
Keysha menghela napas dalam-dalam, berharap rencana busuknya akan berhasil, menanti kedatangan kedua orang tuanya.
"Aku ingin ke toilet," Gretel menghela napas kasar, berjalan meninggalkan Keysha dan Dika yang duduk saling berhadapan.
"Keysha, aku mendekatinya demi memperpanjang kontrak kerjaku di rumah sakit. Kamu tau kan dia anak pemilik rumah sakit," Dika masih berusaha membujuk.
"Berapa kali kalian tidur bersama? Bahkan semalam juga kan? Aku mengikutimu dari beberapa hari yang lalu," ucap Keysha dengan mata berkaca-kaca, menahan air matanya yang hendak keluar."Kita sudah tidak bisa kembali seperti dulu, harusnya kamu tau,"
"Orang tua kita sudah setuju, tabungan juga sudah..." kata-kata Dika terpotong.
"Jika tau semuanya sudah siap, jangan selingkuh!! Setidaknya jangan ketahuan selingkuh!!" bentak Keysha.
Kata-kata mereka terhenti, pandangannya teralih menatap kedatangan sepasang suami istri, yang mulai duduk di kursi.
Wilma (ibu Keysha) menghela napas kasar,"Mana pacarmu yang penipu itu, Dika sudah cerita semuanya," ucapnya sinis.
"Ibu, aku mencintainya," Keysha memelas, menyempurnakan ektingnya.
"Keysha, tidak perlu membayar orang untuk membatalkan pernikahanmu. Keluarga besar sudah tau, tetangga juga, kamu mau menanggung malu?" ucap Rudi (ayah Keysha)
Sial ayah dan ibu terlalu kaku. Bagaimana caranya membatalkan pernikahan... fikirnya.
Hingga satu ide gila tercetus, Keysha mulai menunduk, menangis terisak,"Maaf, aku sudah melakukan dosa besar dengannya. Kami tidak sengaja melakukannya. Dia sudah ingin bertanggung jawab,"
"Keysha!! Jangan berbohong, tidak mungkin..." kata-kata Dika terhenti.
"Sepulang dari club'malam kami mabuk, dia menembakku berkali-kali di tempat tidur. Bagaimana jika aku hamil, dia lah ayah dari anakku," dustanya, mengatasnamakan kesuciannya.
Orang lain akan ingin berbohong mengatakan dirinya masih suci. Aku malah berbohong, mengatakan gawangku sudah kebobolan. Tidak apa-apa, demi hidup bebas... gumamnya dalam hati masih menangis terisak-isak.
"Dika, maaf lebih baik kamu mencari wanita lain..." lanjutnya.
Dika mengepalkan tangannya, menatap tajam pada Keysha. "Kamu berbohong kan? Aku akan menunggu, jika dalam satu minggu aku tidak menerima undangan, berarti kamu berbohong. Dan kita tetap akan menikah..." ucapnya, mengambil kunci mobil miliknya. Berjalan pergi dengan cepat.
Keysha yang tertunduk, diam-diam tersenyum. Menyadari langkah pertama sudah siap, tinggal langkah kedua.
"Keysha!!" Rudi membentak putrinya, hendak menampar, merasa benar-benar malu atas kelakuan tercela putrinya, namun jemari tangannya dihentikan Gretel.
"Sayang..." tanpa ragu, Keysha bergelayut manja pada sang pemuda.
Pasangan suami-istri itu tertegun, "Keysha ini siapa?" tanya Rudi.
"Pacar baruku, namanya..." kata-kata Keysha terhenti. Rudi mendorong putrinya, kemudian menggengam erat tangan Gretel, "Captain Amerika, maksud saya nak Gretel, pacar Keysha?" tanyanya. Dijawab dengan anggukan oleh pemuda itu.
"Syukurlah!! Benar-benar calon mantu kita buk!!" raut wajah Rudi berubah, menatap pemuda yang baru saja membantunya.
"Iya, cucu kita dalam perut Keysha wajahnya pasti seperti bule," Wilma mengelus pelan perut rata putrinya.
"Cucu?" Gretel mengenyitkan keningnya.
"Iya, cucu kami, bapak juga pernah muda, jujur saja, bapak menghamili istri bapak dulu, sebelum menikah," ucap Rudi tertawa, menceritakan aibnya tanpa malu.
"Tapi Gretel tidak suka wanita, dia gay!!" Keysha mengeluarkan keringat dingin, mencari alasan agar kedua orang tuanya menentang hubungan mereka.
