Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Menunggu Ingin Bersamamu


__ADS_3

Mobil Damar mengikuti mobil Merlin dari jauh. Ingin melindungi istrinya jika terjadi masalah nantinya. Hingga mobil tersebut berhenti di kediaman yang dikenalnya.


Pengusaha muda yang diincar banyak wanita. "Adrian?" Damar menghela napas kasar.


Saling mengenal? Tentu saja, bahkan Adrian pernah menceritakan memiliki anak diluar nikah, ketika mabuk. Bahkan mengatakan mencintai ibu dari anak itu. Namun terlalu jijik untuk mendekatinya.


Air mata mengalir di pipi keriput itu, bukan takut Merlin akan meninggalkannya. Namun menginginkan Merlin bahagia walaupun tidak bersamanya.


Matanya kembali menatap tangan keriputnya, tangan yang tidak pantas bersanding dengan tangan halus seorang wanita yang dipuja banyak pria.


Ingin terlahir di masa yang sama dengan Merlin. Ingin penyakit sialan ini menghilang, namun tetap tidak bisa. Mereka terlahir di masa yang berbeda, saat kesehatan Damar memburuk.


Saat dimana Tuhan dapat mengambil nyawanya kapanpun Beliau menginginkannya.


***


Merlin tidak pernah meninggalkannya, merawatnya disela kesibukannya. Membasuh tubuh keriput yang semakin lemah itu.


"Kita berpisah saja..." ucapnya.


Jemari tangan Merlin yang tengah membersihkan tubuh suaminya terhenti. Menatap mata pria itu lekat.


"Kamu masih muda, kamu ..." kata-katanya terhenti, Merlin mengecup kening serta bibirnya.


"Aku juga akan menua, karena itu segeralah sehat. Tunggu aku menua, hingga kita dapat mati bersama-sama," ucapnya tersenyum tulus.


"Adrian orang baik, aku yakin jika kalian kembali putra kalian juga akan..." kata-katanya terhenti, Merlin tersenyum padanya.


"Aku minta maaf, almarhum ayahku berpesan untuk memberikan malam pertamaku pada suamiku. Tapi suamiku tersayang tidak mendapatkannya, hingga ingin menceraikanku..." gerutunya, masih melanjutkan membersihkan tubuh renta suaminya.


"Bukan karena itu aku..." kata-kata Damar kembali disela.

__ADS_1


"Mengikuti sinar kehangatan pertama yang aku temui. Kamu adalah sinar pertama yang aku temui, aku akan mengikutimu sampai akhir. Tidak akan pernah dapat meninggalkanmu..." ucapnya tersenyum tulus, mengecup pipi keriput suaminya.


Buah memang benar-benar terjatuh tidak jauh dari pohonnya. Obsesi dan cinta yang berpadu menjadi satu, membuat Tomy hanya dapat mencintai Frea, kehangatan pertama yang ditemuinya.


Hal yang diwarisi dari sifat Merlin, yang kini hanya dapat mencintai pria tua keriput. Pria tua yang memberikan perlindungan dari kerasnya dunia.


Hal yang ada di fikiran Damar? Pria tua itu ingin jemari tangannya kembali seperti dulu, pemuda rupawan dengan tangan putih tanpa keriput sedikitpun. Tubuhnya yang sehat, tertawa bersama Merlin menghabiskan hari-harinya dalam kebahagiaan.


***


Namun harapan tinggal harapan, beberapa tahun pernikahan mereka, keadaan Damar semakin memburuk. Merlin mundur sementara dari dunia hiburan, menemani suaminya yang lebih memilih berobat di sanatorium dibandingkan rumah sakit.


Tidak dapat menjalani operasi, kemoterapi juga tidak berguna, rambutnya telah rontok dengan topi rajutan menutupinya. Menyerah? Mungkin dokter pun telah angkat tangan, namun enggan mengucapkannya.


Fajar belum menyingsing, Damar membangunkan istrinya. "Aku ingin melihat matahari terbit..." ucapnya dengan nada lemah.


Merlin bangkit, meraih kursi roda, memakaikan syal hangat pada suaminya. Membimbingnya untuk duduk di kursi roda.


"Dengan senang hati, tuan suami..." Merlin tersenyum padanya, membiarkan Damar berbaring di kursi panjang, menjadikan paha Merlin sebagai bantalnya.


"Kamu tidak jenuh denganku?" tanya Damar dengan nada lemah.


