Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Menantu


__ADS_3

Beberapa belas menit yang lalu...


Seorang pemuda melonggarkan dasinya, membanting dokumen di hadapannya,"If you don't want to get's this projects with our company, don't give me rubbish proposal!! (Jika kamu tidak ingin mengambil proyek dengan perusahaan kami, jangan memberiku proposal sampah!!)" bentak Tomy.


"Sorry, we will give you new proposal," sang atasan terlihat gelagapan, pasalnya proyek yang diambil cukup besar.


"Maaf kami akan memperbaiki proposal nya," bawahan perusahaan asal luar negeri yang berkewarganegaraan Indonesia berucap pada Tomy.


"Aku beri waktu 2 minggu..." ucapnya menghela napas kasar mulai bangkit, menatap tajam. Berjalan meninggalkan salah satu private room restauran tersebut.


Sang bawahan yang dapat berbahasa Indonesia, menerjemahkan pada atasannya. Tentang tenggat waktu yang diberikan Tomy.


"Monster..." umpat sang atasan berkewarganegaraan asing, menghela napas menahan kekesalannya. Menuntut proposal yang sempurna dalam waktu 2 minggu? Untuk projects kecil mungkin mudah, namun projects bersekala besar? Mungkin bagaikan kerja lembur untuk karyawan perusahaannya.


***


Penat itulah yang terasa, pemuda itu melepaskan jasnya, aura kerennya bagaikan menghilang, memasuki mobil menyenderkan tubuhnya pada kursi pengemudi. Sepotong roti diambilnya, serta sebotol air mineral.


Mulutnya mengunyah makanan, masih kesal, hasil pertemuannya dari siang hanya sia-sia. Kelemahan proposal yang diberikan perusahaan yang hendak bekerja sama terlalu banyak, "Mempersentasikan dengan keren, menyiapkan layar proyektor di sebuah private room restauran, tau-tau nya yang diajukan, proposal yang benar-benar mentah," umpatnya komat-kamit kesal.


Hingga sebuah panggilan terdengar dari pengawal istrinya. Pemuda itu mengangkat dengan mulut penuh,"Apa!?" ucapnya.


"Maaf tuan, nyonya mengecoh saya, beliau hilang dari pengawasan, saat ini berada di permata restauran. Saya akan segera kesana..." ucap sang pengawal, dengan napas terengah-engah, berlari mencari ojek pangkalan. Kendaraan tercepat dari pada menunggu taksi atau bis.


"Tidak perlu menyusulnya, berharap saja dia tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu padanya, akan aku potong..." kata-kata Tomy terhenti, pemuda yang tengah menatap papan nama restauran di hadapannya itu, tersedak roti dalam mulutnya, kemudian meminum air putih.


"Maaf, tolong jangan potong senjata tempur saya..." ucap Gretel cepat, gelagapan.


"Aku potong gajimu, lagi pula Frea sepertinya tidak apa-apa..." Tomy tersenyum, menatap kedatangan keluarga ibu mertuanya dari jauh.


***


Mereservasi restauran, itulah yang dilakukan sekelompok wanita yang berasal dari satu keluarga tersebut. Semua meja bagian dalam restauran di booking. Hanya ruangan private restauran, dan meja bagian luar yang tidak mereka sewa.


Penampilan kalangan atas, begitulah yang terlihat dari para wanita yang menyombong. Membual tentang hal-hal yang mereka miliki, berjalan bagaikan toko perhiasan bergerak.


Tomy tersenyum, menatap istrinya dari meja luar restauran, tempatnya duduk saat ini memesan segelas orange juice. Hanya wanita sederhana tanpa makeup berlebihan, tanpa pakaian mahal, atau perhiasan mencolok, duduk tidak banyak bicara.


"Uang yang aku berikan tidak pernah dipakainya..." gumamnya menghela napas kasar menatap kagum sekaligus iba.


Pemuda itu mulai bangkit, entah apa tujuannya, memasuki restauran menahan tawanya. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya, saat ditanyakan apa saja yang dimiliki suaminya,"Suamiku pengangguran, kami tinggal bersama di apartemen," ucapnya terdengar canggung.