"Bodoh!! Kalau gay, bagaimana bisa menembakmu berkali-kali di tempat tidur? Dia pasti berbohong, agar dirinya tidak dikerumuni wanita. Dia calon menantu idaman yang setia..." mata Wilma seperti telah buta, tidak mempedulikan apapun lagi. Hanya menginginkan Gretel yang menyelamatkan nyawa suaminya menjadi menantunya.
"Dia pengangguran!!" Keysha meninggikan nada bicaranya.
"Nak Gretel bekerja sebagai pengawal, pekerjaan pacar sendiri tidak tau, dasar..." kesal Rudi pada putrinya.
Gretel mengenyitkan keningnya menatap dua makhluk yang tersenyum padanya, beralih menatap Keysha, seakan meminta pertolongan padanya.
__ADS_1
Hingga satu pertanyaan membuat wajah pasangan palsu itu pucat,"Jadi kapan pernikahannya? Jangan sampai perut Keysha keburu membuncit..."
Mampus... Menikah dengan Terminator? Salah sedikit saja, pasti ditembak... gumaman Keysha dalam hati, membayangkan luka tembakan yang akan diterimanya. Mungkin lecet kecil, sedikit berdarah-darah.
***
Dua buah paperbag sudah berada di tangannya. Hari ini Tomy menghela napasnya dalam-dalam berusaha tersenyum menatap kedatangan orang-orang di ruang tamu rumahnya.
Mulut yang tidak bisa dijaga, membuat Ririn berkicau kemana-mana tentang menantunya. Semua orang nampak tersenyum, termasuk Frea. Ririn mengelus pelan perut putrinya, entah tulus atau tidak, namun, wajah Frea nampak tersenyum, itu sudah cukup baginya.
"Tomy..." Frea tersenyum, hendak bangkit.
Namun, tanpa diduga Fani mendahuluinya,"Biar aku saja..." ucapnya, berjalan dengan cepat mendekati Tomy, hendak meraih tas kerja nya. Bagaikan istri yang baik bukan?
"Kamu mau mencuri data penting dalam tasku!?" ucap Tomy sinis, memeluk tas kerjanya erat, bagaikan tidak rela disentuh Fani.
Ingin merusak hubunganku dengan kakak? Jangan bermimpi... gumaman Tomy dalam hati.
Sukses membuat Frea yang awalnya cemburu, menipiskan bibir menahan tawanya.
"Tidak, kakak ipar, maksudku..." ucap Fani menunduk, menyelipkan rambut di telinganya, bagaikan adik ipar yang baik. Gadis polos, lugu, tidak bersalah.
"Fani hanya bermaksud menolong saja, maafkan ya?" Ririn tersenyum ramah pada menantunya.
Pemuda itu tidak menjawab, berjalan cepat ke arah istrinya,"Yang mulia istri, ini oleh-oleh untukmu, titipan dari keluarga majikanku..." ucapnya tersenyum, memberikan dua buah paperbag berukuran besar yang dibawanya.
Beberapa kotak terlihat didalamnya, Frea kembali meletakkannya di atas meja, sedang Tomy berjalan cepat ke area dapur, mungkin hendak mengambil minuman melepaskan dahaganya.
"Frea, ayo buka," Ririn tidak sabaran dengan hadiah dari pemilik JH Corporation.
"Tidak, nanti saja," ucapnya enggan.
"Ibu bantu buka ya..." Ririn meraih salah satu paperbag tanpa sungkan sedikitpun.
Kotak ke dua, berisikan set jam tangan pasangan berharga fantastis. 'Jangan hanya memikirkan urusan ranjang!!'
Kotak ke tiga, berisikan beberapa kunci, lengkap dengan sertifikat kepemilikan sebuah villa. 'Ingat kerjakan tugas dalam flashdisk yang aku berikan,'
Tentu saja paperbag pertama hadiah dari Farel.
"Ini semua hadiah pernikahan untuk karyawan?" tanya Ririn memastikan. Frea hanya mengangguk membenarkan.
Ini seperti hadiah pernikahan dari orang tua pada anak dan menantunya. Bahkan ketika Wena menikah, Johan hanya membelikan sebuah mobil untuknya. Benar-benar kekuatan kalangan atas... Ririn melirik ke arah suaminya, menghela napas kasar.
"Suamimu kemana?" tanya Ririn penasaran.
