Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Tetap Tersenyum


__ADS_3

šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€ Sebelumnya aku mau minta maaf untuk yang sempat membaca novel "Menantu Kesayangan Pembuat Masalah" tidak sengaja aku rilis, karena kemarin ada gangguan, padahal rencananya baru akan rilis setelah novel ini tamat.


Karena itu, mungkin novel "Menantu Kesayangan Pembuat Masalah" akan update tidak menentu. Hingga novel ini tamat, baru akan update secara rutin šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


Beberapa jenis makanan terhidang di atas meja. Frea tersenyum, melepaskan appronnya, menghidangkan satu persatu makanan buatannya. Sesekali mengelus perutnya yang membuncit.


Tomy duduk, memegang sendok dan garpunya bagaikan anak kecil yang tidak sabar dihidangkan makanan oleh ibunya. Benar-benar hidangan yang terlihat menggoda.


"Untuk pertama kalinya aku memakan masakan kakak," ucap Tomy tersenyum dengan nada manja.


Frea berusaha tersenyum, sedikit melirik koper yang berada di atas meja. Seakan tidak ingin melepaskan suaminya pergi."Apa enak?" tanyanya, menatap Tomy mulai menyantap makanannya.


Namun bukan jawaban yang pertama didengarnya, pemuda itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, menahan air matanya yang hendak mengalir,"Sangat enak..." jawabnya dengan mulut penuh, kembali makan dengan lahap.


Mungkin untuk pertama kalinya, setelah belasan tahun dirinya merasa dikasihi. Memakan makanan dihadapannya, bagaikan seorang pemuda yang kelaparan akan kasih sayang.


"Apa seenak itu?" Frea mengenyitkan keningnya, hendak mencoba hasil masakannya.


Namun, Tomy menghentikannya,"Ini semua dimasak khusus oleh istriku!! Makanan untukmu sedang dibuatkan koki!!"


Dengan penuh rasa penasaran, Frea menampik tangan Tomy. Merebut salah satu piring, memakan masakan buatannya. Kemudian dengan cepat, meminum segelas air."Berhenti, rasanya tidak enak...!!" ucap Frea menghentikan tangan Tomy, memakan masakan buatannya yang rasanya tidak karuan.


"Rasanya enak, terimakasih..." pemuda itu menitikkan air matanya tersenyum, kembali makan dengan lahap. Merasakan makanan hangat buatan istrinya. Seseorang yang seminggu ini tidak akan dapat ditemuinya.


Semua kenangan yang tersimpan dalam hatinya akan merindukan rumah impiannya. Dengan istri dan calon anaknya didalamnya.


***


Cahaya terang lampu terlihat, pakaian pasien telah dikenakannya. Menjalani puasa selama beberapa jam sebelum operasi kini dilakukannya. Jemari tangannya, meraba kaca jendela kamar yang ditempati Suki.


Merindukan Frea? Hanya beberapa jam yang dilewatinya tanpa kebersamaan mereka. Namun, ingin rasanya memeluk tubuh itu, mengelus perutnya yang sering bergerak pelan. Menanti kedatangan anak mereka ke dunia ini.


"Aku merindukan kalian..." gumamnya, menyentuh kaca jendela di hadapannya. Seakan menatap fatamorgana istrinya yang tersenyum dengan perut sedikit membuncit.


***


Mansion pelayan, terletak di perkebunan belakang rumah, terpisah dengan rumah utama. Dua orang pengawal berjaga, di area depan rumah, beberapa orang pemuda mabuk tiba-tiba datang, membentak membuat kekacauan di depan gerbang rumah. Membuat kedua orang pengawal kewalahan, hingga tidak menyadari tiga orang dari mereka memasuki area rumah utama.


Hal yang dilakukan mereka? Membuat kematian yang rapi untuk Tomy yang disangkanya masih ada di dalam rumah. Saling berbagi tugas, penuh kordinasi.


