
Angin menerpa rambut putih seorang pria tua, gerbang besar rumah terbuka. Hingga mobil hitam miliknya mulai memasuki kediamannya.
Sudah hampir 6 bulan dirinya berada di rumah sakit. Kursi roda miliknya diambilkan Miko.
Perlahan kursi itu di dorong masuk ke dalam kediaman. Mata Suki menelisik, tidak ada perubahan besar dalam rumahnya. Rumah yang masih terlihat sepi. Semua orang masih bekerja, belum ada yang kembali. Terkecuali seorang wanita yang tengah bermain dengan putranya.
"Frea..." ucapnya tersenyum.
"Kakek, maaf tidak dapat menjenguk," Frea menggendong Kira berjalan mendekati Suki.
"Tidak apa-apa, ini putra kalian?" tanya Suki menatap bayi mungil dalam dekapan Frea.
Frea mengangguk, membenarkan, "Namanya Kira..."
"Kira..." Suki tersenyum, mengelus pipi sang bayi mungil. Tidak ada yang menyadari, Albert mengambil gambar dari lantai dua, guna dikirimkannya pada Adrian. Dokter muda itu menghela napas kasar, tersenyum, menatap kebahagiaan dalam keluarga yang dibangun putra ketiga Adrian.
***
Hingga malam tiba, makanan telah terhidang di atas meja makan yang cukup besar. Suki tersenyum dengan wajah keriputnya. Menatap Mona begitu menyayangi calon putri sambungnya, mengupaskan apel untuknya. Bersama dengan Vincent yang baru datang duduk di samping mereka. Pemuda yang terlihat ramah, mungkin lebih baik dari sosok Lian.
Sedangkan, Leon menghela napas berkali-kali tidak berkata apapun. Namun, pastinya pria itu mencemaskan putranya yang bagaikan telah terperangkap jaring dari siluman laba-laba.
Jaring laba-laba? Gilang membelikan mobil keluaran terbaru untuk kekasihnya, walaupun dengan gajinya sendiri. Namun, pemuda bermulut pedas, berhati polos itu hanya mempercayai kekasihnya sebagai wanita baik, wanita yang akan dinikahinya.
Suatu kebodohan menurut Leon, putranya melepaskan wanita yang benar-benar tulus padanya hanya karena tertipu rupa fisik.
"Kenapa Tomy belum pulang?" Suki mengenyitkan keningnya.
"Sebentar lagi dia pulang, makan malam dan berganti pakaian. Setelah itu, katanya harus mengunjungi seorang temannya..." jawab Frea, masih menikmati makanannya dengan tenang.
Suara mobil terdengar, beberapa saat kemudian Tomy melewati area ruang tamu. Berjalan diikuti seorang pemuda.
Hingga sekitar dua puluh menit kemudian turun dengan memakai jeans dan sweater. Masih dengan Rangga yang mengikutinya.
"Kakek, jika belum sembuh benar sebaiknya tinggal di rumah sakit dulu..." Tomy, mulai duduk di samping Frea.
__ADS_1
"Kakek ingin pulang, kesepian disana," Suki memakan bubur labu di hadapannya, tanpa menoleh sedikitpun.
"Kenapa berdiri? Duduk di sampingku, tidak perlu sungkan..." Tomy tersenyum, menepuk kursi sampingnya, berucap pada Rangga.
"Tapi..." kata-kata Rangga di sela, Tomy menariknya memaksanya duduk.
"Jangan khawatir, aku majikanmu, menggantikan kakek sebagai kepala keluarga sementara disini. Benar kan kek...?" Tomy tersenyum. Memaksa Rangga duduk di sampingnya.
Suki mengalihkan pandangannya ke arah Tomy, "Emmm, bagaimana dengan..." kata-katanya terhenti menatap sosok bagaikan Arman di samping cucunya. Pria yang memohon padanya 29 tahun yang lalu. Tidak menua sama sekali, dengan kulit yang lebih bersih dari Arman, serta poni di bagian dahinya.
Arman? Bukan dia Kenzo... wajah Suki seketika pucat pasi.
"Tuan besar?" Kenzo, tepatnya pemuda yang tengah menggunakan nama Rangga. Tertunduk padanya, sembari tersenyum. Rupa itu masih dapat dibedakan Suki, mata yang sama dengan yang dilihatnya 21 tahun yang lalu. Mata yang dialiri darah dari kening sang anak, menatapnya penuh kekecewaan.
"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Suki menatap tajam.
"Kakek mengenalnya?" Tomy mengenyitkan keningnya menatap ke arah Suki.