"Tidak, aku ingin terus bersamamu..." jawabnya, membelai pelan pipi suaminya.


"Jika aku tidak ada nanti walaupun aku tidak rela. Menikahlah..." ucap Damar tersenyum.


Merlin menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan menikah,"


"Tapi siapa tau, waktu panjang yang akan kamu jalani. Mungkin, secara sengaja atau tidak tidur dengan pria lain," Damar menghela napas kasar, merasakan hawa dinginnya pagi menusuk kulitnya.


"Benar, mungkin aku akan melakukan kesalahan. Tapi kamu tau, berapa banyak kesalahan yang sudah aku lakukan sebelum bertemu denganmu?" tanyanya masih setia tersenyum.

__ADS_1


"Banyak, aku berulang kali tidur dengan pria yang berbeda. Tapi semua berubah karenamu. Jika aku nanti berbuat kesalahan, maafkan aku..." ucap Merlin menangis terisak, mengetahui umur suaminya yang memang tidak akan panjang.


"Kenapa minta maaf? Usiamu masih muda jadi setelah aku pergi jika ingin menikah..." tanyanya, berusaha mengangkat jemari tangannya, guna menyeka air mata istrinya.


Namun tangan Merlin menggenggamnya, menatapnya penuh harap,"Aku akan berbuat baik seumur hidupku. Jika aku berbuat kesalahan saat kamu meninggalkanku sementara, mohon maafkan aku, tuan suami..."


"Aku tidak akan menikah lagi, walaupun pernah sengaja atau tidak, tidur dengan pria lain setelah kematianmu. Karena jika bisa, aku ingin kamu yang menjemputku. Ketika, suatu saat aku tidak bernapas lagi..." mulutnya bergetar, air mata tulusnya mengalir tiada henti.


"Kata-kata jujur yang menusuk," bibir sang pria tua tertawa kecil."Baik, aku berjanji walaupun kamu sengaja atau tidak tidur dengan pria lain. Jika Tuhan ada, aku akan memohon pada-Nya untuk menjadi orang yang menjemputmu. Jika kamu menutup mata nanti untuk menemuiku..." Damar mencoba untuk tersenyum.


Mungkin harapan yang sama dengan istrinya, ingin hidup di masa yang sama. Ingin bersama lebih lama lagi. Fajar mulai menyingsing, menghangatkan tubuh pasangan suami istri itu, bersama dengan rasa sakit di kepala Damar yang terasa.


Benar, itu adalah saat-saat terakhir dalam hidupnya. Pertemuan yang singkat dengan wanita yang mencintainya dengan tulus. Menatap wajah Merlin yang ketakutan kala para perawat membawa tubuh Damar untuk diberi pertolongan, memakaikan selang oksigen padanya.


Jika Tuhan ada, aku akan meminta padanya untuk menjadi orang yang menjemputmu, kala dirimu menghembuskan napas terakhir suatu saat nanti.


Dengan wajah keriput ini? Tidak, aku ingin menjemputmu dengan wajahku ketika muda. Menunggu saat terakhirmu kala tanganmu menjadi keriput, puluhan tahun lagi.


Mungkin disisi-Nya tidak ada tua ataupun muda sehingga kita selalu berumur sama. Tertawa di tempat tidur denganmu, bercerita seperti dulu, tanpa wajah keriputku.



Damar mulai berhenti bernapas dalam senyumannya, dokter memeriksa denyut jantung dan matanya, menggelengkan kepalanya tanda Damar telah pergi. Tangisan Merlin terdengar pilu, mengguncang tubuh renta suaminya.


Mulai membisikkan hal aneh pada tubuh yang mulai mendingin. "Damar, aku akan menjalani kehidupanku dengan sebaik-baiknya. Tapi jika Tuhan itu ada, aku memiliki satu permintaan padanya. Tolong katakan, jika reinkarnasi itu ada, di kehidupan berikutnya aku ingin lahir di masa yang sama denganmu,"


"Mengenali matamu yang terasa hangat, satu-satunya orang yang akan membuatku tertawa, ditengah kehidupanku yang malang, mengingat betapa banyaknya dosa yang aku lakukan di kehidupan ini. Hingga aku hanya akan bisa mencintaimu," Merlin mengecup kening suaminya."Kehidupan yang akan datang malam pertamaku, hanya untukmu..." wanita itu berusaha tertawa kecil dalam tangisannya.


Berusaha berpikir, perpisahan mereka hanya sementara...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2