"Mungkin mual, jadi pergi mengambil minuman," jawab Frea tersenyum menghela napas kasar.
Minuman? Dalam bayangan satu keluarga itu, seorang pemuda yang tengah menenggak minuman beralkohol berharga fantastis. Keluar dengan Kharismanya membawa gelas indah, berisikan seperempatnya. Meminum dengan anggun, penuh kharisma, bagaikan bangsawan.
"Frea kamu mau?" semua mata tertuju pada pemuda yang baru datang dari dapur. Bukan sosok berkharisma. Namun, pemuda yang tersenyum, menyesap es lilin rasa rujaknya. Membawa beberapa buah es lagi dengan beralaskan piring keramik.
"Terimakasih," Frea meraihnya tanpa ragu, tersenyum menatap suaminya.
"Es rujak...?" Wena menipiskan bibir menahan tawanya.
"Benar, Tomy sendiri yang membuatnya. Kalian harus mencobanya," ucap Frea tersenyum.
Fani mengenyitkan keningnya, berusaha masuk kedalam dunia tidak elite, meraih es lilin di hadapannya. Dengan begini aku akan terlihat menyukai apa yang dia sukai...
"Sangat enak, kakak ipar lain kali bisa mengajariku cara membuatnya?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf, aku sibuk..." Tomy menyender pada Frea bermanja-manja, ditengah hormonnya yang tidak stabil, couvade syndrome (bapak-bapak ngidam) itulah istilahnya.
"Omong-omong bagaimana kalian pertama kali bertemu?" tanya Ririn penasaran.
"Pertama kali bertemu? Kakak sudah punya pacar saat itu, tapi masih menyuapiku dengan penuh kasih sayang. Pacarnya tiba-tiba datang menyuruhnya memilih aku atau dirinya. Frea memilihku," jawab Tomy jujur, menceritakan kejadian 17 tahun yang lalu.
"Lalu apa yang terjadi? Apa terjadi baku hantam? Perkelahian?" tanya Ririn antusias. Membayangkan putrinya diperebutkan dua orang pemuda rupawan dengan latar belakang sebuah restauran elite. Makanan yang disuapi Frea tentunya steak atau mungkin makanan Prancis.
Namun, dalam ingatan Tomy berbeda, latar tempat kejadian adalah pos ronda, makanan yang disuapi Frea adalah nasi bungkus sisa,"Tidak, aku menggigit tangan pacarnya," jawab Tomy jujur.
Seketika suasana hening, Frea menghela napas kasar, enggan menjelaskan tentang perdebatan antara Tomy, anak berusia 11 tahun dengan Vincent, remaja berusia 17 tahun.
Suaminya, Tomy yang saat itu adalah anak malang berfikiran busuk, sudah memiliki niatan buruk saat berusia 11 tahun. Menginginkan wanita yang sudah memiliki kekasih, tidak mungkin Frea menceritakannya bukan?
"Sejak saat dia menyuapiku, aku sudah bertekad menikahinya. Tapi, terjadi sesuatu hingga aku harus pergi dan berpisah dengan Frea. Kami tidak bertemu beberapa waktu, hingga akhirnya begitu bertemu kembali, Frea langsung melamarku di hadapan umum," ucapnya, mengingat kejadian di club'malam.
"Hanya karena suapan kamu menyukai kak Frea?" tanya Fani, dijawab dengan anggukan oleh Tomy.
Mudah, aku harus berhasil menyuapinya. Maka dia akan menempel padaku... Tapi jatuh cinta karena suapan... haruskah aku belajar cara menyuapi dengan benar... fikirnya dalam hati.
"Tomy, aku minta maaf sebelumnya sudah merendahkanmu..." ucap Johan tertunduk.
"Tidak apa-apa, asal kalian tidak menjadikan Frea alat pertukaran bisnis lagi..." Tomy menghela napas kasar, berhenti menyender pada pundak istrinya.
"Baik, omong-ngomong kamu dulu pernah mengatakan jika Irgi yang dipilih sebagai penerus Pratama group, perusahaan akan hancur dalam waktu 10 tahun. Bagaimana kamu bisa yakin?" tanya Johan, mengenyitkan keningnya, merogoh sakunya meletakkan phoncellnya di atas meja.