Dimulai dengan mematikan CCTV, selang gas digores nya menggunakan pisau, hingga tercium bau gas memenuhi area dapur. Orang lainnya, mencuri kunci rumah, dipergunakan untuk mengunci semua pintu dan jendela. Dalam rumah besar tanpa pengaman tersebut.


Profesional? Itulah mereka, pengawal yang berpatroli sudah dilumpuhkan, dibaringkan di bawah pohon rindang.


Menggunakan alat komunikasi, mereka mulai bekerja berbagi tugas, mematikan listrik di rumah utama, bersamaan dengan orang yang menggores selang gas, memotong beberapa kabel di dapur. Dengan cepat kedua orang itu keluar dari rumah, setelah mengunci rapat semua pintu dan jendela. Memastikan tidak ada jalan keluar dari rumah.


Sedangkan satu orang lagi, masih berada di tempat mengendalikan arus listrik. Menunggu gas mengisi penuh seluruh ruangan dapur.


Frea mulai terbangun, merasa kepanasan akibat AC yang tidak menyala, serta lampu yang padam. Wanita hamil itu menatap jendela, terlihat hanya lampu di rumah utama yang tidak menyala.


"Apa ada kerusakan?" gumamnya, dengan tubuh lemas. Perlahan berjalan mengambil senter, berjalan keluar dari kamarnya yang terletak di lantai dua.


Listrik tiba-tiba menyala, bersamaan dengan kabel yang mengeluarkan percikan listrik, menyambar gas yang memenuhi dapur. Ledakan pertama terjadi, bersamaan dengan kembali padamnya listrik. Api mulai menjilati dapur lantai satu.


Kepulan asap menyebar, hawa panas terasa. Panik, begitulah dirinya saat ini,"Tolong..." ucapnya lirih, berharap dapat memanggil pengawal yang biasa berkeliaran di sekitar rumah utama.


Lorong-lorong nampak gelap, ledakan kembali terjadi, mengingat dekat dapur lantai satu terdapat tiga buah tabung gas 50 kg. Frea memberanikan dirinya, penuh keputusasaan, melangkah menuju pintu samping lantai satu.


Jemari tangannya, menghubungi pemadam kebakaran menggunakan phonecell. "Tidak akan terjadi apa-apa, tidak akan terjadi apa-apa..." harapnya penuh keyakinan.

__ADS_1


Duar...


Suara ledakan kembali terdengar, dua orang pengawal yang berjaga di gerbang depan sudah berlari, mulai berusaha memadamkan api, mencari jalan masuk, memeriksa keadaan majikannya.


Sementara Frea yang telah menemukan pintu samping untuk keluar, terbatuk-batuk, mengetuknya penuh rasa putus asa. Terkunci? Benar pintu terkunci dari luar, kebakaran hampir menyebar di seluruh ruangan lantai satu. Kembali ke lantai dua pun rasanya percuma, beberapa balok kayu besar telah menutupi anak tangga.


"Tolong..." ucap Frea lirih ketakutan. Jemari tangannya kembali bergerak hendak menghubungi Tomy.


Nomor itu tersambung, namun tidak ada yang mengangkatnya. Hanya pada akhirnya terhubung pada kontak suara.


Frea masih menyender pada pintu, merasakan hangatnya api mengerikan di hadapannya. Bagaikan ajal akan segera menjemputnya,"Tomy, tolong aku," ucapnya yang hanya terhubung pada kontak suara panggilan, menangis dengan suara bergetar, kini ketegarannya lenyap tidak bersisa. Ditaklukkan oleh rasa takutnya, mendengar suara ledakan, runtuhnya kayu, serta pecahnya kaca berkali-kali.


"Aaa..." jeritnya berteriak ketakutan, menatap balok kayu terjatuh didekatnya, Frea batuk beberapa saat, kemudian kembali bicara,"Aku ingin selamat, tapi jika tidak bisa, tetaplah tersenyum. Aku dan anak kita mencintaimu," air matanya mengalir menangis sesenggukan. Menatap api di hadapannya yang semakin membesar, tidak menyisakan jalan melarikan diri. Menutup panggilannya, seakan telah selesai mengucapkan pesannya.


