
Seorang wanita menghela napas kasar, meletakkan bunga Lily putih di pusaran makam suaminya. Hari ini adalah hari peringatan kepergian almarhum suaminya.
Mencintai? Apa perasaan berdebar bisa disebut mencintai? Menurut Merlin tidak, cinta adalah ketika memiliki pasangan yang dapat menjaganya. Seseorang yang memberinya rasanya nyaman, menepiskan kerasnya dunia, untuk melindunginya.
"Ibu..." ucap seorang wanita yang sebaya dengan Merlin. Putri kandung dari mendiang suaminya. Membawa buket bunga, menggadeng putranya yang mungkin sedikit lebih muda dari Tomy. Hubungan keluarga yang aneh bukan? Namun, semua berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak ada keserakahan dalam diri mereka. Putri tiri Merlin memiliki usaha sendiri di Jerman, mungkin kehadiran Merlin yang menemani ujung usia ayahnya merupakan berkah tersendiri baginya. Tidak dapat selalu menemani sang ayah karena sudah memiliki keluarga sendiri, kewarganegaraannya juga sudah berganti mengikuti sang suami.
"Lena (nama putri tiri Merlin)..." Merlin memeluknya, tidak terasa canggung sama sekali bagaikan sahabat yang sebaya."Ini untukmu..." Merlin melepaskan pelukannya, merogoh tasnya mengambil cek.
"Sudah aku bilang, ibu simpanan saja. Jika tidak, sumbangkan ke yayasan sosial juga bagus..." kata-kata tulus dari Lena, menggenggam jemari tangan wanita yang seusia dengannya. Wanita yang tidak menggunakan warisan almarhum ayahnya. Lebih memilih menginvestasikannya, menjaganya perlahan.
"Bagaimana, apa ibu sudah bertemu dengan saudara tiriku?" tanya Lena, melihat wajah yang lebih cerah dari ibu sambungnya.
Merlin mengangguk, "Tomy tumbuh dewasa dengan baik..."
Anak Lena yang hampir seusia dengan Tomy mengenyitkan keningnya,"Saat tidak sengaja bertemu, haruskah aku memanggilnya paman?" tanyanya tertawa.
***
Balkon kamar yang indah, langsung tertuju pada pemandangan taman di hadapan mereka. Lena menghela napas kasar, meminum secangkir teh di bekas kamar almarhum Damar (Suami Merlin).
"Dari kematian ayah aku sudah menyarankan, kenapa ibu tidak menikah lagi!?" tanyanya, menghela napas kasar.
"Jika ayahmu hidup kembali, baru ibu akan kembali menikahinya," jawab Merlin tertawa kecil.
"Aku sudah bercerai dua kali, menikah tiga kali, masih bisa mencari yang baru. Ibu tidak tertarik?" Lena menggoda ibu sambungnya.
"Tidak, ayahmu limited edition..." Merlin tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan seorang pria tua yang dicintainya.
***
15 tahun yang lalu...
CEO sombong, pria muda kaya yang digandrungi banyak wanita? Bukan itulah sosok suami Merlin. Pria tua berwibawa yang selalu memegang tongkatnya penuh kharisma, itulah Damar suami seorang Merlin.
Mungkin dalam drama, atau cerita sinetron manapun. Sosok pria tua tidak akan mendapatkan pasangan. Tapi mungkin nasib beruntung seorang Damar memiliki pasangan yang menemaninya hingga akhir hayatnya.
__ADS_1
Mantan istri Damar, dahulu berselingkuh meninggalkannya menikahi pria lain dengan seorang putri berusia 4 tahun. Lahan perlahan menata hidupnya, membesarkan putrinya. Hingga Lena dewasa, mulai jatuh cinta pada seorang pemuda berkewarganegaraan Jerman.Meninggalkannya seorang diri di usia senjanya.
Kanker otak, itulah penyakit yang menyerang Damar di usianya yang saat itu menginjak 60 tahun. Tidak ingin menceritakan pada Lena, tidak memiliki teman bergurau hanya untuk sekedar mencemaskan, membicarakan putrinya.
Hingga, pria tua itu mengadakan sebuah perjamuan. Beberapa kalangan di dunia hiburan di undang. Termasuk saat itu Merlin, wanita yang datang dalam keadaan canggung.
Menyenangkan klien untuk mendapatkan investasi? Itulah yang dilakukan managementnya. Menyewa kamar di dekat ballroom. Merlin yang sudah terikat kontrak, hanya dapat menurut. Bukankah tidur dengan pria tanpa perasaan sudah sering dilakukannya untuk hidup?
Untuk apa memakai sebuah perasaan? Perasaan yang menyakitkan ketika mengingatnya. Pria yang dicintainya hanya seorang yang membalikkan tubuhnya, tidak pernah menatapnya dan putranya.
