertata rapi. Ruangan berwarna biru muda, tempat tidur bayi yang tertata rapi, lengkap dengan mainan menggantung diatasnya.
"Aku mencintaimu..." ucap Frea menatap suaminya yang masih memakai setelan jas, tengah memasang mainan kuda-kudaan.
Tomy sedikit menengok, kembali memasang mainan tersebut,"Tunggu sebentar lagi, jangan merayuku. Sebentar lagi akan selesai,"
Frea berjongkok mengangguk, "Kamu seperti tukang kayu..."
"Tidak, aku adalah ulat pekerja keras yang akan menghidupi kalian," ucapnya tersenyum.
"Iya, ulat daun teh," Frea tertawa kecil, "Kamu akan memetik pucuk daun teh pilihan untuk kami kan?"
"Tentu saja, aku akan mengigit tangan petani pemetik daun teh. Agar tidak mengambil pucuk daun teh milik istri dan anakku..." Tomy tertawa kecil, tangannya masih cekatan memasang.
"Tomy..." panggil Frea.
Sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan...
Suatu keajaiban bagi Frea. Bertemu dengan seseorang tidak terduga dari masa lalunya. Seseorang yang mencintainya selama bertahun-tahun tanpa kenal lelah, bertemu dengan bocah yang kini telah dewasa itu, membuatnya menyadari betapa cerahnya dunia ini.
Suatu keajaiban bagi Tomy. Menemukan, seseorang yang dicarinya, orang yang tidak pernah dilupakannya, orang yang merebut hati seorang anak yang tidak pernah dicintai. Membuat pemuda itu menyadari betapa gelapnya dunia ini jika kebahagiaan itu menghilang.
***
"Tuan besar, kondisi anda..." kata-kata sang bawahan terpotong. Tuannya hanya tersenyum, terbaring di atas tempat tidur ruang rawat.
"Aku sudah tua, yang aku khawatirkan bukan nyawaku. Yang aku khawatirkan anak-anak dan cucu-cucuku," ucapnya, dengan setetes air mata yang mengalir, mengenakan selang oksigen yang membantunya untuk bernafas.
"Tuan muda Tomy menanyakan tentang anda ketika mengambil es. Saya menjawab, anda sedang ada tamu penting yang menginap. Tuan besar, apa tidak sebaiknya kita meminta bantuannya saja? Mungkin dia dapat menyelamatkan nyawa anda..." usul sang bawahan menatap iba pada kondisi Suki.
"Tidak jangan katakan apapun padanya," pelupuk mata yang keriput menatap kearah jendela. Tepatnya pepohonan yang rindang merindukan keluarganya yang sederhana, tiga anak laki-laki penurut yang memakan sayuran daun singkong buatan ibu mereka.
***
Tak...tak...tak...
Seorang wanita melangkah dengan cepat, menelusuri satu-persatu lorong rumah yang luas. Tersesat? Itulah yang ditakutkannya, namun dirinya harus bertemu dengan sahabatnya.
"Frea, tolong aku," ucapnya memeluk seorang wanita hamil yang tengah menyirami tanaman hias di halaman belakang rumah.
__ADS_1
"Tolong, apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Abang Bule dimana?" bukannya menjawab, mata Keysha menelisik mencari keberadaan sang pengawal profesional.
"Abang Bule?" Frea mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Terminator, muka datar..." jawab Keysha ambigu.
"Terminator?" tanya Frea kembali semakin tidak mengerti.
"Bagaimana ya? Pengawalmu, si tubuh kotak-kotak bagaikan tentara..." jelas Keysha yang lupa menanyakan nama Gretel.
"Gretel? Dia ada di belakang tirai, dengan tiang penyangga," Frea menunjuk ke arah tiang penyangga dekat kebun.