***


Di area depan rumah pengawal mencoba masuk melalui pintu utama, mengambil linggis mengingat pintu yang terkunci."Nyonya..." panggilnya, namun tidak menemukan jawaban, tidak menemukan jalan masuk, ruang tamu sudah hampir terbakar habis.


Sang pengawal terbatuk-batuk, "Kita coba masuk dari pintu belakang atau samping," ucap salah seorang pengawal.


Berlari dengan cepat, hingga halaman samping namun ledakan besar tiba-tiba terjadi. Mungkin api telah menyambar dua tabung gas lainnya. Kaca-kaca berserakan, tidak ada yang tersisa dari lantai satu. Kedua orang pengawal terluka, berusaha bangkit dari atas rumput, bersamaan dengan mobil pemadam yang tiba.


***


Rumah sakit...


Tomy mulai menghela napas kasar, dengan jarum infus masih menancap pada pergelangan tangannya. Sudah tiga jam operasi usai, dirinya baru selesai menjalani masa observasi awal pasca operasi besar.


Miko dengan ragu masuk, menghela napas kasar tertunduk, tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. "Tuan muda, rumah anda mengalami kebakaran," ucapnya yang menerima panggilan dari pengawal Tomy.


Jemari tangannya gemetaran bertanya dengan nada lemah,"Kebakaran? Bagaimana keadaan Frea?" tanyanya penuh harap.


Miko tertunduk tidak menjawab, raut wajahnya seakan menggambarkan kata-kata yang enggan diucapkannya.


"Tuan muda, keadaan anda..." kata-katanya terhenti, Tomy menatap tajam padanya.


"Jika istriku mati, apa kamu bersedia menukar dengan nyawamu!!" ucapnya dengan nada tinggi, berjalan selangkah, namun tiba-tiba ambruk, merasakan sensasi sakit luar biasa pada area bekas operasi yang baru dijalinnya.


"Tuan muda, berfikirlah secara logis!! Pemadam kebakaran akan berusaha menyelamatkan istri anda!!" ucapnya, berusaha membantu Tomy bangkit.


"Jika anak dan istrimu yang terjebak, apa kamu masih bisa berfikir logis!? Minggir!!" Tomy menepis tangan Miko.


"Saya akan mengantar tuan muda. Tapi kita harus meminta ijin menggunakan ambulance dan membawa perawat," ucapnya tidak tega menatap kondisi tuan mudanya.


***


Dalam perjalanan, Tomy hanya terdiam, berharap dapat melihat Frea dan calon anak mereka dalam keadaan selamat. Berdiri melihatnya penuh senyuman.


Hingga ambulance terhenti di depan kediaman impiannya. Rumah yang dibangunnya dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Merancang sendiri struktur bangunan dari awal, membayangkan dirinya akan tinggal hingga menua dengan wanita impiannya.


Miko memapahnya, seorang pengawal yang terluka menghampiri Tomy,"Tuan, maaf nyonya belum sempat keluar..." ucapnya tertunduk.


Pemuda itu mengumpulkan seluruh tenaganya, berjalan terhuyung, menahan rasa sakit,"Aaagghhhh!!" teriaknya kala dua orang petugas pemadam kebakaran mencoba menghentikannya mendekat.


Api telah menjilat hingga bagian depan, tidak ada yang tersisa, merobohkan kayu-kayu besar yang menjadi pondasi atap bangunan. Matanya memerah, perlahan akhirnya air mata itu tidak dapat juga ditahannya. Mengalir dari pipi hingga dagunya.


Kakinya lemas, kamar bayi, wanita yang dicintainya, semua lenyap dalam sekejap.


Masih mengenakan pakaian pasien, dengan luka di pergelangan tangannya, akibat mencabut infus secara paksa.

__ADS_1


Pandangan matanya berubah, tersenyum penuh dendam, mata yang seakan-akan mencabik satu persatu, tanpa dapat dihentikan. Tidak mempedulikan jahitan pasca operasinya yang mungkin terlepas, darah terlihat membasahi baju pasien yang dikenakannya.


