
Pecahan kaca masih berserakan di lantai, wajah pemuda itu, menatap tajam padanya. Wajah yang seakan menghakiminya.
"Arman dia ..." kata-kata Suki disela.
Rangga meneteskan air matanya, dengan wajah tanpa ekspresi, "Aku sudah mendengar semuanya, dia mati karena tuduhan tidak berdasar. Berusaha bertanggung jawab dengan bekerja siang dan malam. Bahkan merelakan uang persalinan istrinya..."
"Jadi jika aku menagih nyawa mereka, dengan kematian Leon dan Agra, cukup sepadan bukan?" ucapnya mulai tersenyum.
"Kenzo!! Jangan keterlaluan!! Walaupun aku tidak membesarkanmu. Tapi, saat menitipkanmu ke panti asuhan, aku memberikan aset untukmu bertahan hidup, bahkan mendapatkan kehidupan yang layak..." Suki meninggikan nada bicaranya.
"Panti asuhan? Aset? Aku menjadi seorang pemulung sampah, bersekolah di sekolah gratis yang dibuka beberapa mahasiswa. Tidur di pos ronda, atau emperan toko, sementara keluarga kalian dapat hidup nyaman. Tanyakan pada Nila, apa benar aku tinggal di panti asuhan..." ucapnya tertawa kecil, berjalan mendekati pecahan gelas kaca.
"Omong kosong..." hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Suki.
Rangga memungut pecahan kaca, menatap ke arah Suki,"Bukan aku yang akan membunuh kedua putramu. Tapi Simon (mantan petinggi Bold Company, terkena kasus penggelapan dana). Aku hanya membebaskannya dari penjara dan memberikan uang untuknya, mendanai untuk menyalurkan hasrat membunuhnya..."
"Kamu menjadikannya pion?" tanya Suki dengan wajah pucat.
"W&G Company perusahaan yang aku miliki. Nila? Sebaiknya jenguklah sekali-kali manatan menantumu di rumah sakit jiwa..." jawabnya masih memunguti satu persatu pecahan beling.
"Pembohong!! Sebaiknya kamu keluar dari rumah ini!!" Suki kembali membentak dengan nada tinggi.
Omong kosong? Dirinya masih belum dapat menerima dosa berturut-turut yang ditorehkannya. Masih belum dapat menerima, Kenzo kecil yang tidak bersalah terluka dan dikirim ke panti asuhan karena sebuah kesalahpahaman.
Tidak dapat menerima kenyataan, jika Nila menantu yang dianggapnya baik, membuang Kenzo di jalanan, merebut aset yang diperuntukkan untuk sang anak.
"Katakan itu pada Tomy tentang keburukanku dan keburukanmu, apa kamu memiliki keberanian? Kelihatannya hanya dia yang tidak tau apa-apa. Bagaimana dirinya akan memandang kakeknya nanti?"
"Jika tidak dapat membongkar identitasku di hadapan cucu kebanggaanmu. Jangan berharap aku akan keluar dari kediaman ini..." lanjutnya.
"Miko, aku ingin ke kamar..." ucap Suki pada pria paruh baya di belakangnya. Kursi rodanya segera didorong keluar dari kamar Rangga.
__ADS_1
Bug...
Suara pintu tertutup terdengar, tidak ada yang mengetahui Rangga masih berjongkok, menangis sesenggukan. Darah mengalir dari telapak tangannya, yang mencengangkan pecahan beling.
Berjalan dengan limbung, membuka laci samping tempat tidurnya. Meminum beberapa butir obat-obatan, yang berlumuran darahnya sendiri.
Air matanya mengalir tidak kunjung henti, mengobati luka pada tangannya. Bipolar disorder, itulah yang diidapnya semenjak mengetahui tentang kematian orang tuanya.
Penyakit mental akibat kekerasan yang dialaminya ketika kecil, serta rasa kehilangan yang mendalam.
Air matanya tidak kunjung berhenti. Terlalu bahagia ketika bahagia, terlalu sedih ketika sedih. Bahkan terkadang untuk mengisi kekosongan hatinya dalam kesendiriannya. Pemuda itu, kerap melukai dirinya sendiri, memiliki keinginan bunuh diri yang kuat. Begitulah kehidupan seorang Kenzo pengidap bipolar disorder.
"Br*ngsek!!" air matanya tidak dapat dihentikannya, melempar kotak P3K miliknya.
***
"Aku ingin bicara dengan Mona..." kata-kata yang diucapkan Suki, kala menelusuri lorong, meninggalkan kamar Rangga.
"Nona, sedang berada di ruang keluarga..." ucap Miko.
Lorong demi lorong ditelusurinya, hingga sampai ke sebuah ruangan luas. Mona, Gilang, dan Agra berada di sana. Nampak berdiskusi tentang beberapa hal menyangkut pekerjaannya.
