Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)

Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)
Iri


__ADS_3

Apartemen, saat Frea baru saja berangkat...


Suara gemericik air terdengar, senyuman menyungging di wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut yang masih basah, tubuh atletis dengan senyuman dingin yang menggoda wanita manapun.


"Pantas saja aku disangka gigolo..." gumamnya, menghela napas kasar.


Rambut dikeringkannya, handuk masih melingkari di pinggangnya. Satu persatu pakaian dikeluarkan dari lemari. Setelah jas yang tidak terlihat murah.


Bau parfum pria menyebar, pakaian di kenakannya satu persatu. Waktu ijin cuti bulan madunya sudah habis, harus tetap kembali bekerja bukan? Jam tangan dikenakannya.


Kembali menatap cermin merapikan sedikit penampilannya lagi. "Saatnya berangkat,"


Aneh bukan, mobil sport berharga fantastis terparkir di tempat parkir bawah tanah apartemen tersebut. Namun Frea tidak menyadari ataupun peduli siapa pemiliknya.


Mobil dimasuki Tomy, earphone mulai terpasang di telinganya. Memacu kendaraannya meninggalkan parkiran, sembari menghubungi seseorang.


Sibuk? Tentu saja, berprofesi sebagai asisten dengan gaji yang tinggi. Dengan majikannya yang saat ini tengah koma, akibat mengalami suatu insiden. Perusahaan pusat yang berada di Singapura dan beberapa negara lain, di hendel oleh anggota keluarga majikannya.


Namun, di Indonesia dihendel olehnya, mengingat terlalu banyak anak cabang yang baru dibuka.


Kriiiiet ...


Mobil terhenti di kantor pusat yang terdapat di kota tersebut. Pintu mobil dibukakan security, sang pemuda berjalan cepat dengan earphone masih bertengger di telinganya. Berbicara dengan klien sembari melanjutkan langkahnya.


Beberapa karyawan kantor pusat Indonesia, yang berpapasan dengannya menunduk memberi hormat. Tidak membalas, masih diam terpaku berjalan, berbicara dengan orang di seberang sana.


Rupawan, berwajah dingin, kejam, itulah sosok Tomy yang dikenal karyawan kantor pusat. Sisi lainnya yang hangat? Mungkin hanya pada atasan atau keluarganya.


Pintu lift terbuka, kemudian tertutup lagi. Hingga sampai ke lantai 8, pemuda itu mulai berjalan ke ruang rapat, diikuti sekertaris bos-nya.


"Tuan Tomy..." ucap wanita berkulit putih, rambut panjang dengan rok mini serta pakaian kantor. Membuatnya terlihat cantik, pintar, sekaligus anggun.


"Semuanya sudah siap?" tanyanya melepaskan earphone, guna bersiap mulai memasuki ruang rapat.


Pintu besar terbuka, orang-orang yang terlihat berusia lebih tua darinya duduk dengan raut wajah tegang. Seakan menunggu kehadirannya.


Pintu besar itu mulai tertutup...


Beberapa jam kemudian, mulai terdengar suara bentakan dari dalam sana.


"Keluar!!" suara bentakan dengan nada tinggi.


"Tapi..." kata-kata yang terdengar lemah dari dalam ruangan.


"Aku bilang keluar!! Jika tidak becus bekerja, serahkan jabatanmu pada orang lain!!" bentakan Tomy kembali terdengar, bersamaan dengan seorang pria keluar terburu-buru membawa sebuah map.


***


Tomy menenangkan diri berusaha tersenyum namun tetap saja terlihat mengerikan, bagaikan siap memangsa orang-orang yang berada di ruangan tersebut, "Rapat hari ini selesai, gaji kalian lebih tinggi dari rata-rata perusahaan lainnya. Lain kali jangan membawa sampah ke hadapanku," ucapnya menatap tajam, meninggalkan ruangan rapat.


Orang-orang yang berusia rata-rata di atasnya itu menghela napas kasar. Bahkan ada yang menyenderkan tubuhnya di kursi, melonggarkan dasinya.


