Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Apel


__ADS_3

Ruangan yang gelap, hanya sinar dari sebuah laptop terlihat. Jemari tangan seorang pemuda menari diatasnya, matanya terlihat fokus, memeriksa situasi perusahaan yang dipercayakan sang kakek.


Layar phonecell diatas meja mulai bercahaya, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Senyuman tidak terlihat di wajahnya, menatap isi pesan yang dikirimkan bawahannya.


Sang pemuda berjalan menuju kamar mandi, membasuh tubuhnya di tengah derasnya shower, menatap cermin besar di hadapannya,"Maaf..." hanya kata itu yang terucap dalam penyesalan.


***


Wajah rupawan itu nampak tersenyum, memakai pakaian santai, bersandar di mobil sport miliknya. Sesekali melihat jam tangan, menunggu kedatangan seseorang.


"Karin!!" panggilnya tersenyum, menatap seorang gadis keluar dari gedung pencakar langit, kantor pusat JH Corporation.


"Pak Tomy, ada apa kemari?" tanyanya berjalan cepat menghampiri pria yang sepengetahuannya telah bersetatus duda.


"Aku merindukanmu," jawab Tomy tersenyum, mengacak-acak rambut wanita di hadapannya.


Jantung Karin berdebar cepat, wajah rupawan itu akhirnya memandangnya, menganggap dirinya ada. Hingga, seorang pemuda datang, mengacaukan suasana.


"Tomy!! Baru saja dua bulan Frea meninggal, kamu sudah berani mendekati wanita lain! Dasar play boy..." Irgi memukul bahu adiknya, tersenyum seolah akrab dengannya.


Wajah Karin pucat pasi, menghela napas kasar berusaha tenang,"Pak Tomy, jadi istrimu yang sudah meninggal, Frea mantan karyawati divisi marketing?"


"Iya, Tomy menyukai yang lebih tua," Irgi kembali tertawa, merangkul bahu adik beda ibunya.


"Aku turut berduka..." Karin tertunduk penuh rasa bersalah. Bersalah? Tentu saja, dalam anggapannya Frea adalah wanita murahan yang mendekati Tomy disaat hubungan pemuda itu dengan istrinya kacau.


Namun, istri? Frea adalah istri sahnya? Perasaan iri dan dengkilah yang mempengaruhinya. Karin tidak pernah bermaksud seburuk itu, dirinya hanya ingin menyingkirkan posisi wanita simpanan Tomy. Agar setidaknya saat Tomy bercerai nanti dirinya dapat menggantikan posisi istrinya.


Tapi hampir membunuh dan mempermalukan Frea yang ternyata sang istri sah? Perbuatan keji yang membuatnya merasa bersalah.


"Tuhan lebih menyayanginya dari pada aku. Dia (Tuhan) lebih dapat menjaga dan membahagiakannya. Karena itu, Dia (Tuhan) mengambil Frea dariku," ucapnya tersenyum di hadapan Irgi dan Karin seolah telah merelakan kepergian istrinya yang tengah mengandung.


"Aku mendapat posisi yang bagus di perusahaan kakekku. Mau aku traktir?" tanyanya pada Karin, mengulurkan jemari tangannya.


Gadis itu mengangguk, meraih uluran tangan Tomy.


"Aku boleh ikut?" tanya Irgi antusias.


"Residivis tidak boleh ikut..." Karin mengenyitkan keningnya kesal, mendorong kepala Irgi.


"Pelit!! Dasar!!" ucapnya membentak, mengusap-usap kepalanya yang kebas akibat dorongan tiba-tiba dari Karin.

__ADS_1


Namun Irgi nampak tersenyum, menatap saudara beda ibunya itu tersenyum cerah, seolah telah melupakan luka hatinya karena kehilangan Frea. Memperlakukan Karin layaknya tuan putri, membukakannya pintu mobil.


Hingga mobil hendak melaju, wajah cerah adik laki-lakinya yang duduk di kursi pengemudi menghilang, berganti sekelebat dengan senyuman menjijikkan penuh dendam.


"Tomy?" gumam Irgi menatap aneh, kepergian mobil yang telah melaju jauh meninggalkan parkiran. Ada perasaan janggal dalam dirinya, menatap senyuman sang adik yang berubah sejenak sebelum mobil melaju.


***


Pemuda itu, menggenggam jemari tangan Karin, dengan satu tangannya lagi memegang stir.


"Pak Tomy..." ucap Karin menatap wajah pemuda itu dengan hati yang berdebar cepat.


"Jangan panggil pak, aku bukan atasanmu lagi. Panggil saja Tomy..." senyuman hangat itu terlihat lagi, membawa rona kebahagiaan dalam hati Karin.


Gadis itu mengangguk, menggenggam erat tangan pemuda impiannya.


"Apa kamu haus?" tanyanya, melepaskan pegangan tangan Karin, meraih sebotol minuman rasa buah yang berada disana.


"Terimakasih..." sang gadis meraihnya tanpa rasa curiga, meminumnya sembari menatap wajah rupawan itu terkena cahaya senja saat mobil mulai melaju melewati area jembatan gantung.


Bahagia? Itulah perasaan saat ini. Hingga tidak sengaja, mulai tertidur dalam perjalanan.


