
Pandangan mata seorang pemuda beralih, setelah menunggu Tomy turun lebih dari satu jam. Piano besar terlihat disana, berada di lantai satu.
Dengan ragu Kenzo melangkah, piano klasik besar mulai dimainkannya, menghilangkan rasa jenuh pemuda itu. Nada demi nada tidak satupun terlewatkan, guratan kesedihan nampak di wajahnya. Seorang pemuda yang kesepian, terlahir tanpa memiliki apapun. Hingga kini tetap sama, dirinya hanya seorang diri.
Sinar matahari yang masuk dari celah tirai, menerpa tubuhnya, menampakkan wajah rupawan tanpa sedikitpun senyuman. Isakannya perlahan terdengar, alunan nada indah terhenti.
"Ibu... Ayah..." gumamnya, tidak pernah bertemu dua sosok yang seharusnya menjaganya penuh kasih.
Dadanya terasa sesak, air matanya masih mengalir tiada henti.
"Kenapa berhenti bermain?" suara kakek tua itu terdengar lagi. Pandangan matanya beralih, Suki duduk seorang diri di kursi rodanya. Menggerakkannya seorang diri mendekati Kenzo.
Pemuda itu tertegun, "Aku akan segera pergi, anda tenang saja..." ucapnya.
"Em... memang lebih baik begitu. Bisa bermain lagi..." Suki menghela napas menatap anak malang di sampingnya. Bukan sebagai Kenzo, ancaman yang akan menghancurkan keluarganya. Namun, anak malang yang kehilangan kedua orang tuanya.
Kenzo mengangguk, jemari tangannya kembali bergerak perlahan. Dari wajah dinginnya mengalir air mata tiada henti. Mata yang terlihat seorang diri, dalam kesendiriannya.
Menyerupai wajah dan mata Arman? Memang, namun, ini seorang Kenzo. Anak yatim-piatu, yang menjalani kehidupannya seorang diri.
Beberapa nada acak ditekankan bersamaan, tangisannya pecah. Pemuda itu menagis dengan kencang. Merindukan? Siapa yang dirindukannya? Bahkan tidak ada satu orangpun dalam kehidupannya.
Tangan keriput itu menggenggam jemari tangannya. "Maaf..." mata Suki berkaca-kaca, hingga akhirnya bulir air mata itu tidak dapat di tahannya lagi. Mengaliri pipi keriputnya.
"Ayahmu adalah orang yang baik. Dia mengasihi siapa saja, bukan aku yang mengatakan, tapi bekas bawahan ayahmu. Dia menggati uang, akibat hilangnya beberapa barang di gudang dengan biaya persalinan istrinya. Dia pria yang bertanggung jawab. Maaf, aku salah menuduh dan membunuhnya..." air mata Suki mengalir, tidak dapat dihentikan olehnya.
Mengingat tulang punggung keluarga yang meninggal, karena mempertanggungjawabkan hal yang tidak dilakukannya.
Kenzo tertegun dalam kebisuannya...
Hingga mulut renta itu mulai kembali berucap,"Ibumu sangat mencintaimu, pesan terakhirnya ketika kamu dilahirkan, dia ingin kamu menjadi pria yang penyayang seperti ayahmu. Mencintai keluargamu, jangan terlalu pemilih jika menemukan orang yang kamu cintai nantinya, tidak ada manusia yang sempurna..."
"Itulah pesan terakhir ibumu, sebelum mengalami pendarahan ketika melahirkanmu..." lanjutnya.
"Maaf..." hanya satu kata itu yang kembali diucapkan Suki, dalam tangisan penuh penyesalan. Pasangan suami istri itu telah meninggal, janji di depan makam yang tidak dapat ditempatinya.
"Ibu... Ayah..." lirih Kenzo menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Merindukan sosok kedua orang tua yang tidak pernah ditemuinya.
__ADS_1
"Ini kesalahanku," Suki mengeratkan genggaman tangannya, "Aku terlalu takut melihat matamu, mata yang sama seperti ayahmu yang mengemis, memohon belas kasih padaku. Agar dapat melihat kelahiranmu. Dia tidak dapat melihatnya, karena aku mengabaikan mata itu..."
"Maaf..." kata-kata itu kembali terucap, lagi dan lagi. Begitu banyak kesalahan yang telah diperbuatnya, pada anak yatim-piatu, anak yang seharusnya tinggal bersama kedua orang tua yang menyayanginya.
"Nila, aku tidak pernah mendengarkan kata-katamu tentang perilakunya. Aku hanya menganggap semua angin lalu, hingga dia semakin menginjak dan melukaimu..."
"Kotak perhiasan, Mona sudah mengatakan segalanya. Maaf kakek baru mengetahuinya..." Suki melepaskan genggaman tangannya, penuh dosa dan rasa bersalah. Jemari tangannya terangkat, menyibakkan rambut di dahi pemuda itu, meraba bekas luka memanjang, yang ditorehkan Nila.
"Andai aku mempercayaimu, menganggapmu benar-benar sebagai cucuku sendiri. Maaf..." Suki tertunduk, tidak dapat menebus semua luka pada anak yatim-piatu yang diabaikannya.
Pemuda itu masih menitikkan air matanya berusaha tersenyum dalam tangisannya, jemari tangannya kembali bergerak. Menari perlahan, mainkan nada yang bagaikan penuh dengan rasa kesendirian. Enggan untuk bicara, menghibur dirinya sendiri dan Suki.