"Aku mendengar kabar, dia mengambil cuti untuk menikah. Aku kira setelah menikah dia akan menjadi lebih lunak, ternyata sama saja," keluh seorang wanita paruh baya, direktur salah satu perusahaan cabang.


"Umurku bisa semakin pendek jika mendengar mulut pedasnya terus-menerus. Lihat!! bahkan sekarang rambutku semakin banyak yang rontok," seorang manager kantor pusat mengambil cermin, mengamati kepalanya yang botak.


"Aku bisa membayangkan, bagaimana menderitanya memiliki suami sepertinya. Semua harus sempurna, salah sedikit tidak boleh, mungkin kalau istrinya memasak kelebihan garam sedikit saja. Makanan serta piringnya akan dibuang. 'Istri tidak becus!!', mungkin mulut pedasnya akan berkicau," gadis lainnya yang berprofesi sebagai manager pemasaran kantor pusat, dengan imajinasinya akan sosok Tomy ketika di rumah.


Prok ...prok...prok


Tepukan tangan seorang pria membubarkan pembicaraan unfaedah mereka,


"Sudah-sudah!! sebaiknya kita kembali bekerja, iblis itu sudah kembali dari masa liburannya. Jangan bersantai, atau kita akan dikubur hidup-hidup..." ucapnya.


Puluhan orang di ruang rapat itu menghela napas kasar, mulai bangkit meninggalkan ruangan rapat. Guna kembali ke tempat mereka untuk melanjutkan pekerjaan.


***


Jemari tangannya dengan lancar, bagaikan menari di atas keyboard, sesekali memegang berkas guna membacanya.


Sibuk? Benar-benar sibuk, hampir semua pekerjaan di hendel olehnya. Cerdas sedari kecil, tidak ada yang kurang darinya, hanya hoby dan kebiasaan buruknya. Merendahkan orang yang baginya, bersifat rendahan.


Sekertaris tiba-tiba masuk,"Maaf tuan, bu Hera telah sampai..." ucapnya menunduk memberi hormat.


"Persilakan masuk," seluruh kegiatannya dihentikan olehnya, guna menatap hiburannya hari ini.


Wajahnya tersenyum, menyambut kedatangan Yahya dan Hera yang diantar bodyguardnya.


"Siang, pak," Hera menunduk memberi hormat pada atasannya.


"Emm," ucap Tomy tersenyum dingin.


Yahya mengenyitkan keningnya, menatap suami dari calon kakak iparnya. Pemuda yang terlihat seusia dengannya.


"Ka...kamu benar-benar asisten pemilik perusahaan?" tanya Yahya dengan wajah pucat.


"Bukan asisten Firaun, aku Firaun-nya sekarang!! Firaun yang asli sedang tidur di peti mati entah kapan bangunnya (koma akibat mengalami insiden)!! Aku yang bertanggung jawab penuh sementara," ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Yahya mengeluarkan keringat dingin, ternyata pemuda di hadapannya bukan seorang penipu. Dia benar-benar asisten pemilik JH Corporation.


"Berani merendahkanku dalam rapat keluarga lagi?" tanyanya menatap tajam.


"Tidak ampuni hamba, kamulah Firaun-nya dan akulah budaknya," Yahya menunduk ketakutan, meminta maaf.


"Aku maafkan, tapi ancam pacarmu untuk berlutut meminta maaf pada Frea," ucapnya.


"Tapi, Fani tidak salah, Frea memang sudah berusia 34 tahun," tangan Yahya terulur melihat celah, memegang pergelangan tangan Tomy."Kita seumuran, bagaimana jika kita berteman,"


Memanfaatkan kesempatan? Itulah yang dilakukannya, Frea memang cantik. Tapi tipikal wanita yang jarang merawat diri.


Memasukkan sosok seperti Tomy ke dalam keluarganya? Kenapa tidak? Mungkin saja pemuda di hadapannya, akan lebih menyukai adiknya.