Pasrah akan jalannya hidup ini itulah yang difikirkan Merlin setelah sembuh dari tumor yang dideritanya. Tujuan? Mungkin dengan menjadi selebriti, dapat menjemput putranya Tomy, yang kini disangkanya berada dalam perlindungan Adrian.
Hingga ruangan itu terlihat, dua pria mabuk berada disana. Memandangnya seakan-akan, menginginkan untuk mencabik-cabik tubuhnya.
Dan benar saja, permainan yang kasar, pakaiannya dicabik-cabik. Hanya perlu menutup mata, menunggu semuanya berakhir. Mendapatkan peran untuk debut, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, agar dapat mengangkat wajahnya di hadapan Adrian saat menjemput Tomy nanti.
Hingga suara renta itu terdengar, "Apa yang kalian lakukan!?" bentaknya, setelah pintu dibuka.
Merlin segera berusaha menutupi tubuhnya, dengan pakaiannya yang telah tercabik-cabik.
"Tuan kami..." ucap mereka tergagap, sibuk merapikan pakaiannya sendiri.
Sedang Merlin tertunduk, berusaha memperbaiki pakaiannya. Tidak sebulirpun air mata menetes di pipi wanita rupawan itu. Sudah terbiasa? Mungkin itulah penyebabnya, berlumuran lumpur dan dosa hanya untuk hidup.
"Kamu tidak apa-apa?" Damar memandang aneh, memberikan jasnya, untuk wanita di hadapannya.
Merlin menatap mata tua renta itu, mata yang memandang iba pada wanita malam sepertinya."Anda tidak jijik?" kata-kata yang lebih aneh lagi keluar dari mulut Merlin.
Damar menggeleng sembari tersenyum dengan wajah keriputnya. "Kamu juga manusia bukan?"
Merlin mengangguk, lebih tidak mengerti lagi.
"Jika kamu siput berlendir mungkin aku akan jijik..." ucapnya sembari tertawa. Wanita di hadapannya tersenyum, senyuman yang hangat. Menyadari hidup tidak selamanya buruk padanya.
Jemari tangannya mengepal, menggenggam ujung jas. Pria tua itu tidak menatapnya penuh napsu, tidak pula jijik padanya.
Perlahan Damar membimbingnya, keluar dari pintu belakang hotel. Selama itu pula Merlin mencuri pandang pada matanya.
__ADS_1
Mata yang terlihat hangat, mata yang mungkin membuat dirinya takluk.
"Jangan menjual diri lagi. Kamu masih muda..." ucap Damar.
Merlin mengangguk, namun dirinya masih kebingungan bagaimana caranya untuk bertahan hidup.
Hingga Damar tersenyum padanya,"Akan aku carikan manajemen baru untukmu, sebagai ganti rugi. Kamu tinggal dimana?"
"Kost dekat sini..." jawab Merlin, tertunduk ragu, rasanya tidak sanggup melihat mata itu. Mata pria yang berbeda dengan pria lainnya.
"Punya tabungan?" tanyanya, dijawab dengan gelengan kepala oleh Merlin.
"Jika begitu, sebelum mendapat job baru, kamu bisa tinggal di rumahku. Rumahku terlalu sepi..." ucapnya.
Merlin hanya mengangguk, menaiki mobil milik Damar, tidak mempunyai pilihan lain.
***
Rumah yang cukup besar, Damar tidak kembali bersamanya. Pria tua itu masih harus menghadiri perjamuan hingga usai selaku penyelenggara.
Mata Merlin menelisik, menginginkan kemewahan? Tidak, namun memikirkan cara untuk balas budi. Beberapa foto hitam putih terpajang, terlihat pemuda rupawan tersenyum menggendong putri kecilnya.
Foto itu diamati Merlin lebih dalam lagi, mata yang sama dengan pria tua yang menyelamatkannya. Itu adalah foto Damar kala muda, ketika baru bercerai dari istrinya.
Pemuda rupawan dengan senyuman hangat, wajah yang kini telah berubah menjadi keriput. Merlin tersenyum menatap fotonya, pria tua yang menyelamatkannya. Satu-satunya orang yang memberikan perlindungan tulus padanya.
***
Beberapa hari tinggal disana, Merlin tidak menjadi seorang benalu. Membantu pembantu melakukan segalanya.
Bersendra gurau di meja makan dengan Damar. Bagaikan segala beban hidupnya menghilang tanpa sisa.
Perasaan nyaman itu semakin menjalar dalam tubuhnya, merasuk dalam relung hatinya.
Tidak ada yang menyadari, buah yang terjatuh tidak jauh dari pohonnya. Pernah satu ketika, Damar tertidur di sofa. Fatamorgana dimata Merlin terlihat, membayangkan Damar kembali ke usia mudanya.
Mencium kening sang pria tua, perlahan. "Andai kita hidup di masa yang sama," gumamannya, menggenggam jemari tangan Damar yang renta.
__ADS_1
Bersambung