***


Meronta-ronta, kesulitan bergerak, matanya menelisik ruangan dengan dekorasi klasik. Terdapat dua orang pengawal yang berdiri di sana seakan menunggu perintah.


Sejenak kemudian pintu kembali terbuka, sang ayah terlihat diseret dua orang pengawal lainnya. Dengan keadaan tidak sadarkan diri, didudukan pada kursi dengan keadaan serupa mulut diikat kain, kedua tangan dan kaki terikat.


Seorang pengawal lainnya datang dari kamar mandi, membawa seember air. Menyiram sang pria paruh baya yang terikat.


Pria itu membuka matanya, menatap keberadaan putri tunggalnya di atas tempat tidur dalam keadaan terikat.


Perbuatan saingan bisnis? Mungkin Itulah dugaan pertamanya. Hingga seorang pemuda masuk, memakai setelan hitam lengkap dengan topi hitam, masker, menutupi wajahnya.


Pisau berada di genggaman tangannya, berjalan mendekati sang pria paruh baya. Menggunakan pisaunya melepaskan kain yang menutupi mulut pria itu.


"Apa maumu? Lepaskan kami!! Aku akan memberikan apapun!! Tender proyek, atau uang tebusan!! Katakan saja berapa!!" ucapnya ketakutan, dalam kepanikan, menatap keadaan putrinya.


Pemuda itu hanya diam menatap tajam dengan mata yang terlihat arogan. Berjalan mendekati tempat tidur, membuka kain yang dipergunakan menutup mulut Karin menggunakan pisau.


"Kamu siapa?" tanya Karin ketakutan. Namun, pemuda itu menarik baju Karin dengan kedua tangannya hingga kancing kemejanya berhamburan. Memperlihatkan lekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Lepas..." Karin menangis putus asa berusaha menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya terhalang kain kecil berwarna pink. Dengan kancing kemeja terbuka sempurna.


Dipermalukan? Untuk pertama kalinya dirinya dipermalukan seperti ini, tubuhnya dilihat beberapa lelaki yang tidak dikenalnya. Bahkan dirinya dipermalukan di hadapan ayahnya sendiri.


Jerit tangisannya terdengar memilukan. Jerit tangisan nona besar yang selalu mendapat perlakuan mulia dari semua orang. Dielu-elukan sebagai wanita terhormat yang pintar dan rupawan.


"Apa maumu!? Cukup menahanku!! Lepaskan putriku!!" pria paruh baya yang duduk terikat di kursi menitikkan air matanya tidak tega menatap keadaan Karin.


"Mauku?" tanyanya dengan nada dingin.


Karin terdiam jemari tangannya gemetar menyadari suara pria yang dicintainya.


Masker diturunkan sang pemuda hingga area dagunya memperlihatkan wajahnya dengan sempurna. Seorang pemuda yang tersenyum menjijikkan penuh dendam.


"To... Tomy?" Karin benar-benar ketakutan kali ini.


Menggunakan kekuasaan yang diberikan kakeknya. Baru mendapatkan rekaman CCTV hotel yang masih disembunyikan salah satu pengawai hotel, baru mendapatkan orang-orang bayaran yang ingin mencelakai Frea ketika masih bekerja sebagai staf marketing. Baru mengetahui orang yang dulu mencelakai istrinya.


Pemuda itu masih tersenyum, membuka handycam-nya. Menyorot langsung menuju tempat tidur tempat Karin terbaring.


"Lepas!!" Guna (Ayah Karin) meronta-ronta, berusaha melepaskan dirinya,"Pria keji!!" bentaknya.


Tomy berjalan mendekat, memberikan handycam pada salah seorang pengawal, menepuk-nepuk pipi sang pria paruh baya dengan pisau, seolah-olah tidak segan-segan melukainya.


"Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu sayangi dipermalukan? Satu? Dua? Atau tiga pengawalku yang akan menyentuh tubuhnya, aku yang menentukan..." ucapnya tersenyum lebar.


"Keji! Iblis!" Guna terlihat putus asa, mengumpat sembari menitikkan air matanya.


"Masa depan Karin masih panjang!! Lepaskan dia..." lanjutnya.


"Tidak ingat, perlakuanmu pada Frea? Bukankah kamu menyukai hal seperti ini!?" pemuda itu membentak, seolah tidak sabaran, menendang meja yang berada di hadapan sang pria paruh baya.


"Dia hanya wanita penggoda!! Murahan!! Tidak pantas untukmu!! Karin hanya berusaha menyadarkanmu, demi kebaikanmu sendiri..." ucap Guna menatap tajam pemuda di hadapannya.


"Wanita penggoda? Murahan? Dia adalah istri sah-ku... Setidaknya aku ingin membalas perlakuan kalian padanya," Tomy masih tetap tersenyum.


"Istri? Dia istrimu? Aku akan meminta maaf padanya. Tapi tolong lepaskan Karin..." Guna memelas tidak tega menatap wajah putrinya yang masih menitikkan air mata berusaha menutupi tubuhnya.


"Dia sudah mati..." Tomy meraih buah apel di atas meja mengupasnya perlahan menggunakan pisau miliknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2