"Jika bersedia berteman denganku, akan aku kenalkan dengan adikku. Kamu tau Virginia? Presenter sekaligus bintang film. Dia adalah adik kandungku..." lanjutnya tersenyum, bagaikan menemukan pasangan yang sesuai untuk adiknya.


Tomy mengibas tangannya, "Hera, ini pegawai terbaikmu?" tanyanya pada bawahannya.


"Maaf..." Hera tertunduk.


"Tuanku (pemilik perusahaan) tidak menyukai orang yang menjadikan wanita sebagai bahan transaksi untuk jabatan. Didik pegawaimu..." ucapnya menatap tajam.


"Tomy, maaf, aku melakukan apa saja..." Yahya memelas, dapat menerka akan nasibnya.


"Jangan menentangku dalam rapat keluarga, pacarmu harus meminta maaf pada istriku. Kelihatan ini tidak pertama kalinya Frea dihina,"


"Satu lagi, hari ini aku tidak sempat memasak makanan dan membersihkan apartemen, bantu kerjakan tugasku..." ucapnya memberikan kartu akses apartemen Frea, kembali duduk di kursi mengerjakan tugasnya.


Tidak dipecat? Yahya sungguh bersyukur, tapi membersihkan apartemen? Jemari tangannya ragu, melirik ke arah Hera seolah memastikan pendengarannya.


"Kenapa masih diam saja? Jangan sisakan debu sedikitpun, saat aku pulang nanti semua harus sudah beres. Kalau sempat cat ruang tamu sekalian..." ucapnya, tetap konsentrasi menatap layar monitor di hadapannya.


Benar-benar asisten Firaun, asistennya seperti ini, Firaun-nya bagaimana? Mengecat ruang tamu dalam waktu setengah hari? Bagaimana caranya? Apa bisa kering... Yahya mulai bangkit, hendak mengerjakan pekerjaan mustahil baginya. Hingga satu kalimat lagi terdengar.


"Frea menyukai warna orange, sebaiknya warnai dengan warna orange saja," lanjutnya.


"Baik tuan..." Yahya menahan rasa kesalnya.


"Kita akan menjadi keluarga, panggil saja aku kakak ipar. Cuci piring yang bersih ya?" ucapnya tersenyum.


"Baik," jawab Yahya menurut.


Gajinya mungkin 50 kali lipat dari gajiku. Kenapa tidak menyewa pembantu saja? Dasar kikir... gerutunya dalam hati, sudah berjalan hingga ambang pintu.


"Tunggu, mobilku sedikit kotor..." kata-kata Tomy terhenti.


Tomy mengelengkan kepalanya sembari tersenyum, tertawa kecil, "Dasar..." ucapnya melanjutkan pekerjaannya.


***


Sinar matahari semakin tenggelam, Frea menghela napas kasar, mulai menunggu taksi online yang telah dipesannya. Senyuman terukir di wajahnya mengingat seorang anak manis yang menghabiskan hari bersamanya, tidak mempedulikan sebuah mobil yang terhenti tepat didepannya.


"Apa sebaiknya aku punya anak saja?" gumamnya tersenyum sendiri, senang akan kebersamaannya dengan Gea.


Kaca mobil di hadapannya mulai terbuka,"Punya anak? Kapan kita akan membuatnya? Kamu minta berapa anak? Anak pertama sebaiknya kembar ya..." ucap seorang pemuda tidak tahu malu.


"Tomy!? Ini mobil siapa? Kamu kencan dengan tante-tante lagi!?" bentak Frea terlihat kesal. Mengamati penampilan suaminya dari atas sampai bawah.


"Tidak, ini hadiah karena kerja kerasku..." jawab Tomy jujur, mobilnya memang merupakan bonusnya dari keluarga majikannya. Pemuda itu, menatap Frea dengan wajah polos yang memelas.


Frea memijit pelipisnya sendiri, memiliki suami yang masih berusia muda, menganggap mobil pemberian tante-tante karena berkencan dengannya adalah hadiah.