Apa si kaku mendengar aku mengatakan kotak-kotak? Tapi Terminator, apa dia juga mendengarnya, gawat dia mungkin akan menembakku berkali-kali, hingga hamil. Tidak apa-apa, beranikan dirimu Keysha, dari pada dipermalukan mantan... gumamnya kumat-kamit dalam hati, memberanikan dirinya, mendekati tiang penyangga bangunan di dekat tempat mereka berdiri.
Hingga sosok itu terlihat, pemuda blasteran bertubuh tegap, berdiri bagaikan patung.
Perlahan Keysha berdiri mendekatinya, berada tepat di hadapan matanya. Gretel diam tidak bergeming, benar-benar terlihat seperti patung tanpa ekspresi.
"Tuan pengawal, bang bule..." ucapnya, berusaha menyapa dengan canggung menahan rasa malunya.
Gretel tidak menjawab, masih berdiri dengan tegak. Hingga Keysha mulai tersenyum licik, berbuat usil. Jemari telunjuknya, menyentuh dada Gretel, menunjuknya berkali-kali seolah dada pemuda itu mainan, menunggu pemuda itu bereaksi.
Mau apa lagi perempuan gila ini... Gretel mundur selangkah menahan rasa gelinya.
"Gretel..." panggilnya, namun tetap tidak mendapatkan respon. Hingga akhirnya sebuah kalimat keluar dari mulut usil Keysha,"Bang bule, jadi nembak aku berkali-kali di tempat tidur tidak?"
Gretel membulatkan matanya,"Itu hanya ancaman!! Karena kamu menyembunyikan keberadaan nyonya!!" bentaknya.
"Akhirnya bicara juga, dengar! Aku suka bentuk tubuh kotak-kotak. Tapi, aku tidak suka dengan orang kaku, kamu bukan tipeku. Jangan salah paham, tolong bantu aku menghadapi mantanku ya? Dia berkata alasan kami berpisah karena aku berselingkuh, tolong menyamar sebagai pak Tomy, menghadapi orang tuaku. Aku mohon..." ucapnya, menangkupkan kedua tangannya, memasang wajah imut.
"Tidak mau..." jawab Gretel tegas, berjalan ke tempat lain, tepatnya ke arah nyonya-nya.
Keysha tertunduk kesal, berjalan mengejar langkah kaki yang lebih panjang dari langkahnya, memegang lengan pemuda itu,"Gretel, bertanggung jawablah!! Kamu tidak ingat malam hangat yang kita lewati di club'malam? Aku saat itu mabuk, napasmu terengah-engah, berkata akan memberikanku tembakan berkali-kali. Tembakan yang akan membuatku hamil," ucapnya menangis sesenggukan.
Frea menjatuhkan selang air di tangannya, mengenyitkan keningnya. Mulai menatap Gretel bagaikan pria br*ngsek.
"Nyonya, saya tidak..." kata-katanya terhenti.
Keysha berjinjit memeluk tubuh kokohnya erat,"Aku mohon bertanggung jawablah, malam itu adalah malam pertamaku. Kamu juga menikmatinya kan?" ucapnya menangis terisak, bagaikan wanita ternodai.
Inilah yang dinamakan manusia tamak, tidak tau diri. Sudah ditolong, menyusahkan hidupku, ya Tuhan dosa apa yang pernah aku lakukan, sampai-sampai terjerat kata-kata ambigu, wanita gila ini... gumamnya dalam hati.
"Bertanggung jawablah, jika tidak aku akan memohon pada Tomy untuk menghukummu!!," ucap Frea membentak kesal, tidak dapat membayangkan sahabatnya yang polos hamil di luar nikah.
"Bos psiko-ku, akan memotong habis..." Gretel menghela napas kasar menghentikan kata-katanya, mendorong kepala Keysha yang memeluknya bagaikan kukang."Berhenti berpura-pura, aku akan membantumu,"
Keysha, menghapus air mata palsunya, tersenyum memperlihatkan gigi putih bersihnya.
Bersambung
__ADS_1