
Seorang pria paruh baya menghela napas kasar, setelah menghubungi putranya. Duduk menunggu di sebuah private room restauran. Mengatur napasnya, bingung apa yang harus dikatakan nantinya.
"Jadi dia benar-benar si gagap?" Irgi mengenyitkan keningnya, Adrian hanya mengangguk menghela napas kasar.
Ini bukan ulat menjadi kupu-kupu, tapi cacing tanah beresolusi menjadi Naga iklan susu beruang. Si gagap kucel yang lugu... gumam Irgi heran
Tomy mulai membuka pintu, berdiri di hadapan sang ayah. Hanya diam itu yang pertama dilakukan Adrian, hingga mulai bangkit memeluk tubuh putranya. "Maaf..." hanya satu kata yang diucapkannya, menitikkan air matanya lirih.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Ayah memiliki banyak kesalahan padamu, ayah..." kata-kata Adrian terhenti.
"Apa ini tentang posisi komisaris? Jika iya, ayah harus menyingkir," tanyanya lagi, tanpa membalas pelukan sang ayah.
Adrian melepaskan pelukannya, menatap wajah dingin putranya. Berbanding terbalik dengan mata polos penuh harap 17 tahun yang lalu. Atau asisten JH Corporation yang ditemuinya beberapa bulan sebelumnya.
Benar, kematian Frea yang merubahnya...
"Bukan, ayah sudah cukup puas dengan apa yang ayah miliki sekarang," Adrian mulai kembali duduk di kursinya.
"Jika begitu, aku permisi, waktuku tidak banyak..." pemuda itu berjalan beberapa langkah.
Sedangkan Irgi seakan tidak peduli, mulai memakan hidangan di atas meja. Masa bodoh si gagap pergi, aku lapar...
"Tunggu, duduklah!! Setidaknya temani kami makan bersama," ucap Adrian menghela napas kasar.
Tomy mulai duduk, meraih air putih meminumnya. Memakan sedikit demi sedikit makanan di atas meja, hingga gerakan pisau dan garpunya terhenti.
"Apa yang merubahmu?" tanya Adrian pada putranya.
"Orang yang memiliki segalanya tidak akan mengerti," jawabnya mengiris daging di hadapannya.
"Apa karena Frea? Apa karena kepergiannya? Tidak bisakah kamu merelakannya?" tanya Adrian kembali, meminum segelas air di hadapannya.
Tomy tersenyum, tepatnya memaksakan dirinya untuk tersenyum,"Sifat kita berbeda, ayah memiliki dua orang wanita yang dicintai. Memiliki dua orang putra sah, dan satu anak di luar nikah,"
"Aku? Aku hanya dapat mencintai seorang wanita, hanya dapat memiliki anak darinya. Wanita itu sudah tidak ada,"
Adrian hanya terdiam, tidak dapat menjawab kata-kata putranya. Menatap wajah penuh dendam tanpa semangat hidup sedikitpun.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Adrian kembali.
"Dari pada memikirkan apa yang akan aku lakukan, lebih baik ayah memikirkan Irgi," Tomy menghela napas kasar, melirik saudara beda ibunya.
"Kenapa jadi aku!?" bentak Irgi dengan mulut penuh.
__ADS_1
"Aku akan menjabat sebagai komisaris Bold Company. Artinya ayah harus mulai mempersiapkanmu untuk memegang perusahaannya,"Tomy merogoh sakunya, mengambil kartu nama Farel.
"Cabut fasilitasnya, jika tidak mau bekerja..." ucapnya pada Adrian.
"Tomy!! Aku merelakan Frea untukmu, tapi ini balasanmu sebagai adik?" tanya Irgi memelas.
"Kamu baru tau kita kakak beradik. Bagaimana bisa tiba-tiba merelakan Frea atas nama persaudaraan?" Tomy mengenyitkan keningnya, kembali tersenyum,"Tapi, andai saja Frea memilihmu. Mungkin dia masih ada disini,"
"Belajarlah mandiri!! Agar tidak sepertiku, ketika memiliki orang yang ingin kamu lindungi. Tapi pada akhirnya, dia mati karena ketidakmampuanmu..." lanjutnya.
Adrian terdiam, menatap iba pada putra ketiganya. Anak yang tidak memiliki apapun, kini satu-satunya hal yang dibanggakannya juga telah lenyap. Lilin cahaya kecil miliknya telah padam, membuatnya tersenyum namun dalam sorot mata keputusasaan.
***
Dan disinilah seorang roker berdiri, di hadapan gedung pencakar langit. Berbekal sebuah map, menghela napas kasar, merutuki nasibnya.
Untuk pertama kalinya, Adrian bertindak tegas padanya. Jika tidak bekerja, tidak ada mobil dan uang bulanan.
"Mudah!! Tinggal masuk, duduk di meja kerja, kemudian pulang saat jam lima sore..." bangganya, dengan pemikiran gilanya.
Hingga, salah satu pegawai HRD, membimbingnya pada ruangan penyiksaan sang Firaun.
"Anda, menggantikan posisi pak Tomy. Disini ruangan anda bersama dengan pemilik perusahaan..." ucap sang pegawai HRD yang mengantar Irgi.