"Tomy, jika ada orang yang memberikanmu hadiah, dengan maksud atau tujuan tertentu. Jangan menerimanya, usiamu sudah 28 tahun. Kamu seharusnya mengerti kamu sudah menikah, tubuhmu hanya milik istrimu. Dan hanya boleh disentuh istrimu..." Frea berusaha menjelaskan pelan-pelan berharap pemuda di hadapannya akan mengerti.


Pemuda itu tersenyum dan mengangguk, "Masuklah..." ucapnya membukakan pintu mobil.


"Kamu mengerti atau tidak!? Kata-kataku tadi!?" Frea meninggikan intonasi bicaranya.


"Masuklah sudah malam," Tomy tidak menggubris. Frea bersungut-sungut, sembari masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut.


Perlahan mobil mulai melaju, Tomy sedikit melirik ke arah istrinya,"Inti dari yang kamu bilang tadi, tubuhku hanya boleh disentuh olehmu. Kesimpulannya, tubuhmu juga hanya boleh disentuh olehku..." ucapnya tersenyum simpul masih konsentrasi menyetir.


Frea membulatkan matanya, mengeluarkan keringat dingin, menatap ke arah suaminya.


"Nanti malam kamu bebas menyentuhku, begitu pula aku, yang bebas menyentuhmu..." lanjutnya.


"T... Tomy, aku belum siap," ucap Frea gelagapan.


"Iya, aku akan menunggu..." Tomy tertawa kecil dipaksakan, bagaikan menganggap semuanya sebagai lelucon.


Namun, apa semua hanya menang sekedar lelucon baginya? Tidak, jemari tangannya yang memegang stir mengepal. Tetap tersenyum menatap jalanan di hadapannya.


Vincent? Apa hanya Vincent yang ingin menjadi tempat Frea pulang? Satu-satunya pria yang ingin disentuhnya? Mengetahui segalanya? Tentu saja, dirinya sudah berada di sana menyaksikan Vincent dan putrinya, berpamitan dengan Frea.


Gadis itu tersenyum lagi, senyuman cerah seperti 17 tahun yang lalu, seolah semua beban dan lukanya menghilang. Bahkan saat ini, Frea sesekali tersenyum tanpa menatapnya, Tomy hanya terdiam bagaikan menganggap semua hal adalah lelucon.


"Tomy, kenapa kamu menangis?" tanya Frea, tidak sengaja menatap setetes air mata di pipi suaminya.

__ADS_1


"Terlalu bahagia, karena memiliki mobil baru..." jawabnya asal. Menahan perasaannya sendiri, sesak? Tentu saja, dirinya dapat membuat Frea tertawa, namun tidak pernah tersenyum tanpa beban seperti hari ini. Seolah semua usahanya sia-sia.


"Pemberian tante-tante saja bahagia!! Besok kembalikan!!" bentak Frea.


"Baik, akan aku kembalikan..." ucapnya tersenyum.


Mobil mulai terparkir di area parkir apartemen. Tomy keluar dari pintu, berlari membukakan pintu untuk Frea.


"Mau pergi denganku? Kita berkencan..." tanyanya.


"Aku ngantuk..." jawab Frea bagaikan enggan.


"Hanya sebentar, aku janji. Ini kencan pertama kita bukan?" tanyanya.


Frea menghela napas kasar, membiarkan dirinya di bimbing pemuda di hadapannya.


***


Angin menerpa rambut pasangan suami istri, Frea mengenyitkan keningnya,"Ini yang namanya kencan?" tanyanya menatap jenuh."Aku pulang, tidur di apartemen saja,"


Tomy mengangguk, membawa kantung plastik yang berisikan dua kaleng softdrink.Menarik Frea, mencari posisi yang baik untuk duduk.


Lantai teratas apartemen tempat mereka saat ini. Tidak ada apa-apa disana, bahkan bintang sekalipun, mengingat lampu perkotaan yang terlalu terang.