"Dia orang yang tidak sabaran, mudah diperdaya," Tomy menghela napas kasar,"Pernah ada satu insiden saat ulang tahun Adrian, Mike anak kedua Adrian berkata-kata kasar. Irgi yang memiliki temperamen buruk mendorongnya, hingga terjatuh,"
"Tapi Mike melemparkan batu yang cukup besar tepat ke arah Irgi. Anak ketiga Adrian saat itu mendorong Irgi, hingga si anak bungsu yang terluka, menahan berat tubuh kakaknya,"
"Mike datang mengadu pada Adrian, tentunya hanya mengadu dirinya didorong. Kepercayaan buta pada anak sah yang bertubuh lemah. Ayah mertua tau apa yang terjadi?" tanyanya, dijawab dengan gelengan kepala oleh Johan.
"Anak bungsu yang mengaku mendorong Mike, agar sang ayah lebih membencinya lagi. Sedangkan Irgi pelaku aslinya, hanya diam bagaikan pengecut, membiarkan adik bungsunya didorong keluar dari rumah," ucap Tomy tetap tersenyum.
"Bagaimana dapat melindungi Frea, jika mudah tertipu, pengecut yang membiarkan adik bungsunya pergi tanpa ada keinginan menemui anak haram seperti sang adik bungsu lagi," lanjutnya.
"Apa sifat Mike memang dari usia dini seperti itu?" tanya Johan kembali, mengenyitkan keningnya.
Tomy mengangguk, "Selalu menuduh si anak bungsu berbuat kasar padanya. Bahkan membohonginya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dengan imbalan Adrian akan mengambil rapornya. Si anak bungsu sangat bodoh..." cibirnya pada dirinya sendiri.
Frea tertegun diam, menatap ke arah Tomy. Iba, pada suaminya yang tersenyum, menahan luka hatinya. Anak haram yang seakan diusir di semua tempat. Apa mungkin itu alasannya tidak dapat melepaskan Frea? Karena tidak pernah memiliki tempat untuk pulang?
Tidak ada yang menyadari handphone Johan yang diletakkan di atas meja, dalam keadaan menghubungi seseorang. Seseorang yang memarkirkan mobilnya di depan rumah Tomy.
Adrian menutup mulutnya dengan earphone menempel di telinganya, menahan tangisannya tidak ingin suaranya terdengar. Mungkin masih sedikit teringat baginya, ulang tahun terakhir yang didatangi putra bungsunya. Anak berpakaian lusuh, yang menunggu di depan gerbang hingga tamu pulang. Hanya untuk memberikannya hadiah sepotong kue yang hancur.
Anak yang pada akhirnya dibentak, diusirnya pergi. Hanya karena kebohongan Mike, hanya karena sang anak yang berbohong untuk melindungi Irgi, hanya karena dirinya yang bodoh, menganggap rendah putra yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan didikannya.
Adrian mematikan panggilannya, dengan sengaja meminta Johan mencari informasi, saat berkunjung ke rumah menantunya. Itulah yang dilakukan Adrian.
Terpuruk sebagai seorang ayah yang buruk, seorang ayah yang bahkan menolak pelukan putra kecilnya yang kurus. Seorang ayah yang menganggap tangan kurus kotor adalah tangan yang selalu memiliki rasa iri.
Seorang ayah yang menolak mengambil rapor putranya sendiri. Andai Adrian tidak memandang rendah pada putranya, tidak menganggap anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh wanita malam yang dicintainya sebagai anak keji. Mungkin Tomy tidak akan memilih untuk menghindarinya.
"Kamu memiliki begitu banyak ayah, sebaiknya minta salah satu dari mereka untuk mengambilnya," ucapnya menatap mata anak berwajah kusam di hadapannya 17 tahun yang lalu.
Jemari tangan kecil Tomy yang memegang kemeja Adrian lemas. Jemari tangannya gemetaran, diturunkannya tidak ingin mencegah kepergian ayahnya lagi.
"Mike terlalu lugu untuk kamu ganggu. Aku akan memindahkannya ke sekolah lain. Jangan menemui atau mengancamnya lagi. Kesulitan bicara (gagap) mungkin hukuman Tuhan untukmu, yang kasar dan iri pada saudaramu sendiri. Mungkin kamu akan lancar bicara, jika berprilaku baik," ucapnya dahulu, menolak keinginan putra kecilnya hanya untuk mengambil rapor, menasehati putra yang tidak pernah didiknya. Bahkan mendapatkan kasih sayangnya pun tidak pernah.
Kata-kata yang kini menjadi bumerang untuknya. Seorang ayah yang salah menilai sifat putranya.
__ADS_1
Bersambung