
Seorang pria paruh baya memarkirkan mobilnya di depan area sebuah restauran. Menghela napas kasar, berpapasan dengan Agra, "Kakak..." ucapnya.
"Kenapa bisa memiliki saham di W&G Company?" tanya Agra pada adiknya, mengingat Adrian memang mengatakan akan mengirim dokter keluarga namun bukan atas namanya.
"Aku berinvestasi dua tahun yang lalu, hanya 1,2% saham. Tapi ini keuntungan juga bagiku sekarang, aku bisa mendatangkan Albert atas nama perusahaan lain tanpa diketahui putraku," Adrian tersenyum tanpa dosa.
"Kamu tidak tau? W&G Company menggagalkan tender kerja sama kita di Filipina, kerugian perusahaan cukup besar karenanya." Agra menatap sinis.
"Pratama Group hanya bergerak di dalam negeri. Diluar negeri, aku tidak begitu peduli. Lagipula bisnis adalah bisnis, aku akan berinvestasi di tempat yang menguntungkan," senyuman memuakan itu kembali terlihat, meninggalkan Agra masuk ke dalam area restauran.
"Kenapa aku bisa punya adik tidak tau malu sepertinya..." Agra menghela napas kasar, berjalan menuju tempat parkir.
***
Phonecell Adrian bersinar dalam mode silent. Menampakan beberapa pesan dari operator masuk. Foto bayi mungil terlihat sebagai wallpaper, foto cucu pertamanya yang tengah tinggal di rumah Suki.
Tentunya foto yang diambil Albert, dokter yang dikirimkannya, pada Agra. Memohon pada sang kakak, agar setidaknya dapat mengirimkan seseorang untuk menjaga putra dan cucunya.
Albert tersenyum menyambut majikannya di salah satu meja."Tuan ..." ucapnya menunduk menyambut kedatangan Adrian.
"Duduklah, tidak perlu sungkan, omong-ngomong bagaimana keadaan Tomy dan Kira?" tanyanya, mulai duduk di kursi yang berhadapan dengan Albert.
"Mereka terlihat sehat, namun, ada orang baru yang memasuki kediaman utama. Pelayan pribadi putra anda, bernama Rangga..." Albert mulai meminum orange juice di hadapannya.
"Keadaan perusahaan? Apa Tomy sudah mulai bekerja!?" tanyanya, sembari meraih daftar menu yang sodorkan pelayan.
"Sudah, mengenai keadaan perusahaan saya tidak tau dengan pasti. Tapi dari raut wajah Agra dan Leon seperti terjadi sesuatu yang fatal," jawab Albert, mulai memutar-mutar garpu hendak memakan spaghetti di hadapannya.
"Dan Tomy? Apa dia terkena masalah?" Adrian kembali bertanya, membuat Albert urung memakan spaghettinya.
Tang...
Garpu diletakkannya asal, membentur sudut piring keramik. "Dia tidak menyukai saya, selalu menganggap saya akan merebut istrinya. Apa dia waras...!?" ucapnya emosi.
"Bersabarlah, dia menjalani kehidupan yang sulit dari kecil, tanpa ada yang menyayanginya. Jadi, mungkin karena itulah dia protektif pada istri dan anaknya,"
"Escargot, lime tea, dessert fruit salad," ucap Adrian pada pelayan mengatakan pesanannya.
__ADS_1
"Iya, tapi sudah benar-benar keterlaluan, mengatakan dengan terang-terangan saya akan merebut istrinya. Bahkan mencium pipi istrinya, di hadapan saya!!" bentaknya menggebrak meja,"Apa dia fikir cuma dia yang punya pasangan!?"
Adrian mengenyitkan keningnya,"Memang kamu punya?" tanyanya menatap jenuh.
Albert menghela napas kasar, kembali memakan spaghettinya enggan menjawab pertanyaan yang sudah jelas.
"Tidak punya kan? Tidak laku, makanya jangan iri..." lanjut Adrian mulai tertawa.
"Anda sendiri, sudah lama bercerai, kenapa tidak menikah lagi?" Albert menatap sinis dengan mulut penuh.
Adrian menghela napas kasar, berusaha tersenyum, menatap lime tea yang dihidangkan pelayan."Fikiranku terlambat tumbuh dewasa, membiarkan wanita yang aku cintai menderita, malah dulu jijik padanya. Menghakimi putraku yang tidak tau apa-apa, membiarkannya kedinginan dan kelaparan di dunia luar,"
"Aku tidak ingin menikah lagi, karena baru menyadari hanya mencintainya dan sudah mengecewakannya," lanjutnya.
"Kenapa tidak mengejarnya saja? Ibu kandung Tomy kan?" Albert terlihat semakin antusias mendengarkan.