Hanya semilir angin yang membelai rambut menimbulkan perasaan kerinduan yang bagaikan tidak terbalaskan.


"Kenapa berkencan disini?" tanyanya pada Tomy.


"Hanya ingin..." Tomy tertawa kecil, membukakan sekaleng softdrink untuk Frea.


Wanita itu meminumnya beberapa teguk tanpa ragu. Namun tiba-tiba, jemari tangan Tomy menghentikannya, "Aku ingin tau rasa sodanya,"


Alasan yang tidak masuk akal bukan? Tomy tanpa aba-aba meraup bibir Frea dengan bibirnya. Bergerak lembut, seakan menginginkan sedikit meyakinkan dirinya untuk terus berharap mendapatkan hati istrinya.


Mata Frea perlahan tertutup membalas gerakan bibir Tomy. Perasaan nyaman itu timbul lagi, perasaan memabukkan yang dielaknya.


"Sudah mulai mencintaiku?" tanya Tomy, menatap mata wanita di hadapannya.


Frea melawan perasaannya. Dia hanya pandai menggoda wanita, mungkin begitulah yang ada di fikirannya. Belum meyakini perasaannya sendiri, hingga Frea menggelengkan kepalanya.


"Dasar play boy penggoda!! Kapan kamu lebih dewasanya!!" ucapnya kesal.


"Pria penggoda ekslusif untukmu..." Tomy tertawa, namun siapa yang tau isi hatinya. Setelah kembali mendapatkan penolakan lagi dan lagi, tidak ada hati yang terlalu tegar bukan?


Senyuman ramah itu kembali terlihat,"Tutuplah matamu..."


Frea yang duduk berdampingan dengan Tomy menurut, memejamkan matanya. "Apa hari ini melelahkan? Jika lelah, lepaskan semua bebanmu disini," ucapnya.


Entah kenapa, beban di punggungnya yang telah lelah seharian bagaikan menghilang perlahan, mengikuti kata-kata pemuda yang duduk di sampingnya. Jemari tangan Tomy, menuntun Frea agar menyender di bahunya. Tangannya perlahan merangkul bahu Frea.


Tomy meneteskan air matanya, menyadari mata istrinya terpejam. Mulai bernyanyi dengan nada lembut, seolah menenangkan Frea


(Ada Band, Haruskah ku mati)


Bagaimana semestinya, membuatmu jatuh hati kepadaku?


T'lah ku tuliskan berjuta puisi, tuk meyakinkanmu membalas cintaku.


Haruskah ku mati karenamu?


Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu. Haruskah ku relakan hidupku? Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku. Hentikan denyut nadi jantungku...


Tanpa kau tau betapa suci hatiku untuk memilikimu.


Adakah keikhlasan, dalam palung jiwamu mengetukku?


Ajarkanmu bahasa perasaan, hingga hatimu tak lagi membeku...


Haruskah ku mati karenamu, terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu.


Haruskahku relakan hidupku, hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku...


Hentikan denyut nadi jantungku...


Tanpa kau tau betapa suci hatiku untuk memilikimu.


Tiadakah ruang dihatimu untukku? Yang mungkin bisa untukku singgahi.


Hanya sekedar penyejuk di saat ku layu...


Nyanyiannya terhenti, menyadari Frea yang tertidur kembali di bahunya. Menatap ke arah beberapa gedung pencakar langit di hadapannya, dengan banyak lampu yang menyala.


Setiap rumah dihuni oleh satu keluarga, yang mungkin terlihat bahagia. Dengan seorang istri yang cerewet, memarahi suami dan anaknya. Tersenyum makan bersama dalam kebahagiaan. Sesuatu yang tidak pernah dimilikinya.


"Apa kali ini aku juga akan gagal, memiliki keluarga? Melepaskanmu bahagia dengannya?" tanyanya pada wajah yang masih tertidur dengan tenang.


Tomy mulai bangkit, mengangkat tubuh istrinya perlahan, berjalan dalam minimnya penerangan atap gedung pencakar langit.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2