"Apa saat hidup di jalanan, kamu sempat kelaparan?" tanya Suki dengan ragu.
Pemuda itu kembali tidak menjawab, salah satu tangannya masih menari di atas tus piano, memainkan nada perlahan. Sedang tangan satunya, meraih jemari tangan keriput pria tua disampingnya.
Terluka? Dirinya memang terluka, menjalani hidup yang sulit. Berusaha dari nol sedikit demi sedikit. Tidak melewatkan satu peluangpun untuk ambisi balas dendamnya.
Setelah menjalaninya kehidupan penuh ambisi, tidak ada apapun disana, hanya semakin menyakitkan saja. Lelah, Kenzo benar-benar lelah saat ini. Memaafkan? Hatinya sudah merelakan segalanya, namun rasa sakit kedua orang tuanya. Membuat dirinya tidak dapat menjawab permintaan maaf Suki.
Mata anak itu dilihatnya, mata seorang anak yang selalu kesepian berjalan seorang diri.
Kata-kata yang dipergunakan untuk memudarkan rasa sakit dan dendam. Kata-kata yang dipergunakan hanya sekedar melegakan hati yang dilumuri banyak kesalahan...
Arman maaf...
Nada-nada masih terdengar, pandangan mata Suki beralih, menatap ke arah jendela kaca, tepatnya ke arah langit. Putra kalian sudah dewasa, dia tumbuh seorang diri. Maaf, kalian boleh mengumpat dan mengutukku... gumamnya dalam hati, bagaikan berucap pada sosok Arman dan Ayu. Pasangan suami istri yang telah tenang disisi-Nya.
Jemari tangan Kenzo terangkat, melepaskan genggaman tangan Suki, kembali menari dengan cepat memperdengarkan nada-nada yang lebih indah lagi.
Ayah, ibu, maaf aku bukan anak yang berbakti. Tapi aku benar-benar lelah...
Tolong maafkan putra kalian yang durhaka ini...
Pesan terakhirmu, aku akan mengabulkannya. Menjadi pria yang menyayangi keluarganya seperti ayah ...
Tenanglah di surga sana. Tolong sayangi aku walaupun kalian berada di sisi-Nya...
__ADS_1
***
Tomy tersenyum, menatap dari atas tangga, adegan permintaan maaf yang berbelit-belit menurutnya.
Tangannya terulur, menghentikan langkah Gilang yang hendak turun menuju lantai satu, setelah menyingkirkan Keyla dari kamarnya, dengan memberikan kartu ATM-nya.
"Jangan turun," Tomy menghentikan Gilang.
"Aku harus ke kantor polisi, menunggu perkembangan tentang menghilangnya ayah," Gilang menepis tangan Tomy.
"Tunggu, apa kamu benar-benar mencintai Keyla?" tanyanya.
Jemari tangan Gilang mengepal, tidak yakin dengan jawabannya,"Iya, dia cantik dan pintar, aku..."
Tomy menghela napas kemudian tersenyum,"Ayahmu mengirim pembunuh bayaran profesional untuk membuat kebakaran besar di rumahku. Pengawal, CCTV semuanya ada di rumah lamaku yang sudah rata dengan tanah. Tapi pembunuh bayaran yang dikirimnya dapat dengan mudah, menebus pengawal pribadi di rumahku..."
"Apa maksudnya!? Kamu mengungkit kesalahan ayah!? Jangan lupa, aku menyelamatkan Frea!!" bentaknya penuh emosional.
Tomy tertawa kecil, menatap ke arah Gilang,"Paman (Leon) secara sengaja atau tidak membuatmu bergantung padanya. Pria tangguh dan pintar sepertinya tidak mungkin mati dengan mudah,"
Tomy mulai merogoh sakunya, mengeluarkan dasi kupu-kupunya, berlagak bagaikan detektif,"Jejak darah dalam mobil tidak begitu banyak. Disekitar lokasi tidak terdapat pemukiman, tapi di bagian atas jurang, tepatnya sisi landai terdapat beberapa tanda rumput terinjak. Darah dalam jumlah kecil, terdapat disana, tanpa bekas seretan. Artinya korban tidak ada yang memindahkan mayatnya, mengingat berat badan ayahmu yang sekitar 70 kg,"
Tomy berucap dengan lantang,"Kebenaran hanya ada satu!! (ala Shinichi Kudo, detektif Conan) Paman Leon menyembunyikan dirinya, untuk mendidik putranya!!"
Gilang mengenyitkan keningnya, menatap aneh "Kamu dapat darimana dasi kupu-kupu itu?"
"Aku selalu membawanya di kantung jas, untuk situasi mendesak seperti ini!!" jawaban aneh untuk pertanyaan aneh, keluar dari mulut Tomy.
Gilang kembali berjalan ke lantai atas, menghela napas kasar.
"Kamu mau kemana?" Tomy mengenyitkan keningnya.
"Ganti pakaian, datang ke kantor. Membuktikan kata-katamu kalau ayah akan kembali setelah mendidikku menjadi lebih dewasa..." jawabnya, masih dalam mode plin-plan.
Ayahku tidak mungkin mati... jemari tangan Gilang mengepal, meyakinkan dirinya sendiri. Meyakinkan pemikiran gila seorang Tomy, hanya itulah satu-satunya harapan yang dimilikinya.
Tomy melepaskan dasi kupu-kupunya,"Bukan kedewasaan seperti itu yang diminta ayahmu. Ayahmu ingin matamu terbuka tentang wanita gila yang kamu puja..."
__ADS_1
Bersambung