"Kakek..." Mona tersenyum ke arahnya, membantu Miko membimbing kursi roda yang diduduki Suki.
"Kami ingin berdiskusi dengan Tomy, tapi belakangan ini dia terlalu sibuk jadi..." kata-kata Mona terpotong.
Suki menghela napas kasar mulai bicara, sedang seorang pelayan, segera menyiapkan cangkir teh tambahan untuk Suki."Mona, apa kamu ingat dengan Kenzo?" tanyanya.
Mona mengangguk, "Anak yang dulu sempat kakek bawa pulang sebagai cucu angkat kan?"
Pria tua itu mengangguk, membenarkan,"21 tahun yang lalu, kotak perhiasan ibumu menghilang. Apa..." kata-kata Suki terhenti, Gilang menatap mata kakeknya.
__ADS_1
"Kak Kenzo tidak bersalah, aku masih mengingatnya. Kakak menjauhiku semenjak Mona bercerita, dia yang mengambil kotak perhiasan bibi Nila. Kakek mengirimnya ke panti asuhan setelah itu," Gilang mengepalkan tangannya, menatap tajam.
"Bibi Nila dulu melarang kami mengatakannya. Jadi, aku fikir...aku fikir...tidak akan terjadi apa-apa setelahnya. Tapi kakek mengusirnya..." lanjutnya dengan nada suara bergetar, merindukan Kenzo yang menyayanginya bagaikan kakak laki-lakinya sendiri.
Suki tertegun, jantungnya berdegup cepat, rasa bersalah semakin menghinggapi dirinya. "Benar kamu yang mengambilnya?" tanyanya pada Mona.
"Apa Kenzo sempat dihukum? Ibu tidak mengatakan apa-apa, kotak perhiasan sudah langsung aku kembalikan pada ibu..." jawab Mona membela dirinya, yang memang tidak mengetahui apapun tentang Kenzo menerima hukuman akibat perbuatannya.
Jemari tangan Suki gemetaran, dirinya benar-benar salah kali ini. Kali ini? Tidak, ini untuk yang kedua kalinya, setelah menyebabkan kematian Arman.
Satu lagi kata-kata Kenzo, yang ingin diuji kebenarannya olehnya, mulutnya bergetar ketika bertanya, berharap yang diucapkan Kenzo adalah kebohongan,"Agra, saat sidang perceraianmu dengan Nila, apa dia memiliki beberapa ruko dan toko di tempat strategis?"
"Ada beberapa, itu dimasukkan dalam aset milik pribadi dirinya, bukan milik bersama. Memangnya kenapa?" Agra mengenyitkan keningnya.
"Apa di kawasan pusat perbelanjaan Mutiara, dan tiga ruko lainnya di seputaran jalan Bakti Purnama?" tanya Suki memastikan.
"Benar, aku juga sempat terkejut, dia tidak bekerja, gaya hidupnya juga lumayan boros. Tapi dapat mengumpulkan beberapa aset. Apa ayah yang memberinya?" Agra menghela napas kasar, mengingat, mantan istri yang sempat mengkhianatinya. Serta wanita itu, bahkan meminta pembagian aset milik bersama darinya sebagai syarat menyerahkan hak asuh Mona sepenuhnya pada Agra.
"Apa yang sudah aku lakukan..." Suki terdiam, tertegun dalam penyesalannya. Mempercayakan sesuatu pada orang yang salah? Bukan hanya itu kesalahan yang dilakukannya.
Kesalahan terbesarnya, tidak pernah menganggap Kenzo sebagai bagian anggota keluarganya. Menganggap mata yang mirip dengan Arman menghujat dirinya, padahal mulut kecil itu tidak berkata apapun selain 'Kakek' dengan penuh kasih sayang.
Menepis semua kasih sayangnya dengan ketidak percayaan. Sesuatu yang membuat malaikat kecil berubah menjadi monster penuh kebencian.
Suki menitikkan air matanya, baru mengetahui. Tepatnya baru bercermin, betapa buruknya rupa dirinya yang dianggapnya selalu bermartabat.
***
Kantor cabang Bold Company...
Leon, menghela napas kasar, melonggarkan dasinya. Menatap ke arah kaca besar transparan di ruangannya, melihat pemandangan perkotaan. Menghilangkan penatnya sejenak, mengingat beban pekerjaannya yang menumpuk.
__ADS_1
Tidak menyadari, sebuah mobil terparkir di depan area kantor, dengan seseorang yang menunggu kepulangannya. Mengunyah permen karet di mulutnya. Benar, itulah Simon, menatap buku agenda kecil miliknya yang menampakkan foto Leon. Sasaran berikutnya, orang yang ingin dihabisinya.
Bersambung