Sekretaris yang cantik, nampak sibuk seperti tidak memperhatikannya. Perlahan pintu di hadapannya dibuka, pintu besar dengan desain interior ruangan minimalis. Tidak terlihat buruk, bahkan tidak terlihat seperti tempat penyiksaan.
"Benar, namaku Irgi...emmm...pak..." ucapnya bingung harus memanggil apa pada pemuda yang berusia lebih muda darinya.
"Jangan pak, panggil aku tuan... karena Tomy merekomendasikanmu, ini tugas pertama untukmu," ucapnya tersenyum bagaikan malaikat, memberikan sebuah flashdisk. "Urus ke bagian cabang perusahaan pengembang makanan. Buat produk baru, hasilnya harus ada di mejaku nanti sore,"
Irgi mengenyitkan keningnya, bahkan dirinya tidak mengetahui anak cabang perusahaan JH Corporation terletak dimana saja, tapi ini? Memasuki perusahaan yang bahkan tidak diketahui dimana alamatnya.
Penjajahan, romusha (kerja paksa), dasar kaisar tidak beradab... gumamnya dalam hati.
"Aku tidak bisa, aku tidak tau alamatnya" Irgi meletakkan kembali flashdisknya di atas meja.
"Ada geogle map," jawab Farel sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Aku tidak mengerti caranya," alasannya kembali.
"Tidak ada yang tidak dapat dipelajari..." Farel kembali menjawab enteng.
"Aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa!!" bentaknya, tidak sabaran.
"Kamu idiot? Jika tidak bisa, caranya, tinggal berangkat, melihat gagasan tim produksi disana. Apa sulitnya!?" ucap Farel masih konsentrasi pada berkasnya.
__ADS_1
Orang gila ini... kemarahan Irgi benar-benar tidak terkendali, menarik kerah kemeja majikannya.
"Kamu mengerti bahasa manusia!? Tidak bisa, ya tidak bisa!!" bentaknya kembali.
"Bahasa manusia!? Biar aku ajari bahasa manusia yang beradab..." Farel tersenyum, sudah saatnya berolahraga untuknya.
***
Karin mengenyitkan keningnya, mendengar keributan di ruangan majikannya. Menghela napas kasar, merindukan sosok Tomy yang selalu bekerja dengan sempurna.
"Tolong!!" suara teriakan seorang pria terdengar.
"Ampuni aku... sakit!! Sakit!! Sakit!!" suara mengganggu itu terdengar lagi.
Hingga suara dari dalam ruangan terjeda sesaat. Irgi melangkah keluar dari ruangan membawa sebuah flashdisk, memegangi pinggangnya, kesulitan berjalan.
"Hey, sekretaris... Bos mu itu gangster ya?" tanyanya pada Karin.
"Tidak, dia malaikat baik hati. Justru kamulah yang seperti gangster," jawab Karin menghela napas kasar, melihat perbedaan jauh antara Tomy dan Irgi."Kenapa pak Tomy harus mengundurkan diri? Aku merindukannya," gumam Karin.
"Istrinya meninggal karena kebakaran. Dia sekarang sedang memegang perusahaan keluarga besar kami sebagai komisaris," jawabnya berusaha membenarkan posisi pinggangnya.
"Keluarga besar? Kamu mengenal pak Tomy?" tanya Karin antusias.
"Tentu saja, aku kakak satu-satunya..." jawabnya menyombong.
"Tidak mirip, seperti orang bodoh yang berkeliaran di pinggir jalan, berbanding dengan pria elite pemakan steak dan anggur," Karin menggeleng-gelengkan kepalanya menghela napas kasar.
"Dari mana kamu tau Tomy ketika kecil sering berkeliaran di jalanan? Perkenalkan aku Irgi, tuan muda tampan, anak pertama dari pemilik Pratama Group..." ucapnya salah sangka dengan perbandingan Karin.
"Maksudku, kamu orang bodoh yang berkeliaran di pinggir jalan, sedangkan pak Tomy si pria elite..." Karin tersenyum sendiri mengingat pria yang merebut hatinya.
"Pak Tomy tidak sepertimu yang seorang residivis..." lanjutnya, mengetahui tentang Irgi.
"Kamu tau?" tanyanya
"Tentu saja, hampir semua keluarga kalangan atas mengetahuinya," Karin kembali menghela napas kasar.
"Kamu salah satu wanita manja, kalangan atas?" tanyanya, menatap tidak suka.
"Iya, dasar residivis," ucap Karin menendang tulang kering Irgi. Berjalan berlalu, merapikan rambutnya, membawa berkas untuk di fotocopy.
"Woi, mak lampir kurang ajar..." ucapnya memegang salah satu kakinya yang ditendang.
***
__ADS_1
Langkah Irgi lemas, berjalan turun menuju lantai satu, membeli roti isi di cafetaria sebagai bekalnya menuju salah satu kantor cabang. Sejenak perhatiannya teralih,"Ternyata ada jajanan anak-anak disini," ucapnya tertawa membeli lima buah es lilin rasa rujak.
Bersambung