"Tuan muda..." Miko menatap iba.


Pemuda yang duduk di atas tanah itu mulai kehilangan kesadarannya. Terjatuh di atas tanah, matanya masih menatap api yang menjilati kediamannya. Tubuhnya masih terlalu lemah pasca operasi.


Frea, maaf...


Tidak ada yang tersisa dari impian kecilnya yang sederhana. Hanya reruntuhan, yang terbakar, kesadaran menghilang, tubuhnya diangkat perawat menggunakan tandu, alat pernapasan di pasang padanya. Membawa tubuh lemah itu kembali ke dalam ambulance.


***


Tiga hari kemudian...


Bahkan pemakaman istrinya tidak dapat disaksikan olehnya. Tomy terdiam dengan wajah pucat, menggunakan payung hitam, menatap tanah pekuburan yang masih basah. Buket bunga diletakkannya. Senyuman menyungging di wajahnya.


Tersenyum? Bukankah itu keinginan Frea? Pemuda itu memang tersenyum.


"Aku akan mencabik mereka satu-persatu. Setelah itu aku akan menemanimu, bersabarlah..." ucapnya tanpa setetes air matapun yang mengalir.


Antagonis? Dari manakah antagonis berasal? Tempatnya berasal adalah dari dasar rasa keputusasaan.


Orang paling baik dapat menjadi antagonis yang terkejam. Luka hati yang disimpannya, rasa sakit akan kesendirian, menumpuk menjadi satu, tertutup topeng memaafkan.


Namun, ketika topeng itu pecah, iblis yang paling kejilah yang akan muncul. Tersenyum, menertawakan penderitaan orang lain. Penderitaan orang lain bukan kebahagiaan baginya, namun menjadi sebuah kepuasan.


Kepuasan saat membalas rasa ketakutan akan kematian yang dirasakan istrinya, hingga akhirnya harus terkubur di tanah dalam rasa sakit.


***


Pemuda itu terdiam, kembali memutar rekaman saat istrinya yang pemberani ketakutan. Rekaman suara terakhir dari panggilan yang tidak dapat diangkatnya.


'Tomy tolong aku...,' suara terjeda terdengar jeritan ketakutan, diikuti suara batuk,'Aku ingin selamat, tapi jika tidak bisa, tetaplah tersenyum. Aku dan anak kita mencintaimu,'


"Aku juga, setelah ini selesai, kita akan berkumpul bersama. Aku akan menyusul kalian..." Tomy tersenyum, menutupi rasa kehilangannya. Belum dapat merelakan segalanya, tepatnya tidak akan pernah merelakan segalanya.


***


Satu minggu kemudian...


Tempat lain, seorang pemuda mengenyitkan keningnya."Dia minta apa?" tanyanya memastikan.


"Es lilin, rasa rujak," sang pelayan menghela napas kasar.


"Kenapa tidak pulang saja pada suamimu!!" bentaknya, dengan kemarahan yang benar-benar diubun-ubun.


"Aku tidak ingin mengalami kejadian serupa. Jadi aku akan tinggal di sini, agar kami aman," wanita itu tersenyum, mengelus perutnya.


"Kamu!! Aku akan mengatakan keberadaanmu pada Tomy!" sang pemuda kembali membentak.


"Kamu tega membiarkanku kembali ke medan perang?" ucapnya memelas.


"Sudahlah..." pemuda itu menyerah, mengingat trauma yang dialami perempuan hamil tersebut, hingga histeris beberapa hari ini, bahkan kesulitan tidur. Rasa trauma yang yang dapat menggangu perkembangan janinnya.


Perawatan psikiater memang sudah membuat sang wanita hamil kini lebih membaik.


"Aku akan penuhi permintaan gilamu, berapa banyak es?" tanyanya.


"Sebanyak-banyaknya," jawabnya, menatap kepergian sang pemuda.

__ADS_1


Sang wanita terdiam, tersenyum mengelus perutnya. Tomy, maaf... Aku tidak ingin anak kita terluka...


Bersambung


__ADS_2