"Tidak, mungkin hanya mirip..." kata-kata itulah yang keluar dari mulut Suki tersenyum pada cucunya. Tidak ingin kesalahannya dahulu, diketahui Tomy.
"Makanlah..." Tomy tersenyum pada Rangga.
Matanya sedikit melirik ke arah Tomy, menekan pisaunya pada daging, kemudian tersenyum sejenak.
Suki membulatkan matanya. Membunuh cucu kesayangannya? Apa itu, tujuan akhir dari Kenzo. Tidak ada yang mengetahui atau dapat menebak isi fikiran pemuda itu.
"Tomy dia siapa?" Suki mengenyitkan keningnya.
"Rangga, pelayan pribadiku. Dia memerlukan pekerjaan, dan aku kurang memperhatikan diri sendiri. Dia hanya bertugas mengikuti, dan mencarikan keperluanku..." jawab Tomy dengan mulut penuh.
"Di kator ada office boy, di rumah sudah ada pelayan, apa kurang sehingga harus mengangkat pelayan pribadi!?" kali ini entah kenapa Suki meninggikan intonasi suaranya. Mencemaskan cucunya, namun tidak dapat membongkar kesalahan yang dilakukannya.
"Kakek, tugasku begitu banyak, terkadang harus lembur hingga pagi. Tidak ada office boy di kantor atau pelayan yang bertugas pukul satu pagi ..."ucap Tomy meminum air mineral di hadapannya.
"Tapi..." kata-kata Suki disela.
__ADS_1
"Kakek, Rangga pelayan yang setia, dia bahkan menyelamatkan nyawaku saat hampir di tikam," wajah itu tersenyum. Membuat Suki tidak dapat berkata-kata, membiarkan seekor harimau putih mengintai cucu yang paling memperhatikannya.
Pemuda yang tersenyum dengan tenang...
***
Tujuan Tomy setelah pulang kantor? Tentu saja kantor pusat JH Corporation. Tempat majikan pelitnya berada.
Rangga menghela napas kasar berkali-kali, wajahnya pucat pasi, mengenyitkan keningnya. "Kenapa kita kemari?"
"Tentu saja menghadap Firaun..." jawab Tomy tersenyum tanpa dosa."Aku punya firasat, kita bertiga akan akrab..."
Akrab? Heaker gila itu akan akrab denganku? Apa Tomy masih waras... gumamnya dalam hati menahan kekesalannya.
Satu persatu ruangan ditelusurinya, lorong demi lorong, menaiki lift menekan tombol lantai 8.
Musuh dalam bisnis? Begitulah hubungan W&G Company dengan JH Corporation. Dua orang yang dahulu selalu menyembunyikan identitas mereka dari media. Berperang dengan menggerakkan bawahan, tanpa pernah bertemu.
Kali ini seorang Tomy akan mempertemukan dua musuh bebuyutan yang hanya memainkan bidak catur mereka di belakang layar.
Rangga berusaha tersenyum, menatap pintu coklat di hadapannya terbuka. Wajah Farel? Tentu sudah diketahuinya, sebab pemuda itu sempat membongkar identitasnya pada media sekitar satu tahun yang lalu.
Cutter masih berada di sakunya untuk berjaga-jaga. Jika ini perangkap.
Membayangkan pemuda arogan itu duduk di kursi kebesarannya, memakai setelan jas, menikmati segelas anggur, dengan beberapa pengawal berada di ruangannya. Berusaha menangkap seorang Kenzo...
Namun...
"Tomy, kamu sudah datang?" pemuda itu memakai kaos dan celana pendek, dengan rambut basah, bagaikan usai mandi. Melempar Buavita rasa jambu biji, tepat pada Tomy.
Rangga tertegun diam sejenak,"Kamu mau?" tanya Farel kembali, dijawab dengan anggukan oleh Rangga."Tangkap..." Farel melempar satu kotak Buavita lagi.
"Beli dua gratis satu, harga satuannya 6.500, jadi pembelian dua kotak 13.000. Uangnya kita bagi tiga, 4000, 4000, sisanya aku yang mengalah membayar 5000. Kalian seharusnya berterimakasih pada orang murah hati sepertiku..." ucapnya cepat.
"Ini 8000, dia belum gajian!!," Tomy menghela napas kasar, merogoh sakunya memberikan 4 lembar uang 2000 rupiah, sudah terbiasa dengan sifat Farel.
__ADS_1
Sementara Rangga terdiam dengan wajah heran. Dia Farel? Saingan bisnisku. Tidak bisa dipercaya...
Bersambung