"Aku tau diri, sudah menyakitinya bertahun-tahun. Lagipula, dia sudah tidak mencintaiku. Pak tua itu, walaupun sudah mati, masih saja selalu membayangi istri cantiknya..." Adrian tertawa kecil memendam kekecewaannya, mengingat wanita yang hanya terpaku pada almarhum suaminya itu.
"Ada Tomy diantara kalian, minta bantuan padanya," usul Albert.
"Aku bukan ayah yang baik, dia mengetahui dan menyaksikan segalanya. Anak itu walau pernah dikecewakan Merlin hanya akan berpihak pada ibunya," ucapnya.
"Contoh? Apa karena aku sukses dan kaya?" tanya Adrian antusias.
"Contoh kegagalan dalam hidup..." kata-kata candaan, diselingi tawa dari Albert bagaikan sebuah pukulan telak bagi Adrian. Sakit tapi tidak berdarah.
***
Sedangkan di tempat lain...
Seorang pemuda rupawan dengan poni di wajahnya, memasuki ruangan Tomy. Membawa beberapa kaleng soft drink.
"Anda suka yang mana? Hitam, merah, orange, atau bening?" tanyanya, menyodorkan kantong keresek yang dibawanya.
"Merah, rasanya lebih enak," Tomy meraih kaleng berwarna merah.
"Untung aku beli dua yang merah..." Rangga tersenyum, meraih kaleng miliknya.
__ADS_1
Tomy menghentikan pekerjaannya sejenak, menatap pemuda di hadapannya,"Kenapa kamu bisa menjadi gelandangan?" tanyanya.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal, aku diadopsi oleh keluarga yang membunuh mereka, tanpa aku ketahui,"
"Hidup diinjak-injak di rumah keluarga kaya, menjadi separuh majikan, separuh pelayan. Seseorang yang dianggap benalu oleh pemilik rumah," pemuda itu tersenyum pada Tomy menenggak minuman bersoda miliknya.
Pelayan? Selama tiga tahun, setelah kepergian pengasuh, Nila memang kerap menyakiti anak itu secara mental. Berkata-kata kasar, bahkan mencaci, memukul atau mencubit? Tentunya hanya pada bagian yang tertutup pakaian. Agar tidak diketahui ayah mertuanya.
"Lalu kenapa bisa berakhir hidup di jalanan?" tanya Tomy kembali.
"Aku dituduh mencuri, karena sempat memasuki kamar pemilik rumah, saat kotak perhiasannya menghilang. Mereka membuangku setelah itu," Rangga tersenyum, menatap ke arah Tomy, "Kenapa? Kamu takut padaku? Kamu takut aku akan mencuri barang-barangmu?"
Tomy menghela napas kasar, menggeleng, "Menuduh tanpa bukti, tidak mengalami sendiri kehidupan dari orang yang dibicarakan. Mereka tidak pantas menjadi keluargamu..."
"Banyak hal tidak adil yang terjadi di dunia ini, termasuk aku yang mengejar cinta seorang ayah ketika kecil. Ayah yang menuduhku mengancam anak kesayangan yang lemah," lanjutnya.
"Kita memiliki kesamaan, tidak dapat melawan mulut jahat orang lain..." Rangga tersenyum kembali menenggak minumannya hingga tandas, melempar dalam tempat sampah.
"Mengenai orang tuamu..." kata-kata Tomy disela.
"Mereka sudah tenang disana," Rangga menghela napas kasar.
"Jika aku adalah kamu, mungkin aku akan membalas mereka satu-persatu," Tomy ikut menghela napas menepuk pundak Rangga, kemudian menenggak sodanya.
"Kita memang sepemikiran," Rangga kembali tersenyum pada majikannya."Apa kamu tidak memiliki dendam pada keluargamu?"
"Rasa dendam memang ada, tapi aku masih melihat istriku. Dia terlalu baik, dan aku begitu menginginkannya. Jika wanita baik hanya dapat bersanding dengan pria baik, aku akan menjadi pria baik yang pemaaf untuknya," jawab Tomy.
"Aku jadi ingin punya pacar wanita baik..." Rangga tertawa kecil.
Bersambung
Wanita baik? Hanya karena seorang wanita baik dapat mengobati luka hati? Jangan konyol...
Aku hidup puluhan tahun seorang diri, memendam semuanya, menapaki jalan berkerikil. Luka hati ini tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan obat-obatan yang diberikan psikiater...
Kasih sayang dari seorang makhluk lemah yang berharap perlindungan dapat menyembuhkannya? Itu adalah sebuah lelucon...
__ADS_1
Kenzo ...