Tiba-tiba tangan kokoh seorang pria terulur memeluknya dari belakang,"Setidaknya, kamu tidak menyebutku gigolo..." kata-kata yang keluar dari mulut Tomy, mengecup pipi Frea di hadapan umum.


"Fre... Frea dia suamimu?" tanya sepupunya yang bekerja sebagai manager bank, gelagapan. Mengetahui tentang Tomy? Tentu saja untuk mengetahui siapa saja orang-orang dari dunia bisnis yang sesuai menjadi investor atau kreditur. Setidaknya, wanita itu sempat bertugas menemui beberapa orang kalangan atas menawarkan jasa bank tempatnya bekerja. Secara kebetulan salah satu tempat Tomy berinvestasi adalah bank tempatnya bekerja.


Frea mengangguk, menghela napas kasar. Dua orang segera bangkit, tentunya Yahya dan Sara(Sepupu Frea). Yahya mencari muka pada atasannya menarik kursi kosong di samping Frea, mempersilahkan Tomy untuk duduk.


Sedangkan Sara memasang sejuta pesonanya, pada salah satu pemegang saham di bank tempatnya bekerja, menuangkan minuman, menyibakkan rambutnya, dengan sengaja memperlihatkan leher putih mulusnya,"Silahkan minum tuan..." ucapnya mengedipkan sebelah matanya.


Tomy duduk, tersenyum pada Frea,"Kenapa tidak memintaku mengantarmu. Terlalu malu memiliki suami seorang pengangguran?" tanyanya sembari meminum segelas air.


Pengangguran? Dia Tomy, asisten pemilik JH Corporation. Pemegang saham di beberapa perusahaan, tanpa bekerjapun uangnya mengalir seperti air. Kenapa Frea tidak bilang tentang suaminya? Tau begini, menghormati Frea sebagai istri pertamapun, aku tidak apa-apa, asalkan bisa menjadi istri kedua... ucap Sara dalam hati, memasang senyuman manis pada Frea melihat tambang emas di depan mata.


"Kakak sepupu, seharusnya kakak datang bersama suami kakak. Aku ambilkan daging ya ..." ucap Sara, mengambilkan makanan ke atas piring Frea. Tidak serakah, hanya menginginkan posisi istri kedua.


Pandangan matanya beralih, sedikit melirik pada Fani. Pantas saja, Frea menyembunyikan suami high class-nya. Mungkin takut diracuni Fani nantinya. Aku akan menjadi calon madumu yang baik. Identitas suami kita, hanya kita yang boleh tau...

__ADS_1


Frea mendekati suaminya kemudian bertanya dengan ragu, "Dimeja ini siapa saja yang mengetahui kamu bukan gigolo atau pengangguran?" tanyanya.


"Yahya dan wanita yang memakai gaun merah..." jawab Tomy jujur, tersenyum pada Frea.


"Pantas saja..." gumam Frea memaksakan dirinya untuk tersenyum. Sudah cukup jenuh suaminya menjadi idola kantor. Tidak ingin lebih banyak memiliki saingan lagi.


Frea sedikit melirik ke arah suaminya, menghela napas kasar. Meragukan perasaan suaminya? Tentu saja tidak, namun bukan hanya satu wanita yang mengincarnya. Peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu sudah cukup membuatnya bertekad menyembunyikan identitas Tomy. Tidak ingin menambah musuh lagi.


Sara? Sepupunya itu memang bersifat lebih baik dari Fani. Namun, siapa yang menduga hal yang disembunyikannya dalam wajahnya yang tersenyum cerah pada Tomy.


Brak...


"Aku ingin ke toilet..." ucapnya bangkit, dari tempatnya duduk penuh kecemburuan. Dapat menerka-nerka hal yang ada di dalam otak Sara yang memang materialistis.


Tomy ikut bangkit menyusul langkah istrinya tanpa permisi.


Tak...tak...tak...


Tak...tak...tak...


Langkah Frea diikuti menelusuri lorong, hingga Frea masuk dalam toilet wanita. Kekesalannya, membuatnya tidak menyadari, dirinya kini ada dalam bahaya.


Dan benar saja, saat akan keluar dari salah satu bilik toilet, Tomy kembali mendorongnya ke dalam."Kenapa melarikan diri dari pengawal?" tanyanya.


"Aneh rasanya membawa pengawal ke acara arisan keluarga kan?" jawab Frea gelagapan, saat dirinya mulai dipojokkan.


"Lalu, kenapa marah?" Tomy mendekatkan wajahnya, napas pemuda itu menerpa wajah Frea. Semakin mendekat sedikit demi sedikit.


"Aku..." Frea tertunduk, meskipun sudah sering melakukan hal lebih. Namun debaran jantungnya masih saja sulit untuk dikendalikan.


Jemari tangan Tomy mengangkat dagu istrinya membimbing agar mata mereka saling menatap,"Kenapa tidak pernah menggunakan uang pemberianku?" sapuan napas sang pemuda semakin terasa berat.


"Gunakan untuk apapun, jika tidak senang berbelanja, bagaimana jika berinvestasi? Aku tidak akan selalu ada. Jika suatu hari nanti aku mati bagaimana? Anak-anak kita tidak boleh hidup dalam kekurangan..." ucapnya tersenyum, kembali mengecup bibir Frea, hanya kecupan sekilas.


"Jangan bicara soal kematian, aku akan mati lebih dulu darimu, usiaku lebih tua," wajah Frea nampak kesal.


"Bodoh," pemuda itu tertawa kecil, "Bagaimana pun impianku dari kecil adalah mengumpulkan uang yang banyak, menjadikanmu milikku, membesarkan anak-anak kita dengan baik, hingga usia tua nanti, aku ingin mati lebih dulu darimu, karena terlalu menyakitkan jika kehilanganmu," kata-kata yang keluar dari bibir Tomy, mendekap tubuh istrinya erat.


"Egois..." Frea membalas pelukannya, sembari tersenyum.


"Nanti jangan katakan identitasmu ya? Aku tidak ingin memiliki lebih banyak musuh dan penjilat," ucapnya, dijawab dengan anggukan oleh Tomy.


"Apa saja untuk kakak tersayang..." Tomy tertawa dengan suara pelan, tidak ingin dirinya ketahuan memasuki toilet wanita.


***


"Sayang, kamu mempermalukanku!! Jangan dengan sengaja melayani Tomy. Bukannya kamu bilang dia cuma penipu!?" ucap Fani merajuk.


"Kita adalah keluarga, jadi aku harus menghormatinya," jawab Yahya memberikan alasan.


Dia adalah tangan kanan bos besar. Jika tidak menghormatinya tamatlah riwayatku. Bagaimana dapat membayar cicilan rumah... ucapnya dalam hati, melanjutkan aktivitas makannya.


Selang beberapa menit, pasangan suami istri itu kembali duduk, ikut makan dan minum seperti biasanya.


"Tomy, aku dengar kamu pengangguran, ada lowongan pekerjaan sebagai tukang cuci piring di restauran milik menantuku. Apa kamu tertarik?" tanya bibi dari Frea, yang tinggal di luar kota.


Tukang cuci piring? Dia dapat mencuci bersih restauran menantumu, menjadi lahan kosong jika sedikit saja tersinggung... Sara menahan tawanya, sambil terus melirik ke arah Tomy yang tengah konsentrasi makan.

__ADS_1


"Aku bukan pengangguran, aku menjalankan bisnis di bidang pendistribusian makanan," ucapnya jujur, dengan mulut penuh.


Frea mengenyitkan keningnya, mengingat salah satu cabang JH Corporation memang bergerak di bidang makanan kemasan. Kamu mau membocorkan identitasmu... kesalnya dalam hati memaksakan dirinya tersenyum.


"Di bidang pendistribusian makanan? Perusahaan mana? Atau dibidang agen?" tanya sang bibi kembali.


"Es lilin..." Tomy menancapkan garpunya pada steak di hadapannya."Aku berhasil menjual dua termos penuh, per hari," ucapnya kembali makan.


Seketika suasana hening, semua orang menipiskan bibir menahan tawanya. "Es lilin?" sang bibi memastikan. Dijawab dengan anggukan oleh Tomy yang makan tanpa rasa bersalah dengan mulut penuh.


"Frea suamimu menjual es lilin?" tanya sang bibi kembali.


Frea hanya mengangguk membenarkan, setidaknya lebih baik daripada melihat setumpuk pelakor dan penjilat.


"Tidak disangka, kenapa tidak menitipkan daganganmu di salah toko istrimu saja?" tanyanya tertawa kencang.


"Bibi benar!! Kenapa baru terfikirkan ya?" Tomy ikut tertawa, sedangkan Ririn (ibu Frea) yang sedari tadi diam tidak dapat menahan emosinya lagi.


"Mereka akan segera bercerai, putra tertua tuan Adrian menyukai Frea," Ririn berniat ingin mengakhiri situasi paling memalukan baginya.


"Ibu, kita sudah membicarakan ini. Tomy..." kata-kata Frea disela.


Tomy tersenyum ke arah mertuanya,"Aku tidak akan menceraikannya. Frea sudah berjanji akan membiayai hidupku..." ucapnya, semakin senang saja, tersenyum sembari mempermainkan orang-orang dihadapannya.


Sara menghela napas kasar berusaha tersenyum, tidak mengerti dengan pasangan suami istri di hadapannya. Namun, jumlah kekayaan Tomy, wajah rupawannya, tidak ada yang kurang untuk membuatnya tertarik.


"Aku ingin pulang, kepalaku sakit..." Frea membuat alasan, masih cemburu pada pandangan sepupunya, beranjak bangkit berjalan beberapa langkah. Namun, anehnya Tomy belum bangkit juga.


"Tomy..." ucapnya, seakan meminta suaminya untuk ikut pulang.


"Aku pulang, tapi malam ini, aku khusus akan menjadi gigolomu..." Tomy dengan sengaja tidak mengecilkan volume suaranya. Membuat semua orang semakin mencibir, sembari menahan tawa mereka.


Dia akan meminta sampai pagi? Apa dia tidak lelah... gumam Frea dalam hati dengan wajah pucat, menyadari arti setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Baik malam ini kita bersama, kita pulang ya?" Frea menurut.


"Iya..." senyuman manis menyungging di wajah Tomy. Menarik Frea penuh semangat ke area parkir.


***


Ririn mengepalkan tangannya kesal tidak dapat menerima lagi dirinya dipermalukan di hadapan keluarga besarnya. Wanita paruh baya itu berjalan cepat hendak melabrak menantunya.


Namun, pemandangan aneh dilihatnya, orang berkewarganegaraan asing dan satu orang yang sepertinya orang Indonesia, mengejar anak dan menantunya.


Hingga Tomy yang acuh, menarik Frea memasuki mobil yang terlihat berharga fantastis. Kedua orang itu tetap mengetuk kaca jendela mobil Tomy yang mulai melaju meninggalkan parkiran.


"Maaf, kalian sedang apa? Kenapa mengejar mobil yang dinaiki anak dan menantuku?" tanyanya penasaran.


"Dia menantu anda? Tuan Tomy memberikan waktu membuat proposal terlalu sempit pada perusahaan kami. Bisa bantu kami meyakinkannya agar memberikan waktu lebih? Kami akan memberikan anda kompensasi berapapun sebagai ucapan terimakasih..." ucap orang berkewarganegaraan Indonesia.


"Apa maksudnya?" Ririn tertegun mengenyitkan keningnya, baru menyadari jenis kendaraan yang dimasuki putri dan menantunya, sebuah mobil sport yang pastinya tidak berharga murah.


"Menantu anda tuan Tomy, asisten pemilik perusahaan JH Corporation, bisa anda bantu kami meyakinkannya, memberikan kami waktu tambahan...?" tanyanya antusias.


Sementara itu Ririn tiba-tiba terpaku, kakinya lemas duduk di lantai, "Gigolo, pengangguran, es lilin..." ucapnya masih mencerna, mengingat kembali gaya menantunya makan, bagaikan kalangan menengah keatas.


Jemari tangannya gemetaran, berusaha mencari informasi pada phoncell pintanya,"Menantu super..." ucapnya masih tertegun, belum sepenuhnya menerima kenyataan. Menatap foto jarak jauh Tomy di handphonenya, bersama beberapa orang pebisnis yang berusia lebih tua darinya, dalam salah satu artikel.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2